Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 64. - Semua Orang Memiliki Alasan


__ADS_3

"Kamu berbohong. Semua yang kau ceritakan tadi ... adalah sebuah kebohongan semata!"


"A–apa yang Ryu bicarakan?!" Hasegawa Suzu tampak terkejut dan gugup.


Ryuga menurunkan tangan yang menunjuk wajah Hasegawa Suzu, kemudian Ryu berbalik membelakanginya. "Memang yang kamu ceritakan tadi ada benarnya."


"Jadi—"


"Tetapi itu hanya sebagian." Ryuga memotong ucapan Hasegawa Suzu, kemudian Ryu mengangkat tangan kanan dan menunjukkan jari telunjuk.


"Pertama, tentang paman yang berusaha dan berhasil membunuh mu, ya ... aku sangat mempercayai hal itu." Ryuga membalikkan badan lagi, lalu ia menatap tajam Hasegawa Suzu.


Ryuga kemudian mengangkat jari tengah, kini dua jari ditunjukan kepada Hasegawa Suzu. "Kedua. Hasegawa, merupakan keluarga besar yang ada di Jepang, Hasegawa pernah menyandang gelar sebagai kekuatan terbesar kedua setelah keluarga Mitsurugi.


Nah ... Hasegawa Suzu, apa kamu pernah mendengar tentang keluarga ini?"


Hasegawa Suzu membuka mata lebar-lebar sesaat, ekspresi terkejut terlihat jelas pada wajahnya, kemudian Suzu menundukkan kepala ke bawah. "Ya... aku pernah mendengarnya~" Kini wajah Suzu digantikan dengan ekspresi lesu.


"Namun sebuah peristiwa— tidak, sebuah insiden satu malam yang menyebabkan semua keluarga inti Hasegawa mati. Terkecuali satu orang, dia dinyatakan sebagai korban satu-satunya yang selamat dari insiden tersebut.


Insiden ini terjadi sekitar 5 tahun yang lalu, nah ... Hasegawa Suzu, apa kamu juga pernah mendengar tentang hal ini?"


" ... "


"Yah... ku anggap kamu pernah mendengarnya." Ryuga kemudian mengangkat jari manis, kini tiga jari ditunjukkan kepada Hasegawa Suzu. "Yang ketiga. Paman mu tidak mati dengan racun, tetapi dia dibunuh menggunakan skill seorang awakend~"


Hasegawa Suzu mendongakkan kepala menatap Ryuga, ekspresi wajahnya terlihat seperti tidak menginginkan Ryuga melanjutkan kalimatnya.


"Sampai sekarang, informasi tentang pelaku insiden satu malam keluarga Hasegawa masih belum terungkap. Kamu pernah bilang kalau paman mu mencoba membunuh Suzu diusia 12 tahun, bukankah itu ... 5 tahun yang lalu?


Nah ... Hasegawa Suzu, apakah kejadian ini hanya sebuah kebetulan semata?"


" ... "


Hasegawa Suzu masih diam membisu, Ryuga melihat dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, akan tetapi Ryu mengabaikannya.


Ryuga kemudian mengangkat jari kelingking, kini empat jari ditunjukkan kepada Hasegawa Suzu. "Yang keempat. Korban satu-satunya yang selamat dalam insiden satu malam keluarga Hasegawa adalah seorang perempuan.


Karena insiden tersebut terjadi 5 tahun yang lalu pada saat umur Suzu masih 12 tahun, berarti ... usia korban sama persis dengan usia mu sekarang.


Nah ... Hasegawa Suzu, bisakah kamu menjelaskan hal ini?"


" ... "


Ryuga kemudian mengangkat ibu jarinya, kini lima jari ditunjukan kepada Hasegawa Suzu. "Yang terakhir. Sekarang aku ingin bertanya, apakah semua yang ku katakan tadi saling berkaitan? Apa hanya kebetulan?"


DAN KAMU ... HASEGAWA SUZU." Ryuga menurunkan tangan kanan nya, kemudian melanjutkan,


"Jika semua saling berkaitan, mengapa? Mengapa kamu melakukan semua itu?! Apa yang membuat gadis cantik seperti mu sampai rela membunuh seluruh keluarganya sendiri?!!"


