
"Ke–kenapa bisa kamu?"
"Hasegawa ... Suzu!"
Ryuga jatuh terduduk, Ryu tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat sekarang, namun bukti mayat tubuh seorang gadis membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
'Apa ini salahku? Tujuan awal orang itu pasti adalah diriku, lalu Hasegawa kebetulan bertemu dengannya dan dibunuh?'
Jika yang dipikirkan Ryuga adalah sebuah kebenaran, maka dirinya pasti akan sangat merasa bersalah. Selain Ryuga dengan Suzu telah menjadi teman, Hasegawa Suzu juga merupakan salah satu orang yang berjasa baginya.
Ryu mengepalkan erat kedua tangannya, sorot mata tajam menatap lurus ke depan.
'Orang baik seperti Hasegawa ... seharusnya tidak boleh mati seperti ini!
Ryuga beranjak berdiri, kemudian melangkahkan kaki mendekati tubuh Hasegawa Suzu. Sampai didekat tubuh gadis tak bernyawa itu, Ryuga mengangkat tangan kanan, kemudian ia bergumam pelan dengan suara berat.
"Arise."
[Gagal!]
Ryuga membuka mata lebar-lebar karena terkejut.
"Shadow Extraction."
[Gagal!]
"Arise."
[Gagal!]
"Bagaiman bisa?! System, kenapa aku tidak bisa membangkitkan bayangan gadis ini?"
[Sedang Mencari Jawaban~]
[Ding]
[Jawaban Tidak Dapat Ditemukan]
"Bahkan System versi saat ini tidak mengetahui alasannya?"
Ryuga menggigit bibir nya sendiri, saat ini ia sedang berpikir keras. Tujuan awal Ryuga membangkitkan bayangan Hasegawa Suzu sama persis seperti Kido, Ryu ingin bertanya dan melihat ingatan, siapa dalang dibalik pembunuhan ini.
Jika kalian bertanya dimana bayangan Kido sekarang? Jawabannya adalah Ryuga telah membatalkan Skill 'Shadow Extraction' pada bayangan Kido, karena Ryu tidak menginginkan manusia baik hati menjadi prajurit bayangan miliknya.
Dalam kasus mayat Hasegawa Suzu berbeda dengan Artur. Artur sendiri terlihat sangat jelas memiliki keinginan kuat untuk melindungi rajanya, sangat berbeda dengan Hasegawa Suzu yang Ryu sendiri tak mengetahui keinginannnya.
"Arise."
[Gagal!]
"Gagal lagi! Apa yang harus aku lakukan?"
"Untuk pelaku utama pembunuhan ini aku bisa memikirkan nya nanti, karena sepertinya tujuan orang itu adalah diriku sendiri.
Tapi ... bagaimana dengan mayat Hasegawa? Aku tidak mengetahui rumah bahkan keluarganya." Ryuga berpikir sejenak, kemudian terlintas ingatan tentang salah satu kerabat Hasegawa.
"Benar, Kei adalah saudara sepupu Hasegawa!"
Ryuga menggelengkan kepala. "Tapi bagaimana aku menjelaskan ini kepada Kei, dia tidak mungkin mempercayai ku begitu saja, bahkan bisa saja aku dituduh sebagai tersangka." Ryuga termenung.
"Sial! Sepertinya hanya itu cara satu-satunya, aku akan bertanya kepada Kei dimana rumah Hasegawa, lalu meletakkan mayat nya didepan rumah."
Ryuga memang berencana melakukan hal tersebut, akan tetapi hati nuraninya masih tidak bisa menerimanya, karena Ryuga sendiri belum mengetahui alasan terbunuhnya Hasegawa Suzu.
Ryuga menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Baiklah, tidak ada cara lain. Untuk sekarang aku akan menyimpan tubuh Hasegawa ke dalam Iventory System."
Ryuga kemudian mengangkat tubuh Hasegawa Suzu, karena bukan barang, jadi Ryu harus memperlakukan mayat Hasegawa Suzu sebagaimana mestinya.
__ADS_1
"Hah~hah~hah."
"Semoga saja tidak ada orang yang meli–hat."
Ryuga tiba-tiba mendengar suara seseorang dari ujung gang. Membalikkan badan, Ryuga lagi-lagi dibuat terkejut dengan keadaan, tubuh Ryu mematung ditempat karena benar-benar tidak memercayai apa yang ia lihat.
