HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 25. MENCURIGAKAN


__ADS_3

Mishell memeluk Anggun, dia menitikkan air mata saat mengetahui kenyataan yang menimpa Anggun. Dia sangat marah, tapi kepada siapa mau dilampiaskan. Anggun sendiri dipaksa dan tidak tahu siapa pelakunya.


Anggun menangis tergugu, dia malu dan merasa dirinya sangat kotor.


Mendengar isak tangis Anggun, ibu pun terbangun. Saat beliau melihat ada kursi roda, barulah ibu menyadari jika sang menantu menemaninya di sana.


Kalila pun terbangun, lalu Vita membantunya pindah ke atas kursi roda.


"Nak Kalila di sini juga? Maaf ya Nak, ibu jadi merepotkan kalian."


"Nggak apa-apa kok Bu."


"Ayo Nak kita hampiri Anggun."


"Iya Bu."


Ibu pun mendorong kursi roda Kalila, menuju ke tempat tidur di mana Anggun masih menangis dalam pelukan Mishell.


Melihat sang ibu datang, Mishell pun menenangkan Anggun, "Dek, tolonglah... kamu harus tenang! lihat Ibu, kasihan beliau."


Mishell tidak ingin ibunya makin cemas, makanya dia berencana ingin menyembunyikan kenyataan pahit itu untuk sementara waktu.


"Bagaimana keadaan adikmu Shell? ibu dengar tadi Anggun menangis lagi?"


"Nggak apa-apa Bu, dia udah tenang."


"Nggun, ini ibu! Maafin ibu ya Nak, tadi sempat kasar sama kamu."


Anggun tidak menjawab, dia masih menyembunyikan wajahnya di dada Mishell.


"Mas, sebenarnya Anggun kenapa dan apa kata dokter?"


"Nggak apa-apa Sayang, dia hanya masih shok aja, sebentar lagi pasti pulih."


"Syukur lah kalau begitu Kak."

__ADS_1


"Iya Nak. Le, sini biar ibu yang jaga Anggun, kamu harus tidur meski sejenak," pinta ibu.


Ibupun mendekati Anggun dan saat beliau memeluknya, tidak ada reaksi apapun. Kepala Anggun terkulai dalam pelukan Bu Anis dan beliaupun sangat prihatin, melihat kondisi Anggun yang masih meneteskan air mata.


Beliau masih belum percaya jika tidak terjadi apapun terhadap putrinya seperti yang Mishell katakan.


Mishell pun merebahkan diri di sofa, kini pengakuan Anggun terngiang-ngiang di telinganya.


Meski Mishell mencoba untuk memejamkan mata dan tidur tapi dia tetap saja gelisah.


Rasanya Mishell sudah tidak sabar ingin mendatangi lokasi dimana Anggun di sekap serta di perkosa.


Beberapa kali dia menggeram, menahan amarah, hingga membuat ibu mengalihkan pandangannya ke arah Mishell.


"Kenapa kamu belum juga tidur Le?"


"Nggak apa-apa Bu! Barangkali memang karena aku belum mengantuk."


"Pagi ini kita boleh pulang kan Le?"


"Syukurlah jika begitu. Sudah tidurlah meski sebentar."


"Iya Bu."


Mishell pun mencoba memejamkan mata dan akhirnya diapun terlelap.


Saat Mishell tidur, Kalila mengajak Vita untuk ke kantin rumah sakit, dia ingin memesan teh, untuk menghangatkan tubuh dari udara malam. Kebetulan di sana, memang ada satu pedagang yang jualannya sampai pagi.


"Bu, kami ke kantin dulu ya. Ibu mau teh 'kan?"


"Jangan repot-repot Nak!"


"Nggak apa-apa Bu, kami pergi dulu."


"Oh ya Mbak Vita, tolong jaga dan temani Non Kalila ke kantin ya!"

__ADS_1


"Baik Bu, kami permisi."


Vita pun mendorong kursi roda Kalila menuju kantin dan saat itu mereka berpapasan dengan orang yang sangat mencurigakan.


"Stop dulu kita ya Non, aku kok curiga dengan orang yang baru saja melintas. Sikapnya itu lho Non, celingukan kesana-kemari, seperti takut bertemu seseorang."


"Nanti kamu salah lihat Vit, memangnya seperti apa orangnya!"


"Orangnya masih muda Non, tubuhnya kekar, tapi sayang wajahnya tertutup oleh topi."


"Kearah mana Vit? jangan-jangan ke ruang rawat Anggun. Bagaimana jika kita balik dulu, siapa tahu dia memang ingin berbuat jahat!"


"Iya, ayuk kita balik dulu Non."


Vita pun bergegas memutar arah kursi roda, lalu diapun mendorong ke arah ruang rawat Anggun.


Vita melihat orang tersebut mengendap-endap dan mengintip ke dalam satu persatu ruangan pasien.


Hanya tinggal beberapa ruangan lagi termasuk ruang rawat Anggun.


Saat melihat kedatangan Vita, orang itupun berlari dan menghindari mereka.


"Ayo kita masuk Non, orangnya sudah pergi. Dia takut saat melihat kita mendekat."


"Iya Vit, ayolah. Aku juga takut, sepertinya sepi sekali ya Vit, pasien pada tidur dan pihak keluarga hanya sedikit yang di perbolehkan untuk menjaga pasien."


"Iya Non, sepi sekali."


Vita pun bergegas masuk ke dalam kamar dan ibu yang melihat mereka kembali sangat cepat dan tidak membawa apapun merasa penasaran, "Kok cepat Vit, apa tidak jadi ke kantin?"


"Lho...kok di kunci! Memangnya ada apa?"


"Ada orang mencurigakan Bu, tadi sudah berjalan ke arah sini. Begitu melihat kami, eh...dianya lari."


Mereka pun akhirnya berdiam diri sejenak untuk mendengarkan barangkali ada hal yang mencurigakan.

__ADS_1


__ADS_2