Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 49. - Datang Berkunjung


__ADS_3

Ryuga berjalan keluar dari gedung Asosiasi. "143 juta Yen, dan hanya menghabiskan ribuan poin System, yah ... tidak buruk." Ryuga bergumam dengan tersenyum cerah dibalik topengnya.


"Tapi aku harus mendapatkan poin System lagi, dan itu harus membunuh monster untuk mendapatkannya. Apa boleh buat, aku tidak bisa mendapat poin System dengan menciptakan teknik, karena harus menciptakan teknik yang kuat untuk mendapatkannya."


"Shin!"


Mendengar seseorang memanggil identitasnya sebagai Shin, Ryu kemudian memberhentikan langkah, terlihat dua gadis kembar yang sedang menghampiri dirinya.


"Apa kamu baru saja dari Asosiasi?" Salah satu gadis kembar yang tak lain adalah Akane bertanya.


"Benar, apa kalian berdua berniat masuk ke gedung Asosiasi?" tanya Ryuga.


"I-iya, kami diminta Guild Master untuk melaporkan kejadian yang terjadi didalam dungeon kemarin." Kali ini Aki yang menjawab.


Ryuga menganggukkan kepala. "Lalu apa tanggapan Guild Master kalian tentang kejadian kemarin?"


Mendengar pertanyaan Ryuga, Akane dan Aki saling memandang satu sama lain, kemudian Akane menjawab. "Meskipun Guild Dragon mengalami kerugian karena harus kehilangan Hunter tingkat tinggi, tapi Guild Master tidak mempermasalahkan hal itu, lagi pula harta yang kita temukan kemarin lebih dari cukup untuk merekrut anggota baru."


"Kalau begitu syukurlah." Ryuga menghirup nafas lega saat mendengarnya, ia sempat khawatir jika harus bermusuhan dengan Guild Dragon. Meskipun tidak merasa takut, tapi menjadikan Guild besar sebagai lawan ... itu akan benar-benar merepotkan dirinya.


"Shin, terima ini." Tiba-tiba Akane menyerahkan sebuah kantong dimensi (penyimpanan) kecil kepada Ryuga.


"Apa ini?" Walaupun Ryuga cukup serakah, tetapi ia tidak akan mudah untuk menerima pemberian sesuatu yang mencurigakan dari orang lain, meskipun itu adalah pemberian dari temannya sendiri.


"Ah ini bagianmu dari hasil penaklukan dungeon kemarin." Melihat Ryuga ragu untuk menerima kantong dimensi pemberian darinya, Akane pun menjelaskan isi yang ada didalam kantong dimensi tersebut.


"Bukankah sudah pernah kubilang, kalian bisa mengambil semua harta yang ada didalam dungeon kemarin," ujar Ryuga dengan mengerutkan kening, Ryu bisa merasakan niat terselubung dari Akane dan Aki.


"Mo-mohon anda menerimanya, tuan Shin." Akane angkat bicara.


"Itu benar Shin, kamu yang paling banyak berkontribusi dalam penaklukan dungeon." Akane berkata dengan nada penuh harap.


Menghembuskan nafas panjang, Ryuga lalu meraih kantong dimensi yang ada pada tangan Akane. Mengalirkan energi mana kedalam kantong dimensi, Ryuga kemudian memeriksa isi yang ada didalamnya, beberapa saat Ryu mengerutkan kening lagi.


"Bukankah ini terlalu banyak? Aku yakin Guild Dragon tidak akan memberikan keuntungan kepada orang asing sepertiku." Dari balik topeng Ryuga menatap kedua gadis itu dengan tatapan curiga.


"Yah ... sebenarnya ada hal lain yang harus kami berdua sampaikan padamu." Akane membalas dengan mengalihkan pandangan.


"Apa itu?" tanya Ryuga dengan sedikit memiringkan kepala.

__ADS_1


"Gu-guild Master menginginkan anda untuk bergabung kedalam Guild Dragon," jawab Aki.


"Kami tidak memaksa Shin, kamu bisa menolaknya jika memang tidak mau bergabung," kata Akane menambahkan.


Ryuga menggelengkan kepala pelan. "Beritahu kepada Guild Master Dragon, kalau aku Shin, tidak akan pernah bergabung dengan Guild manapun." Ryuga berkata dengan nada datar.


"Kenapa kamu menolak, Bukankah akan lebih mudah jika masuk kedalam sebuah Guild? Dengan kekuatan dan keahlian sebesar itu, keuntungan yang kamu dapatkan juga semakin besar." Akane bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi, karena biasanya tidak ada seorang pun yang akan menolak masuk kedalam sebuah Guild, apalagi bergabung dengan Guild besar seperti Guild Dragon.


"Tidak ada alasan khusus, aku lebih suka sendiri dan tidak terikat dengan sebuah organisasi. Kalau begitu terima kasih untuk hadiah ini, aku pergi dulu." Setelah mengatakan itu, Ryuga lalu pergi meninggalkan Aki dan Akane.


"Gagal, ya?" Akane menghembuskan nafas panjang saat melihat Ryuga berjalan pergi meninggalkan dirinya.


"Mungkin tuan Shin memiliki alasan lain kak, sekarang lebih baik kita masuk kedalam gedung Asosiasi untuk melapor." Aki berkata dengan menarik tangan Akane.


"Kau benar Aki, Ayo." Akane membalas dengan tersenyum cerah.