" ... "


Setelah Ryuga mengatakan itu, suasana menjadi hening, hingga beberapa detik kemudian Hasegawa Suzu tiba-tiba melepaskan kacamata yang dikenakannya.


Memegang kacamata menggunakan tangan kanan, Hasegawa Suzu kemudian mengepalkan nya dengan erat, terdengar bunyi kacamata yang retak dan hancur.


Membuang kacamata yang telah hancur, nampak darah mengalir dari telapak tangan Hasegawa Suzu. Memegang wajahnya sendiri dengan tangan yang penuh darah, beberapa saat kemudian, terdengar suara tawa mengerikan dari mulut Hasegawa Suzu.


"Ehehehe~ AHAHAHA!!!"


Hasegawa Suzu menurunkan tangan kanan nya, terlihat noda darah yang membekas pada wajahnya.


"Ah~ aku mengira kalau Ryu-kun hanyalah orang baik yang sekedar lewat. Tetapi, bisa menebak kejadian masa lalu yang bahkan orang-orang lain tidak mengetahuinya ... Ah~ Ryu-kun benar-benar hebat!"


'Hemph! Jangan remehkan seorang otaku, begini-begini dulu aku sering membaca beberapa berita penting, bahkan menyelidikinya di internet sampai ke akar-akarnya.'


Dalam hatinya Ryuga mendengus bangga, tidak sia-sia Ryu dulu membaca berita tentang insiden satu malam keluarga Hasegawa.


"BENAR, BENAR! AKU SENDIRILAH YANG MEMBUNUH KELUARGAKU!!"


"LALU APA? APA KAMU INGIN MELAPORKAN KU? KURASA TIDAK, KARENA KAMU TIDAK MEMILIKI BUKTI UNTUK MELAKUKAN HAL ITU!"


"HAHAHA!!!"


"HAHAHA!!!"

__ADS_1


Suara tawa mengerikan Hasegawa Suzu semakin terdengar keras, sampai-sampai ekspresi wajahnya terlihat seperti orang gila.


"Hah ... " Ryuga menghembuskan nafas panjang, ia dibuat pusing dengan sikap gadis yang ada dihadapannya sekarang.


"Hey Suzu, bisakah kamu mengecilkan suara mu? Dan kau tau ... aku paling tidak suka dengan gadis yang suka berbohong, apalagi mengenai masalah hidup dan mati." Ryuga berkata dengan berjalan mendekati Hasegawa Suzu.


Hasegawa Suzu berhenti tertawa, kemudian ia menatap tajam Ryuga yang sedang berjalan ke arahnya.


"KAU TIDAK SUKA?"


"MEMANGNYA KENAPA?!"


"APA KAMU INGIN MENCOBA MEMBUNUH TEMAN MU?!"


"HAHAHA, KAU TAU KAN! KALAU AKU TIDAK AKAN BISA MATI!!"


"Hoh ... tidak bisa mati, kah?"


Ketika jarak Ryuga dengan Suzu hanya sekitar 30 CM, Ryu menatap tajam mata Hasegawa Suzu, terlihat kedua mata milik Ryuga berubah menjadi hitam dengan pupil mata berwarna ungu. Tidak sampai disitu saja, saat ini sebuah aura berwarna hitam pekat tampak menyelimuti seluruh tubuh Ryuga.


"Coba ulangi perkataan Suzu tadi."


"A–aku ... "


Hanya dalam beberapa detik Hasegawa Suzu membalas tatapan mata Ryuga, Suzu langsung jatuh terduduk dan menundukkan kepala kebawah, keringat dingin bercampur darah membasahi wajahnya.


Ya, sekarang Hasegawa Suzu merasakan krisis, memang dia tidak takut akan kematian karena dapat hidup kembali. Akan tetapi firasatnya mengatakan, kalau Skill Respawn tidak akan berguna dihadapan pemuda yang sedang menatap tajam dirinya saat ini.


"Huh? Apa ini adalah hasil akhirnya?" Hasegawa Suzu bergumam pelan.


"Dibunuh teman sendiri, Hem~ tidak buruk juga." Setelah mengatakan itu, Hasegawa Suzu menutup kedua mata, senyuman tulus terukir pada bibirnya merah muda nya.


