HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 18. MENEMUKAN KECURANGAN


__ADS_3

Dokter sedang memeriksa kakek saat Mishell dan Kalila tiba. Setelah dirasa aman, barulah mengobati luka-luka para pengawal dan juga Mishell.


Kakek memerintahkan Hans dan yang lain untuk berjaga-jaga, karena musuh sudah mulai kembali melakukan pergerakan.


Hans menjalankan perintah dan dia juga mengintruksikan kepada para pengawal yang bertugas di pabrik untuk berhati-hati.


Pembangunan pabrik pun sudah hampir rampung dan Mishell juga sudah harus bersiap untuk bekerja lagi di sana meski dengan status jabatan yang tentunya berbeda.


Beberapa hari mendapatkan perawatan, semuanya pun sudah kembali pulih, hingga mereka siap menjalankan aktivitas masing-masing.


Mishell dan Kakek sudah bersiap untuk ke pabrik dan mereka pun pamit kepada Kalila.


Hans tetap di tugasi untuk menjaga keamanan di rumah, sementara Mishell dan Kakek dikawal oleh pengawal lain.


Hari ini Kakek akan mengumumkan jika Mishell lah yang akan menggantikan dirinya sebagai pemilik pabrik.


Mishell harus bekerjasama dengan Direktur untuk memajukan perusahaan tanpa campur tangan Kakek lagi.


Kakek ingin menghabiskan hari-harinya di rumah bersama Kalila. Mungkin dengan dorongan semangat dari Kakek dan Mishell, Kalila bisa segera pulih.


Seluruh staf sudah hadir di ruangan rapat, mereka tidak tahu apa yang ingin dibicarakan pemilik serta direktur hingga mengundang mereka untuk datang dalam acara rapat pagi ini.


Setelah semua hadir, direktur pun membuka pembicaraan tentang pemulihan kegiatan pabrik dan lusa para karyawan sudah bisa mulai bekerja.


Setelah itu, acara dilanjutkan oleh Kakek dan beliau memanggil Mishell untuk segera maju ke depan. Kakek pun memperkenalkan serta menegaskan siapa dan apa posisi Mishell saat ini.


Para staf pun merasa heran, kenapa Mishell yang tadinya tersangka dari kejadian kebakaran malah menjadi wakil Kakek di sana.


Suara riuh pun terdengar, mereka saling komentar antar sesama staf. Pro kontra tentu hal yang lumrah terjadi, apalagi mengingat Mishell tidak berpengalaman dalam mengelola bisnis.


Mereka tentunya takut, perusahaan bisa gulung tikar jika di pimpin oleh tangan yang salah. Dan yang pasti ekonomi mereka bakal terancam.


"Tenang semua, aku tahu Mishell belum berpengalaman dan untuk sementara aku akan mendampinginya sampai dia benar bisa menunjukkan kinerjanya."


"Dan satu hal lagi yang harus kalian tahu, dia bukan saja orang kepercayaan yang saya tunjuk tapi dia bersama cucu saya adalah pewaris seluruh milik saya terutama perusahaan ini," ucap Kakek.


Mendengar hal itu, mereka pun merasa malu dan tidak berani berkomentar yang buruk lagi.


Bagaimana pun mereka cuma pekerja sedangkan Mishell bakal jadi pemilik.

__ADS_1


Namun Kakek dan Mishell tidak memperhatikan jika ada seseorang yang tersenyum sinis saat mendengar keputusan tersebut.


Mereka pun memberi selamat kepada Mishell dan tiba giliran orang tersebut, diapun berbisik sambil berkata, "Selamat Pak Mishell, tapi saya ingatkan hati-hati, bisa saja anda menjadi tumbal di sini."


Mishell merasa heran dengan perkataan salah satu staf tersebut, tapi dia tidak ingin mengatakan hal itu kepada siapapun. Mishell akan menyelidiki orang tersebut dengan caranya sendiri.


Setelah rapat selesai, semua kembali ke tugasnya masing-masing. Kakek pulang di antar pengawal dan Mishell bersama Direktur membahas masalah produksi yang lusa akan dimulai.


Di sela pembicaraan, Mishell pun bertanya, "Maaf Pak, Pak Harjo itu bertugas sebagai apa ya di sini?"


"Oh, dia salah satu staf bagian pengadaan bahan. Memangnya kenapa Pak?"


"Apa dia memiliki hubungan keluarga dengan Kakek?"


"Ada selentingan yang mengatakan jika istrinya, dulu pernah memiliki hubungan dengan Pak direktur sebelum saya."


"Maksud bapak, papanya Kalila?"


"Iya. Tapi untuk kebenarannya saya pun nggak tahu Pak. Namanya isu, bisa benar dan juga bisa salah."


