
Mishell dan Kalila sedang bersiap, mereka sebelumnya akan ke kantor dulu, baru ke rumah keluarga Marshell.
Ada beberapa berkas penting yang harus Mishell tandatangani dan itu tidak bisa ditunda.
Saat melihat Kalila kepayahan untuk memakai pakaiannya, Mishell pun menghampiri, "Sini sayang, aku bantu. Kalau makeup biar Vita saja. Soalnya aku tidak tahu tentang rias merias, nanti bisa membuat kamu malu di hadapan mereka."
Mishell pun merapikan baju yang sudah di kenakan oleh Kalila, lalu dia menelepon Vita untuk segera datang ke kamar.
Sebelum Vita datang, Mishell mengambil kesempatan dengan mendaratkan ciuman ke bibir sang istri.
Kalila membalas ciuman tersebut, dia merasa bersalah karena tadi malam telah mengecewakan Mishell.
"Sudah ya sayang, nanti Vita datang. Malu, jika dia melihat kita seperti ini," ucap Mishell.
Benar saja, Vita nyelonong masuk karena pintu sedikit terbuka.
"Eh...maaf Tuan, Nona. Saya tidak tahu..."
"Nggak apa-apa Vit, masuklah!" ucap Kalila dengan wajah memerah.
"Iya Non."
Vita pun merasa bersalah karena tidak mengetuk pintu dulu, jadi dia sempat melihat Mishell dan Kalila saling peluk serta berciuman mesra.
Tapi Vita senang, majikannya kian hari makin ceria. Dia berharap akan segera ada mukjizat lain setelahnya. Vita tidak tega jika harus terus melihat Kalila terpuruk dengan kesedihannya.
"Nona tegakkan wajah ya, biar aku mulai periasan."
"Begini Vit!"
"Ya, tahan sebentar ya Non."
Vita pun mulai melakukan tugasnya, dari membersihkan wajah sampai ke tahap pemolesan bedak, lipstik dan celak alis.
Kini Kalila tampak lebih cantik dari biasanya, apalagi di tambah dengan pemakaian hijab yang senada.
Kalila sudah bertekad, setiap kali keluar rumah akan menggunakan hijab. Dan akan menunjukkan mahkota kepalanya hanya kepada Mishell sebagai suaminya.
Tentu saja keinginan Kalila mendapatkan dukungan dari Mishell. Mishell sangat senang jika kecantikan sang istri hanya menjadi miliknya.
Tugas Vita pun selesai, lalu dia pamit untuk menyiapkan kursi roda di bawah. Sedangkan Mishell juga sudah bersiap untuk membawa Kalila turun.
Namun saat Mishell hendak menggendong, Kalila menolak. "Kenapa Sayang?" tanya Mishell heran.
__ADS_1
"Pegang tanganku saja Kak!" pinta Kalila.
Lalu dengan susah payah, Kalila pun mencoba berdiri dengan bertumpu pada tangan serta bahu Mishell.
Mishell terkejut, dia tidak menyangka, jika Kalila mengalami kemajuan kesehatan yang cukup pesat, padahal Mishell belum juga sempat untuk membantu Kalila berlatih.
"Kamu....!
Kalila mengangguk sambil tersenyum, lalu diapun berkata, "Setiap Kak Mishell ke kantor, aku mencoba berlatih sendiri meski seringkali terjatuh."
"Alhamdulillah, maafkan aku ya Sayang, aku selama ini terlalu sibuk di pabrik, jadi kurang memperhatikan kesehatan kamu. Aku nyaris tidak memiliki waktu untuk membantumu berlatih."
Mishell memeluk Kalila, dia sangat senang dengan kejutan hari ini. Diapun berjanji, mulai besok, akan meluangkan sedikit waktu sebelum berangkat kerja untuk melatih Kalila berjalan.
"Semua ini berkat cinta Kak Mishell, aku jadi memiliki semangat untuk sembuh. Terimakasih Kak, sudah mau hadir dalam kehidupan gadis cacat seperti ku."
"Kamu jangan bicara seperti itu Sayang. Meski kamu cacat seumur hidup, aku akan tetap menyayangimu. Kamu telah mengajarkan ku untuk kuat dan bersabar dalam menerima takdir."
"Ya sudah yuk kita berangkat, tapi Kakak masih harus menopangku."
"Siap Sayang, ayo kita turun. Kakek pasti bakal senang melihat kamu seperti ini."
