
Kelopak mata ibu pun bergerak, hingga membuat Mishell bersyukur.
"Alhamdulillah Bu."
Mishell terus saja memijat lengan sang ibu hingga kesadaran ibu pulih sepenuhnya.
"Shell, bagaimana adikmu?" tanya ibu sambil menangis.
"Bu, tenanglah. Anggun selamat, lihat dia ada di samping ibu. Mudah-mudahan segera sadar."
"Kenapa adikmu nekad melakukan hal ini Shell, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anggun."
"Mishell pun bingung Bu, mudah-mudahan bukan hal fatal. Yang terpenting dia saat ini selamat. Kita akan memberikan dukungan untuknya setelah pulih."
"Ibu menyesal Shell, tadi sangat marah kepada Anggun. Ibu kalaf hingga menamparnya beberapa kali. Ibu sangat emosi melihat sikap adikmu yang kian tidak bisa diatur."
"Iya Bu, Mishell paham. Ibu marah karena sayang kepada Anggun. Kita berdoa saja ya Bu, mudah-mudahan Anggun kembali seperti dulu, seorang gadis yang baik dan penurut."
"Iya Nak, kita mau kemana ini!"
"Rumah sakit terdekat saja Bu, biar Anggun segera mendapatkan perawatan."
"Untung kamu datang tepat waktu Le, kalau nggak Anggun pasti tidak terselamatkan. Oh ya, kamu tidak ajak Kalila?"
"Nggak Bu. Sudah malam, kasihan dia harus istirahat. Oh ya Bu, setelah keluar dari rumah sakit, pokoknya ibu dan Anggun harus ikut Mishell ke rumah Kakek, untuk sementara kita akan tinggal di sana. Nanti, jika gaji Mishell sudah terkumpul kita akan membeli rumah yang tidak jauh dari rumah Kakek, jadi Mishell bisa terus pantau Anggun."
"Terserah kamu Le, ibu ngikut saja. Ibu nggak mau kejadian ini terulang lagi."
"Iya Bu."
Mereka pun tiba di rumah sakit, lalu Mishell segera menggendong Anggun dan membawanya ke ruang UGD, sementara Pak Sopir membantu ibu, karena tubuh beliau masih lemah.
Dokter pun memeriksa Anggun dan berusaha menyadarkannya. Tidak lama, Mishell melihat tangan adiknya bergerak dan dia meraup wajahnya sambil mengucap syukur.
Anggun selamat dan saat ini Mishell tidak ingin bertanya apapun tentang hal yang terjadi, karena dokter mengatakan jangan dulu memberikan tekanan yang membuatnya makin stres.
Mishell memberitahu kan hal itu kepada ibu, lalu ibupun masuk untuk menemui Anggun.
__ADS_1
Anggun menangis tanpa mengeluarkan suara, tatapan matanya kosong hingga membuat Mishell sangat prihatin.
Ibu memijat lengan Anggun sementara Mishell menggenggam tangan Anggun seakan ingin memberikan kekuatan.
Dokter mengatakan untuk malam ini biarlah Anggun di rawat, jika besok ada kemajuan baru boleh pulang.
Saking khawatirnya, tadi Mishell lupa memberi kabar kepada Kalila, dan sekarang setelah Anggun selamat barulah dia akan memberi kabar jika dirinya malam ini tidak bisa pulang.
Kalila yang tidak bisa tidur akhirnya menelepon Mishell. Mishell pun tersenyum saat melihat panggilan tersebut dari Kalila.
Ternyata sudah ada kontak batin diantara keduanya yang saling merasa khawatir.
"Hallo Sayang," ucap Mishell saat menerima panggilan dari Kalila.
"Maaf Yang, aku belum bisa pulang, malam ini harus menginap untuk menemani Ibu menjaga Anggun."
"Memangnya Anggun kenapa Kak?"
Mishell pun menceritakan kejadian saat dia tiba di rumah ibu. Kalila merasa prihatin, dia hanya bisa memberikan dukungan kepada Mishell dan ibu agar tetap bersabar menghadapi ujian tersebut.
Kalila pun berjanji, besok pagi akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Anggun.
