
Mishell mengambil sup daging dalam mangkuk dan sedikit nasi dalam piring, lalu kembali menemui Kalila.
"Lila, makan yuk, aku suapi ya. Nanti, setelah aku menemui Kakek, kita akan jalan-jalan. Kamu boleh deh minta keliling kemanapun kamu suka, aku pasti akan turuti, asalkan kamu mau makan."
Lila tetap tidak bergeming, berulang kali Mishell membujuk, tapi hasilnya masih sama.
Mishell bingung harus bagaimana, dia iba jika harus memaksa Kalila untuk makan, lalu Mishell pun memanggil pelayan dan bertanya, "Mbak, kamu sudah lama bekerja di sini?"
"Saya bekerja di sini setelah Non Kalila kecelakaan Tuan, waktu itu teman yang merekomendasikan saya bekerja di sini, untuk mengurus kebutuhan Nona."
"Oh, jadi Mbak tidak mengenal tunangan Kalila ya."
"Tidak Tuan, pembantu yang lama juga sudah keluar, katanya pulang kampung karena tidak diizinkan lagi untuk bekerja oleh keluarganya. Di sini banyak pembantu baru seperti saya."
"Oh, ya sudah Mbak."
"Memangnya ada apa Tuan?"
"Nggak apa-apa Mbak, nanti saya tanya kakek saja."
"Apa Nona sudah mau makan Tuan?"
Mishell menggeleng, "Tidak ada reaksi Mbak."
"Itulah Tuan, makanya saya main paksa. Jika tidak, Nona bakal tidak makan berhari-hari. Tuan lihat foto itu," tunjuk Vita ke arah dinding.
"Hemm, bukankah itu Vita? Wajahnya begitu ceria, senyumnya sangat manis dan tubuhnya juga bagus. Sekarang Vita tampak kurus dan matanya terlihat cekung."
"Ya, Tuan benar. Bagaimana tidak kurus, lah susah makan dan jarang tidur. Nona juga sering tiba-tiba menangis, barangkali teringat dengan kejadian dan kematian Tuan Marshell."
"Oh, Marshell nama tunangannya?"
"Iya. Kata tukang kebun wajah, dan postur tubuhnya sama persis seperti Tuan. Bedanya hanya pada warna kulit, model rambut dan juga tahi lalat yang terdapat di dagu Tuan Marshell."
"Masa sih Mbak, aku kok jadi penasaran, apa fotonya ada Mbak?"
"Foto almarhum, semua sudah dimasukkan ke gudang atas perintah Tuan besar. Jika Tuan ingin melihatnya, minta izin saja dengan Tuan besar dan minta tolong pengawal untuk mengeluarkannya dari gudang."
"Oke Mbak terimakasih atas infonya. Nanti, saya akan minta izin sama kakek dulu, jika ingin melihatnya."
"Mbak, tolong bantu saya ya, Kalila belum makan. Hari ini saya gagal, tapi besok saya akan mencobanya lagi."
"Saya titip Kalila, jika sudah selesai, tolong minta pengawal untuk memanggil saya di ruangan Kakek ya Mbak."
"Baik Tuan."
Mishell menyerahkan makanan kepada Vita dan sebelum menemui Kakek Mishell pun pamit, "Lil, aku ke ruangan Kakek dulu ya, nanti aku yang akan bawa kamu ke kamar. Kamu makan dulu dengan Vita," ucap Mishell dan dia memberanikan diri memegang tangan Kalila.
__ADS_1
Ketika tangan mereka bersentuhan, Kalila menarik tangannya. Mishell tersenyum, dia menemukan cara untuk berinteraksi dengan sang istri, meski belum dengan kata-kata.
Mishell pun meninggalkan Kalila, dia menaiki anak tangga menuju ruang kerja Kakek Artha. Ternyata, ibu sudah ada di sana. Pengawal yang mengantar ibu sesuai perintah dari Kakek.
"Duduk Shell!" pinta Kakek.
Mishell pun duduk di samping sang Ibu, lalu dia bertanya, "Kek, bolehkah aku melihat foto Marshell?"
"Marshell?" tanya ibu yang terkejut sambil memandang ke arah Mishell.
"Kenapa Bu? Apa ibu mengenal Marshell?"
"Siapa Marshell Le? Kenapa kamu ingin melihat fotonya?"
"Sebentar, aku akan minta pengawal untuk mengambilnya di gudang."
"Pengawal! tolong ambilkan satu foto Mishell yang ukuran kecil saja, kuncinya ada di balik lukisan."
