
Didalam Mall.
"Ryu-kun, siapa gadis ini?" tanya Casey.
"Dia Suzu, temanku di akademi. Suzu juga ingin pergi berbelanja, aku kebetulan bertemu dengannya," jawab Ryuga.
"Ha-hasegawa Suzu, senang bertemu dengan anda." Suzu sedikit membungkuk memperkenalkan dirinya.
"Oh~ teman Ryu-kun kah? Namaku Casey, kakak sepupu Ryuga. Ngomong-ngomong, bolehkan aku memanggil mu Suzu?"
"Tentu saja, Casey-san." Hasegawa Suzu menjawab dengan ekspresi bersemangat.
"Jangan bersikap formal seperti itu ... Suzu-chan, kamu bisa memanggil ku kak Casey."
Hasegawa Suzu mengangguk-angguk. "B–baiklah kak Casey."
Setelah itu, Hasegawa Suzu dan Casey Green larut dalam pembicaraan mereka sendiri.
'Sejak kapan kak Casey berbicara dengan logat seperti itu, bukankah dia belum lama tinggal di negara ini?' Ryuga sedikit terheran, kemudian Ryu menolehkan pandangan ke arah Hasegawa Suzu.
'Tidak habis pikir, sifat dan perilakunya benar-benar bisa berubah-ubah. Tapi yah ... aku lebih suka sikap Suzu yang pemalu, itu lebih baik dari pada menjadi orang gila seperti tadi.'
Memikirkan sifat dan perilaku Hasegawa Suzu yang bisa berubah 360 derajat, membuat Ryuga sedikit merinding. Sikap menyimpang nya ... benar-benar mirip dengan seorang psikopat gila!
'Tetapi aku bisa mengerti, kejadian masa lalu Hasegawa Suzu ... mungkin dapat membuat orang lain menjadi gila, bahkan mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri.'
Ya, Ryuga telah mengetahui cerita masa lalu Hasegawa Suzu yang sebenarnya. Dan akhirnya insiden satu malam matinya seluruh keluarga inti keluarga Hasegawa, tidak lagi menjadi misteri, tentu saja hanya bagi Ryuga dan Hasegawa Suzu.
'Aku berpikir kehilangan orang tua adalah suatu hal yang paling buruk, aku masih memiliki Aoi, dan ibu walaupun entah kapan dia akan bangun.' Ryuga memandang Hasegawa Suzu dengan penuh rasa iba.
'Sedangkan dia ... kelahiran nya bahkan tidak diharapkan keluarga, diusia 12 tahun dia harus melihat ibu yang menjadi pendukung satu-satunya bunuh diri.'
*
Kilas balik cerita masa lalu Hasegawa Suzu.
Selama 12 tahun hidup Hasegawa Suzu selalu ditindas oleh kakak sepupu dan kakak dari anak istri pertama ayahnya, karena kelahiran seorang perempuan tidak diharapkan di dalam keluarga Hasegawa, ayah Suzu sendiri tidak pernah memperdulikan dan hanya mengabaikannya.
Sampai ketika Hasegawa Suzu berumur genap 12 tahun, dengan mata kepalanya sendiri Suzu melihat ibu tercintanya bunuh diri, kejadian itu membuat emosi Hasegawa Suzu menjadi semakin tidak stabil.
Sejak saat itulah Hasegawa Suzu mengalami kebangkitan, karena dianggap jenius dan memiliki potensi, semua anggota keluarga memperlakukan Suzu dengan lebih baik.
Namun paman dan istri pertama ayahnya tidak bisa menerima hal itu, mereka berdua merencanakan pembunuhan dengan meracuni potion sehari-hari yang diminum Suzu.
Racun yang telah dicampur kedalam potion Suzu akan berefek satu hari setelah meminumnya, akan tetapi satu hari setelahnya Hasegawa Suzu masih tampak baik-baik saja, paman dan istri pertama ayahnya tidak tahu kalau Suzu memiliki skill Respawn.
Sudah muak dengan keluarganya sendiri, akhirnya Hasegawa Suzu pun berencana balas dendam. Meskipun memiliki presentase keberhasilan yang rendah, Hasegawa Suzu tetap nekat untuk melakukan rencana balas dendamnya.
