Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 66. - Orang Dari Dunia Lain?


__ADS_3

"Apa baik-baik saja meninggalkan kak Casey seperti itu?" tanya Hasegawa Suzu.


"Ya, dia sudah terbiasa," jawab Ryuga.


"Em~ Ryu... " Hasegawa Suzu tiba-tiba memberhentikan langkah.


"Oh maaf, kamu pasti tidak nyaman tiba-tiba ditarik seperti ini." Menyadari bahwa Suzu sedang menunduk memandang ke arah tangan, Ryuga pun melepaskan tangannya yang menarik Hasegawa Suzu.


"B–bukan begitu." Hasegawa Suzu memandang sekeliling, kemudian melanjutkan, "Apakah tidak apa-apa Ryu berada dekat denganku ditempat umum seperti ini?"


"Tidak masalah, bukankah ini hal biasa yang dilakukan seorang teman?"


Mendengar jawaban dari Ryuga, Suzu tersenyum cerah, namun beberapa saat kemudian Suzu memasang raut wajah murung.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu, Suzu?" tanya Ryuga.


"Ma–maafkan aku."


Ryuga tampak bingung. "Untuk apa? Bukankah Suzu sudah memberitahu semuanya?"


"Itu ... saat pertama kali kita bertemu, aku berbohong tentang skill mata milik ku."


"Soal itu, kah? Apa kamu ingin mengatakan kalau kemampuan mata Suzu bisa melihat potensi atau bakat seseorang?"


Hasegawa Suzu memasang ekspresi terkejut saat mendengar perkataan Ryuga. "Ya, kemampuan mata ku memang bisa melihat potensi atau bakat seseorang, tapi bagaimana Ryu bisa tahu?"


Ryuga sedikit mengangkat sudut bibirnya tersenyum. "Kau tahu Suzu, manusia itu mahkluk yang rumit, kamu tidak bisa menebak apa yang sedang disembunyikannya. Sama seperti dirimu, aku juga mempunyai skill yang berkaitan dengan mata."


"Begitu, kah?" Hasegawa Suzu mengangguk mengerti.


Setelah itu Ryuga mengantar Hasegawa Suzu ke salah satu toko yang menjual handphone. Saat mengatakan kepada Casey kalau dia ingin mengantar Suzu membeli ponsel baru, Ryuga mengatakan yang sebenarnya, karena memang ponsel Suzu diambil oleh orang misterius yang membunuh Hasegawa Suzu tadi.


Membiarkan Hasegawa Suzu memilih handphone, Ryuga membuka ponsel baru yang diberikan oleh Casey. Memasang kartu yang diambil dari ponsel lama, saat menyalakan handphone miliknya, terlihat beberapa notifikasi panggilan dari Inue Maki.


Hendak menelepon balik Maki, tiba-tiba handphone Ryuga berdering. "Apa ada sesuatu yang penting, Maki?" Ryuga menjawab panggilan telepon dari Inue Maki.


"Ah kamu kemana saja? Aku sudah menghubungi mu beberapa kali tapi tidak ada jawaban."


Terdengar sedikit nada kesal ketika Maki mengatakan itu.


"Ponsel lama ku rusak, aku baru saja membeli yang baru," jawab Ryuga tanpa memperdulikan suara Maki yang terdengar kesal.


"Hem jadi begi— ah dari pada itu, ada yang lebih penting! Aku ingin memastikan sesuatu, kemarin apa kamu memberikan Sakura sebuah liontin?"


'Huh? Bagaimana dia bisa tahu?'


Ryuga sedikit terkejut karena Maki bisa mengetahui hal ini, padahal baru kemarin Ryu memberikan liontin kepada Sakura. Andai Ryuga tahu kalau Maki dan Sakura sedang bersaing untuk mendapatkan dirinya, mungkin Ryu akan memasang ekspresi wajah suram pada wajahnya.


"Ya, itu benar," jawab Ryuga.


"Guhkh! Ternyata Sakura tidak berbohong!"


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Ryuga.


Dari balik telepon terdengar helaan nafas panjang dari Maki. "Yah... tadi pagi aku melihat Sakura memakai liontin, karena biasanya Sakura tidak pernah memakai perhiasan, apa lagi sebuah liontin.


