
"Bagaimana keadaan kamu Shell?" tanya Kakek.
"Alhamdulillah Kek, lukanya nggak terlalu parah. Hanya tinggal menunggu hasil scanning."
"Syukurlah Le, ibu sangat cemas. Jika sampai terjadi hal buruk sama kamu, bagaimana ibu akan bertanggung jawab."
"Mishell ngga apa-apa Bu, nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Alhamdulillah ya Le, Neng Kalila sudah lebih banyak kemajuannya. Ibu senang melihat kalian tadi ngobrol dan bercanda."
"Terimakasih ya Nak, kamu seperti malaikat di rumahku. Nggak salah aku memilihmu menjadi cucu menantuku."
"Sayang, kakek senang sekali kamu sudah mau bicara. Maafkan Kakek ya, nggak bisa melindungimu hingga musibah itu terjadi."
"Kalila yang harusnya meminta maaf Kek, nggak seharusnya Kalila marah dan putus asa hingga menyusahkan banyak orang."
Kakek memeluk Kalila, sambil menangis haru. Harapan beliau semakin besar, ada binar kebahagiaan di sebalik tatapan matanya.
"Kita akan terus melakukan terapi untuk kesembuhanmu, Kakek yakin nggak lama lagi kamu pasti bisa jalan. Iya kan Shell?"
"Iya Kek, nanti kalau Mishell sudah pulang, aku akan bantu Kalila untuk melatih kakinya. Kemaren jari jemarinya sudah mulai bisa digerakkan."
"Syukurlah, kalau mengenai mata, kita akan terus berusaha, jika tidak juga, mungkin kita akan cari pendonor mata."
"Tapi kata dokter Inshaallah bisa sembuh Kek, tinggal tunggu waktu dan semangat Kalila bangkit untuk sembuh."
"Semangat ya Nak!" ucap Kakek kepada Kalila.
"Inshaallah Kek."
"Sebenarnya apa yang menyebabkan Kak Kalila menjadi seperti ini Kek?" tanya Anggun.
"Hush...jangan sekarang Nggun."
"Nggak apa-apa Bu, tapi maaf ya Dek, aku belum bisa cerita sekarang," ucap Kalila.
Masih terlihat kesedihan di raut wajahnya. Ibu pun mendekati Anggun lalu berkata, "Bantu Kakak kamu saja, berikan semangat biar bisa pulih."
"Iya Bu, maaf."
"Mishell jadi iri nih, perhatian semua ke Kalila, siapa ya yang perhatikan Mishell?" ucap Mishell sambil tersenyum karena dirinya di nomor duakan dan mereka semua ada di dekat Kalila.
Semua tertawa dan kembali mendekati Mishell. Kalila pun berkata, "Aku dong Kak! Tapi sayang, aku masih juga menyusahkan Kakak."
"Nggak ada yang menyusahkan, aku senang bisa mengurusmu. Kami semua menyayangimu."
Saat ini cukup membuat Kalila bahagia dan bersemangat lagi, setelah itu Mishell baru akan mengorek perlahan cerita kehidupan Kalila yang sesungguhnya dan apa yang membuatnya tidak bersemangat hidup dan membisu selama dua tahun lebih.
Saat mereka asyik berbincang, dokter pun masuk membawa hasil scanning.
Dokter menjelaskan jika ada pembekuan darah di kepala Mishell akibat benturan.
Semua kaget, ini bukan berita baik bagi mereka. Kalila murung, dia takut akan terjadi hal buruk pada Mishell.
"Jadi Dok, apa yang harus dilakukan? Apa harus dilakukan operasi?" tanya kakek Artha.
__ADS_1
"Kita akan beri obat dulu, mudah-mudahan tidak perlu tindakan operasi."
"Tolong berikan pengobatan terbaik Dokter," pinta Kakek.
"Iya Kek, kami akan berusaha sebaik mungkin dan tentunya di bantu doa dari seluruh keluarga."
"Terimakasih Dok. Untuk luka-lukanya bagaimana Dok?"
"Paling lama dua mingguan sudah mulai mengering hanya tinggal memberikan perawatan untuk menyamarkan bekas."
"Syukurlah kalau begitu."
"Saya permisi dulu ya, semangat untuk Mishell dan juga Kalila. Yakin saja kalian berdua akan sehat dan bahagia."
"Iya Dok, terimakasih," ucap Mishell.
"Sekarang Kakek pulang dulu ya Shell, kamu Nak ikut pulang?"
"Pulang saja Sayang, kamu harus istirahat."
"Kak, izinkan aku di sini ya. Aku mau temani Kak Mishell. Toh aku sudah terbiasa tidur di atas kursi roda, jadi nggak masalah dan nggak akan nyusahin Kakak."
"Boleh ya Kek?"
"Baiklah, tapi kamu harus tidur ya. Pengawal akan berjaga di luar, jadi jika butuh bantuan, panggil mereka."
