Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 47. - Siapa Aku?


__ADS_3

"Apa kurang jelas? Menikahlah denganku lalu buat anak untukku, atau kamu ingin melakukan itu sebelum menikah?" Gadis berambut perak itu melepas celemek merah muda yang ia kenakan, kemudian dilanjutkan dengan melepas kancing bajunya.


"Tidak tidak tidak bukan itu." Ryuga menghentikan gadis berambut perak yang ingin melepaskan bajunya. Ryuga menghembuskan nafas panjang, karena tidak merasakan adanya niat buruk ia kemudian bertanya, "Kamu siapa? Dan kenapa bisa masuk kedalam ruangan ini, sedangkan pintu tadi masih terkunci?"


Memasang kancing bajunya kembali, gadis itu menjawab dengan sedikit memiringkan kepala. "Siapa aku? Apa kamu benar-benar tidak mengenaliku?"


Sebagai balasan Ryuga menggelengkan kepala.


"Sepertinya kamu sama sekali tidak mengenaliku." Gadis berambut perak itu mengangguk-anggukan kepala sendiri, dia seperti mengerti kenapa Ryuga terkejut ketika melihat dirinya.


'Jika aku mengenalmu maka aku tidak akan merasa waspada tadi,' kata Ryuga dalam hati dengan tersenyum kecut.


Dengan badan sedikit membungkuk, gadis itu memperkenalkan dirinya seperti seorang bangsawan. "Namaku Elena Mitsurugi, perwakilan pertama akademi Kyosai untuk mengikuti turnamen antar sekolah hunter, sekaligus ketua OSIS di akademi ini.


Umur 18 tahun, berstatus sebagai keponakan raja dari kerajaan Inggris dan saat ini menjadi anggota keluarga 'Mitsurugi', salah satu keluarga besar yang ada di Jepang. Ini adalah pertama kalinya aku menjalin hubungan, jadi kamu tidak perlu khawatir, dan—"


"Sudah cukup!" Ryuga segera menyela penjelasan gadis berambut perak yang bernama Elena Mitsurugi itu. Ryu memijat kening, merasa pusing karena perkenalan yang sangat amat panjang itu.


Huh? Keponakan dari raja kerajaan Inggris, lalu menjadi anggota keluarga besar nomer satu di negara ini? Kenapa aku tidak pernah mengetahui bahwa murid disini memiliki status yang begitu tinggi!


Ryuga lagi-lagi mengeluh dalam hati.


Negara tempat tinggal Ryuga sekarang. Selain memiliki 5 Guild besar, Jepang juga memiliki beberapa keluarga besar sebagai salah satu kekuatan negara, dan keluarga nomer satu atau bisa dibilang yang paling kuat adalah keluarga besar Mitsurugi.


"Jadi, bagaimana aku memanggilmu?" tanya Ryuga.


"Panggil aku sesuka hatimu." Elena Mitsurugi langsung menjawab.


"Baiklah Elen, kenapa ketus OSIS akademi bisa memasuki ruangan asrama laki-laki, apa kamu memiliki kunci cadangan?"


Elena mengambil sesuatu dari saku, lalu ia menjawab dengan menunjukkan sebuah kunci kepada Ryuga. "Tidak, aku meminjamnya dari Kei tadi."


Ryuga mengangguk mengerti. "Lalu kenapa kamu memintaku untuk menikah denganmu?" Ya, Ryuga sedikit penasaran dengan alasan Elena yang tiba-tiba mengajak dirinya untuk menikah.


"Ayah bilang Elena harus menikahi laki-laki yang kuat, ibu ingin aku segera memberi cucu padanya, dan kebetulan aku melihatmu bertarung tadi." Elena mengatakan semuanya tanpa ada kebohongan sedikit pun.


"Apa hanya karena itu?" Ryuga menatap lekat mata Elena.


