
Lima hari telah berlalu didalam dungeon, terlihat seseorang dengan pakaian serba hitam tengah duduk bersandar pada dinding goa.
"Walau energi mana ku tidak akan habis, tapi... lima hari tanpa beristirahat benar-benar membuat lelah secara mental."
Ya, orang yang sedang bersandar didinding goa itu adalah Ryuga. Ia sedang mengeluh karena dalam waktu lima hari didalam dungeon, Ryuga benar-benar fokus untuk meningkatkan levelnya tanpa beristirahat.
Ryuga hanya beristirahat sejenak untuk makan dan minum, selesai makan ia akan langsung melanjutkan leveling. Tentu saja Ryuga menemui monster-monster selain Goblin dan Orc.
Dan untuk tidur? Ryuga tidak melakukannya, karena anehnya didalam dungeon ini ia tidak merasa ngantuk sama sekali, benar-benar memuakkan.
Dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan, Ryuga segera berdiri dari tempatnya. Menampar wajah sendiri Ryuga berkata dengan semangat yang membara terlihat dimatanya.
"Bukan waktunya untuk mengeluh!."
Dalam lima hari ini level Ryuga telah mencapai angka 65, benar-benar sangat memuaskan meskipun hanya dungeon Rank C.
Jika pun dihitung kalau sudah mengalahkan bos dungeon nanti, mungkin level Ryuga bisa mencapai angka 70.
Di setiap perjalanan menelusuri dungeon, Ryuga akan mensummon setiap Orc yang telah dibunuh nya menjadi pasukan skeleton. Ini dilakukan oleh Ryuga karena merasa akan lebih cepat jika para pasukan skeleton yang mengurus monster-monster lemah lainnya.
Pasukan Orc yang telah di Summon Ryuga sendiri levelnya akan meningkat dari level asli mereka. Dan untuk batu kristal yang ada dalam tubuh monster yang ia kalahkan, akan secara otomatis tersimpan kedalam Iventory System.
"Aku harus cepat, di dunia luar mungkin sudah menjelang pagi hari." Setelah mengatakan itu Ryuga berlari meninggalkan tempatnya.
Mencari dimana tempat bos dungeon berada.
Dalam perjalanannya setiap kali Ryuga berpapasan dengan beberapa monster, tapi kali ini Ryuga hanya melewati dan membiarkan pasukan skeleton yang menanganinya.
"Itu dia." Ryuga meningkatkan kecepatannya saat melihat sebuah cahaya yang mungkin adalah ujung dari goa ini.
Setelah melewati ujung cahaya itu, wajah Ryuga menjadi tidak enak dipandang. Perasaan marah, benci, dan nostalgia bercampur aduk.
"Tenang Ryuga, ini adalah ruangan yang berbeda." Ryuga berkata dengan menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, mencoba menenangkan emosinya.
Sebuah aula singgasana yang cukup megah berada dihadapan Ryuga, membuat ia mengingat kejadian dulu yang hampir merenggut nyawanya. Ya, sekarang Ryuga berada didalam ruangan bos dungeon.
Ryuga memperhatikan sekitar, lalu melihat di kursi singgasana terdapat sebuah patung yang memakai mahkota serta jubahnya, benar-benar seperti seorang raja. Di samping patung raja itu juga terlihat sebuah patung lain, nampak seperti seorang ksatria yang menjadi ajudan sang raja.
"System analisa patung yang duduk di singgasana itu."
[STATUS]
[NAMA: ??]
[RAS: ??]
[UMUR: ??]
[TITLE: BOS DUNGEON]
[LAINNYA: MATI]
"Mati, apa maksudnya?." Melihat status bos dungeon itu Ryuga menjadi bingung.
Ryuga menggelengkan kepala pelan, tanpa berpikir lama lagi ia mengeluarkan katana hitam panjangnya dari Dimensional Store.
Dengan meningkatkan kewaspadaannya Ryu berjalan mendekati patung sang raja.
__ADS_1
Ketika jarak antara Ryuga dengan patung sang raja hanya berkisar satu meter, Ryu mengalirkan energi mana kedalam katana hitamnya.
Katana hitam panjang Ryuga mengeluarkan kilatan listrik. Tidak, lebih tepatnya kilatan petir.
Dengan sebuah ayunan yang sangat cepat dan ganas, Ryuga berniat menghancurkan patung sang raja dengan menebasnya.
"Thunder Slash"
(Tebasan Guntur)
KLANG!
BLARR!!!
Terdengar dua suara yang sangat keras didalam ruangan bos dungeon. Suara pertama adalah sesuatu yang menahan tebasan katana Ryuga, sedangkan suara yang kedua adalah ledakan yang terjadi akibat teknik Thunder Slash.
