HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 13. KEMAJUAN KESEHATAN KALILA


__ADS_3

Ketika Mishell sedang ngobrol dengan Ibu dan adiknya, ada telepon masuk dari Kakek Artha. Lalu Mishell pun mengangkatnya dan berkata, "Hallo Kek, ada yang Mishell bisa bantu?"


"Shell, Kakek tadi lupa menyampaikan jika hari ini Kalila harus kontrol ke dokter. Kamu bisa 'kan mengantarnya? Minta saja Pak sopir untuk mengantar kalian."


"Iya Kek, kira-kira jam berapa ya Kek, biar saya antar ibu dan Anggun pulang dulu."


"Sekalian saja Shell, toh rumah sakitnya sejalan, sekalian biar Kalila berkunjung ke rumah ibumu."


"Baik Kek. Kami akan segera bersiap."


Setelah panggilan terputus, Mishell pun berkata kepada ibu, "Bu, kami akan antar Ibu dan Anggun sekalian mau ke rumah sakit. Hari ini jadwal Kalila kontrol."


"Oh gitu ya Shell, ayo Nggun kita bersiap!"


"Bu, sebenarnya Kakak yang cacat ini siapa?" tanya Anggun hingga membuat Mishell dan Ibu terkejut.


"Nggun! Kalau ngomong itu dijaga, dia Kakak iparmu, istri Mishell. Kamu kenalin diri sana."


"Lho kapan Kak Mishell menikah Bu?"


"Nanti ibu ceritakan di rumah, makanya jangan melalak terus, kakak kamu menikah pun tidak tahu! Ayo kenalin diri kamu!"


"Iya Bu."


Kemudian Anggun pun mendekati Kalila, dia bersimpuh di hadapannya sambil memegang kursi roda.


"Kak, maaf ya. Perkenalkan, namaku Anggun. Aku adik Kak Mishell," ucap Anggun sembari memegang tangan Kalila.


Kalila menghempaskan tangan Anggun, hingga membuat Anggun terkejut.


Mishell yang melihat hal itupun mendekati Kalila dan berkata, "Sayang, maafkan adikku ya. Dia ingin berkenalan denganmu."


Kalila merabakan tangannya, dia ingin menyentuh Anggun. Anggun yang melihat hal itupun meraih tangan Kalila.


"Ini aku Kak. Aku ingin menjadi teman Kakak."


Anggun menggenggam tangan Kalila dan Kalila pun melakukan hal yang sama.


Mishell senang, Kalila sudah mau berinteraksi dengan orang lain.


"Nak Kalila, ini Ibu. Ibu senang Kesehatan Nak Kalila sudah mengalami kemajuan," ucap Ibu yang juga ikut menggenggam tangan Kalila.

__ADS_1


Kalila pun tersenyum dan membalas genggaman tangan Ibu.


"Terimakasih Sayang," ucap Mishell.


"Kami bersiap dulu ya Nak. Ayo Nggun!"


Ibu dan Anggun pun kembali ke kamar, sedangkan Mishell juga bersiap dan meminta Pak sopir agar menyiapkan mobil.


Mereka pun menuju ke rumah Ibu dan sesampainya di sana Mishell mengajak Kalila turun.


Mishell menggendong Kalila sementara Anggun menurunkan kursi roda.


Setelah Kalila di atas kursi rodanya, Anggun pun berkata, "Kak biar Anggun yang mendorong ya!"


Mishell pun mengangguk, lalu mengikuti di belakang Anggun.


"Inilah rumah kami Sayang, tempat aku dibesarkan. Andai kamu bisa melihat, di halaman banyak tumbuh bunga dan ada kebun sayur mayur di belakang, semua itu ibu yang merawat."


"Shell, bawa Nak Kalila kemari, ibu buatkan teh dan juga ada pisang. Kemaren, Pisangnya masak di pohon, jadi pasti manis."


Mishell dan Anggun pun membawa Kalila ke ruang tengah sambil menunggu ibu membawakan teh untuk mereka.


"Nak, yang ada hanya ini. Maklum, cuma ada makanan kampung."


"Ini Yang, coba kamu makan sendiri, kita harus terus berlatih. Aku ingin kamu cepat sembuh, kasihan Kakek," ucap Mishell.


Kalila pun menggenggam pisang tersebut, lalu dia memakannya.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang," ucap Mishell.


Mishell membantu Kalila dengan meminumkan tehnya, pakai sendok. Karena dia masih takut jika teh panas akan tumpah dan melukai tangan Kalila.


