HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR

HUKUMAN PENGUBAH TAKDIR
BAB 14. HIKMAH KECELAKAAN MISHELL


__ADS_3

Mishell mengajak Kalila jalan-jalan dulu sebelum pulang. Mereka pergi ke sebuah taman di mana pasangan muda sering nongkrong di sana.


Meski banyak mata memandang ke arah mereka, Mishell tidak malu sedikitpun memiliki istri cacat.


Dengan telaten Mishell menjelaskan setiap detail lingkungan taman tersebut, dari gemericik air pancuran, ikan yang banyak di kolam serta anak-anak yang tertawa ruang sambil berkejaran dan memainkan aneka permainan yang ada di sana.


Setelah menjelaskan semuanya, Mishell pun berkata, "Semangat sembuh Sayang, kamu pasti bisa melihat keindahan dunia ini lagi. Aku akan terus membantumu hingga kamu sembuh."


"Kita pulang ya, tapi sebelum itu aku akan memberikan mu sesuatu."


"Pak Sopir, titip istri saya ya. Saya akan keseberang m we membeli sesuatu. Jika bawa Kalila, ntar sudah nyeberang soalnya sangat ramai."


"Iya Tuan. Hati-hati, jalanan ramai sekali hari ini Tuan."


"Iya Pak."


Mishell pun pergi menyeberang jalan, dia ingin ke toko mainan, membelikan Kalila boneka yang bisa berbicara dan juga membeli es cream.


Saat hendak kembali, Mishell lengah karena kedua tangannya memegang mainan serta es cream.


Sebuah mobil melaju dengan kencang dan tak ayal lagi suara decitan ban kenderaan terdengar nyaring memekakkan telinga serta suara benturan benda keras membuat orang-orang yang ada di sana berteriak dan berlari ke arah tubuh Mishell yang terhempas dan tergeletak.


Pak sopir yang melihat Tuannya celaka, berteriak sekuatnya, "Tuan...!"


"Non, Tuan...Tuan kecelakaan Non. Saya harus membantu Tuan, Non tunggu di sini ya, jangan kemana-mana sampai saya kembali," ucap Pak Sopir, lalu berlari ke arah tempat Mishell tergeletak.


Tubuh Kalila gemetar, keringat dingin pun membasahi keningnya dan dia pun menangis.


Kalila sangat terkejut mendengar suara decitan dan tabrakan kendaraan.


Diapun berteriak dengan kencang, "Kaaakkk!"


Kalila teringat akan kejadian yang pernah menimpanya. Sambil terus menangis dan berteriak memanggil Mishell, Kalila pun berusaha turun dari kursi rodanya.


Dengan susah payah, akhirnya Kalila berhasil turun. Dia terjatuh ke tanah dan dengan tenaganya yang lemah, Kalila berusaha menggeser pelan-pelan kakinya. Dia ingin mengetahui keadaan Mishell.


Orang-orang yang melihat hal itupun menolong Kalila dan Kalila meminta tolong untuk diantarkan ke tempat terjadinya kecelakaan.


Pak sopir memangku Mishell, tangan dan kaki Mishell mengeluarkan darah serta tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Sambil menunggu bantuan tiba, pak sopir memeriksa bagian lain tubuh Mishell dan untung saja cideranya tidak terlalu parah.


Mobil penyok menghantam pembatas jalan dan sopirnya pun terjepit tidak sadarkan diri.


Mishell terhempas ke aspal dan tubuhnya menghantam bibir jalan. Untung kepala Mishell tidak cidera, hanya ada beberapa luka di pelipis dan ujung keningnya.


Kalila yang sudah berada di tempat kejadian, meraba-raba, dia ingin mengetahui keadaan Mishell.


"Kak...Kak, kamu nggak apa-apa kan? Kak...ayo bangun. Bangun Kak!" ucap Kalila sambil menggoyang-goyangkan tangan Mishell.


Saat tangan Kalila menyentuh darah, dia histeris dan pak sopir pun berusaha menenangkannya.


"Non, non...non sudah mau bicara. Tenang ya Non...Tuan nggak apa-apa. Itu cuma darah dari luka yang menganga. Tuan pasti sebentar lagi sadar.


