HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 29. JUJUR TERHADAP IBU


__ADS_3

Ibu sudah menunggu saat Mishell masuk dan beliau sangat khawatir karena Anggun belum juga keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana ini Le, ibu takut ada apa-apa dengan adikmu!"


"Ibu tenang ya, aku coba ketuk dulu."


Mishell mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban. Dia merasa sangat khawatir bila Anggun mengulang bunuh diri lagi seperti kemaren.


Mishell pun langsung mendobrak pintu dan dia melihat Anggun tergeletak di lantai dengan guyuran air dari shower.


"Dek, kamu kenapa?"


Mishell mematikan shower, lalu memeriksa denyut nadi di lengan Anggun. Setelah merasa aman, diapun menggendong sang adik yang basah kuyup lalu merebahkannya di atas tempat tidur yang sudah ibu alasin handuk.


"Bu, tolong gantikan baju Anggun dulu, biar aku telepon dokter," pinta Mishell.


"Iya Le."


Mishell pun kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu kembali ke kamar ibu bersama Kalila.


Ibu yang melihat kehadiran Kalila pun menangis dan meminta maaf karena kehadiran mereka telah menyusahkan.


Kalila memeluk ibu dan mengatakan, jika Ibu dan Anggun tidak menyusahkan bahkan sebaliknya, Kalilah lah yang telah menyusahkan Mishell.


Mishell membelai rambut Anggun, dia sedih melihat adik periangnya terpuruk seperti sekarang.


"Le, apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja? sebenarnya apa yang terjadi terhadap adikmu? ibu bingung harus bagaimana Le?"


"Nggak usah cemas Bu, sebentar lagi Anggun pasti sadar. Dokter juga sudah hampir sampai."


"Kamu sebaiknya ganti baju dulu, nanti kamu masuk angin. Lihatlah, bajumu basah karena mengangkat Anggun tadi."


"Iya Bu, aku ke kamar dulu. Sayang temani ibu dulu ya."


"Iya Kak."


Mishell pun kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya yang basah, setelah itu diapun menelepon Kakek dan meminta tolong agar orang orang kepercayaan kakek membantunya untuk menyelidiki kasus Anggun.


Kakek setuju, mungkin dengan jalan itu, semuanya bisa terungkap.


Mishell akan memulai penyelidikannya dengan teman-teman sekolah dan pastinya Reza beserta rekan-rekannya target utama penyelidikan.


Dugaan Mishell, masalah ini ada sangkut pautnya dengan Reza yang membalas dendam karena sakit hati ketika Mishell datang ke pesta dan menjemput Anggun.

__ADS_1


Setelah mendapatkan persetujuan dari kakek, Mishell pun kembali ke kamar ibu dan ternyata dokter telah sampai.


Dokter sedang memeriksa kondisi Anggun yang baru saja sadar, beliau menyarankan agar Anggun di bawa ke psikiater saja, untuk mengembalikan semangat serta menghilangkan rasa traumanya.


Mishell pun masih membertimbangkan hal itu, walau bagaimanapun lingkungan rumah adalah tetap yang ternyaman bagi adiknya.


Setelah dokter pulang, ibupun mendekati Anggun dan


Anggun masih saja menangis saat ibu memaksa agar dia menceritakan kejadian apa yang dia alami hingga keadaannya seperti sekarang.


Namun Anggun tetap membisu, dia stres serta takut untuk bercerita serta meminta maaf kepada sang ibu.


Melihat Anggun menangis karena paksaan ibu, Mishell pun berkata, "Bu, biarkan Anggun tenang dulu, jangan dipaksa. Sebaiknya ibu istirahat bersama Kalila. Biar aku yang akan menemani Anggun."


Akhirnya ibu pun menurut, lalu ibu duduk bersama Kalila, mereka ngobrol tentang kondisi Kalila.


Anggun pun tertidur dengan sesekali masih terisak, hingga membuat Mishell tidak tega untuk meninggalkannya.


Setelah Anggun benar-benar terlelap, Mishell pun menghampiri ibu dan Kalila, lalu mengajak mereka ngobrol di luar kamar.


