
Mereka pun tiba di rumah, Vita langsung meminta rekannya untuk menyiapkan kamar buat ibu dan Anggun.
Sejak hari ini rumah kakek akan menjadi ramai karena kedatangan ibu serta Anggun. Mishell tidak mengizinkan ibunya lagi untuk tinggal di rumah lama mereka demi kesembuhan sang adik.
"Vit, tolong antarkan ibu beserta Anggun ke kamar dan pastikan kalian sudah mengganti seprai di sana dengan yang baru ya," ucap Kalila.
"Iya Non."
"Mari Bu," ajak Vita sambil menggandeng lengan Anggun.
Sebelum ibu pergi, Mishell pun berpesan, "Bu, jika ada yang tidak baik dengan Anggun, misal dia kembali histeris, panggil saja salah satu pelayan agar memanggilku ke kamar. Aku mau mengerjakan sedikit pekerjaan kantor," ucap Mishell kepada ibu.
"Iya Le, mudah-mudahan dia tidak histeris lagi dan beristirahat untuk memulihkan tenaganya."
Ibu, Anggun dan Vita pun menghilang di balik pintu kamar, lalu Mishell mengajak Kalila untuk ke kamar mereka.
Mishell menggendong Kalila dan meninggalkan kursi roda di sana. Kalila pun bergelayut manja dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Mishell.
Mishell sangat senang, makin hari hubungan mereka makin dekat dan dia berharap akan ada cinta di hati Kalila untuknya.
Sesampainya di atas, Mishellpun membuka pintu kamar dengan sedikit kesusahan karena sambil menggendong Kalila.
Setelah berhasil diapun merebahkan Kalila di atas tempat tidurnya.
Mishell menanyakan apakah Kalila membutuhkan sesuatu atau tidak, karena Mishell akan fokus dengan pekerjaannya.
Kalila menggelengkan kepala, lalu diapun meminta Mishell untuk mengerjakan pekerjaanya saja.
Sebelum Mishell menuju meja kerjanya, dia memberikan kecupan di kening Kalila.
Kalila tidak menolak, bahkan sekarang dia malah merasa ada yang kurang jika sehari saja Mishell tidak memberinya kecupan selamat tidur.
Setelah memastikan Kalila nyaman duduk sambil bersandar, Mishell pun berkata, "Yang aku kerja dulu ya, jika butuh sesuatu panggil saja."
Kalila pun mengangguk lalu dia berkata, "Jika mengidupkan musik boleh Kak? Apakah tidak mengganggu?"
"Tidak, sebentar biar aku hidupkan."
__ADS_1
Mishell pun mengambil ponsel Kalila, dia ingin memutarkan musik yang istrinya inginkan.
Tapi Mishell terdiam saat melihat di layar ponsel Kalila masih terpampang wallpaper foto Marshell bersama Kalila.
Dia memperhatikan foto tersebut dan Mishell melihat Marshell sangat mirip dengannya. Jika sepintas orang melihat, mereka pasti tidak bisa membedakannya.
Tanpa sadar Mishell menghela nafas berat, dia cemburu karena Kalila masih memajang foto Marshell pada ponselnya.
Kalila yang tidak juga mendengar suara musik, akhirnya menyadari dan dia baru teringat jika belum mengganti foto wallpaper di dalam ponselnya.
Dengan beringsut dan tangannya yang meraba-raba, Kalila pun berhasil menggenggam lengan Mishell, lalu diapun berkata, "Maafkan aku Kak!"
Mishell menekan rasa cemburunya dan berpura-pura tidak tahu. Kemudian diapun bertanya, "Minta maaf untuk apa Yang? Aku masih memilihkan lagu-lagu yang enak untuk di dengar, kamu pasti suka."
"Tolong gantikan wallpaper ponsel ku Kak, aku lupa minta Vita untuk melakukannya. Tidak sepantasnya aku memajang foto orang lain di sana."
"Ayo Kak kita foto berdua dan nanti gantikan foto itu dengan foto kita."
Mishell merasa lega, meski Kalila buta, tapi perasaan masih halus, dia bisa menyadari apa yang menjadi kesalahannya.
Namun Mishell juga nggak mau menjadi suami yang egois dengan memaksakan kehendak.
"Kak, kenapa kamu diam? Apakah kakak nggak mau kita foto berdua?"