Mishell pun memapah Kalila, selangkah demi selangkah Kalila berhasil menuju ke anak tangga. Walaupun sangat sulit, dia tetap tidak mau digendong, karena sudah saatnya dia harus terus berlatih agar kakinya tidak kaku kembali.
Beliau sangat terharu, ternyata pilihannya memang tidak salah. Selangkah demi selangkah Mishell berhasil membuat Kalila bersemangat untuk sembuh.
Sesampainya Kalila di bawah, kakek langsung memeluknya dan mengucap syukur. Hal ini merupakan kejutan indah bagi beliau, apalagi saat Vita menceritakan jika hubungan Mishell dan Kalila makin hari semakin mesra.
"Terimakasih Sayang, Kakek sangat senang hari ini. Selamat ya, mudah-mudahan segera menyusul kejutan lain."
Mishell paham maksud Kakek, beliau sangat berharap akan segera mendapatkan seorang buyut sebagai penerus dan juga berharap penglihatan Kalila akan segera kembali.
Ibu yang baru keluar dari kamar pun merasa terkejut, lalu beliau juga menghampiri dan memeluk Kalila sembari memberikan ucapan selamat.
Harapan beliau pun untuk memiliki seorang cucu jadi semakin besar.
Setelah ibu melepaskan pelukannya, Mishell pun pamit.
"Kek, Bu kami berangkat dulu ya," ucap Mishell.
"Oh ya Mbak Vita, apakah kursi rodanya sudah di masukkan ke dalam mobil?" tanya Mishell.
"Sudah Tuan."
__ADS_1
"Selamat ya Non! Aku tidak tahu jika Non Kalila sudah bisa berjalan, padahal setiap harinya aku yang paling banyak menghabiskan waktu bersama Non," ucap Vita yang merasa malu.
"Memang sengaja kok Vit, aku ingin memberi kalian kejutan," jawab Kalila.
"Ya sudah berangkatlah kalian, nanti kesiangan, bukankah mau ke kantor dulu," ucap Kakek.
"Iya Kek. Kami pergi dulu ya," pamit Mishell sembari menyalam dan mencium tangan Kakek serta sang ibu. Kalila juga melakukan hal yang sama.
Kakek dan ibu memandang kepergian keduanya dengan seulas senyum kebahagiaan. Mereka mengantar sampai ke depan pintu hingga mobil yang mereka kendarai menghilang dari pandangan mata.
"Senangnya melihat mereka bahagia ya Bu!" ucap Kakek.
"Iya Kek, alhamdulillah. Terimakasih Kek telah memberi hukuman yang malah membawa kebahagiaan untuk putra saya," ucap ibu sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Filling saya tidak salah Bu, Mishell itu anak baik. Saya percaya, Kalila akan sembuh dan hidup bahagia bersama Mishell."
"Dan mudah-mudahan mereka segera diberi momongan. Itu yang paling saya tunggu sebelum kematian saya tiba," ucap Kakek.
"Iya Kek, saya juga mengharapkan hal itu."
"Oh ya, bagaimana keadaan Anggun Bu?"
"Anggun tidak mau bicara Kek, dia duduk diam sepanjang hari," jawab ibu sembari mendesah.
"Sabar ya Bu, mudah-mudahan kondisi mentalnya segera pulih. Anggun mengalami stres yang sama seperti Kalila, hanya bedanya Kalila cacat."
"Sebaiknya bawa Anggun ke dokter lagi Bu atau bila perlu ke psikolog. Kita harus terus berusaha membangkitkan semangatnya. Masa depan Anggun masih panjang, dia tidak boleh terus terpuruk," ucap Kakek."
"Iya Kek, besok saya akan minta tolong Mishell untuk menemani adiknya pergi ke psikolog."
Kakek pun mengangguk, lalu beliau pun pamit. Kakek ingin lari pagi bersama teman-temannya di sekitar komplek.
Ibu pun kembali ke kamar dan melihat Anggun masih saja duduk termenung menghadap jendela. Ibu sedih, melihat putri tunggalnya tidak mempunyai semangat hidup.
Beliau menyisir rambut Anggun sambil menembangkan lagu kesukaan Anggun semasa kecil.
Bersambung.....
PROMO NOVEL
Jangan lupa mampir juga ya ke karya sahabatku di bawah ini. Terimakasih 🙏🥰
__ADS_1