
Kalila terbangun, dia memanggil Mishell tapi tidak ada jawaban.
Rasa ingin membuang hajat yang sudah tidak tertahankan lagi membuat Kalila nekat turun dari tempat tidur.
Kemudian Kalila beringsut di lantai, dengan menggunakan fillingnya dia bersusah payah menuju kamar mandi.
Akhirnya Kalila pun menemukan pintu kamar mandi dan diapun berhasil masuk.
Meski bajunya basah terkena sisa air yang ada dilantai, setidaknya dia bisa menjangkau tempat untuk membuang hajat.
Kalila pun selesai dan sudah membersihkan diri, tapi naas saat hendak turun kelantai, dia terpeleset dan kepalanya membentur tembok.
Kepala Kalila sakit dan samar-samar dia melihat cahaya.
Kalila berusaha fokus berharap ada kemajuan dengan pengelihatannya. Tapi semuanya kembali gelap seperti sebelumnya.
Ada rasa kecewa, tapi Kalila tidak putus harapan, setidaknya dia masih memiliki harapan untuk bisa melihat.
Kalila kembali berusaha untuk menggapai pintu dan saat dia berhasil membukanya, Mishell pun masuk.
Mishell terkejut, lalu dia berlari menghampiri Kalila dan menggendongnya sambil berkata, "Sayang, apa yang kamu lakukan? kenapa tidak menungguku atau memencet bel untuk memanggil Vita? Bagaimana jika kamu jatuh dan terluka!"
"Nggak apa-apa kok Kak, biar aku bisa belajar mandiri. Tapi, bajuku basah karena terkena air di lantai."
"Ayo kita ganti baju, nanti kamu masuk angin. Sebentar ya, aku ambil baju dulu," ucap Mishell yang bergegas setelah merebahkan Kalila di atas tempat tidur.
Mishell yang merupakan pria normal, menelan saliva saat melihat kemulusan tubuh sang istri.
Kalila tidak merasa malu lagi seperti sebelumnya, dia mulai terbiasa dengan kehadiran Mishell saat membantu dirinya berganti pakaian.
Namun saat tangan Mishell tidak sengaja menyentuh kulit punggung Kalila, ada desir aneh dalam hati Kalila. Dia seperti menginginkan sentuhan lebih dari sang suami.
Mishell mendesah dan menarik nafas dalam, rasanya semakin berat untuk menahan perasaan dengan pemandangan yang saat ini terpampang indah di hadapannya.
Untuk meredamnya, Mishell memejamkan mata, hingga tugasnya selesai.
Kalila yang mendengarnya pun menyadari, pasti berat bagi seorang pria untuk tidak tergoda.
__ADS_1
Setelah selesai, Mishell pun membenahi rambut Kalila yang berantakan dan menambahkan sedikit riasan wajah.
Sejenak Mishell terpaku menatap kecantikan sang istri yang seperti boneka Barbie. Lalu Mishell mendekatkan wajahnya dan sebuah ciuman manis mendarat di bibir mungil Kalila.
Kalila membalas ciuman dan kini keduanya terlena, saling menikmati rasa, hingga membuat naluri pria Mishell kembali terpancing untuk meminta lebih.
Ciuman kedua insan itupun semakin panas dan tak ayal lagi tangan Mishell bergerilya di bukit indah yang tadi sempat membuatnya menelan saliva.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, lenguhan pun berhasil lolos dari mulut Kalila. Dia tidak menolak dan malah ikut menikmati sensasi yang belum pernah Kalila rasakan sebagai seorang wanita dewasa.
Sedangkan angan Mishell terus berpetualang, membayangkan keindahan tubuh sang istri yang silih berganti hingga keinginannya makin menggelora.
Tangan Mishell semakin nakal, dia bermain-main di area yang kini membuatnya makin bersemangat.
Tiga buah baju atas Kalila sudah terbuka dan tentu saja bukit indah menyembul dari balutan pakaian **********.
Mishell mendaratkan ciumannya di sana, lalu dia bermain-main di puncak bukit itu secara bergantian.
Lenguhan indah kembali lolos dari mulut Kalila, kini dia siap menjalankan kewajibannya jika memang Mishell, suaminya menginginkan hal itu.
Mishell menghentikan ulahnya, lalu dia menatap Kalila dan bertanya, "Aku tidak sanggup menahannya lagi Yang. Keindahanmu terlalu menggoda, apakah aku boleh menikmatinya sejenak?"