"Baik Tuan!"
Pengawal pun bergegas pergi. Sambil menunggu pengawal datang, kakek pun berkata, "Bu, sebenarnya kemiripan mereka yang membuat saya tertarik dan yakin, jika Mishell anak ibu bisa membantu kesembuhan cucu Saya."
"Mirip Kek?"
"Iya. Nanti, ibu akan lihat sendiri. Mereka seperti saudara kembar. Apa Mishell memang memiliki saudara kembar Bu?"
"Ti-tidak Kek, Mishell hanya memiliki seorang adik perempuan dan masih sekolah."
"Apa kamu tadi berhasil menyuapi Kalila Shell?"
"Belum Kek, saya tidak tega jika harus memaksanya. Tapi, besok akan saya coba lagi. Tadi, saya memegang tangan Kalila dan dia langsung menarik tangannya."
"Berarti, Kalila memberi respon. Saya jadi punya ide, dengan cara itulah, kami selanjutnya akan berinteraksi."
"Bagus Mishell! Kakek percaya, kamu pasti bisa."
"Inshaallah Kek. Oh ya Kek, seandainya besok atau lusa Mishell ajak Kalila keluar rumah, apakah boleh?"
"Boleh Nak, dia kan istrimu, jadi bebas, terserah kamu akan membawanya kemanapun termasuk ke rumah ibumu."
"Terimakasih Kek, Mishell berharap dengan membawa Kalila keluar, dia akan terhibur dan melihat kenyataan bahwa dirinya masih ada dan hidup di alam dunia ini."
Sedang asyik mereka mengobrol, terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!!"
Pengawal pun membuka pintu, setelah kakek memintanya untuk masuk, kemudian pengawal itu meletakkan pigura di atas meja kerja Kakek.
__ADS_1
Setelah pengawal pamit, Kakek Artha pun membuka penutup pigura hingga membuat Mishell terpaku.
Dia seperti menghadap cermin dan foto dihadapannya itu merupakan pantulan dirinya.
"Bu, coba lihat! Ini hampir sama persis dengan diriku!" ucap Mishell sambil menunjukan foto tersebut kepada ibu.
"Iya, kalian mirip."
"Kok bisa kebetulan ya Bu?"
"Itulah kuasa Tuhan Le."
"Oh ya Kek, apakah Mishell boleh membawa foto ini ke kamar kami? Barangkali, foto ini nantinya bisa berguna untuk memancing reaksi Kalila."
"Silakan Shell!"
Ibu termenung, beliau bergelut dengan alam pikirannya sendiri, mungkinkah Marshell memang saudara kembar Mishell dan jika benar sungguh tragis nasib Marshell.
Beliau jadi sedih, teringat bagaimana keadaan ibu kandung Mishell saat ini setelah kematian putranya.
"Bu, Bu..., kenapa melamun?"
"Eh, ibu kepikiran Anggun Shell, kamu 'kan janji mau menjemput dia? sebentar lagi Anggun pulang, sementara kamu harus tetap tinggal di sini."
"Kek, Mishell pamit sebentar ya. Mishell mau mengantar ibu dan menjemput Anggun."
"Begini saja, kamu kan baru saja menikah masa sudah bepergian. Bagaimana jika pengawal yang mengantar ibu, sekalian menjemput adik kamu Shell?"
"Bagaimana Bu?"
"Apakah kami tidak merepotkan Kek?"
"Tentu saja tidak Bu, bahkan jika ibu dan adik Mishell mau, kalian bisa ikut tinggal di sini."
"Nggak usah Kek, biar saya dan Anggun tinggal di rumah kami saja. Lagipula saya sedang berkebun dan beternak di sana Kek!"
"Kita bisa meminta orang untuk merawat kebun Bu."
"Terimakasih Kek, tapi untuk saat ini biarlah kami tetap tinggal di sana."
"Ya sudah, jika ibu berubah pikiran, rumah ini selalu terbuka untuk kalian. Datanglah kapanpun kalian suka."
"Baik Kek!"
"Jika begitu, saya pamit KeK."
Kakek Artha mengangguk, lalu meminta pengawal untuk mengantar ibu ke sekolah Anggun, baru mengantarnya pulang ke rumah.
__ADS_1
Ibu pun pamit kepada Mishell. Beliau memeluk sang putra dan berpesan agar Mishell menjadi suami yang baik, sabar dan penyayang.
Bersambung.....