
Mengambil ponsel yang ada dimeja, Ryuga melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.45 pagi. "Untungnya waktu didalam Dungeon tadi memiliki perbandingan yang sama dengan Dungeon Rank C kemarin. Dan ... ah, hari ada seleksi turnamen!"
Ingat bahwa hari akan diadakan seleksi untuk peserta yang mengikuti turnamen antar sekolah hunter, Ryuga segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Ryuga lalu memakai seragam akademi. Berjalan ke arah pintu keluar kamar asrama, Ryuga tiba-tiba menghentikan langkah. "Siapa?!" Kata Ryuga dengan memasang ekspresi waspada diwajahnya.
"Ke... ke... ke, tidak disangka bocah sepertimu bisa menyadari keberadaanku, sang bayangan malam!" Ucap seseorang dengan tertawa menggema diruangan.
"Apa tujuanmu datang kemari?" Ryuga mengambil pedang Kristal Es yang ia simpan didalam 'Dimensional Store', bersiap bertarung jika ada serangan dadakan.
"Tujuan? Aku hanya datang untuk berkunjung, tapi-"
Ryuga memegang erat pedang Kristal Es. "Tapi?"
"Tapi mulai saat ini kamu harus berhati-hati. Kalau begitu sampai jumpa lagi, Ke... ke... ke." Diakhiri dengan tertawa menggema lagi, hawa keberadaan seseorang yang tidak diketahui oleh Ryuga itu pun menghilang begitu saja.
"Apa dia benar-benar datang untuk berkunjung? Yah ... kurasa itu tidak mungkin. Dan sampai jumpa lagi? Aku berharap kita tidak akan pernah bertemu, atau ... –" Tidak menyelesaikan kalimatnya, Ryuga lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Mengembalikan pedang Kristal Es ke 'Dimensional Store', Ryuga lalu berkata dengan melihat jam yang ada pada ponsel miliknya.
"Sebaiknya aku bergegas pergi ke arena akademi, kalau tidak aku akan terlambat."
**
"Pemenangnya adalah Inue Maki dari kelas S tahun kedua, dengan ini dia akan mewakili akademi kita untuk mengikuti turnamen antar sekolah Hunter!" Ucap seorang guru akademi Kyosai sebagai wasit dalam seleksi pertandingan.
"WOAH!"
"LUAR BIASA!"
"MAKI-CHAN KAU HEBAT!"
Sebuah sorakan pujian dari murid yang menjadi penonton dan ditujukan kepada Maki, karena ia berhasil mengalahkan seorang murid dari kelas S tahun ketiga.
"Kau cukup hebat." Maki berkata dengan menatap seorang laki-laki yang tergeletak ditanah dan sudah tak sadarkan diri. Walaupun tidak fatal, tapi nampak jelas laki-laki itu mengalami luka yang cukup parah.
Tidak lama kemudian, datang beberapa petugas medis untuk melakukan pertolongan pertama kepada laki-laki yang tak sadarkan diri tersebut. Mengalihkan pandangan, Maki melihat seorang pemuda tampan yang tak asing, bahkan ia sangat mengenalinya.
Berjalan ke arah ruang tunggu arena dimana pemuda tampan itu berada, sampai dihadapannya, Maki lalu berkata dengan senyum kecil diwajah, "Akhirnya kamu datang juga, Ryu."
__ADS_1
"Ya, aku baru saja datang. Tidak seperti biasanya, penampilanmu saat ini terlihat begitu berantakan, Maki." Ryuga membalas dengan menatap lekat wajah Maki.
Mendapat tatapan mata dari Ryuga, Maki menundukkan kepala merasa malu. "Ya–yah ... kau tahu, aku tidak akan melepaskan kesempatan untuk bisa bertarung," kata Maki dengan gugup.
Memegang pucuk kepala Maki, Ryuga berkata dengan tersenyum lembut, "Kau sudah bekerja keras."
Merasakan tangan Ryuga yang begitu dingin, Maki tersentak, ia panik dan tidak tahu harus berbuat apa. "A-aku bukan anak kecil!" Gumam Maki dengan suara pelan.
"Hm ... ada apa? Aku hanya ingin menyembuhkan mu menggunakan 'Healing'," ucap Ryuga yang memang berniat menggunakan 'Healing' dengan menyentuh pucuk kepala Maki.
"Guh!" Mencengkram erat dan melepaskan tangan Ryuga yang memegang pucuk kepalanya, Maki lalu berkata dengan nada kesal, "Tidak, aku hanya berharap kamu tidak berlebihan nanti, karena arena akademi baru saja selesai diperbaiki!"
Setelah mengatakan itu, Maki pergi meninggalkan Ryuga diruang tunggu seorang diri. "Kenapa dia terlihat marah? Aku hanya ingin menyembuhkan luka yang didapatnya, apa itu salah?" kata Ryuga dengan merasa bingung.
Sementara itu, saat ini Maki sedang berjalan ke tempat para penonton berada. "Begitu dingin ... namun terasa hangat." Maki bergumam dengan tersenyum cerah sambil memegang pucuk kepalanya sendiri.
*
"Baiklah, tidak menunggu lebih lama lagi, pertandingan seleksi kedua akan dimulai. Harap murid yang bernama Ryuga Isimiya dari kelas S tahun pertama dan Ren Akashi dari kelas S tahun ketiga segera memasuki arena!" Teriak seorang guru yang menjadi wasit pertandingan tersebut.