Mishell tersenyum, dari situ dia mendapatkan jawaban, jika Kalila sudah memberikan lampu hijau untuknya.
Setelah Kalila melepaskan ciumannya, Mishell pun menggendong Kalila ala bridal style, membawanya kembali ke tempat tidur.
Saat Mishell baru memulai aksinya lagi, pintu kamar mereka di ketuk.
Seketika mood keduanya ambyar, Mishell dan Kalila buru-buru membenahi penampilan mereka, sebelum Mishell bergegas membukakan pintu.
Vita berdiri di ambang pintu dan arah pandangan Vita membuat Mishell merasa ada yang aneh.
Mishell memandang ke arah buah bajunya dan dia merasa sangat malu, karena buah baju itu terpasang tidak pas masuk pada urutan lubangnya. Di tambah lagi, ada noda lipstik dari bibir Kalila di sana.
Dengan wajah memerah karena merasa malu, Mishell buru-buru membenahi sambil bertanya, "Ada apa Mbak?"
Vita pun sambil tersenyum menjawab, "Ibu mencari Anda Tuan, karena Non Anggun berada di dalam kamar mandi sudah berjam-jam, sementara pintu terkunci. Ibu khawatir terjadi apa-apa dengan Non Anggun."
__ADS_1
"Oh, baiklah Mbak aku akan segera kesana. Mbak tolong buatkan jus untuk Non Kalila dan nanti temani dia dulu ya, saat saya ke kamar ibu."
Vita pun mengangguk, lalu dengan tersenyum dia meninggalkan kamar Mishell.
Dia senang jika hubungan Mishell dan Anggun semakin ada kemajuan, hingga harapan Kakek untuk memiliki buyut bisa segera terwujud.
Setelah Vita pergi, Mishell mendesah, dia benar-benar sangat malu, seperti maling yang kepergok penghuni rumah.
Mishell mendekati Kalila yang bersembunyi di balik selimut, lalu dia mengecup kening istrinya sambil berkata, "Nanti malam kita lanjutkan ya Yang, maaf karena ibu dan adikku, aku harus menggantung keinginan kita.
Kalila tertunduk dan dia merasa malu, karena tadi bertindak agresif, hingga memancing Mishell untuk mulai melakukan kewajibannya.
"Kamu nggak apa-apa 'kan, kita menundanya? atau mau kita lanjut dulu, baru aku temui ibu?" tanya Mishell sambil tersenyum. Dia sengaja, ingin menggoda Kalila.
Kalila makin malu, dia menutup wajahnya dengan selimut, lalu meminta Mishell agar segera menemui sang Ibu.
"Baiklah Sayang, aku akan ke kamar ibu dulu. Tapi, sebelum aku keluar, buka dong selimutnya. Sangat sayang jika wajah dan senyuman cantik istriku, malah selimut yang menikmati."
Kalila perlahan membuka selimutnya dan kesempatan itu dipergunakan oleh Mishell untuk mencuri ciuman.
"Eemm," Kalila kesulitan bernafas karena ulah Mishell. Setelah lepas, diapun mendorong tubuh Mishell sambil berkata, "Cepat pergi Kak, aku khawatir dengan Anggun. Ayo cepat! nanti kita kepergok Vita lagi."
"Baiklah Nyonya Mishell, nanti aku minta seperti yang tadi ya, kamu yang berinisiatif, hingga aku nggak sabar."
Kalila makin malu, tapi hal itu membuat Mishell makin gemas. Rasanya dia berat untuk meninggalkan Kalila meski hanya sebentar.
Vita pun sudah tiba dengan membawa segelas jus kuini untuk Kalila dan setelah melihat Kalila meminum jusnya, Mishell pun pamit untuk pergi ke kamar ibu.
Kemudian Mishell berpesan kepada Vita, "Mbak tolong jaga Kalila dulu ya, jangan pergi sebelum aku kembali."
"Baik Tuan," jawab Vita.
Dan Kalila pun berkata, "Pergilah Kak, jangan khawatirkan aku."
Setelah mencium Kalila, Mishell pun bergegas keluar kamar dan setengah berlari dia menuruni anak tangga.
Bersambung.....
__ADS_1
Selamat sore sobat, biar nggak bosan dan sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir juga yuk di karya sahabatku. Seru lho karyanya dan jangan lupa dukung terus karya kami. Terimakasih 🙏🥰