Memandang ke arah tubuh Hasegawa Suzu yang ada dikedua tangan, Ryuga lalu mengalihkan pandangan ke arah ujung gang, kemudian dengan sendirinya dua kata keluar dari mulut Ryuga.
"Hasegawa ... san?"
"Ryuga ... san?"
Seseorang yang berada di ujung gang itu juga mematung ditempat, dia tampak sama dengan Ryuga, benar-benar sangat terkejut.
***
Daerah pantai akademi Kyosai, suasana begitu sepi, hanya ada suara pasang surut air laut yang terdengar ditelinga.
Yuki Sakura, berdiri tegak memandang lautan, tangan kanan nya memegang sebuah Liontin berwarna perak. "Hehe sangat melegakan, bukan berarti aku ingin pamer, melainkan Maki sendiri yang bertanya dari mana aku mendapatkan Liontin ini."
"Tapi yah ... aku benar-benar puas ketika melihat wajah cemburu nya tadi." Sakura bergumam dengan tersenyum seorang diri.
"Yuki Sakura."
Tiba-tiba suara seseorang memanggil namanya.
Sakura memasukan Liontin perak ke dalam saku nya, lalu ia mengalihkan pandangan. "Apa yang kau mau, Jiro?" Yuki Sakura menatap tajam ke arah Takehashi Jiro yang tiba-tiba muncul, kemudian Sakura mengeluarkan katana dari dalam artefak cincin penyimpanan miliknya, ia juga memasang kuda-kuda bertarung.
Jiro Mengangkat kedua tangan sejajar dengan dada. "Te–tenanglah, Yuki."
Menghela nafas, Sakura kemudian kembali berdiri tegak. "Lalu, untuk apa kau datang kesini?" tanya Sakura.
'******* sialan, kau benar-benar menganggap ku sebagai musuh?! Tunggu sebentar lagi, kau akan berlutut memohon ampun kepada ku!'
Takehashi Jiro mengumpat dalam hati.
"Bukankah ini masih kawasan akademi? Apa aku tidak boleh berada disini?" kata Jiro dengan tersenyum ramah.
"Hey, tunggu!" Jiro memberhentikan Sakura.
Sakura memberhentikan langkah, kemudian ia membalikkan badan dan menatap tajam ke arah Jiro. "Apa pelajaran yang Ryu berikan tidak cukup untukmu? Berhenti menganggu ku, aku tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan orang sepertimu."
Mendengar ucapan Sakura, Jiro termakan emosi, dia sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"******* sialan, apa kau pikir dirimu itu hebat! Kau seharusnya menjadi pela*cur untukku!"
Takehashi Jiro mengangkat kedua tangan ke atas.
"Gravity Area!"
"Ugh– Apa yang ingin kau lakukan?!" Sakura menyelimuti tubuhnya menggunakan energi mana, terlihat kedua kakinya sedikit menembus permukaan pasir.
"Hehe, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku." Takehashi Jiro menjilati bibirnya sendiri.
"Menjijikan!" Sakura memandang Jiro dengan ekspresi hina, lalu ia melanjutkan, "Memang benar tekanan gravitasi ini sangat berpengaruh saat pertama kali ujian masuk akademi. Tapi apa kau pikir Skill ini akan berefek padaku untuk kedua kalinya? Bodoh!"
Sakura menarik katana yang masih tersarung, kemudian ia menusukkannya ke dalam tanah.
"Lightning Spread."
Dari bawah katana milik Sakura muncul kilatan petir, tak lama kemudian, kilatan petir itu menyebar dengan cepat hingga sampai ke tempat Jiro berada.
"Argh!!!"
Ketika kilatan itu sampai ke tempat Jiro, suara desingan petir dan suara kesakitan dari mulut Jiro terdengar secara bersamaan.
Lepas dari tekanan gravitasi, Sakura memandang Jiro dengan penuh ekspresi jijik terlihat pada wajahnya. "Sesali perbuatan mu sendiri. Aku berharap Direktur segera mengusir sampah sepertimu dari akademi."
__ADS_1
Berniat membalikkan badan dan pergi, Sakura mendengar teriakan dari Takehashi Jiro.
"Tunggu apa lagi?! Cepat tangkap ******* itu untukku!"