Hari ini Kalila sudah banyak kemajuan, selanjutnya Mishell ingin berkonsultasi dengan dokter mengenai mata serta kaki Kalila.


Jika masalah bicara, itu hanya tinggal kemauan Kalila sendiri dan hal itu akan Mishell coba bangkitkan dengan caranya.


Mishell kemudian pamit dengan ibu, sekali lagi Mishell mengingatkan ibu agar menerima tawaran Kakek.


Ibu masih ingin memikirkan terlebih dulu, karena beliau berat untuk meninggalkan rumah yang banyak meninggalkan kenangan pahit dan manis bersama almarhum suaminya.


Mishell pun membawa Kalila ke rumah sakit dan dokter sudah menunggu di ruangannya.

__ADS_1


Melihat Kalila masuk dokter pun berkata, "Selamat siang Nona Kalila. Wah... hari ini diantar pangeran. Selamat ya atas pernikahannya, Kakek sudah beritahu saya jika Nona sudah banyak kemajuan."


"Iya Dok, mudah-mudahan Kalila bisa segera sembuh."


"Sekarang kita periksa dulu mata Nona. Dan mengenai kaki, terapinya sudah bisa kita mulai lagi. Semangat ya Nona, Nona pasti sembuh dan bisa melihat pangeran tampan ini. Kalian serasi lho, kalau saja saya wanita, saya juga mau menikah dengan pangeran tampan seperti ini," canda dokter yang ingin mencoba membangkitkan semangat Kalila.


"Dokter bisa saja, terimakasih ya Dok, sudah sangat telaten merawat istri saya."


"Kami juga berterima kasih kepada Anda. Berkat Anda kerja kami jadi lebih mudah. Sebentar, saya lakukan pemeriksaan dulu ya."


Dokter pun memeriksa mata Kalila, lalu beliau memberitahu tinggal menunggu waktu saja karena kebutaan itu dulunya akibat benturan kepala.


Mengenai Kaki, mereka akan lakukan terapi sengatan untuk mengejutkan syaraf-syaraf yang ada di telapak kaki.


Melihat cara dan ketelatenan dokter melakukan terapi membuat Mishell terinspirasi untuk melakukannya di rumah.


Dia akan belajar agar bisa membantu kerja dokter. Dokter pun setuju, karena semakin cepat Kalila bereaksi berarti harapan kesembuhan semakin besar.


Setelah dokter selesai dengan tugasnya, beliau pun memberi resep obat serta Vitamin untuk kekuatan tulang.


"Semua sudah bagus, lihat Dek! Kalila berhasil menggerakkan jari jemari kakinya."


"Alhamdulillah. Ayo sayang, kamu pasti sembuh. Terimakasih Dok."


"Sama-sama Dek, saya yakin dengan kesabaran mu Kalila pasti sembuh."


"Iya Dok, Kalila juga sudah mau memegang makanan sendiri Dok."


"Bagus Dek. Ini, minumlah Nona!" pinta Dokter sembari meletakkan botol air mineral kecil ke tangan Kalila.


Kalila pun mengambil dan meminumnya hingga membuat dokter tersenyum.


"Baiklah Dek, semua sudah selesai, mudah-mudahan minggu depan ada kemajuan lain lagi. Saya penasaran ingin mendengar suara emas Nona Kalila."


"Apalagi Saya Dok. Rasanya bahagia banget jika Kalila mau berbicara dengan saya."


"Dengar Nona Kalila, banyak orang yang merindukan suara Anda, apalagi Tuan Artha. Beliau ingin dipenghujung usianya ini melihat Nona sembuh dan hidup bahagia. Apa Nona nggak kasihan melihat beliau bersedih terus?"


Kalila menitikkan air mata, hingga membuat Mishell khawatir, "Kenapa kamu menangis? Kami tidak memaksa, tapi melihatmu sembuh adalah kebahagiaan terbesar Kakek. Usia beliau mungkin tidak akan lama lagi Yang. Aku tidak tega melihat beliau patah harapan," ucap Mishell sambil menghapus air mata Kalila.


"Kamu jangan menangis lagi ya, kami tetap sabar sampai kamu benar siap untuk berbicara dengan kami."

__ADS_1


"Dok, sekali lagi terimakasih ya. Kami permisi dulu, Inshaallah minggu depan kami kembali."


Dokter pun mengangguk dan beliau mengingatkan kembali agar Mishell membantu menterapi kaki Kalila.


__ADS_2