HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 19. RENCANA LILIAN


__ADS_3

"Baiklah Kek, kami permisi. Kami sangat berharap kedatangan Kakek dan Kalila dalam acara itu."


"Ya, salam dengan Papa Mama Marshell. Kami pasti penuhi undangan Kalian."


Dengan menyunggingkan senyum manis, Lilian dan Reza pun pergi meninggalkan rumah Kakek Artha.


Sebenarnya Kakek sejak dulu kurang suka dengan ibu tiri Marshell yang menurutnya tidak tulus, menyimpan terlalu banyak kepura-puraan.


Kakek menghela nafas, beliau teringat dengan kebaikan Marshell dan kejadian naas yang menimpanya.


"Kami akan datang Marshell, meskipun Kalila bakal bersedih lagi," monolog Kakek.


Kakek meneruskan membaca koran dan mata beliau membulat saat melihat berita tentang sebuah perusahaan terkenal sedang oleng dan nyaris bangkrut.


"Apa-apaan ini! benarkah berita ini? Kenapa Lilian tidak cerita sedikitpun tentang masalah ini," monolog Kakek.


Kakek langsung menghubungi Hans untuk mencari tahu kebenaran berita tersebut. Beliau merasa penasaran, mungkinkah sakitnya mantan calon besan ada hubungannya dengan berita tersebut.


Hans dengan cepat menghubungi sumber berita dan ternyata kabar tersebut memang benar.


Papa Marshell saat ini struk dan di rawat di rumah sakit, sedangkan mamanya memang sering keluar masuk rumah sakit sejak Marshell masih hidup.


Hal ini makin membuat kakek penasaran, hingga beliau yakin akan datang memenuhi undangan tersebut.


Lilian dan Reza tidak langsung pulang ke rumah, tapi mereka ke rumah sakit untuk mengunjungi Papa Marshell.


Sesampainya di sana, Lilian pun pura-pura sedih dan bersimpuh di depan kursi roda Mukhtar, suaminya.


"Pa, kami tadi menemui Kakeknya Kalila. Mereka janji akan datang minggu depan, Mama mohon, papa minta bantuan mereka. Toh mereka punya hutang budi, karena Marshell, Kalila bisa selamat. Keterlaluan jika mereka tidak bisa membantu kita."


"Iya Pa, bagaimana nasib mama dan Reza kedepannya, Reza malu Pa dengan teman-teman. Masa semua aset kita akan di sita. Mau di taruh di mana muka kita Pa?"


Awalnya Mukhtar memilih diam, tapi karena rengekan anak dan istrinya itu, diapun berkata dengan terbata-bata.


Mukhtar marah, karena perbuatan para istri muda dan anak-anak yang selalu berpoya-poya serta terlalu percaya kepada rekan bisnis, perusahaan mereka menjadi bangkrut.


Sementara dirinya sudah tidak bisa berbuat apapun dengan keadaannya sekarang.


"Pa, jangan marah dong. Untuk pengobatan Papa dan Mbak Rara saja habis milyaran, bagaimana perusahaan kita tidak bangkrut! Jadi bukan salah kami sepenuhnya. Papa dan Mbak Rara juga salah," ucap Lilian lagi.

__ADS_1


Lilian terus bersikap manis, dia harus berhasil membujuk Mukhtar agar mau meminta suntikan dana dari Kalila dan kakeknya.


Karena cuma itu jalan satu-satunya agar perusahaan mereka bisa bangkit kembali dan terbebas dari lilitan hutang.


"Mama benar Pa, aku janji deh, akan mengelola perusahaan dengan serius agar bisa pulih kembali. Ya Pa, tolong bantu kami."


Mukhtar pun iba melihat keluarganya, dalam keterpurukan itu dia tidak bisa berbuat apapun selain meminta belas kasihan orang lain untuk menyelamatkan bisnisnya.


Akhirnya Mukhtar mengangguk, meski dia belum yakin apakah akan sanggup memohon kepada mantan calon besan.


Melihat Mukhtar setuju, Lilian bangkit dan memeluk Mukhtar sambil menciuminya. Dia harus bersikap lebih manis agar tujuannya bisa tercapai.


Reza pun melakukan hal yang sama, berpura-pura menjadi anak yang baik untuk memuluskan rencananya bersama sang mama.


Ketiganya tidak tahu jika seseorang sedang berdiri di pintu, memperhatikan kepalsuan ibu dan anak tersebut.


"Eheeem."


