HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 37. IKHLAS MEMBERIKAN HAK SUAMI


__ADS_3

Mishell sudah kembali dari kantor, lalu dia mencari Kalila yang ternyata masih berada di taman bersama ibu serta adiknya.


Melihat Anggun sedang tertawa bersama Kalila, hati Mishell pun merasa senang. Keceriaan adiknya perlahan kembali dan Mishell harus bisa membangkitkan semangatnya untuk melanjutkan sekolah lagi.


Ibu yang melihat Mishell lalu memanggilnya, "Kesini Le, Nak Kalila sedang ngobrol dengan adikmu."


Mishell pun menghampiri ibu dan menyalim tangannya, begitu pula dengan Kalila dan juga Anggun melakukan hal yang sama terhadap Mishell.


"Aku bahagia melihat kalian seperti ini, terimakasih Sayang sudah membuat adikku tertawa lagi."


"Kak, maafkan aku ya. Aku telah membuat kalian cemas. Aku janji, tidak akan menyia-nyiakan hidupku lagi. Aku ingin melanjutkan sekolah."


"Alhamdulillah, ini baru adikku," ucap Mishell sembari memeluk Anggun.


"Besok, Kakak akan kesekolahmu yang baru untuk mengurus semuanya."


"Terimakasih Kak," ucap Anggun sambil memeluk Mishell kembali.


Ibu yang melihat hal itu menitikkan air mata, kebahagiaan terbesar beliau adalah melihat anak-anaknya hidup bahagia.


Sambil mengelap air mata Bu Anis pun berkata, "Ayo anak-anak kita masuk, lihatlah hari makin gelap."


"Iya Bu. Kak biar aku saja ya yang mendorong kursi roda Kak Kalila."


"Nggak usah Dek, Kakak mau melatih Kak Kalila biar lebih lancar berjalan."


"Oh baiklah Kak, biar aku bawa pulang kursi rodanya saja."


"Ayo Sayang," ajak Mishell sembari mengulurkan lengannya kepada Kalila.


Kalila bangkit dengan bertumpu pada lengan Mishell, lalu Mishell pun memapahnya agar tidak terjatuh.


Sebenarnya Kalila ingin mencoba berjalan menggunakan tongkat tapi dia masih ragu. Kalila akan terus berlatih sampai dia bisa mandiri dan tidak mengandalkan bantuan siapapun lagi.


Sesampainya di anak tangga, Kalila berhenti, nafasnya sedikit sesak karena berjalan cukup jauh.


Mishell yang melihat hal itu langsung menggendong tubuh Kalila tanpa harus di minta.


Kalila pun tersenyum dan bergelayut manja, dia senang suaminya peka melihat kelelahannya.


Mishell mendaratkan sebuah ciuman dan Kalila pun membalasnya. Sesaat keduanya hanyut dalam ciuman mesra mereka di bawah tangga.


Suara deheman mengagetkan keduanya, ternyata Kakek tengah berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


Wajah Mishell memerah, dia merasa malu tapi Kakek malah tersenyum. Beliau senang melihat kemesraan kedua cucunya itu.


Kalila yang merasa malu pun turun dari gendongan Mishell.


"Kek," sapa Kalila.


"Kalian baru pulang? Bagaimana acaranya tadi?"


"Kalila pulang menjelang sore tadi Kek, sedangkan Mishell balik ke kantor lagi."


"Oh, Kakek juga baru sampai. Tadi teman sekolah Kakek menjemput kesini, mereka mengajak kumpul reunian di lesehan yang tidak jauh dari sini."


"Oh ya Kek, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan, ini mengenai orangtua Kak Marshell tapi sepertinya lebih enak kita bicara selesai makan malam. Kakek juga pasti lelah dan kami pun belum mandi," ucap Kalila.


"Baiklah, Kakek juga ingin tahu kondisi mereka. Pergilah, Kakek juga mau beristirahat sebentar."


Kakek pun berjalan menuju kamarnya dan Mishell menarik nafas lega. Kalila yang mendengarnya pun tertawa cekikikan.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Aku ingin melihat wajah kak Mishell, bagaimana jika sedang malu kepergok oleh Kakek."


"Kamu jahil ya!" ucap Mishell sembari menjapit hidung Kalila yang mancung dengan kedua jarinya.