Elena langsung menundukkan kepala menghindari tatapan mata Ryuga. "Se-sebenarnya ada satu alasan lagi," ucap Elena dengan gugup.


"Apa itu?"


"Kamu memiliki Skill yang sama denganku." Elena mengangkat tangan kanan, tiba-tiba muncul bongkahan Es tajam dihadapan Ryuga.


"Dengan memiliki Skill yang sama, kemungkinan besar anak kita akan mempunyai Skill yang sangat kuat dan berkaitan tentang sihir Es.


Apa kamu mengerti yang aku maksud?"


Elena menurunkan tangan kanannya, seketika bongkahan Es tajam yang ada dihadapan Ryuga menghilang.


Mengerti apa yang dimaksud oleh Elena, Ryuga menggelengkan kepala pelan. "Kurasa kamu salah paham, Elen. Aku tidak memiliki Skill yang berkaitan tentang sihir Es."


Elena sedikit tersentak. "Tapi kenapa kamu bisa menggunakan sihir Es tanpa Casting mantra?"


"Itu karena aku memiliki pengendalian sihir Es tingkat tinggi." Ryuga menjawabnya dengan jujur.


"Itu tidak masalah, jadi menikahlah denganku." Elena mendongak, lalu menatap Ryuga dengan ekspresi datar.


Kenapa begitu keras kepala?!


"Hah ... lupakan tentang menikah, aku menolak." Ryuga berkata dengan hembusan nafas berat.

__ADS_1


Elena memiringkan kepalanya. "Kenapa?"


"Kita baru saja bertemu, dan menikah? Kamu harus menikah dengan orang yang kamu cintai."


"..."


Elena terlihat tidak mengerti apa yang Ryuga maksud barusan. "Lebih baik kamu keluar sekarang, tidak baik seorang perempuan berada diruangan laki-laki seperti ini." Ryuga menarik tangan Elena dan pergi berjalan ke arah pintu.


Membiarkan dan mengikuti Ryuga menarik tangannya, Elena berkata dengan nada datar. "Tapi aku tidak masalah dengan ini."


"Mungkin kamu tidak, tapi disini aku yang akan mendapat masalah." Sampai didepan pintu, Ryu lalu membukanya, kemudian ia mendorong paksa Elena keluar dari ruangan asrama.


"Sampai jumpa." Dengan tersenyum kecil, Ryuga menarik dan menutup pintu dengan keras.


Brak!


Sesaat Elena terdiam ditempat. "Cinta, kah?" terlihat sebuah senyuman menawan ketika Elena mengatakan itu, kemudian ia melangkahkan kaki pergi dari depan ruangan Ryuga.


**


Pukul 00.00 tengah malam, cahaya bulan tampak terang menyinari akademi, tepat di atap sebuah gedung asrama perempuan. Terlihat sosok berjubah hitam yang sedang memandang ke arah gedung asrama laki-laki.


"Ke ke ke, aku terkejut, sangat-sangat terkejut. Siapa yang menyangka seorang bocah bisa memiliki kekuatan seperti itu, walau yakin untuk bisa membunuhnya, tapi itu terlalu beresiko dan berkemungkinan kecil aku akan menang melawannya." Terlihat ekspresi tidak puas ketika sosok berjubah hitam mengatakan itu.


"Tapi tidak masalah, aku dengar dia memiliki seorang adik yang juga berada di akademi ini, ah ... aku tidak sabar melihat bagaimana ekspresi wajah keputusasaan nya nanti." Sosok berjubah hitam itu berkata dengan menjilat sebuah pisau tajam ditangan, seringaian sinis dapat terlihat di bibirnya.


Kemudian sosok berjubah hitam tiba-tiba menyatu dengan bayangannya sendiri, beberapa detik kemudian, bayangan dari sosok berjubah hitam itu menghilang.