Suara deheman mengejutkan Lilian dan Reza, lalu mereka buru-buru bangkit dan menghampiri serta menarik wanita yang selama ini sering mereka dizolimi.


Dia adalah Sheila, mama dari almarhum Marshell yang datang dari ruangan sebelah untuk mengetahui perkembangan kesehatan suaminya.


"Hei...kamu harus yakinkan Mukhtar agar mau meminta bantuan Kalila dan kakeknya! Ingat Sheila, biaya perawatan mu juga bergantung dari usaha kalian! Jika gagal, kami tidak akan peduli lagi, kalian mau di tendang atau di suntik mati bukan urusan kami lagi!"


"Hahaha, aku tidak peduli jika harus mati. Hatiku telah mati bersama putraku, jadi kalian tidak perlu mengancam!"


"Dasar wanita tidak berguna!" ucap Lilian sambil menarik kerudung Sheila.


Jika kamu tidak mau membujuk Mukhtar, serahkan sertifikat perkebunan serta sertifikat rumah milik almarhum putramu!"


"Jangan harap kalian akan mendapatkannya, lebih baik aku mati ketimbang menyerahkan hak putraku kepada kalian!"


"Kamu masih keras kepala ya!" ucap Lilian, atau kamu mau aku membujuk Mukhtar agar dia yang memaksamu!"


Sheila tidak peduli dengan ancaman Lilian, dia akan tetap memperjuangkan milik Marshell meski putranya itu sudah tiada. Sheila masih berharap putranya yang satu lagi bakal kembali.


"Tante mau aku membuat Tante tidak bisa melihat matahari lagi?" ancam Reza sambil mengacungkan pisau silet yang dia ambil dari dalam kantong.


"Aku tidak takut, seandainya aku mati, pengacara akan memberikan harta Marshell ke panti asuhan, karena itu amanahnya sebelum dia meninggal."

__ADS_1


"Bangsat! sudah mati pun masih menyusahkan!" ucap Reza kesal sambil membanting pisaunya di lantai.


"Ma, apa yang akan kita lakukan, jika Mukhtar dan wanita bodoh ini tidak menuruti perintah kita?"


"Gampang, kurung mereka di kamar, jangan beri apapun hingga mereka mati perlahan."


"Bagus Ma, kita tunggu minggu depan, apakah wanita buta dan lumpuh itu akan datang dengan Kakeknya atau tidak."


"Iya. Ayo Za kita harus pergi dari sini. Ada yang lebih penting kita lakukan ketimbang mengurusi pasangan penyakitan seperti mereka."


Sheila hanya mendesah, dia menyesali kenapa Mukhtar suaminya bisa terjerat dengan wanita-wanita busuk seperti para madunya.


Sheila masuk untuk menemui Mukhtar, dan dia melihat sang suami duduk melamun.


"Pa, bagaimana keadaan Papa hari ini? Apakah dokter sudah datang memeriksa kondisi Papa?"


"Sudah Ma, jika stabil terus, papa boleh pulang beberapa hari lagi."


"Oh, syukurlah. Jadi saat acara mendoa anak kita, Papa bisa ikut hadir."


"Ma, tadi Lilian ke sini dan dia minta agar Papa meminta bantuan kepada Kalila, bagaimana menurutmu?"


Sheila menggeleng, lalu berkata, "Mama tidak setuju! Untuk apa kita menyusahkan keluarga Kalila lagi. Malu Pa!"


"Lantas, biaya pengobatan kita nanti dari mana Ma, sementara perusahaan sudah bangkrut. Papa kasihan dengan nasib anak-anak."


"Pa, semua ini terjadi juga karena mereka. Anak-anak semua mengikuti gaya ibunya yang hanya pandai menghamburkan uang. Jadi, biarkan mereka berpikir dan berusaha, biar mereka tahu bagaimana susahnya mencari uang, bukan hanya pandainya menghabiskan saja."


"Kalau masalah biaya perobatan kita, mama masih bisa ambil dari harta peninggalan Marshell."


"Kalau begitu, perkebunan saja kita jual Ma, untuk tambahan modal!"


"Tidak Pa! Mama tidak setuju. Itu milik Marshell dan jika suatu saat Mishell kembali, itu akan menjadi miliknya."


"Tapi Ma!"


"Maaf Pa, kali ini Mama terpaksa menentang Papa. Apapun yang terjadi, Mama tidak akan mengusik peninggalan Marshell, hasil dari kerja kerasnya."


Mukhtar pun tidak berani memaksa lagi, dia sadar telah banyak menyusahkan Sheila selama ini.

__ADS_1


__ADS_2