Dengan dalih memberitahu skill-skill yang diperolehnya, Hasegawa Suzu mengumpulkan seluruh keluarga inti di aula keluarga. Memang benar Suzu menunjukkan skill-skill miliknya, tetapi Hasegawa Suzu terlebih dahulu menunjukkan skill Life Absorber.
Skill Life Absorber, sesuai dengan namanya kemampuan dari skill ini dapat menyerap kehidupan seseorang, Hasegawa Suzu berniat membunuh seluruh keluarganya dengan menyerap vitalitasnya.
Mengaktifkan skill Life Absorber, tiba-tiba kabut putih menyelimuti seluruh aula, semua keluarga termasuk ayahnya tampak bingung ketika melihat skill yang dimiliki Suzu.
Hingga beberapa menit kemudian, ayah dan paman nya sadar, kalau kabut yang menyelimuti aula sedikit demi sedikit menyerap seluruh vitalitas semua orang.
__ADS_1
Awalnya ayah Suzu menyuruh untuk menonaktifkan skillnya, namun Hasegawa Suzu malah menyeringai sinis, saat itu juga Suzu berkata dengan lantang.
"SAMPAH SEPERTI KALIAN ... LEBIH BAIK MATI UNTUK MENENANGKAN JIWA IBUKU!"
Mendengar kalau putrinya berniat membunuh semua orang yang ada di aula, ayahnya pun langsung melesat dan menghunuskan pedang menusuk jantung Hasegawa Suzu.
Darah segar mengalir dari mulut Hasegawa Suzu, bukannya merasa kesakitan, Suzu malah menyeringai sinis menatap tajam ayahnya.
"Bahkan tidak ragu untuk membunuh putrinya sendiri? Kau ... benar-benar sampah!"
Ayah Suzu membuat kesalahan besar dengan mendekati Hasegawa Suzu, karena selain kabut, pengguna skill Life Absorber juga bisa menyerap daya hidup seseorang dengan cara bersentuhan langsung.
Daya hidup yang diserap oleh skill Life Absorber, akan langsung dijadikan sebagai energi mana ataupun energi vitalitas pengguna.
Ayah Suzu membuka mata lebar-lebar, dia merasa vitalitas nya terserap dengan cepat, dia juga terkejut karena pedang yang menusuk jantung Suzu tidak langsung membunuhnya.
"Ehehehe~ apa ayah terkejut? Ah itu sudah jelas dengan melihat raut wajah busuk mu itu."
Lebih dari setengah vitalitas ayah Suzu terserap, karena panik dia meminta semua orang yang ada di aula untuk membunuh Hasegawa Suzu.
Jleb! Jleb! Jleb!
"Ghuahk!"
Beberapa pedang menusuk tubuh Hasegawa Suzu, darah terus mengalir dari mulut dan luka tusukan pedang.
"SAKIT! SAKIT! SAKIT!"
"SAKIT SEKALI!!!"
Hasegawa Suzu berteriak keras, walaupun beberapa pedang menusuk tubuhnya, tidak ada tanda-tanda akan kehilangan kesadaran dan mati dari reaksi Suzu.
Kabut yang awalnya berwarna putih, kini seluruh ruangan aula diisi dengan kabut berwarna hitam pekat, sekarang semua orang bisa merasakan kalau vitalitasnya sedang terserap dengan cepat.
Tentu saja semua orang merasa panik, ingin pergi berlari meninggalkan aula, tetapi suara gadis kecil yang terdengar mengerikan bergema.
"PERCUMA! MALAM INI KALIAN SEMUA AKAN MATI!"
Setelah Hasegawa Suzu mengatakan itu, terdengar jeritan-jeritan kesakitan dari semua orang, dalam beberapa detik semua orang berubah menjadi kulit dan tulang belulang.
Hasegawa Suzu melihat ke depan dan ke samping, terlihat ayah dan orang-orang yang menusuknya kini juga berubah menjadi kulit dan tulang belulang.
"Ibu ... aku berhasil."
Hasegawa Suzu kehilangan kesadaran, sebelum benar-benar mati, dia mengaktifkan skill Respawn miliknya.
*
'Sungguh cerita yang memilukan.'