Ruangan asrama perempuan, disalah satu kamar, terlihat Aoi yang sudah terlelap dalam tidurnya. Suasana kamar Aoi terasa hening, namun tiba-tiba bayangan yang ada pada ranjang Aoi menggeliat, tak lama kemudian bayangan hitam itu berubah menjadi sosok berjubah hitam dengan memegang sebuah pisau tajam ditangan.


Sosok berjubah hitam itu berjalan ke arah Aoi. "Apa aku harus membawanya sebagai sandera? tidak tidak, lebih baik bawa saja kepalanya, ke ke ke." Sosok berjubah hitam itu tertawa kecil, nampak ekspresi mengerikan diwajahnya.


Seseorang yang tiba-tiba muncul dari bayangan lampu tidur dengan cepat meraih leher sosok berjubah hitam. Dengan memegang lehernya, seseorang yang tiba-tiba muncul itu membantingnya ke dinding kamar.


Bruk!


"Keuh!"


Sosok berjubah hitam itu benar-benar tidak bisa merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan Aoi dikamar ini, tetapi siapa orang ini? Lalu kenapa aku tidak bisa merespon pergerakannya?!


"Si-sia—"


Dengan mencengkram erat lehernya, seseorang yang tiba-tiba muncul itu menyela perkataan sosok berjubah hitam. "Shssst, jangan berisik, adikku bisa terbangun nanti." Dia berkata dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Ya, seseorang yang tiba-tiba muncul itu adalah Ryuga, dia berada dikamar adiknya karena merasa khawatir setelah kemunculan suara misterius di pagi hari tadi. Karena Ryu tidak takut untuk menghadapinya, jadi ia tidak merasa khawatir dengan dirinya sendiri.


Tapi setelah Ryuga menunjukkan kekuatannya saat melawan Ren, ia menjadi tidak yakin kalau suara misterius seseorang itu akan menemui dirinya secara langsung, jadi Ryu memutuskan untuk menjaga Aoi dengan cara bersembunyi didalam bayangan lampu tidurnya.


"Hoamh ... siapa?" Karena Ryuga membanting sosok berjubah hitam dengan cukup keras, Aoi pun terbangun dari tidurnya.


"Baiklah, mari kita pindah tempat." Melihat adiknya terbangun, Ryuga kemudian membawa pergi sosok berjubah hitam itu.


"Tidak ada siapa-siapa." Dengan menggosok-gosok mata dan memandang sekeliling, Aoi tidak menemukan sumber suara. Beranggapan kalau itu cuma halusinasi, Aoi pun melanjutkan mimpi indahnya.


*


Lapangan arena akademi, dari bayangan tiang lampu yang menjadi penerang arena dimalam hari, muncul satu sosok berjubah hitam dan satu pemuda tampan berambut hitam yang tak lain adalah Ryuga.


Karena sudah menduga hal ini akan terjadi, Ryu menggunakan 'Shadow Exchange' untuk berpindah dari kamar Aoi ke arena akademi, ia sebelumnya sudah menempatkan prajurit bayangan ke tempat yang dirasa sepi dan cocok untuk dijadikan bertarung.


Masih mencengkram erat leher sosok berjubah hitam, Ryuga bisa melihat kalau dia sedang kehabisan nafas. "Oh maaf," ucap Ryuga dengan melemparkan sosok berjubah hitam ke tengah lapangan arena akademi.

__ADS_1


Dengan nafas yang terengah-engah, sosok berjubah hitam itu berteriak. "Bocah sialan! Apa kau tidak tahu siapa aku?!"


"Kau adalah orang yang berbicara omong kosong di pagi hari tadi, bukan?" Ryuga berkata dengan mengelus dagunya, seperti seseorang mengingat-ingat sesuatu yang dilupakan.


"Ke ke ke, kau benar! Aku adalah Hunter S–Rank dan menjadi buronan internasional, sang bayangan malam!" Sosok berjubah hitam itu memperkenal dirinya dengan nada bangga.