"Terimakasih Kakek."
"Ibu juga pamit ya Shell, besok Anggun sekolah."
"Iya Kak. Maafkan Anggun."
"Kami pulang dulu ya Shell, besok ibu akan datang sekalian bawa makan siang."
"Iya Bu."
"Ayo Nak Kalila, ibu dan Anggun duluan."
"Iya ibu," jawab Kalila yang memeluk dan mencium tangan ibu.
Setelah semua pulang, Mishell pun meminta Kalila untuk istirahat.
"Sini mendekat Sayang," pinta Mishell.
Mishell turun dari tempat tidur, dia tidak ingin Kalila tidur di kursi roda, mending dirinya yang tidur di sofa dan Kalila di atas tempat tidur pasien.
Mishell membantu Kalila untuk berdiri sambil pegangan tempat tidur, dia akan membantu Kalila hingga naik ke atas tempat tidur.
"Kak Mishell di sini saja, Kalila takut."
"Iya, aku nggak akan kemana-mana. Aku masih penasaran lho Yang, tentang kecelakaan yang membuatmu menjadi seperti sekarang."
"Baiklah Kak, aku percaya sama Kakak dan aku akan menceritakan semuanya. Tapi tolong, ada hal yang Kak Mishell nggak boleh ceritakan sama Kakek atau siapapun. Aku takut Kak!" ucap Kalila sambil menggenggam tangan Mishell.
"Kak, sebaiknya kunci pintu agar tidak ada yang mendengar omongan kita."
__ADS_1
"Nggak apa-apa lho Yang, toh di luar ada penjaga."
"Nggak Kak, kita tidak bisa percaya sama siapapun, kecuali keluarga terdekat. Apalagi aku yang sama sekali tidak bisa melihat dan berjalan," ucap Kalila sambil celingak celinguk, meski dirinya tidak dapat melihat.
"Maksudmu apa Yang."
"Ada yang ingin menyaksikan Kakek hancur Kak. Tapi orang itu ingin melakukannya perlahan, ini aku ketahui setelah aku buta."
"Siapa orangnya Yang?"
"Aku pun nggak tahu Kak, dia pernah datang ke rumah sakit dan mengancam ku, jika sampai aku buka suara, dia akan langsung menghabisi kakek dan membiarkan aku hidup seperti ini sampai aku mati."
"Orang itu ingin menyiksa batin kakek, awalnya dengan kematian papa mama, dan menyusul kecelakaan yang menimpa ku bersama Kak Marshell. Dia sangat senang saat melihatku buta dan lumpuh."
"Apa dia mengatakan jika semua kejadian itu adalah rencananya."
"Iya, dia tidak ingin kakek mendapatkan penerus."
"Kamu tahu siapa orangnya?"
Kalila menggeleng, "Aku nggak bisa melihatnya Kak dan suaranya juga aneh, mungkin menggunakan alat. Tapi yang pasti, aku pernah melukai dia. Aku mencengkram dan menggaruk lehernya dalam, karena saat itu kuku ku panjang-panjang."
"Memangnya kalian sempat bertengkar?"
"Iya Kak, dia menyakitiku, menjambak rambut dan hendak menodaiku. Untung saja aku bisa melawannya saat itu dan memukul kepalanya hingga bocor."
"Lantas, apakah dia menyerah dan kabur?"
"Tidak, dia pingsan dan aku berhasil menjalankan kursi roda keluar dari ruang rawat untuk meminta pertolongan."
"Saat Kakek dan pengawal datang dia sudah tidak ada lagi di kamar itu."
"Jadi sejak saat itu, kamu trauma tidur sendiri apalagi di atas tempat tidur. Dan kamu terpaksa bungkam demi menyelamatkan kakek?"
"Iya Kak, hanya itu yang bisa aku lakukan."
"Apa keluarga Marshell tidak pernah mengusut tentang kecelakaan yang menimpa Kalian?"
"Tidak Kak! Papa dan Mama Marshell sakit-sakitan dan kendali semua ada di tangan ibu kedua dan ketiga."
"Oh, banyak istrinya."
"Iya, dan sepertinya di keluarga itu juga tidak sehat. Aku sering melihat Ibu menangis. Tapi aku nggak tahu dan nggak berani nanya, apa yang menyebabkan beliau menangis."
"Huh...ribet ternyata kehidupan orang kaya. Nggak seperti kami yang hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bertahan hidup."
"Sekarang Kakak sudah mengetahui semuanya, jadi ku mohon, lindungi Kakek, jangan biarkan mereka menyakiti beliau."
"Apakah mungkin kebakaran pabrik juga ada hubungannya dengan orang ini Yang?"
"Entahlah Kak, barangkali dia juga pelakunya."
Keduanya pun terdiam, Mishell harus bisa mengusut tuntas kasus ini meski sulit.
Dia akan melindungi Kakek dan juga Kalila dari orang-orang yang ingin membuat mereka celaka.
__ADS_1