Beberapa detik berlalu, hingga satu menit pun telah berlalu, namun Hasegawa Suzu merasa kalau dirinya belum mati. Membuka kedua mata perlahan, Suzu kemudian mendongakkan kepala ke atas, sensasi krisis dan aura hitam pekat yang membuat dirinya takut telah menghilang.


"Kenapa ... kenapa Ryu tidak membunuh ku?" tanya Suzu yang tampak kebingungan.


Mendengar itu Ryuga tersenyum, kemudian ia meletakan telapak tangan ke pucuk kepala Hasegawa Suzu. "Bodoh, apa kamu berharap aku membunuh Suzu?"


"T–tapi aku sudah melakukan dosa besar! B–bukankah ini akan menjadi karma bagiku?"


"Sungguh bodoh sekali ... aku tidak pernah bilang ingin membunuh mu. Dan untuk masa lalu Suzu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan ku. Walau pun aku tidak suka dengan gadis yang suka berbohong, tetapi~"


"Tapi?"


"Tetapi setiap tindakan seseorang pasti dilandasi sebuah alasan, bukankah Suzu juga seperti itu?" kata Ryuga dengan tersenyum, lalu ia menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Hasegawa Suzu.


"Aku mengerti, Suzu pasti mempunyai alasan yang kuat mengapa melakukan tindakan hal itu dimasa lalu. Juga aku mengetahuinya dari awal, kalau Hasegawa Suzu ... sebenarnya adalah yang orang baik."


"Kenapa Ryu berpikiran kalau aku yang membunuh keluarganya sendiri adalah orang baik? Apa kamu tidak terlalu cepat menyimpulkan? Apa ... Ryu yang terlalu naif?"


Hasegawa Suzu berkata dengan suara pelan, tidak ada rasa bersalah ketika ia mengatakannya kepada Ryuga.


Sedangkan urat-urat otot terukir pada wajah Ryuga, dia sedikit kesal dengan perkataan Suzu barusan.


"Seharusnya aku yang bertanya tentang hal ini padamu, Suzu. Kenapa kamu tidak mencoba membunuh ku? Sejak awal Suzu mungkin bisa melakukannya, kan?"


"Maksud Ryu dengan skill Life Absorber?" tanya Hasegawa Suzu.


"Benar. Menggunakan skill itu, Suzu bisa saja membunuh ku disaat aku lengah, akan tetapi Suzu tidak melakukannya." Ryuga mensejajarkan posisi badannya dengan Suzu yang sedang terduduk, lalu ia berkata dengan tersenyum,


"Sudah jelas bukan? Orang baik tidak akan pernah mencelakai temannya sendiri."


****


Gedung Markas Guild Blood Wolf.


Diruangan kamar Takehashi Jiro, nampak seorang gadis berambut hitam terlentang diatas ranjang, terlihat rantai besi yang terikat pada tangan dan kaki gadis tersebut.


Klak!


Seorang pemuda berusia belasan tahun masuk kedalam ruangan, pemuda itu tak lain adalah Takehashi Jiro, orang yang memiliki kamar ini.


Takehashi Jiro menjilat bibirnya sendiri. "Hehe setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan kesempatan ini, ayah benar-benar mengerti diriku." kata Takehashi Jiro dengan senyuman menjijikan.


"Aku sudah tidak peduli dengan Guild Asagi, pasti ayah memiliki cara untuk mengatasinya."

__ADS_1


Takehashi Jiro berjalan mendekati gadis yang sedang terikat diatas ranjang, saat berjalan menghampiri gadis itu, Jiro tiba-tiba melepaskan pakaiannya sendiri satu-persatu.


"Oh... Sakura yang malang, beginilah nasib yang kamu terima jika menolak perintah tuan muda ini."


Setelah sampai, Takehashi Jiro naik ke atas ranjang, dia berniat melucuti pakaian yang dikenakan Yuki Sakura. "Hah~ hanya dengan melihat wajahnya, membuat ku semakin tak sabar untuk menikmati tubuh indah ini."


Membelai rambut hitam nya, kedua tangan Takehashi Jiro bergerak pelan kebawah untuk melepaskan seragam akademi yang dikenakan Sakura.