Ryuga tampak tidak peduli sama sekali dengan perkataan sosok berjubah hitam itu. "Tadi pagi kau juga menyebut dirimu sang bayangan malam, bukan?" tanya Ryuga.


Sosok berjubah hitam itu berdiri. "Ya! Aku dikenal sebagai sang bayangan malam karena bisa berubah menjadi bayangan itu sendiri!"


Ryuga mengaktifkan 'God Eyes'. "Kamu memiliki Skill yang hebat, tapi ... jika kau bayangan malam, maka aku adalah Raja Bayangan itu sendiri."


"Arise."


Setelah mengatakan itu, tiba-tiba mata Ryuga berubah menjadi hitam dengan pupil mata berwarna ungu, bayangan dibawah kaki Ryu bergerak-gerak. Tidak lama kemudian, dari dalam bayangan Ryuga keluar sosok ksatria berwarna hitam.


"Saya disini rajaku."


Ksatria bayangan yang tak lain adalah Artur itu berkata dengan berlutut satu kaki.


Tidak sampai disitu saja, bayangan Ryuga terus bergerak-gerak dan melebar. Setelah beberapa saat, dari bayangan Ryuga keluar 4 Ekor Wyvern hitam dan disusul dengan ratusan monster bayangan lainnya.


"A-apa ini ... !" Melihat itu semua, sosok berjubah hitam kembali jatuh terduduk, tampak ekspresi ketidakpercayaan dan ketakutan diwajahnya.


"Lalu, siapa yang menyuruhmu kesini?" Ryuga bertanya dengan menatap tajam sosok berjubah hitam.


"..."


Walaupun tampak sangat ketakutan, tapi terlihat kalau sosok berjubah hitam itu tidak ingin memberitahu siapa orang yang menyuruhnya datang pada Ryuga.


"Ya ... itu tidak penting sekarang. Karena kau sudah berani mencoba untuk membunuh adikku, maka tidak ada cara lain, kau harus mati." Ryuga berjalan perlahan menghampiri sosok berjubah hitam yang jatuh terduduk dan tidak bisa bergerak.


Sampai dihadapan sosok berjubah hitam, Ryuga bertanya dengan nada monoton. "Apa kau merasa takut?"


"..."


Lagi-lagi tidak ada jawaban dari sosok berjubah hitam, dia tidak lagi merasa takut, melainkan merasakan keputusasaan. "Hah ... " Ryu menghela nafas panjang.


Ryuga kemudian mencengkram kuat kepala sosok berjubah hitam.


"Digger Memory."


Ryuga menggunakan Skill baru yang dibelinya dari System, 'Digger Memory' adalah skill yang dapat menggali dan melihat ingatan seseorang.


"Guild Blood Wolf." Selesai menemukan informasi yang ingin ia cari, Ryuga kemudian melepaskan cengkraman tangannya.


Sosok berjubah hitam itu terdiam tanpa bisa berkata-kata, seperti orang yang sedang keracunan, terlihat busa keluar dari mulut setelah Ryuga melepaskan tangan dari kepalanya.


Menciptakan sebilah pedang yang terbuat dari Es, Ryuga lalu menebas leher sosok berjubah hitam tersebut. Setelah kepala sosok berjubah hitam terputus, tidak ada darah yang keluar dari lehernya, karena seketika darah itu membeku saat sebilah pedang Es memenggal kepalanya.


[Quest Tahunan Terbuka: Bunuh Semua Hunter Buronan/Kriminal Tingkat Internasional (1/20]


[Hadiah: 100.000.000 Poin System, ???, ???]


Mengabaikan notifikasi dari System, Ryuga lalu menghilangkan pedang Es yang ada ditangan, kemudian ia menolehkan kepala kesamping. "Siapa?"


Dari kegelapan ruang tunggu arena keluar seorang gadis cantik berambut perak, kemudian dia berkata dengan nada datar. "Ini aku, Elena."


.....


__ADS_1


__ADS_2