Ketika aku bertanya dari mana Sakura mendapatkan liontin tersebut, dia menjawab kalau itu adalah pemberian dari mu. Cih, aku benar-benar iri!"


"Hanya itu alasan kenapa kamu menghubungiku, Maki?" Ryuga tampak bosan dengan pembicaraan tidak penting ini.


"Hey ini sangat penting bagiku!" Suara Maki terdengar keras, kemudian dia melanjutkan, "Tapi Ryu ... kenapa Sakura membuang liontin yang kamu berikan?"

__ADS_1


"Apa maksud mu?" tanya Ryuga yang merasa bingung.


"Kau tahu kan tadi pagi aku menghubungimu untuk memastikan hal ini, karena kamu tidak merespon, jadi aku berniat untuk bertanya langsung padamu nanti. Tetapi sekarang berbeda."


"Berbeda?"


"Ya, aku menghubungi Ryu lagi karena menemukan liontin mirip yang dipakai oleh Sakura. Apa dia membuangnya? Atau tidak sengaja menjatuhkannya? Guh— dia benar-benar tidak bisa menjaga barang pemberian orang lain!"


"..."


"..."


"Ryu ada apa, kenapa hanya diam saja?"


"Ah tidak, aku hanya sedikit melamun,"


'Ini aneh, dengan sifat Sakura dia tidak mungkin menjatuhkan atau membuang liontin itu, bahkan dia menjaga jepit rambut yang pernah ku berikan selama bertahun-tahun sampai saat ini.'


"Apa liontin yang kamu temukan berwarna perak, dan dimana Maki menemukan liontin itu?" tanya Ryuga.


"Hem... aku menemukannya disekitar pesisir pantai dekat dengan akademi. Ah benar! Ryu sedang berada di area perbelanjaan bukan? Apa Ryu tidak ingin membelikan sesuatu untuk ku?"


'Gawat! Jika Sakura tidak memakai liontin perak itu saat emosinya tidak stabil, bloodline yang ada ditubuhnya bisa bangkit kapan saja dan dia akan lepas kendali.'


"Hey Ryu, apa kamu mengabaikan ku?"


"Ryu!"


"Maaf, untuk sekarang simpan dengan baik liontin yang kamu temukan, aku akan menutup panggilannya."


"Tunggu Ryu! Kamu benar-benar mengabaikan ku–"


Mengabaikan perkataan Maki, Ryuga segera mematikan panggilannya, kemudian Ryu mengetik nomor Sakura dan menghubunginya.


Setelah dua kali panggilan, akhirnya Sakura mengangkat telepon darinya, akan tetapi suara pria paruh baya lah yang menjawab.


'Siapa? Ini tidak seperti suara paman.'


Ryuga memang pernah bertemu ayah Sakura secara langsung, dengan ingatan yang tajam, suara pria paruh baya yang menjawab tidak sama dengan suara ayah Sakura dulu.


"Apa anda ayah Sakura?" tanya Ryuga untuk memastikan jika memang itu adalah ayah Sakura.


"..."


Tidak ada jawaban dari pria paruh baya yang mengangkat panggilannya tadi, namun beberapa detik kemudian suara tawa yang terdengar mengerikan terdengar dari telepon.


"Hahaha! Jadi kamu anak yang bernama Ryuga itu? Hah... kebetulan seperti ini memang sering terjadi, benar bukan? Anak yang membunuh si bayangan malam itu. Hahaha!"


Meskipun khawatir dengan keadaan Sakura, tetapi Ryu mencoba untuk tetap tenang. Namun Ryuga tersentak ketika mendengar perkataan pria paruh baya dari telepon, kemudian Ryu mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


"Siapa kamu? Dimana Sakura?!"


"Oh~ Jadi kamu teman tuan putri Vampir itu? Tenang saja anak muda, teman mu sekarang baik-baik saja dan sedang tertidur pulas."


Ryuga membuka mata lebar-lebar, dia sangat terkejut saat mendengar pria paruh baya itu menyebutkan kata 'Vampir'.


'Siapa sebenarnya orang ini? Jika pun paman tahu, tidak mungkin dia mengatakan rahasia besar tentang putrinya dengan mudah.'


