HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 49. MENDAPATKAN ANUGERAH TERINDAH


__ADS_3

"Maksud Kak Mishell, apakah Reza yang memperkosa Anggun?"


"Sepertinya iya. Kamu lihat tadi dia begitu gugup. Reza itulah teman yang dulu suka menjemput Anggun di sekolah dan dialah yang mengajak serta menjebak Anggun di pesta hingga minum minuman beralkohol."


"Saat itu aku datang tepat waktu hingga tidak sempat terjadi hal yang buruk terhadap Anggun. Tapi ternyata kali ini aku kecolongan, hingga dia melakukan hal.yang lebih parah."


"Aku tidak akan membiarkan dia lolos, jika memang Reza pelakunya, dia harus menerima balasan setimpal karena telah merusak kehidupan adikku," geram Mishell sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Sabar Kak, siapapun yang bersalah pasti akan menerima hukumannya."


Mereka pun sudah tiba di kantor, Mishell langsung menuju ke ruangannya bersama Kalila, sedangkan Pak sopir menghubungi teman-temannya untuk mencari tahu dari CCTV jalan, flat nomor mobil yang masuk ke area di mana Anggun kehilangan mahkotanya.


Sesampainya di ruangan, Mishell langsung menelepon kepala bagian pemasaran. Dia ingin melihat laporan penjualan barang dalam beberapa hari kemaren.


Sejak perusahaan dipegang oleh Mishell, para karyawan pun kembali disiplin. Mereka datang dan pulang tepat waktu serta menyelesaikan tanggungjawab sesuai yang Mishell harapkan.


Di rumah kediaman Kakek, ibu yang baru pulang mengantar Anggun, langsung masuk ke dalam kamar. Beliau baru teringat jika ulangtahun Mishell yang ke-25 tinggal beberapa hari lagi.


Ibu pun mengambil sebuah kotak dari dalam lemari. Kotak itu berisi barang-barang Mishell saat dia kecil.


Beliau membuka dan membolak-balik barang-barang tersebut, sambil berpikir bagaimana caranya mengatakan rahasia itu kepada Mishell.


Dan beliau harus menepati janji, mengembalikan amanah kepada mama Mishell tepat di hari ulangtahunnya nanti.


Terselip rasa takut di hati ibu jika setelah mengetahui asal usulnya Mishell akan kembali ke keluarga dan melupakan Bu Anis beserta Anggun.


Namun, Bu Anis segera menepis rasa takutnya itu, beliau harus siap apapun resikonya nanti.


Nanti malam beliau bermaksud membicarakan hal ini kepada Mishell, mumpung masih ada waktu beberapa hari lagi untuk mencari tahu apakah orang tua Mishell masih hidup dan masih tinggal di tempat yang sama.


Bu Anis menghela nafas berat, lalu menyimpan kotak itu kembali ke dalam lemari.


Setelah itu, ibu pun ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang ketimbang beliau cuma duduk diam di dalam kamar.


Mishell yang sedang fokus dengan pekerjaannya, mendapat telpon dari Hans. Hans memberitahu jika mereka menemukan bukti jika memang Reza saat itu berada di tempat kejadian.

__ADS_1


Dan Luka yang ada di tubuh Reza adalah hasil perlawanan Mishell saat kemaren.


Mishell meminta Hans untuk mengumpulkan semua bukti, kali ini dia akan menjerat Reza dengan ancaman hukuman seberat-beratnya.


Melihat wajah Mishell tegang Kalila pun menghampiri dan menenangkannya.


Kalila pun mengajak Mishell untuk kembali ke rumah dan dia akan meminta pengacara kakek untuk membantu menangani kasus tersebut.


Mishell pun setuju, lalu dia membereskan berkas-berkasnya dan bersiap untuk pulang ke rumah.


Kalila mengambil tasnya, lalu menggandeng lengan Mishell, tapi tiba-tiba saja Kalila terhuyung, dia merasa pusing dan pandangannya perlahan menggelap. Kalila pun jatuh pingsan di dalam pelukan Mishell.


Mishell panik, lalu dia berteriak meminta tolong kepada stafnya untuk menyiapkan mobil, Mishell akan membawa Kalila ke rumah sakit.


