
Mishell melihat Hans yang meneleponnya, lalu dia mengklik panggilan tersebut.
"Iya Hans, ada berita apa?"
"Kami sudah menemukan bukti-buktinya Bos. Sekarang kami telah menahan dua teman Reza yang telah membantunya saat malam kejadian dan saat malam pemerasan itu. Benar kata Bos, mereka masih pemain amatir."
"Bagus Hans, sekarang juga hubungi pihak kepolisian. Malam ini juga, aku mau Reza meringkuk di sel tahanan. Aku ingin melihat dia dan keluarganya memohon di kaki adikku. Tapi aku tidak akan memberi mereka ampun!" ucap Mishell penuh dendam.
"Baik Bos, aku segera lakukan perintah Bos!"
"Oh ya Hans, besok saat mereka sibuk menemani putranya di penjara, kamu antar Kalila untuk memindahkan Papa Mama Marshell ke tempat yang aman."
"Aku tidak mau mereka menyakiti orangtuaku lagi!"
"Siapa orangtua Bos? Papa Mama Marshell?"
"Iya Hans, ternyata ibuku selama ini menyimpan kebenaran itu untuk melindungiku. Dan kini saatnya aku akan balas semua perbuatan mereka terhadap keluarga ku!"
"Oh ya Hans, kamu jangan mengatakan kebenaran ini dulu kepada mereka ya, karena aku ingin memberikan surprise di hari ulangtahunku nanti. Lagipula ibuku sudah membuat kesepakatan itu 25 tahun lalu."
"Oke Bos. Sekarang aku mau urus Reza dulu."
"Terimakasih ya Hans, selamat bekerja."
"Siap Bos!"
Mishell mengepalkan kedua tangannya, dia rasanya sudah tidak sabar menunggu datangnya pagi. Dia ingin melihat Reza meringkuk dan meminta maaf kepada Anggun.
Hati Mishell sangat sakit melihat Anggun hilang keceriaannya setelah kejadian tersebut.
Meski Anggun sudah kembali ke sekolah, tapi tetap saja, Mishell sering melihat adiknya itu melamun.
Melihat Mishell sepertinya menahan amarah, Kalila pun menghampirinya dan memeluk Mishell dari belakang.
"Sayang, yang sabar ya. Ingat calon anak kita. Aku tidak mau suami tampanku ini terkena strok, kami semua sangat membutuhkan kakak."
"Kemarahan Mishell pun akhirnya mereda, lalu dia berbalik dan menatap Kalila sembari berkata, "Terimakasih Sayang sudah mengingatkan aku. Aku sayang kalian!" ucap Mishell lalu menggendong Kalila kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
"Ayo kita tidur lagi, besok hari paling membahagiakan untuk ku. Pelaku pemerkosaan Anggun tertangkap dan aku bisa bertemu dan berkumpul dengan orang tuaku lagi. Dan yang paling membuatku bahagia, kalian harus tetap sehat," ucap Mishell sembari mengelus dan mencium perut Kalila.
"Iya Papa sayang," ucap Kalila yang menirukan suara anak kecil.
Kemudian merekapun tidur hingga panggilan subuh terdengar. Mishell menggendong Kalila ke kamar mandi dan mereka pun membersihkan diri lalu lanjut ibadah seperti biasanya.
Para pelayan sudah mempersiapkan sarapan saat Mishell dan Kalila turun, lalu pelayan pun memanggil Kakek beserta Ibu dan Anggun untuk sarapan bersama.
Pagi ini Mishell akan mengatakan semuanya kepada Kakek juga Anggun karena mereka harus tahu sebelum kedua orangtua kandung Mishell di bawa ke rumah itu saat hari ulangtahunnya nanti.
Semua sudah berkumpul dan menikmati sarapan mereka masing-masing. Kakek yang melihat rona bahagia di wajah kedua cucunya pun ikut bahagia.
Inilah yang sekian lama beliau tunggu melihat Kalila bahagia.
Setelah sarapan usai, Mishell pun berkata, "Oh ya Kek, ibu dan Anggun, ada yang ingin aku sampaikan. Pertama mengenai apa yang telah ibu bicarakan tadi malam dan kedua mengenai pelaku kejahatan terhadap Anggun."
Wajah Anggun berubah murung saat mendengar hal itu, tapi setelah Mishell menggenggam tangannya, kecemasanya berangsur hilang.
