
"Tuan, semuanya sudah siap," ucap salah seorang MUA.
"Baiklah. Pengawal! minta penghulu dan para saksi untuk bersiap, sekarang juga pernikahan akan kita laksanakan!"
"Siap Tuan!"
Pengawal pun pergi menemui penghulu perkawinan berikut para saksi, Kakek Artha lalu mengajak ibu untuk menemui pengantin.
"Maaf Tuan, saya lancang bertanya, apakah orangtua Non Kalila tidak datang untuk menjadi wali?"
"Hemm..."
Sejenak Kakek terdiam, dia sedih jika mengingat hal itu.
"Maaf Tuan, jika pertanyaan saya membuat Tuan sedih."
"Saya tahu, ibu pasti penasaran, tapi saat ini yang bisa saya katakan, Kalila tidak memiliki orangtua lagi. Hanya saya keluarga yang dia punya. Saya belum bisa menceritakan masa lalu Kalila untuk saat ini."
"Kalau begitu saya minta maaf Tuan."
"Ayo kita kesana, semua pasti sudah siap. Wali nikah Kalila, saya sendiri karena papa Kalila adalah putra saya."
"Iya Tuan."
Mereka pun mendekat ke tempat akan dilakukan acara akad nikah. Para MUA telah membawa pengantin ke tempat tersebut.
Mishell terlihat sangat tampan dengan balutan pakaian dan jas. Dia menjelma bak pangeran dari negeri dongeng.
Kalila juga sangat cantik, tapi sayang tidak ada sedikitpun kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Bisa kita mulai Tuan?" tanya Pak penghulu.
"Iya, mulailah!"
MUA mendorong kursi roda Kalila, lalu mensejajarkan dengan kursi di mana Mishell duduk.
"Kamu siap Dek?" tanya penghulu nikah kepada Mishell.
"Inshaallah Pak, saya siap. Tolong berkas ini kamu tandatangani!" pinta penghulu.
Mishell menandatangani berkas yang diperlukan untuk pendaftaran pernikahannya.
Saat ini dia dan Kalila akan menikah secara agama dulu dan surat nikah akan menyusul setelah proses pendaftaran pernikahan selesai.
"Tanda tangan dari mempelai wanita bagaimana Tuan?"
"Sebentar," jawab Kakek Artha.
__ADS_1
Kakek mendekati Kalila, lalu beliau berkata, "Nak, maafkan Kakek. Ini semua Kakek lakukan demi kebaikanmu. Kakek yakin Mishell bisa menjaga dan melindungimu lebih baik dari Kakek," ucap Kakek Artha sambil memegang tangan Kalila dan menjepitkan pulpen di sana.
Dengan bantuan Kakek, surat-surat akhirnya selesai di tandatangani.
Kakek dan para saksi juga ikut menandatangani berkas yang di siapkan oleh penghulu. Setelah itu penghulu memberi arahan kepada Mishell dan Kakek tentang pengucapan ijab qobul.
Sebelum ijab qobul di mulai, penghulu meminta Mishell untuk memakaikan mas kawin berupa cincin berlian pemberian Bu Anis ke jari Kalila.
Mishell pun melakukan hal itu dengan mengucap Basmallah, dia berharap pernikahan itu akan membawa kebaikan untuk Kalila.
Kakek Artha pun duduk berhadapan dengan Mishell, lalu keduanya saling berjabat tangan, siap untuk mengucap lafadz ijab qobul.
Kakek : "Ananda Mishell bin Tohir Zailani, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan cucu saya, Kalila binti Muhammad Gunadi dengan maskawinnya berupa sebuah cincin berlian, dibayar tunai.”
Mishell: "Saya terima nikah dan kawinnya Kalila binti Muhammad Gunadi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Lafadz ijab qobul pun selesai diucapkan dengan satu kali tarikan nafas. Para saksi dan semua yang hadir serentak mengucap sah.
Ucapan Alhamdulillah pun terdengar, Mishell merasa lega, dia kini telah sah menjadi suami Kalila.
Mishell mencium kening dan puncak kepala Kalila sambil berdoa untuk kebahagiaan dan kebaikan rumahtangganya, sementara Kalila tidak bereaksi apapun.
Lalu Mishell sungkem kepada ibu dan juga kakek Artha. Kakek memeluk Mishell, beliau pun berpesan, "Tolong sayangi dan lindungi cucu saya! Saya percayakan Kalila kepadamu Nak!"
Mishell pun membalas pelukan Kakek, lalu menjawab, "Inshaallah Kek, Mishell akan menyayangi dan menjaga Kalila. Mishell akan berjuang untuk kesembuhannya."
"Kek, boleh Saya peluk menantu Saya?" tanya ibu.
"Silakan Bu! Sekarang Kalila telah sah menjadi istri Mishell, jadi Kalila juga putri ibu."