***


Hari yang dijanjikan dengan Elena pun telah tiba. Ryuga sekarang berada di Prefektur Gunma, daerah Takayama Jepang.


"Memang pantas disebut sebagai keluarga nomer satu di Jepang." Dalam pandangan Ryuga, ia bisa melihat sebuah kediaman besar dan sangat luas, kediaman keluarga Mitsurugi itu sendiri terletak dataran tinggi.


"Benar." Ryuga menjawab dengan singkat.


"Nona Elena sudah menunggu anda didalam, silahkan." Penjaga itu kemudian membuka gerbang, memberi jalan masuk kepada Ryuga.


"Terima kasih." Dengan sedikit tersenyum membalas para penjaga, Ryuga lalu melangkahkan kaki masuk kedalam kediaman keluarga Mitsurugi.


"Aku rasa Elena sudah memberi tahu semua orang jika aku akan datang." Ryuga merasa sedikit canggung, karena dalam perjalanan ia selalu disapa oleh para pembantu yang bekerja di kediaman keluarga Mitsurugi.


"Kau sudah datang." Seorang gadis cantik berambut perak yang keluar dari sebuah bangunan besar menyapa Ryuga, bangunan itu berada ditengah-tengah kediaman, memiliki bentuk seperti rumah besar dengan ciri khas Jepang.


"Ya ... " Rambut peraknya berkibar tertiup angin, bunga sakura berterbangan menerpa wajah cantiknya. Sebagai laki-laki normal, Ryuga terpana ketika pandangannya menatap ke arah Elena.


"Jangan terus berdiri disana, ayo masuk." Tidak tahan ketika Ryuga memandang dirinya, Elena pun menyuruh Ryuga untuk masuk.


Mendengar itu Ryuga pun tersadar. "Ah, baiklah." Kemudian ia melangkahkan kaki masuk dengan mengikuti Elena dari belakang.


"Ayah ibu, aku kembali," ucap Elena dengan menggeser sebuah pintu ruangan.

__ADS_1


"Permisi." Ryuga mengikuti Elena masuk kedalam ruangan. Dalam sekilas pandangan, Ryu bisa melihat dua orang paruh baya.


Elena menutup kembali pintu ruangan, lalu ia segera duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya. Ryuga tentu tahu tentang sopan santun ketika bertamu, ia tetap berdiam ditempat menunggu dipersilahkan untuk duduk oleh kedua orang paruh baya itu, yang tak lain adalah kedua orang tua Elena.


"Duduk," ucap seorang pria paruh baya, ayah Elena.


"Baik." Ryuga kemudian melipatkan kedua kakinya disebuah bantalan, Ryu duduk dengan gaya tradisional Jepang 'Seiza'.


Melipatkan kedua tangan didada, pria paruh baya itu kemudian memperkenalkan diri. "Koji Mitsurugi, kepala keluarga Mitsurugi sekarang, dan ayah dari Elena."


Tunggu ada yang salah disini!


Ryuga bisa jelas mendengar nada tak puas dari perkataan ayah Elena tadi.


"Dan aku Aiko Mitsurugi, ibu mertuamu loh ... Ryu-chan." Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Elena pun mengenalkan dirinya, dia berkata dengan tersenyum cerah, tampak ekspresi bahagia diwajahnya.


Benar, bukan?!


Ryuga kemudian menolehkan kepala kesamping, ia bisa melihat Elena yang sedang mengalihkan pandangan menghindarinya. Ryuga pun ingin menyangkal perkataan dari ibu Elena, namun belum sempat berbicara, Koji ayah Elena tiba-tiba beranjak berdiri.


"Kau Ryuga, bukan? Ikut aku sekarang." Tanpa memperdulikan balasan dari Ryuga, Koji ayah Elena lalu pergi meninggalkan ruangan.


"Elen apa yang terjadi disini?" tanya Ryuga.


Entah karena apa, Elena hanya diam menundukkan kepala, tetapi justru ibunya lah yang menjawab. "Ara~ kamu bahkan bisa membuat putri kecilku merasa begitu malu, kurasa dia benar-benar jatuh cinta padamu Ryu-chan." Aiko berkata dengan nada menggoda.


"Maaf Aiko-san, saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Elena." Agar tidak menjadi kesalahpahaman, Ryuga segera membatah perkataan ibu Elena.


Aiko mengelus dagu. "Ho~apa benar begitu? Tapi aku tidak pernah melihat putri kecilku membawa laki-laki asing ke rumah, jadi sudah pasti dia–"


"Cukup ibu." Elena menghentikan perkataan ibunya, kemudian ia menatap ke arah Ryuga. "Sebaiknya kamu segera menyusul ayah, tidak sopan membuatnya menunggu," ucap Elena dengan suara pelan, terlihat rona merah di pipinya.


"Hah ... " Dengan menghembuskan nafas panjang, Ryuga pun beranjak berdiri.


"Kalau begitu saya permisi Aiko-san." Kemudian Ryuga segera pergi menyusul ayah Elena.


"Jangan begitu kaku Ryu-chan, kamu bisa memanggilku ibu loh."


"Geh!" Ryuga hampir tersandung ketika mendengar perkataan ibu Elena yang sangat keras.

__ADS_1


Jadi ini rencanamu, Elena. baik ... akan aku temani sampai akhir.


__ADS_2