Kalila pun ikut khawatir hingga malam ini juga dia pamit kepada kakek untuk menyusul ke rumah sakit.
Awalnya kakek keberatan tapi karena Kalila terus memohon, akhirnya beliau setuju dengan memerintahkan beberapa pengawal untuk mengantar Kalila ke sana.
Kalila di bantu oleh Vita bersiap, dia mengganti pakaian, lalu memakai sweater tebal karena malam ini udara luar sangat dingin.
Setelah selesai, Vita pun membawa Kalila turun dan mobil serta pengawal sudah menunggu di halaman.
Vita kali ini ikut, barangkali nanti Kalila membutuhkan bantuannya di sana. Karena Mishell pasti sibuk memperhatikan Anggun.
Mishell memeluk Anggun, dia berusaha menenangkannya. Anggun terus saja menangis, tapi dia tidak mengatakan apapun yang menjadi alasan dirinya seperti itu.
Ibu sedih melihat kondisi Anggun yang sepertinya sedang stres, beliau membantu Anggun agar beristighfar untuk mengingat Allah.
Pikiran beliau jadi buruk, mungkinkah saat pulang telat tadi sore, telah terjadi hal buruk terhadap putrinya.
__ADS_1
Beliau berusaha bertanya, karena tidak mau masalah itu semakin larut. Tapi Anggun tidak menjawab sepatah katapun, hanya derai airmata yang terus mengalir dan membasahi tangan serta baju Mishell.
Akhirnya Mishell pun meminta ibu agar jangan mendesak Anggun dulu, mereka harus membuat Anggun merasa nyaman hingga bersedia menceritakan masalahnya tanpa musti di desak.
"Bu, sebaiknya ibu beristirahat dulu, aku tidak mau ibu sakit. Biarlah malam ini aku yang akan menjaga Anggun."
"Baiklah Le, ibu akan duduk di sana. Mudah-mudahan adikmu tidak akan histeris lagi."
Kalila sudah tiba di rumah sakit, lalu diapun memohon kepada perawat jaga agar di perkenankan menemui Mishell.
Sebenarnya tidak boleh pengunjung masuk di luar jam besuk apalagi hari sudah sangat larut.
Pengawal mengatakan jika ini hal darurat dan mereka menggunakan nama besar Kakek agar perawat memberi izin Kalila dan Vita masuk.
Para pengawal hanya akan berjaga-jaga di luar saja.
Akhirnya mereka pun memberi izin Kalila beserta Vita untuk masuk. Mishell kaget saat pintu ruangan terbuka dan melihat sang istri muncul di depan pintu.
Vita pun mendorong kursi roda Kalila untuk mendekati Mishell karena Mishell masih memeluk Anggun, dia takut Anggun kembali histeris.
"Kenapa kamu nekad kesini Yang, hari sudah larut nggak baik untuk kesehatan mu."
"Nggak apa-apa kok Kak, aku sudah minta izin ke Kakek. Bagaimana kondisi Anggun?"
"Inilah aku masih berusaha menenangkan dia Yang. Dia lelah dan nampaknya tertidur dalam pelukan ku."
"Ibu di mana Kak, aku nggak mendengar suara beliau?"
"Ibu barusan tertidur, kasihan beliau tadi sangat cemas hingga pingsan."
"Nona mau ke tempat ibu? itu beliau sedang tertidur sambil duduk di sofa," ucap Vita.
"Kalau begitu kita di sana temani ibu saja Vit, biar nggak mengganggu Anggun. Kami kesana ya Mas," pamit Kalila.
"Iya Sayang. Kalau bisa kamu juga ikut tidur, nggak baik begadang untuk kesehatan kamu yang baru mulai pulih."
"Iya Kak, Kak Mishell tenang saja. Aku baik-baik saja Kok. Kakak fokus dengan Anggun saja ya!"
__ADS_1
Setelah Mishell mengangguk, Vita pun mendorong kursi roda Kalila menuju sofa di mana ibu tertidur.
Kalila hanya duduk sambil menunggu ibu bangun, meskipun dia tidak bisa berbuat banyak, setidaknya Kalila bisa memberikan dukungan agar orang terkasihnya terhibur.