"Karena kamu tidak menjawab, jadi kau benar-benar tahu tentang 'Vampir', anak muda? Apa kau juga berasal dari dunia lain?" tanya pria paruh baya dari telepon.


'Lagi-lagi ini berhubungan dengan dunia lain?'

__ADS_1


"Apa yang kamu ketahui tentang dunia lain? Kau... berasal dari sana?!"


Sampai saat ini Ryuga masih belum mengetahui tentang keberadaan dunia selain bumi, jika dunia lain benar-benar ada, maka kemungkinan besar dunia lain itu adalah penyebab munculnya monster di bumi.


"Hem~ Tampaknya tebakan kali ini salah ya, kau memang tahu tentang Vampir dan dunia lain, tetapi kau tidak berasal dari sana.


Kukuku, HAHAHA!"


Tawa pria paruh baya dari telepon semakin keras, kemudian pria paruh baya itu melanjutkan, "Jika kamu ingin bertemu dengan tuan putri Vampir, maka itu mustahil dilakukan. Tetapi dunia ini kecil, jadi kau anak muda.


Persiapkan dirimu, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu, HAHAHA!"


"..."


"Hem~ sepertinya aku terlalu banyak bicara, Hah... sudah lama aku tidak merasa bersemangat seperti ini. Baiklah anak muda, kita akhiri pembicaraannya disini."


Setelah mengatakan itu, suara pria paruh baya menghilang, panggilan ke nomor telepon Sakura juga terputus.


'Apa aku harus menyelamatkan Sakura? Tapi itu tidak ada kaitannya dengan ku— Tidak! Sakura adalah teman ku, dulu aku juga pernah berjanji kepada paman untuk selalu melindungi Sakura.


Aku juga akan mendapat informasi tentang dunia lain jika bertemu dengan orang itu, tidak ada alasan untuk tidak menyelamatkan Sakura. Lalu jika orang itu memiliki niat buruk kepada Sakura dan dunia ini... maka akan kubunuh dia saat itu juga!'


Dalam isi kepala Ryuga, dia sedang memikirkan berbagai kejadian yang mungkin berhubungan dengan Sakura dan 'orang itu'.


"R–Ryuga-kun?!"


Terdengar suara Hasegawa Suzu memanggil dan menyadarkan lamunan Ryuga.


"A–apa kamu marah?" tanya Hasegawa Suzu.


"Hem~ tidak." Ryuga menoleh ke arah Suzu, dalam pandangannya Ryu melihat Suzu memasang ekspresi sedikit ketakutan. Melihat kebelakang Hasegawa Suzu, terlihat jelas keringat dingin dan wajah ketakutan dari orang yang menjaga toko handphone tersebut.


"Ah, maafkan saya." Ryuga sedikit membungkuk dan meminta maaf kepada orang yang menjaga toko.


'Tanpa ku sadari, sepertinya aku sedikit mengeluarkan tekanan energi dan niat membunuh.'


Semakin kuat seorang Hunter, maka tekanan energi yang dimilikinya juga semakin kuat. Sama hal nya dengan niat membunuh, semakin banyak Hunter membunuh entah itu manusia atau monster, maka niat membunuh yang dimilikinya juga semakin besar.


"Apa Suzu sudah selesai memilih?" tanya Ryuga kepada Hasegawa Suzu.


Hasegawa Suzu mengangguk, kemudian menjawab, "Sekarang hanya perlu membeli kartu untuk nomor ku nanti."


"Baiklah, kalau begitu aku akan—"


Ryu tiba-tiba berhenti dan tidak melanjutkan kalimatnya, dalam pikiran Ryuga terdengar suara yang sangat familiar.


"Rajaku, bocah Godo ini ingin bertemu dengan anda."


"Kapan?"


"Besok Rajaku."


"Katakan kepada Matsumoto Godo kalau Shinigami, menyetujui permintaannya."


"Sesuai keinginan anda, Rajaku."


"Ryu?" panggil Hasegawa Suzu.


"Ah tidak, setelah ini ayo ke lantai dua untuk bergabung dengan adikku dan kak Casey."


Hasegawa Suzu mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah ... "


>Bersambung


__ADS_2