
Seperti biasa, Mishell pun menuruni anak tangga sembari menggendong Kalila. Dan Vita langsung menyiapkan kursi roda saat melihat Tuannya datang.
"Mbak, kakek di mana ya?"
"Kakek sedang menerima tamu Mas, tadi secara nggak sengaja aku dengar, orang itu ingin membicarakan soal kerjasama."
"Oh, kenapa saat jam istirahat, orang itu malah datang mengganggu kakek dengan membicarakan pekerjaan. Ya sudah Mbak, bisa minta tolong temani Kalila, aku ingin tahu siapa sebenarnya tamu tersebut."
"Baik Tuan."
"Sayang, aku temui kakek dulu ya. Aku jadi penasaran siapa sebenarnya orang ini."
"Baiklah Kak, aku tunggu di sini bersama Vita."
Mishell pun bergegas menuju ruang tamu, dia merasa penasaran kenapa urusan pekerjaan malah dibicarakan di rumah.
Saat melihat Mishell datang, kakek pun mempersilakannya duduk dan mengenalkan orang itu kepada Mishell.
"Sini Nak, gabung dengan kami. Oh ya kenalkan ini anak dari teman sekolah Kakek, dia menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita."
Mishell mengulurkan tangan, dia sepertinya mengenali tamu itu, tapi Mishell lupa, dimana pernah melihatnya.
Orang itupun membalas uluran tangan Mishell sembil berkata, "Selamat malam Tuan Mishell, perkenalkan namaku Boy, senang bisa bertemu dan berkenalan dengan cucu menantu keluarga ini dan sekaligus penanggungjawab perusahaan."
Mishell memengernyitkan dahi, lalu dia bertanya, "Sepertinya kita pernah bertemu ya Tuan Boy, tapi saya lupa di mana."
"Benarkah Tuan Mishell, saya kok lupa ya. Maklum saya belum lama kembali ke negara ini, paling baru sekitar 6 bulanan saja."
"Oh, barangkali saya yang salah mengenali orang."
"Silakan Boy, dinikmati cemilannya. Oh ya, Papa kamu bagaimana keadaannya? Terakhir aku dengar dia dibawa berobat keluar negeri."
"Ya begitulah Tuan Artha, Papa masih di sana di temani adik dan juga kakak tertua. Aku harus pulang karena tidak ada yang mengendalikan perusahaan."
"Oh begitu ya. Salam deh buat Papamu, jika nanti sudah kembali ke sini, aku pasti akan menjenguknya."
"Terimakasih Tuan Artha. Oh ya Tuan Mishell tadi aku sudah berbicara dengan Tuan Artha mengenai tawaran kerjasama dan Tuan bilang Andalah yang berhak memberi keputusan."
"Kek..."
__ADS_1
"Iya Nak, kakek hanya membantu, semua keputusan ada padamu. Begini saja, kalian bicarakan dulu. Masalah deal atau tidaknya kakek tunggu kabar selanjutnya. Kakek permisi dulu ya."
"Baik, Kek!"
"Oh ya, Kalila di mana? ada yang ingin kakek bicarakan dengan dia?"
"Barangkali saat ini mereka sedang di beranda samping Kek. Tadi aku meminta Vita untuk menemaninya."
"Oh ya sudah, kakek akan kesana. Ayo Boy, saya tinggal ya!"
"Oke Tuan. Senang bisa bertemu dengan Anda, Sayang ya saya terlambat, kita bertemu saat Anda sudah tidak menangani perusahaan."
"Padahal saya ingin sekali bekerjasama dengan Anda karena kata Papa, Anda seorang pebisnis tangguh dan sukses. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah bertemu dengan Anda, itu suatu kehormatan bagi saya."
"Sekali lagi maaf ya. Ini sudah komitmen saya untuk turun dan menjadikan cucu menantu untuk meneruskan bisnis saya."
Mishell yang mendengarkan hal itu bisa menangkap kemana arah pembicaraan Boy, yang secara halus dia sepertinya kecewa.
Setelah Kakek pergi, Mishell pun berkata, "Oh ya Tuan Boy, sebenarnya kerjasama apa yang Tuan tawarkan kepada perusahaan kami? sekarang saya siap mendengarkan penjelasan Anda."
"Maaf Tuan Mishell, sepertinya lain kali saja, saya jadi ragu untuk bekerjasama dengan kepemimpinan yang baru."
"Bukankah Anda dulu hanya pekerja rendahan di perusahaan Tuan Artha? Anda beruntung ya, bisa secepat ini naik dan mengambil alih semuanya."