"Ryuga-san hajar dia!"
"Ren berikan dia pelajaran karena berani melawan kakak seniornya!" Teriak kedua kubu yang mendukung Ryuga maupun Ren.
Disisi lain, Ryuga yang mendengar wasit memanggil, ia segera berjalan keluar dari ruang tunggu dengan langkah kaki tenang.
"Dia datang!" Ucap Yato dengan menunjuk ke arah Ryuga.
"Hmph! Ryuga kamu harus memberi dia pelajaran karena berani meremehkan kita semua!" Shoko berteriak keras.
"Ryuga-kun ... " ucap Sakura dengan suara pelan.
"Oh ... aku mengira kau menyesal karena ingin mengikuti turnamen dan berakhir bersembunyi didalam toilet," ucap Ren dengan nada mengejek saat melihat Ryuga berjalan keluar dari ruang tunggu masuk kedalam arena akademi.
Ryuga hanya diam tidak membalas perkataan Ren, karena memang ia tidak akan peduli dengan orang-orang yang mengejek dirinya. Ketika jarak antara dirinya dan Ren berkisar 10 meter, kemudian guru yang menjadi wasit pun menjelaskan peraturan pertandingan.
"Ada dua peraturan dalam pertandingan seleksi ini, pertama dilarang membunuh, dan yang kedua dilarang memberi luka fatal kepada lawan (sampai cacat). Lalu, jika lawan menyerah maka kalian tidak boleh menyerangnya, mengerti?"
"Ya." Ryuga dan Ren menjawab secara bersamaan.
__ADS_1
"Kalau begitu ... pertandingan seleksi terakhir akademi Kyosai bisa kalian mulai!" Setelah mengatakan itu, guru yang menjadi wasit itu pun mundur untuk memberi ruang pertarungan antara Ryuga dengan Ren.
"Aku mendengar rumor kalau kamu bisa membelah arena akademi ini, tapi ... kurasa itu hanya omong kosong belaka." Ren berkata dengan nada mengejek lalu melanjutkan, "Tidak mungkin bocah kemarin sore sepertimu bisa—"
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Ren dikejutkan dengan Es membeku dengan ujung lancip yang tiba-tiba muncul dari bawah kaki mengunci pergerakannya.
"Kau terlalu banyak bicara."
Mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, Ren bisa melihat tangan kanan Ryuga yang sedikit terangkat ke atas. "Jika aku mau kau pasti sudah mati, jadi sekarang menyerahlah." Ryuga berkata dengan nada monoton.
"Menyerah kau bilang!" Menggertakkan gigi karena marah, Ren lalu berteriak bersamaan dengan mengeluarkan Skill miliknya.
"Iron Body!"
Seluruh tubuh Ren tiba-tiba berubah warna seperti warna besi. Mencengkram erat Es yang mengunci pergerakannya, dengan sedikit gerakan Es yang mengunci dirinya itu pun hancur.
Melihat Ren dapat menghancurkan Es yang ia buat, Ryuga sedikit terkejut. Setelah itu Ryu dapat melihat kalau Ren sedang mengeluarkan sihir miliknya, tetapi Ryu hanya diam mengamati, karena ia sendiri penasaran sihir apa yang akan dikeluarkan oleh Ren nanti.
"Magic Ground: Iron Golem."
Didepan Ren terlihat lingkaran sihir yang besar, tidak lama kemudian dari dalam lingkaran sihir itu muncul sesosok Golem (Boneka) yang seluruh badannya terbuat dari besi. Golem itu memiliki ukuran tubuh yang besar, dengan tinggi sekitar 5 meter lebih.
"Oh ... sebuah Golem?" Ryuga cukup tertarik dengan sihir unik yang dimiliki Ren itu.
Dengan mengendalikan Golem besi menggunakan sihirnya, Ren mengarahkan Golem itu ke arah Ryuga. "Bunuh dia!"
Guru yang menjadi wasit itu tersadar dari lamunannya, sebelumnya ia sangat terkejut ketika melihat Ryuga tadi mengeluarkan sihir Es tanpa Casting atau Rapalan.
"Hei! Dilarang membunuh!" Mendengar teriakan Ren tadi, guru yang menjadi wasit itu pun hendak maju untuk membatu Ryuga, namun dia terlambat karena Golem besi milik Ren sudah berada didepan Ryuga dan sedang mengayunkan tinjunya.
Melihat Golem besi mengayunkan tinju ke arahnya, Ryuga hanya berdiri tenang ditempat. Dengan sedikit hentakan kaki kanan, tiba-tiba dihadapan Ryuga muncul sebuah tembok besar yang terbuat dari Es, dan menghalangi tinju dari Golem besi milik Ren.
BLAR!!
"A-apa?!" Ren terkejut saat melihat tembok Es yang tiba-tiba muncul menghalangi tinju dari Golem miliknya. Namun bukan itu masalahnya, tetapi karena tinju Golem nya tidak dapat menghancurkan tembok Es yang tiba-tiba muncul itu, bahkan tidak ada tanda keretakan pada tembok Es tersebut.
"Karena kau suka bermain dengan boneka, maka ... " Mengangkat tangan kanannya ke atas, Ryuga lalu berkonsentrasi memikirkan sesuatu.
Beberapa detik kemudian, dibawa rasa terkejutnya semua murid maupun guru yang menonton, Ryuga lalu berkata dengan nada datar.
__ADS_1
"Golem Es, bangkit."
....