"Memangnya ada apa ya Pak, apa dia mengganggu Anda?"


"Tidak Pak, saya hanya penasaran."


"Baiklah Pak. Sekarang, sebaiknya kita tinjau pabrik dulu Pak, barangkali ada alat-alat yang kurang untuk persiapan produksi lusa."


"Ayo Pak Mishell. Oh ya Pak, saya belum mengucapkan selamat atas pernikahan Anda. Semoga dengan kehadiran Anda di rumah Kakek, semuanya akan kembali baik seperti dulu."


"Terimakasih Pak, saya akan berusaha untuk mengembalikan kebahagiaan di rumah itu."


"Sama-sama Pak Mishell, semoga usaha Anda segera berhasil."


Mishell telah mendapatkan sedikit info tentang Harjo dan dia akan menyelidiki tentang kebenarannya. Semua patut dia curigai, karena yang Mishell takutkan adalah adanya musuh di dalam selimut.


Jika musuh terang-terangan pasti mudah untuk melawannya dan jika musuh dalam selimut, yang pasti sulit karena di rongrong secara perlahan sampai hancur.


Mishell dan Direktur pun mengunjungi area pabrik dan dia menemukan sedikit ganjalan.


"Pak, menurut keterangan Kakek, mesin baru yang kita beli berkualitas bagus, kenapa hasilnya seperti ini? Untuk memotong seperti berserabut, seharusnya rapi dan licin."

__ADS_1


"Iya ya, tapi merek mesin sama, apa ini kualitas nomor dua ya?Terimakasih Pak Mishell telah mengingatkan saya. Sebentar saya akan panggil Harjo."


Direktur pun, menelepon Harjo tapi sayangnya Harjo pamit pulang, karena mendapatkan telepon mendadak dari keluarganya.


"Ya sudah Pak, besok saja kita tanyakan. Yang penting produksi jangan kita mulai dulu. Karena kualitas buruk akan membuat pelanggan kita kecewa."


"Baiklah Pak Mishell. Ayo, kita cek lagi yang lain."


Mishell pun dengan cermat memperhatikan semuanya hingga sampai kebutuhan yang terkecil dan dia masih menemukan kejanggalan lain.


Saat ini Mishell masih mengumpulkan bukti-bukti jika ternyata banyak kecurangan dalam perusahaan di bagian pengadaan bahan.


Namun saat direktur bertanya apakah masih ada kekurangan yang lain, Mishell masih menyembunyikannya.


Mereka pun kembali ke kantor, Mishell ingin menelepon Kalila karena jam istirahat telah tiba.


Dia ingin mengingatkan agar Kalila makan dengan teratur. Dan Mishell berniat akan membelikan sesuatu hadiah karena kemajuan Kalila.


Kakek yang sedang bersantai sambil membaca koran di teras rumah, dikejutkan oleh kedatangan tamu. Beliau masih mengingat-ingat siapa sebenarnya tamunya itu.


"Selamat siang Kek? Apakah masih ingat dengan kami?" sapa seorang wanita paruh baya sambil mengulurkan tangan.


Kakek masih memicingkan mata, tapi beliau sama sekali lupa siapa kedua orang yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Saya Lilian, ibu kedua dari almarhum Marshell dan ini Reza putra saya."


"Oh iya, maaf saya lupa. Soalnya dua tahun lebih kita tidak bertemu, sejak kejadian naas itu."


"Nggak apa-apa Kek saya maklum kok, namanya juga sudah tua."


"Bagaimana kabar Papa dan Mama Marshell, apa mereka baik-baik saja?"


Wanita itupun tiba-tiba sedih, lalu berkata, "Sejak kematian Marshell, mereka sakit-sakitan dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Ya, saya paham Kek, namanya juga kehilangan anak yang menjadi tumpuan harapan."


"Oh maaf, saya tidak tahu jika kondisi mereka memburuk. Nanti saat ada waktu, saya akan mengajak Kalila untuk mengunjungi mereka."


"Kebetulan Kek, kami kesini memang ingin mengundang kakek dan Kalila agar hadir minggu depan dalam acara mendoa untuk almarhum."


"Kami dengar kondisi Kalila membaik, jadi sangat berharap dia bisa datang. Meski Kalila tidak memiliki ikatan apapun lagi dengan keluarga kami, tapi kami sudah menganggap dia sebagai anak."

__ADS_1


"Terimakasih atas undangannya, Inshaallah kami akan datang."


Kakek meminta pelayan untuk membawa Kalila turun agar bertemu Lilian dan putranya, tapi ternyata Kalila sedang tidur. Akhirnya Lilian dan Reza pun pamit.


__ADS_2