Ibupun mencium dan memeluk Kalila, lalu membisikkan di telinganya, "Kamu sekarang tidak sendirian Nduk, Ibu akan menyayangimu seperti putri ibu sendiri."
Setelah mengatakan hal itu, ibu melepaskan pelukannya dan beliau terkejut saat melihat ada air bening menggenang di kedua kelopak mata Kalila.
"Kamu menangis Nduk?" tanya ibu sambil mengelap air bening yang mulai mengalir di pipi Kalila.
"Kakek mendekati Kalila, lalu berkata, "Menangislah, jika itu bisa mengembalikan keceriaan mu seperti dulu."
Mishell pun mendekati sang istri, lalu dia mengelap sisa air mata Kalila. Setelah itu dia berkata, "Bicaralah Kalila, aku sekarang suamimu, apapun masalah mu akan menjadi masalah ku, kita akan menanggung dan menyelesaikannya sama-sama."
Kalila masih tetap dengan sikap dinginnya, dia tidak bereaksi apapun lagi.
Semua kembali ketempat semula, penghulu pernikahan pun meminta Mishell untuk membacakan janji pernikahan. Dimana Mishell harus berjanji akan menyayangi, menafkahi lahir batin dan mempergaulinya dengan baik.
Setelah selesai, penghulu pun memberi nasehat agar Mishell bersabar dalam menghadapi kondisi mempelai wanita dan beliau mengakhiri acara dengan pembacaan doa.
Kini acarapun telah selesai, Kakek mempersilakan yang hadir untuk menikmati hidangan yang telah para pembantu sajikan.
__ADS_1
Sekarang beliau merasa lega, beban tanggungjawabnya sebagian sudah berpindah ke pundak Mishell.
Mishell adalah harapan terbesar Kakek Artha, untuk bisa memberinya penerus.
Kakek mendekati Mishell dan ibunya lalu beliau berkata, "Ajaklah ibumu menikmati makanan, setelah itu Kakek tunggu kamu di ruang kerja. Ada hal penting yang akan kakek bicarakan!"
"Baik Kek, bolehkah aku menyuapi Kalila Kek?" tanya Mishell, hingga membuat Kakek menghentikan langkah dan berbalik menatap Mishell.
"Dia istrimu, lakukan semua yang menurutmu baik. Aku percayakan semuanya sama kamu!"
"Terimakasih Kek."
Kakek pun tersenyum, lalu melanjutkan langkah menuju ruang kerja.
Mishell, mengambilkan makanan untuk sang ibu, lalu dia mengambil makanan untuk dirinya dan juga Kalila.
Dengan percaya diri, Mishell mendekati Kalila, dia harus mulai memberikan perhatian dari hal yang menurutnya sepele.
Mishell mengulurkan sesendok makanan ke mulut Kalila, tapi istrinya itu tidak bergeming sedikitpun. Mishell tidak kehabisan akal, lalu dia mencoba melakukan pendekatan dengan menawarkan sebuah persahabatan.
"Makanlah Lila, maaf jika aku lancang. Namaku Mishell, aku suamimu, tapi percayalah aku ingin kamu menjadi sahabatku."
"Aku janji, tidak akan menyakiti atau memaksakan apapun. Aku hanya ingin kamu percaya dan mau berbagi masalah denganku."
"Lil, bukalah mulutmu! suapan ini tanda awal persahabatan kita. Aku janji, aku hanya ingin bersahabat!" ucap Mishell. Dia meletakkan sendok kepiring, lalu mengatupkan kedua tangannya.
Pembantu yang melihat kesabaran Mishell tersenyum, lalu mendekat dan berkata, "Maaf Tuan, perkenalkan nama Saya Vita. Saya pembantu yang biasa melayani Non Kalila, termasuk memberinya makan. Percuma Tuan, Nona tidak akan membuka mulut jika tidak dipaksa."
"Maksudmu? dipaksa bagaimana? Aku tidak ingin menyakitinya!"
"Buka mulut Non dengan cara paksa Tuan dan harus sabar menunggu sampai Non menelan makanannya."
"Lagipula Non tidak akan mengunyah makanan seperti itu Tuan! Non hanya makan, makanan berkuah seperti sup yang mudah untuk di telan."
"Oh, baiklah saya akan mengganti makanan ini."
"Biar saya saja yang ambilkan Tuan."
"Tidak Vita, saya harus belajar melayani istri saya, kamu sebaiknya melayani tamu saja."
"Baiklah kalau begitu Tuan, jika butuh bantuan, panggil saja saya."
"Oke Vita, terimakasih. Aku pasti butuh bantuanmu untuk lebih mengenal Kalila."
"Saya permisi ya Tuan."
Mishell pun mengangguk, lalu dia mengambil makanan baru seperti arahan Vita. Mishell akan terus mencoba sampai berhasil, tapi dia tidak akan menggunakan cara paksa Seperti yang Vita katakan.
__ADS_1
Bersambung......