
"Jangan menangis lagi Bu. Jika ibu mau, boleh kok menganggap ku anak," ucap Mishell saat melihat Mama Marshell tiba-tiba menangis lalu memeluknya erat.
"Kamu serius Nak? Bolehkah ibu menganggap mu anak?"
Mishell pun mengangguk, lalu menatap Kalila.
"Iya Ma, kami anak Mama jadi Mama jangan sedih lagi ya. Kasihan Kak Marshell, dia tidak akan tenang di sana jika melihat Mama terus bersedih."
"Iya Bu, Kalila benar," timpal Papa Marshell.
"Papa senang kalian mau jadi anak kami. Terimakasih ya Nak Mishell, Nak Kalila. Kalian memang anak baik. Pantas jika Marshell dulu sangat mencintaimu Nak! Maafkan Papa ya, Papa dulu sempat kurang respect terhadapmu."
"Papa nggak salah kok, setiap orangtua pasti ingin anaknya mendapatkan wanita terbaik. Aku dulu memang terkenal gadis manja Pa, jadi aku juga minta maaf kepada Papa."
"Tapi sekarang dia sudah menjadi wanita mandiri kok Pak," ucap Mishell.
"Itu semua berkat kesabaran Kak Mishell kok Pa, hingga aku bisa menjadi wanita yang mandiri," ucap Kalila.
"Papa doakan, hidup kalian akan terus bahagia."
"Iya, Mama juga. Mama senang, meski Kalila tidak jadi menantu kami, tapi kamu telah mendapatkan suami yang baik Nak."
"Terimakasih Ma, Pa," ucap Kalila, dan disusul oleh Mishell.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya Pak, Bu. Masih ada pekerjaan kantor yang harus kami selesaikan."
"Iya Nak. Tapi jangan lupa ya Nak, hubungi nomor pengacara itu," ucap Papa Marshell mengingatkan.
__ADS_1
"Inshaallah Pak."
Keduanya pun pamit pulang dan merekapun berpapasan dengan para ibu muda yang kebetulan pulang cepat.
"Lho kalian berdua di sini? Kenapa tidak menghubungi dulu, kami kan bisa menunda pergi."
"Nggak apa-apa kok Bu, hanya menjenguk Papa Mama saja," ucap Kalila.
"Oh ya, bagaimana dengan urusan di kantor? Apakah semuanya beres?"
"Masih banyak yang harus dibenahi Bu," jawab Alex.
"Maklumlah Nak, adik-adik kalian masih terlalu muda untuk mengelola perusahaan besar, apalagi dulu Marshell tidak pernah mengajarkan mereka bagaimana caranya untuk mengembangkan perusahaan."
Kalila hanya mencebikkan bibir, Marshell tetap menjadi sasaran kesalahan. Padahal, Farhan dan Reza dulu sukanya hanya menghamburkan uang hasil kerja keras Marshell.
"Heemm," dehem Kalila yang sebenarnya kesal.
"Ayo Kak kita pulang! Oh ya Bu satu hal, tolong tempatkan Papa dan Mama di kamar yang layak," pinta Kalila.
"Kamar itu terlalu pengap dan tidak bagus sirkulasi udaranya," pinta Kalila lagi.
"Itu kemauan mereka kok Nak, kami terpaksa menurut. Katanya mereka mau tenang makanya memilih kamar paling ujung."
Kalila mencebikkan bibirnya, ibu muda tidak pernah berubah, tetap pandai memutarbalikkan fakta.
"Kami permisi dulu ya Bu, lain waktu kita ngobrol lagi. Saat ini, kami harus kembali ke perusahaan Kakek. Ada pekerjaan yang masih harus kami selesaikan."
__ADS_1
"Baiklah Tuan Mishell, terimakasih atas bantuan kalian. Titip salam untuk Kakek Artha," ucap Ibu kedua.
"Iya Bu, nanti aku sampaikan."
"Oh ya Sayang, mari kita pulang," ajak Mishell sembari menggandeng Kalila.
Setelah keduanya pulang, kedua ibu muda itupun berjalan ke kamar Papa Mama, mereka ingin mencari tahu apa yang telah dibicarakan dengan papa mama Marshell.
Setibanya di kamar Ibu kedua membisikkan di telinga Papa Marshell, dia ingin Papa mengatakan semua tentang pembicaraan Mishell dan Kalila.
Tapi Papa memilih bungkam, begitu pula dengan Mama.
"Kenapa kalian diam! Apa kalian sudah bosan hidup. Kalau kalian memilih bungkam, kami akan memperlakukan kalian lebih buruk lagi," ancam ibu ketiga.
Kemudian Ibu kedua pun mendekati Mama Marshell, lalu berkata, "Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu dari kami. Maka aku tegaskan lagi, jangan coba-coba menentang kami kalau kalian tidak ingin kami berlaku lebih tega lagi."
"Kami tidak menyembunyikan apapun. Kalian berprasangka buruk terus. Padahal karena permohonan kami kepada Tuan Mishell dan Nak Kalila, mereka jadi mau membantu keuangan perusahaan."
"Ayo Mbak kita pergi dari sini!Aku rasanya mual berlama-lama di kamar ini."
Kemudian keduanya pun bergegas keluar dan meminta para pembantu agar jangan memberi makanan kepada kedua orangtua Marshell.
"Mbak, bagaimana cara memaksa mereka ya. Susah banget, aku yakin ada info penting yang mereka sembunyikan sejak dulu," tanya ibu ketiga.
"Kamu benar, aku juga merasa seperti itu. Tapi kita tidak boleh melukai mereka. Aku takut Tuan Mishell akan membatalkan kerjasamanya."
Bersambung...
__ADS_1