Mishell duduk di sisi tempat tidur, lalu diapun menggenggam tangan Kalila dan berkata, "Biarlah foto Marshell di sini, aku ingin suatu saat kamu sendiri yang akan menggantinya."
"Aku akan sabar menunggu saat itu tiba, kamu mencintaiku dan bisa melihat foto kita berdua terpampang bukan hanya di dalam ponsel tapi bahkan di tempat-tempat yang akan menjadi kenangan kita berdua."
Kalila membalas genggaman tangan Mishell, lalu diapun berkata, "Aku akan berjuang untuk saat itu tiba Kak. Tolong bantu aku, aku ingin mencintai Kak Mishell dengan seluruh jiwa dan ragaku."
"Aku ingin menjadi istri sesungguhnya yang bisa melayani Kakak, bukan istri yang seperti ini," ucap Kalila yang langsung menghambur ke dalam pelukan Mishell dan sambil menangis.
Mishell memeluk erat Kalila dan menciuminya, dia juga sangat menginginkan saat itu tiba, dimana mereka berdua bisa bahagia layaknya seperti pasangan suami istri yang lain.
"Aku juga merindukan saat itu tiba, dimana kamu bisa menatapku, melihat kesungguhanku dalam mencintaimu. Dan yang utama, kita berdua bisa memuwujudkan mimpi, melihat anak-anak kita lahir, tumbuh dan berkembang hingga mereka dewasa kelak."
Kalila makin mengeratkan pelukannya, dia menangis dan berjanji jika saat itu tiba dia akan memberikan seluruh hati serta raganya hanya untuk Mishell, meskipun saat ini dia belum mengetahui seperti apa wajah Mishell sesungguhnya.
__ADS_1
Kalila memang pernah bertanya kepada Vita dan Kakek tentang wajah Mishell, tapi mereka hanya mengatakan jika wajah Mishell sama baik seperti hatinya.
Mishell memang melarang siapapun untuk mengatakan kepada Kalila, jika dirinya sama persis seperti almarhum Marshell tunangannya.
Harapan Mishell adalah, Kalila bisa mencintai dia apa adanya dan bukan cinta karena kemiripannya dengan almarhum.
Mishell akan bersabar, Biarlah waktu yang akan membuktikan dan menjawab semua harapannya itu.
"Sudah jangan menangis, kamu jelek jika seperti ini. Matamu menjadi sembab dan nanti yang melihat mengira bahwa aku telah menyakitimu," ucap Mishell sembari menghapus air mata Kalila.
"Terimakasih Kak, sudah mau sabar menungguku."
"Sini, aku putarkan musiknya. Oh ya, besok aku akan pulang cepat, bukankah kita ada janji mau terapi kaki."
"Oh iya, kakak benar. Kalau kak Mishell repot di pabrik, biar aku pergi dengan Vita saja dan diantar pak sopir."
"Demi kamu aku akan lakukan apapun, aku akan menyiapkan pekerjaan lebih cepat."
"Sekarang, kamu istirahat sambil mendengarkan musik ya, biar aku selesai kan pekerjaan dulu."
Kalila pun mengangguk lalu dia merebahkan tubuhnya sambil mendengarkan musik. Sementara Mishell menuju meja kerja, menghidupkan laptop dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Dua jam waktu yang Mishell butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan dan setelah selesai diapun menghampiri Kalila yang ternyata sudah tertidur.
Mishell menyelimuti tubuh Kalila, mematikan musik pada ponselnya dan diapun pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Setelah itu dia ingin ikut beristirahat bersama Kalila sambil menunggu waktu Dzuhur tiba.
Tapi sebelumnya, diapun menelepon Kakek dan memberitahu jika mereka sudah ada di rumah.
Ternyata kakek saat ini sedang berada di pabrik menggantikan tugas Mishell untuk sementara.
Beliau meminta agar Mishell menjaga dan menghibur Anggun dulu sampai dia sembuh dari traumanya.
Mishell bisa mengerjakan pekerjaan yang penting dari rumah saja.
Bersambung.....
__ADS_1
Selamat malam sobat, sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir yuk ke karya sahabatku. Mohon bantu dukungannya juga ya di karya ini, pasti seru lho ceritanya. Terimakasih 🙏🥰