"Baiklah sayang, janji ya!"


Kalila mengangguk, lalu Mishell pun kembali menggendongnya menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Mishell merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur, lalu dia menagih janji.


Kalila tidak melepaskan kalungan tangan di leher Mishell, lalu sebuah ciuman mendarat di bibir tipis Mishell.


Mishell membalas ciuman tersebut, dia menyesap bibir mungil sang istri hingga Kalila kesulitan bernafas.


Sejenak Mishell melepaskan ciumannya untuk memberi jeda kepada Kalila.


Setelah Kalila menghirup udara, Mishell kembali mendaratkan ciuman dan kali ini ciumannya semakin panas.


Sambutan Kalila yang tidak menolak perlakuan dari Mishell, membuat pria tampan itu semakin bersemangat.


Hasrat yang lama terpendam pun terpancing, tangan Mishell mulai bergerilya menyusuri area indah milik sang istri.


******* demi ******* berhasil lolos dari mulut Kalila dan itu membuat Mishell makin bersemangat.

__ADS_1


Kini keduanya menikmati moment indah dan satu persatu baju yang melekat sudah melayang kesembarang arah.


Keikhlasan Kalila membuat Mishell memberanikan diri untuk meminta haknya. Hak yang selama ini tertunda karena tidak tega dan belum ada kesiapan dari Kalila.


"Kamu serius sayang, aku boleh meminta hakku," bisik Mishell lembut di telinga sang istri.


Begitu mendapatkan anggukan, Mishell pun bersemangat melanjutkan aksinya.


Kalila menjerit tertahan, saat senjata Mishell berhasil menembus selaput dara miliknya. Air mata bahagiapun menetes, Kalila telah mempersembahkan miliknya yang paling berharga untuk suami yang telah sabar menunggu saat itu tiba.


Ciuman manis di kening Kalila mengakhiri pertempuran panas mereka. Dan ucapan terimakasih pun Mishell bisikkan di telinga istri tercintanya itu.


Kini Mishell merasa tenang, harapan untuk menggapai rumah tangga bahagia sudah terbuka lebar dengan ikhlasnya Kalila menjadi belahan hatinya.


Berhubung waktu maghrib hampir tiba, Mishell menggendong Kalila ke kamar mandi dan mereka pun mandi bersama.


Rasa sakit membuat Kalila meringis saat dia berdiri dan mencoba untuk kembali ke kamar.


Mishell tidak tega membiarkan Kalila yang berjalan sambil berpegangan pada dinding. Lalu diapun menggendong Kalila dan membawanya kembali ke kamar.


Setelah mengenakan pakaian, keduanya pun melaksanakan ibadah maghrib lalu bersiap untuk turun makan malam bersama Kakek.


Malam ini Mishell tidak membiarkan Kalila untuk berjalan, dia langsung menggendongnya hingga sampai ke ruangan makan.


Kakek yang melihat hal itupun bertanya, "Kenapa Nak, apa kakimu sakit lagi?"


"Enggak kok Kek, Mishell kasihan, seharian ini Kalila banyak berjalan, pasti kakinya lelah karena belum pulih.


Di perusahaan dan di rumah keluarga Marshell, serta pergi ke TPU pun, Kalila tidak mau menggunakan kursi roda maupun di gendong."


"Kamu jangan terlalu memaksakan diri Nak, pelan-pelan saja berlatih. Jangan sampai kakimu sakit lagi."


"Iya Kek, nggak apa-apa kok, kak Mishell saja yang terlalu khawatir."


Kemudian Mishell pun menyendokkan nasi, sayur serta lauk ke piring kakek, setelah itu barulah dia melayani Kalila dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Kakek bersyukur, Mishell begitu sabar melayani Kalila dan beliau melihat rona kebahagiaan telah terpancar di wajah keduanya.


Kakek tersenyum sebelum mulai menyuapkan makanan, beliau yakin tidak lama lagi akan ada kabar bahagia seperti yang selama ini beliau harapkan.


Mishell dan Kalila makan dengan lahap, karena pertempuran barusan telah menguras sebagian tenaga mereka.


Setelah selesai, ketiganya pun memilih duduk santai di ruang keluarga, di sana mereka mulai membahas masalah yang kini sedang di hadapi oleh orangtua Marshell.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2