Tubuh Kalila yang mungil dengan mudah Mishell gendong menuju mobil, lalu stafnya itupun mengantar mereka menuju rumah sakit.


Karena sangat khawatir, Mishell pun langsung menggendong Kalila menuju ruang UGD, dia berteriak agar dokter segera datang memeriksa kondisi Kalila.


Dokter pun memeriksa Kalila dan beliau mengatakan jika tekanan darah Kalila sangatlah rendah. Selain itu, Kalila juga kelelahan, harusnya begitu pulih dari sakitnya, dia masih harus banyak beristirahat.


Kakek meminta sopirnya untuk segera mengantar mereka ke rumah sakit. Beliau sangat mengkhawatirkan Kalila.


Mishell duduk menemani Kalila yang baru saja sadar, lalu dia mengelus rambutnya yang hitam panjang sembari berkata, "Maaf ya Yang, belakangan ini aku selalu sibuk jadi kurang memperhatikan kesehatan mu."


"Sekarang kamu harus banyak beristirahat, jangan ikut memikirkan masalah Anggun dan juga perusahaan. Kamu harus prioritaskan kesehatanmu saja."


Kalila tidak menjawab, dia sebenarnya merasa mual dan ingin muntah. Tapi belum sempat Kalila mengatakan, tiba-tiba dia memiringkan kepala dan spontan isi perutnya pun langsung menyembur keluar.


Mishell terkejut, lalu diapun memencet bel tanda darurat. Wajah Kalila sangat pucat, hingga membuat Mishell berulangkali memencet bel agar dokter segera datang.


Dokter dan perawat pun kaget, lalu dokter meriksanya kembali, sementara suster meminta petugas cleaning service untuk membantu membersihkan lantai dari muntahan Kalila.


"Dok, tolong periksa yang benar. Ada apa dengan istri saya. Sebenarnya istri saya sakit apa dok?"


"Tenang ya Pak, kami sedang memeriksa, sebaiknya bapak tunggu saja di luar, " ucap Pak dokter.

__ADS_1


Mishell tidak tenang, dia menunggu hasil pemeriksaan dan saat melihat suster keluar, buru-buru Mishell pun menghampirinya.


"Sus, bagaimana kondisi istrinya? Sebenarnya istri saya sakit apa?"


Sebaiknya sekarang Bapak masuk, karena dokter ingin membicarakan sesuatu kepada perwakilan keluarga pasien.


Mishell tegang dan sangat khawatir, dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui penyakit istrinya.


"Bagaimana Dok, apa hasil pemeriksaannya? kenapa istri saya muntah?"


Dokter tersenyum, lalu beliau mengulurkan tangan sembari berucap, "Selamat Pak, istri Anda saat ini sedang hamil. Maaf jika tadi kami tidak memeriksanya secara akurat."


Mishell membalas uluran tangan dokter, lalu dia mengucapkan terimakasih. Dan Mishell masih saja tidak percaya jika Kalila saat ini sedang mengandung calon bayinya.


Dokter menunjukkan hasil USG hingga membuat Mishell menitikkan air mata.


Mishell kemudian pamit, lalu dia menemui Kalila. Mishell pun mencium kening Kalila berulang-ulang sembari mengucapkan terimakasih.


Kalila pun merasa heran, lalu diapun bertanya, "Terimakasih untuk apa Kak? Ada apa sebenarnya?"


Mishell pun menceritakan apa yang baru saja Dokter sampaikan dan Kalila terkejut, lalu menangis haru.


Kalila tidak menyangka, jika secepat itu Tuhan memberi mereka anugerah terindah yang sebelumnya tidak pernah terbersit di hati Kalila untuk memilikinya, setelah kematian Marshell.


Mishell memeluk Kalila, mereka sama menangis karena bahagia.


Kakek dan ibu yang baru saja tiba merasa heran melihat keduanya yang sedang berpelukan sembari menangis.


Lalu ibu menghampiri anak serta menantunya itu untuk menanyakan apa sebenarnya yang sedang terjadi.


Mishell pun memberitahu Kakek serta Ibu, jika saat ini Kalila sedang mengandung.


Semua terharu, khususnya Kakek. Harapan kakek selama ini akhirnya terkabul dan berita ini merupakan hadiah terindah di penghujung usianya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2