Di sana Mishell pun menceritakan semua yang Anggun alami. Ibu shok, beliau kecewa kenapa semua itu terjadi pada putri tunggalnya.


Hati ibu sakit dan beliau tidak kuasa menahan tangis. Masa depan putrinya telah hancur dan kini ibu masih bingung bagaimana supaya Anggun bisa hidup normal pasca traumanya ini.


Kalila memberikan semangat kepada ibu, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Contohnya semua yang terjadi pada Kalila.


Kalila berjanji, mulai besok dia akan menemani Anggun untuk memberikan dorongan semangat agar adik iparnya itu memiliki harapan hidup lagi seperti dirinya.


"Pokoknya mulai sekarang kita jangan menekan Anggun ya Bu. Kita harus sama-sama membangkitkan semangat hidupnya."


"Iya Bu, kak Mishell benar."


"Terimakasih Nak, ibu beruntung memiliki kalian, jika tidak rasanya lebih baik mati daripada menyaksikan kehancuran putri ibu."


"Bu, kami keluar dulu ya. Jika butuh sesuatu, panggil saja pelayan atau telepon aku."


"Baiklah Le. Terimakasih ya Nak Kalila."


"Sama-sama Bu."


Keduanya pun keluar kamar, lalu Mishell membawa Kalila ke taman. Sore ini, Mishell mengajak Kalila berkelliling untuk menikmati udara sore.


"Sayang, aku mau tanya, apa yang kamu rasakan saat tersadar dengan keadaan seperti sekarang ini?"

__ADS_1


"Yang pasti, aku shok Kak. Aku tidak memiliki semangat lagi bahkan makanan serta minuman semua aku tolak karena aku hanya ingin mati saat itu."


Mudah-mudahan kamu bisa memberikan gambaran untuk Anggun, bahwa hidupmu dulu lebih tidak beruntung.


"Itu yang aku maksud Kak. Inshaallah kita pasti bisa menolong Anggun."


"Bagaimana mengenai pelakunya, apa tidak coba kita selidiki?"


"Aku sudah minta tolong kakek agar para pengawalnya membantu penyelidikan."


"Oh, baguslah jika begitu Kak."


Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba Kalila kembali melihat cahaya samar-samar, tapi kepalanya jadi pusing.


Kalila pun memegangi kepalanya hingga membuat Mishell khawatir.


"Ada apa sayang, apakah kepalamu sakit?"


Kalila belum mau mengatakan hal itu kepada siapapun karena dia belum yakin jika penglihatannya akan kembali. Dia akan memberi kejutan jika hal itu benar terjadi.


"Bagaimana sayang, apa kepalamu tidak apa-apa?"


Kalila menggeleng lalu meminta Mishell untuk membawanya kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Kalila meminta Mishell untuk membawanya ke kamar, kini titik cahaya semakin jelas tapi makin membuat kepala Kalila sakit.


Kalila merintih hingga membuat Mishell khawatir. Mishell hendak memanggil dokter tapi Kalila melarang dan dia hanya meminta agar Mishell tetap di kamar menemaninya hingga tertidur.


Mishell dengan sabar menemani sang istri sambil memijat kakinya.


Karena belakangan banyak masalah yang terjadi, Mishell pun tidak sempat membantu menterapi kaki Kalila. Padahal perkembangannya sudah sangat lumayan, sebelah kaki Kalila sudah mulai bisa digerakkan.


Kalila makin bersemangat untuk sembuh, dia secara diam-diam sering berlatih sendiri.


Meski beberapa kali sempat terjatuh dari atas tempat tidur tapi Kalila tidak putus asa, dia bangkit, jatuh dan bangkit lagi.


Kali ini kebahagiaan Kalila berlipat, bukan hanya kemajuan pada kaki, namun pada mata juga. Kalila hanya berharap keajaiban akan benar ada, hingga dirinya bisa segera kembali melihat dan juga berjalan.


Bersambung....


Selamat malam para sobat, kali ini aku rekomendasikan karya system dari Author khusayni, keren abis deh ceritanya. Yuk silakan dikepoin ya dan jangan lupa beri dukungan di karya kami. Terimakasih 🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2