Terdapat banyak asap mengepul saat ledakan terjadi, Ryuga yang merasa serangannya ditahan tersentak sesaat sebelum merasakan ada bahaya yang mengancam nyawa. Dengan kecepatan penuh Ryuga segera melompat mundur untuk menjaga jarak.
"Apa yang terja--," Sebelum menyelesaikan ucapannya, Ryuga dikejutkan lagi dengan sebuah pedang besar yang melesat cepat kearahnya.
Terlambat menyadari, terdapat sebuah luka goresan diwajah, terlihat pipi kanan Ryuga mulai meneteskan darah yang jatuh ke lantai ruangan.
Belum sempat bereaksi, lagi-lagi Ryuga dikejutkan oleh sesuatu yang tiba-tiba melesat sangat cepat kearahnya.
"Keuhkk." Sesuatu yang sangat keras menghantam tepat pada perut Ryuga.
BAMM!!
Ryuga melesat seperti umpan meriam kebelakang hingga berhenti ketika menabrak dinding ruangan, katana yang dipegang Ryuga pun juga terlepas.
Ryuga mencoba untuk berdiri, terlihat darah yang keluar dari kepala dan mulutnya. Ia merasakan ada beberapa tulangnya yang patah, pandanganya juga terasa sedikit buram.
"Sudah cukup lama aku tidak merasakan ini."
Bukannya merasakan sakit atau semacamnya.
Ryuga malah tersenyum, bukan tersenyum cerah seperti biasa, melainkan senyuman sinis penuh teror terukir jelas diwajahnya.
"INSTANT HEAL."
(Penyembuhan instan)
Ryuga menggunakan skill Instant Heal untuk menyembuhkan luka-luka dan HP yang berkurang, termasuk juga tulang-tulang yang patah.
Sebelumnya Instant Heal adalah sebuah teknik, tetapi ketika Ryuga mendapatkan semua Job yang ada, Instant Heal menjadi salah satu skill miliknya.
Keuntungan dari Instant Heal menjadi skill adalah keefektifan nya dalam penyembuhan instan akan bertambah.
Ryuga melihat ke depan, pandangannya sedikit demi sedikit menjadi normal kembali, terlihat seorang ksatria dengan memegang pedang besar yang menancap dilantai ruangan.
Ryuga memperhatikan ksatria dari atas sampai bawah lalu melihat ke kursi singgasana, ternyata benar dugaannya, bahwa ksatria itu adalah patung yang sebelumnya berdiri di samping sang raja.
"Ternyata kamu adalah penjaga patung itu."
Kstaria itu tidak menjawab dan hanya menatap Ryuga dari tempatnya berdiri.
Sebelumnya Ryuga terlalu ceroboh, ia mengira akan begitu mudah untuk mengalahkan bos dungeon dengan menghancurkan patung sang raja, namun justru patung yang berdiri di samping sang raja adalah lawan sesungguhnya yang harus dihadapi oleh Ryuga.
__ADS_1
Benar-benar tidak sesuai dengan harapan!
Gerutu Ryuga mengeluh dalam hati.
Setelah luka yang diterimanya kembali pulih seperti sedia kala, Ryuga pun bisa berdiri dengan mudah.
"System analisa ksatria itu." Ucap Ryuga sambil mengawasi ksatria yang hanya diam menatap dirinya.
[Ding]
[Gagal Menganalisa Target, Perlu System Versi 2.0 Untuk Dapat Menganalisa]
Mendengar notifikasi dari System Ryuga sedikit kecewa, mengerutkan kening pemuda itu teringat sesuatu.
Bukan kah aku memiliki God Eyes, betapa bodohnya aku sejak awal tidak menggunakannya.
Melupakan bahwa ia memiliki skill yang dapat menganalisa apapun, Ryuga sedikit malu karena tidak mengingatnya.
Pasti itu karena aku sedang lelah, hem itu pasti!
Ryuga meyakinkan dirinya sendiri kalau ia melupakan skill God Eyes miliknya karena kelelahan.
Menghela nafas panjang, sekali lagi Ryuga menatap ksatria yang ada didepan nya hingga kedua pasang mata mereka saling bertemu.
"God Eyes."
(Mata Dewa)
NAMA: VAHN
RAS: HIGH HUMAN (Jatuh)
AGE: 10.000
LEVEL: 150
JOB: SWORD MASTER KERAJAAN
TITLE: DRAGON SLAYER
HP: 10.000
MP: 8000
STRENGTH: 1000
FATIGUE: 50
AGILITY: 1000
SENSE: 200
INTELLIGENCE: 1000
"Apa-apaan?!."
Melihat status dari ksatria itu dengan mata kepalanya sendiri, Ryuga tercengang, benar-benar sangat kuat!.
__ADS_1