"Tuan...Tuan Mishell, sadarlah! Bangun Tuan, Non Kalila bicara. Non mengkhawatirkan Tuan!"


Pak Sopir pun ikut mengguncang tubuh Mishell, dia berharap Tuannya akan segera sadar.


Namun, Mishell belum sadar juga sampai ambulance tiba.


Tubuh Mishell pun diangkat dan dimasukkan ke dalam ambulance, sementara Kalila meminta ikut naik untuk mendampingi sang suami.


Kalila masih terisak-isak sambil memegangi wajah Mishell, "Kak, bangun! Bangun dong Kak!"


Suster yang melihat Kalila pun merasa iba, "Sabar ya Mbak, kita sebentar lagi sampai kok dan dokter akan segera mengobati suami Mbak.


Ambulance terus melaju menuju rumah sakit terdekat. Pak sopir pun yang mengikuti dari belakang, juga telah sampai.


Pak sopir membantu Kalila untuk naik ke kursi rodanya, sementara para perawat di bantu security menurunkan Mishell lalu mereka mendorong brankar menuju ruang UGD.


Dokter segera menangani Mishell, memeriksa dan mengobati luka-lukanya.


Mishell akhirnya pun membuka mata. Karena kepalanya pusing, dan pandangannya masih kabur, diapun memejamkan matanya kembali.


Dokter akan melakukan scanning, karena beliau takut, saat terjadinya kecelakaan Mishell mengalami benturan di kepala yang efeknya bisa fatal jika tidak segera diperiksa.


Mishell yang masih belum sepenuhnya sadar memanggil-manggil Kalila. Dan dokter mengatakan jika Kalila baik-baik saja dan saat ini sedang di luar menunggunya.


Mendengar hal itu, Mishell pun merasa tenang. Dia menjalani serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.

__ADS_1


Kalila sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi Mishell dan saat pak sopir mengatakan jika dokter sudah keluar dari ruangan, Kalila pun meminta Pak sopir untuk membawanya menemui dokter tersebut.


"Dok, bagaimana kabar suami saya?"


"Pak Mishell sudah sadar dan luka-lukanya juga tidak terlalu parah. Saat ini hanya tinggal menunggu hasil scanning."


"Terimakasih Dokter. Terimakasi, syukurlah jika Kak Mishell selamat. Apakah saya boleh menjenguknya Dok?"


"Sebentar lagi ya Bu, kami pindahkan dulu Pak Mishell nya ke dalam ruang rawat."


"Baik Dok."


Kalila pun sabar menunggu sampai seorang suster memberitahu jika Mishell sudah bisa di jenguk.


Kalila melajukan kursi rodanya, di bantu Pak Sopir. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Mishell.


Setelah mengantar Kalila, Pak sopir pun ke luar ruangan, dia menunggu kedatangan Tuan besar beserta ibu serta Anggun.


Saat melihat Kalila datang dan dalam keadaan baik, Mishell pun merasa lega.


Kalila meraba tempat tidur, lalu berusaha mendekat. Dia meraba wajah Mishell dan memanggil, "Kakak..."


"Sayang, kamu...Coba ulang lagi, apa aku tidak salah dengar?"


"Kak, kak Mishell baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah, akhirnya. Terimakasih Sayang, terimakasih."


Mishell ingin bangkit dan memeluk Kalila tapi luka dan selang infus yang terpasang di tangan, tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan hal itu.


Saat ini, yang bisa Mishell lakukan adalah menggenggam tangan Kalila dan mencium tangan itu sambil kembali mengucapkan terimakasih.


Mishell tidak menyangka, kecelakaan yang menimpa dirinya membawa hikmah yang baik, yaitu Kalila jadi mau berbicara.


Kakek, ibu dan Anggun pun sudah tiba di rumah sakit. Pak sopir segera mengantarkan mereka ke ruangan di mana Mishell.di rawat.


Sesampainya di ruangan, kakek sangat terkejut, saat melihat Kalila berbicara, bercanda serta tertawa sambil menggenggam tangan Mishell.


"Alhamdulillah," ucap Kakek.

__ADS_1


Mishell dan Kalila pun terkejut, lalu dengan perasaan malu, keduanya melepaskan pegangan tangan masing-masing.


__ADS_2