"Apa yang kau bica—"
Tiba-tiba muncul dua orang berjubah hitam dari depan dan dari belakang Sakura, orang berjubah hitam yang ada didepan menyerang Sakura menggunakan Kunai, akan tetapi Sakura berhasil menghindarinya.
"Siapa—"
Bruk!
Karena tidak menyadari orang berjubah hitam yang berada dibelakangnya, sebuah pukulan mendarat tepat pada tengkuk Sakura, pukulan tersebut hingga membuat dirinya seketika kehilangan kesadaran.
***
Bruk!
Ryuga jatuh tersandung, Ryu menjatuhkan tubuh Hasegawa Suzu yang sudah tak bernyawa.
"A–apa itu kamu, Hasegawa–san?"
Tak!!
Sebuah pisau tajam mendarat tepat di samping wajah, tampak sedikit darah keluar dari pipi kanan Ryuga. "Ara~ Memang siapa lagi? Bukankah sudah jelas, kalau aku Hasegawa Suzu, te–man–mu."
Ryuga melihat ke arah tubuh Hasegawa Suzu yang sudah tak bernyawa, kemudian mengalihkan pandangan ke arah orang yang sedang duduk diatas tubuhnya. Ryuga melakukan itu berulang kali untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"T–tapi, bukankah kamu sudah mati?" Ekspresi Ryuga terlihat sangat bingung sekaligus terkejut secara bersamaan.
"Apa Ryuga-kun berharap aku mati? Hiks–jahat sekali... " Orang yang mengaku sebagai Hasegawa Suzu itu mengusap-usap kedua matanya, seolah-olah dia sedang bersedih.
"Nee~ Apa Ryu-kun melihatnya?" Hasegawa Suzu mencabut pisau tajam yang ada di samping wajah Ryuga.
"A–apa yang kau maksud?"
Mengabaikan pertanyaan itu, Hasegawa Suzu yang sedang duduk diatas tubuh Ryuga, tiba-tiba menjilat pipi kanan Ryuga.
"Ah~ Jadi ini rasa darah Ryu-kun, pertama kalinya mencoba darah orang lain, biasanya aku hanya merasakan darah milikku sendiri. Darah Ryu-kun, benar-benar sangat lezat!"
Hasegawa Suzu menjilati bibir nya sendiri.
"Hem sudahlah ... lagi pula Ryu-kun orang baik. Tapi yang lebih penting, aku ingin lebih merasakan darah Ryu-kun lagi." Dengan ekspresi menakutkan dan penuh gairah, tanpa ragu Hasegawa Suzu mencoba menyayat pipi Ryuga.
Tidak ingin merasakan tekanan batin lebih dari ini, Ryuga menangkap kedua pergelangan tangan Hasegawa Suzu. Dengan gerakan cepat, Ryuga membalikkan badan ke atas dan membanting Hasegawa Suzu ke bawah.
Bruk!
"Kyah!!"
"Bisakah kamu menjelaskan apa yang sedang terjadi?" tanya Ryuga dengan menatap tajam Hasegawa Suzu yang berada dibawah tubuhnya.
"Me–memang aku pernah mati berkali-kali, ta–tapi~"
"Tapi ... ?" Ryuga mengerutkan kening menunggu jawaban dari Hasegawa Suzu.
"Huft~Huft~Huft." Terdengar nafas Hasegawa Suzu tak beraturan, terlihat ekspresi pada wajahnya semakin bergairah. "T–tapi ini pertama kalinya untukku, to–tolong perlakukan tubuhku dengan lembut."
'Eh? Apa yang sedang dipikirkan gadis ini? Sifat dan perilakunya sangat berbeda dengan Hasegawa Suzu yang ku kenal!'
Ryuga mengeluh dalam hati.
"Hey, aku tidak ingin melakukan hal itu!" Ryuga benar-benar kehabisan kata-kata untuk menanggapi Hasegawa Suzu.
"Bu-bukankah Ryu-kun ingin memper*kosa ku? La–lalu setelah kamu puas, Ryu-kun akan membunuhku, kan?" Masih dengan ekspresi bergairah, namun kali ini Hasegawa Suzu mengatakan itu dengan tatapan penuh harap.
Melihat dan mendengar itu semua dari Hasegawa Suzu, Ryuga tidak bisa tidak bertanya dalam hati.
__ADS_1
'Apa ... apa kau sedang bercanda denganku? Dimana Hasegawa Suzu pemalu yang aku kenal?!'
>Bersambung