Ryuga menghela nafas, pikirannya saat ini lebih terbuka. Awalnya Ryu berpikir kalau cerita kehidupan miliknya sangat buruk, tetapi masih ada banyak orang yang memiliki nasib seperti Hasegawa Suzu, bahkan mungkin lebih buruk dari itu.
'Jangan menilai buku dari sampulnya, jangan menghakimi kesalahan seseorang tanpa melihat dari sudut pandang yang lain, kah? Kurasa pepatah itu ada benarnya.'
"Ryu, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Casey.
__ADS_1
Ryuga tersadar dari lamunan nya, Ryu yang masih memandang Hasegawa Suzu, melihat kalau Suzu sendiri menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Tidak ada kak. Lalu dimana Aoi, aku tidak melihatnya disekitar sini?" kata Ryuga dengan memandang sekeliling.
"Aoi sedang menunggu permen kapas diatas." Casey menunjuk lantai dua, kemudian melanjutkan, "Dari pada itu, dimana Ryu mendapatkan uang sebanyak ini? Apa Ryu baru saja merampok bank?" Casey menunjukan kartu hitam yang diberikan oleh Ryuga.
"A–apa yang kakak maksud? Ayahku dulunya seorang Hunter S–Rank, bukanya wajar memiliki uang sebanyak itu?" Ryuga berkata dengan nada yang terdengar kesal.
"Hem~ benar juga ya." Casey mengangguk-angguk mengerti.
'Meskipun yang kukatakan itu benar, aku sendiri tidak mengetahui dimana ayah menyimpan uang miliknya.'
Ryuga terpaksa berbohong untuk menutupi identitas Shinigami, Ryu merasa kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Casey tentang identitas lain miliknya.
"Kak Casey biasa menyusul Aoi, aku akan pergi membeli handphone."
"Jeng~Jeng~ itu tidak perlu, aku turun ke bawah bukan tanpa alasan." Casey membuka tas dan menyerahkan kotak handphone kepada Ryuga. "Hehe~ ini hadiah dari kakak."
"Ah, terima kasih." Ryuga mengambil kotak handphone yang diberikan Casey.
"Apa hanya itu?" Casey tiba-tiba membuka kedua tangan.
"Apanya?" tanya Ryuga balik.
"Mana pelukan terima kasih untuk kakak cantik mu ini?" Casey terlihat sangat berharap.
"Suzu ayo pergi, bukankah kamu juga ingin membeli handphone baru?" Ryuga menatap Hasegawa Suzu.
"T–tapi." Suzu memandang Ryuga dan Casey secara bergantian.
"Ayo." Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ryuga segera menarik tangan Suzu dan pergi meninggalkan Casey seorang diri.
"Cih~ bilang saja ingin bermesraan dengan gadis itu." Casey menggembungkan pipinya, kemudian dia berjalan pergi naik ke lantai dua.
****
Ruang bawah tanah terdalam Guild Blood Wolf.
"Sungguh indah sekali~ Tidak heran mengapa Yang Mulia menginginkan gadis ini."
Takehashi Jin memandang peti mati yang dipasang berdiri menghadap ke depan, peti mati itu tertutup oleh kaca transparan.
Dalam peti mati terlihat seorang gadis yang sedang menutup mata tak sadarkan diri, gadis itu memiliki rambut hitam dan mengenakan pakaian bangsawan. Jika dilihat dengan teliti, sekilas nampak warna putih pada rambut gadis tersebut.
"Yang Mulia pernah berkata, kalau gadis ini merupakan reinkarnasi dari leluhur pertama bangsa Vampir. Yang Mulia berpesan untuk berhati-hati saat menangkapnya, tetapi itu tidak diperlukan lagi, karena aku sudah memenuhi tugas tersebut."
Sesaat suasana ruang bawah tanah menjadi hening, hingga tak lama kemudian terdengar gelak tawa mengerikan dari mulut Takehashi Jin.
"HAHAHAHAHA~HAHAHAHAHA!"
"Jika aku menyerahkan gadis ini kepada Yang Mulia, maka AKU VALKAS! DEMIGOD KE 11 BAWAHAN YANG MULIA DEWA IBLIS! Akan mendapatkan pujian dan hadiah dari beliau."
"HAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHA!!"
__ADS_1
....
>Bersambung