Tok Tok Tok


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar. "Cih! Mengganggu saja." Jiro menoleh ke arah pintu kamar. "Siapa?!" lanjut Jiro bertanya dengan nada kesal.


"Ini saya tuan Jiro, sekretaris Guild Master."


"Ada keperluan apa denganku?!"


"Guild Master ingin bertemu dengan anda sekarang," jawab sekretaris.


"Ayah ingin bertemu denganku? Apa dia akan memberiku hadiah?" Meskipun merasa kesal karena menggangu kegiatannya, Jiro masih tampak bersemangat, dia mengharapkan hadiah besar dari pekerjaan yang berhasil ia kerjakan.


Hendak beranjak dari atas ranjang, Jiro mendengar suara tak asing memanggil dirinya.


"Ah Guild Master, saya sudah memanggil tuan Jiro untuk datang," kata sekretaris yang sedikit merasa takut.


"Tidak apa-apa, aku akan menemui Jiro sendiri."


Klak!


Pintu kamar terbuka, Takehashi Jin kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam. "Kudengar kamu melaksanakan tugas dari ayah dengan baik, ayah ingin melihat wajah gadis itu seka–rang." Ketika pandangan Takehashi Jin melihat ke arah ranjang, dia tiba-tiba menundukkan kepala.


"Apa yang ayah lakukan disini? Saya bisa datang sendiri menemui ayah di—"


WHUSH!


PLAK!


BLAR!!


BLAR!!


BLAR!!!


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat pada wajah Jiro, seketika Jiro terlempar dan menembus beberapa dinding ruangan.


"Seharusnya ayah yang bertanya, apa yang sedang dilakukan anak bang*sat seperti mu!"


Sekretaris yang ada diluar ruangan tersentak, karena penasaran dia kemudian masuk kedalam. "Guild Master apa yang sedang terja–di?" Sekretaris itu nampak sangat terkejut melihat keadaan yang ada.


Beberapa lubang tercetak pada dinding-dinding ruangan, terlihat Takehashi Jiro berada di ujung lubang dinding ruangan tersebut. Hal itu membuat sekretaris benar-benar tidak bisa berkata-kata, pasalnya dia melihat keadaan Takehashi Jiro yang sudah tak sadarkan diri.


Seluruh wajahnya tampak merah lebam, hidung beserta giginya patah, bahkan sekretaris melihat beberapa gigi berserakan dilantai ruangan.


"Hey kamu!" panggil Takehashi Jin.


"Sa–saya disini Guild Master." Kali ini sekretaris benar-benar merasa ketakutan.


"Lepaskan rantai yang mengikat gadis ini, ganti bajunya dengan pakainya yang kuberikan tadi, setelah itu bawa dia kedalam ruang bawah tanah."


"B–baik Guild Master." Tidak ingin terkena masalah, sekretaris segera berlari ke arah Sakura untuk melaksanakan perintah atasannya.


Setelah beberapa saat, kini didalam kamar Jiro hanya asa Takehashi Jin.


"Dasar anak tidak tahu diri! Aku saja tidak akan sembarangan menyentuh gadis itu, tapi dia berani berbuat macam-macam dengannya?!"


Takehashi Jin terlihat sangat marah, jika itu adalah ayah asli Jiro, mungkin dia akan membiarkan apa yang ingin dilakukan anaknya.


Tetapi Takehashi Jin sekarang berbeda, dia adalah pemimpin sebuah organisasi misterius, dan dia tidak akan peduli dengan apa yang terjadi pada Jiro. Bahkan dia tidak memperdulikan semua keluarga Takehashi Jin yang asli.


"Lebih baik ku bunuh bocah itu sekarang, bagaimanapun dia berani mencoba untuk menodai calon dari Yang Mulia."


Berjalan mendekat ke ujung beberapa lubang dinding ruangan, Takehashi Jin mengangkat tangan kanan, tiba-tiba muncul bola kecil berwarna hitam yang sedang melayang.


"Entah kenapa tubuh ini tidak menginginkan anak itu mati." Setelah itu, Takehashi Jin menghilangkan bola kecil berwarna hitam yang sedang melayang tersebut.


"Setidaknya akan ku patahkan beberapa tulang baji*ngan ini."

__ADS_1


>Bersambung


__ADS_2