"Kamu harus kuat Dek, kita akan memberi hukuman setimpal agar dia tidak melakukan hal ini lagi kepada gadis lain."
"Bagaimana Dek? Kamu siap?"
"Iya Kak, Anggun siap. Siapapun dia, aku mau hukuman seberat-beratnya untuk manusia bejat itu!" ucap Anggun sambil menangis.
Mishell mengelap air mata Anggun lalu berkata, "Jangan menangis lagi. Kesedihanmu sudah berakhir kini giliran mereka yang harus menanggung hasil dari kejahatan yang mereka lakukan."
Kemudian Mishell pun mengatakan semua yang mereka bahas tadi malam bersama ibu, lalu mengatakan siapa sebenarnya pelaku pemerkosaan Anggun.
Kakek dan Anggun terkejut, ternyata yang menyakiti mereka keluarga yang sama.
"Kakek dukung semua keputusan kalian, yang bersalah tetap harus menerima hukumannya. Beli semua saham mereka, bagaimanapun caranya, ambil alih perusahaan itu. Itu milik kamu Mishell, mereka tidak berhak lagi ada di sana!"
"Baik Kek, hari ini Hans beserta orang-orang kepercayaannya dan juga pengacara akan mengurus semuanya. Mishell pastikan kedua ibu muda dan juga putranya akan menuai karma dari perbuatan mereka sendiri."
"Bagus. Selamat ya Nak, kamu akan berkumpul kembali dengan kedua orangtua kandungmu."
"Dan untuk ibu serta Anggun, meskipun Mishell sudah mengetahui identitas aslinya tapi yakinlah dia tidak akan pernah melupakan dan menyia-nyiakan kalian. Ibu telah melaksanakan amanah dengan baik, saya salut."
__ADS_1
"Iya Kek, aku menyayangi ibu dan juga Anggun. Dan itu tidak akan pernah berubah."
Anggun memeluk Mishell, dia menangis, meskipun mereka tidak sedarah tapi selama ini Mishell sangat menyayanginya.
"Adik manjaku, ayo tersenyum. Kakak tidak suka melihat kamu menangis. Kamu jelek jika menangis seperti itu."
Akhirnya pagi ini semua bisa tersenyum bahagia. Mereka berharap kebahagiaan akan terus datang dalam keluarga mereka.
Mishell pamit ke kantor, dia akan menunggu laporan dari Hans sembari menyelesaikan pekerjaannya.
Anggun juga berangkat ke sekolah dengan di antar oleh ibu dan pak sopir. Sementara Kalila kembali ke kamar untuk beristirahat.
Kalila masih pusing dan sering mual saat pagi. Dan hal itu menurut dokter sangatlah wajar pada kehamilan muda.
Sambil berbaring, Kalila ditemani oleh Vita. Mereka pun ngobrol tentang masalah kehamilan dan persalinan.
Ternyata Vita pernah mengalami hal itu, tapi sayang bayinya tidak selamat dan suaminya juga telah meninggal karena sakit.
Sejak suaminya meninggal Vita pun merantau dan berkat bantuan temannya diapun diterima bekerja di rumah Kakek sebagai perawat bagi Kalila.
Kalila menggenggam tangan Vita, dia terharu dan ikut prihatin atas musibah yang Vita alami.
Selama ini Kalila tidak tahu dibalik keceriaan Vita ternyata dia menyimpan kesedihan yang dalam.
Kalila masih beruntung memiliki kakek, Mishell dan juga kedua calon bayinya, sementara Vita tidak memiliki siapapun lagi.
Vita terisak saat tiba-tiba Kalila memeluknya dan mengatakan jika sekarang mereka semua adalah keluarga Vita dan Kalila meminta agar Vita jangan memanggilnya Nona lagi.
Bagi Kalila, Vita bukan cuma pembantu tapi Kakak baginya.
Keduanya pun kini menangis haru sembari berpelukan erat.
Vita sangat beruntung bisa bertemu dan bekerja di keluarga Kakek yang tidak pernah membedakan status.
Semua pembantu dan pekerja lain di sana merasa dihargai dan selalu diberikan haknya tepat waktu, bahkan lebih banyak dari yang telah Kakek janjikan sebelumnya.
Bersambung.....
__ADS_1