Mishell akhirnya menyadari, jika orang yang ada di hadapannya ini ternyata tidak sebaik yang terlihat.
Boy pandai mencari muka di depan Kakek dan berani menghina serta menjatuhkan harga diri Mishell setelah Kakek pergi.
"Itu bukan urusan Anda dan apapun yang kulakukan tidak ada hubungannya dengan Anda, jadi aku tidak perlu menjelaskan."
"Maaf, jika tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, sebaiknya Anda pergi, saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap Mishell.
Bagi Mishell menghadapi orang seperti Boy, tidak perlu berbasa basi. Mishell lebih senang jika Boy segera pergi daripada nanti malah membuatnya tersulut emosi.
Boy tersenyum sinis, lalu diapun bangkit dan berkata, "Jangan sok berkuasa Tuan Mishell, dalam sekejap semua bisa berbalik dan Anda bakal kehilangan semuanya."
"Dan satu lagi, tidak mungkin selamanya keberuntungan berpihak kepada Anda!"
"Silakan! Jika semua itu terjadi, sudah takdir dan tidak ada sangkut pautnya dengan Anda!"
__ADS_1
Boy tersenyum sinis sebelum meninggalkan rumah Kakek, Mishell pun merasa jika Boy sengaja datang karena memiliki niat buruk terhadap keluarganya.
Setelah kepergian Boy, Mishell duduk dan merenung, dia berusaha mengingat-ingat kapan dan di mana pernah melihat Boy sebelumnya.
Akhirnya Mishell pun ingat, jika Boy pernah datang ke pabrik dan menanyakan tentang keberadaan Kakek yang saat itu memang sudah tidak aktif di sana.
Pikiran Mishell menjadi buruk, mungkinkah Boy ada hubungannya dengan kebakaran pabrik saat itu.
Sebelum kebakaran, Mishell melihat Boy berbicara dengan salah seorang penjaga malam dan tidak lama setelah itu, sang penjaga mengajaknya untuk minum kopi.
Kemudian Mishell mengantuk dan tidak ingat apapun lagi, hingga tersadar saat si jago merah hampir melalap habis pabrik beserta isinya.
"Iya, itu Boy! Pria yang datang sebelum terjadinya kebakaran. Aku harus segera menyelidiki hal ini, sebelum dia mengancam keamanan keluarga ini lagi," monolog Mishell.
Kini Mishell yakin dari mana harus memulai penyelidikan, dia akan berbicara dengan pihak kepolisian, jika kasus kebakaran itu bukanlah murni kecelakaan tapi ada unsur kesengajaan.
Tapi sebelumnya, Mishell akan berbicara dengan kakek untuk berhati-hati apabila Boy kembali menemui beliau.
Mishell beranjak dari tempat duduknya, lalu keluar menuju beranda untuk menemui Kalila.
Ternyata, Kakek pun masih ada di sana dan kesempatan ini akan Mishell pergunakan untuk membicarakan tentang kehadiran Boy sebelum kebakaran pabrik terjadi.
"Apakah Boy sudah pulang Shell?" tanya Kakek saat melihat Mishell datang.
"Sudah Kek. Oh ya Kek, ada hal penting yang ingin aku sampaikan tentang dia. Aku ingat siapa Boy, dia orang yang datang terakhir ke pabrik sebelum kebakaran terjadi."
"Maksud mu, sebelum ini kamu pernah bertemu dia?"
Mishell pun mengangguk dan menceritakan semua tentang kecurigaannya terhadap Boy.
Kakek diam, beliau masih belum yakin tapi Mishell juga tidak mungkin berbohong.
"Begini saja Shell, kita akan bahas hal ini besok bersama Hans. Aku ingin kalian mencari tahu dulu tentang penjaga malam waktu itu."
Mishell pun setuju dan sebelum kembali ke kamar, Mishell izin kepada Kakek jika besok dia yang akan menemani Kalila pergi ke rumah keluarga Marshell. Dia tidak mau Kalila sendirian menghadiri acara tersebut.
Kakek pun setuju, beliau juga sebenarnya khawatir jika Kalila pergi sendiri. Kakek tidak ingin Kalila kembali larut dalam kesedihannya jika dia berhubungan lagi dengan keluarga mantan tunangannya itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Selamat sore menjelang malam, semoga kita semua tetap di beri kesehatan dan kebahagiaan ya. Oh ya para sobat, hari ini aku rekomendasikan sebuah karya yang nggak kalah seru lho, yuk silakan di kepoin dan jangan lupa beri dukungannya juga di sana ya. Terimakasih 🙏🥰