Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 60. - Hadiah?


__ADS_3

"System apa kamu memiliki cara untuk mengatasi masalah ini?"


[Karena Gadis Itu Memiliki Kemurnian Garis Darah 100%, Ada Dua Cara Untuk Mengatasi Masalah Ini]


[Pertama: Host Bisa Meminta Bantuan Ras Vampir Itu Sendiri]


"Tidak tidak, itu tidak mungkin. Aku sendiri baru tahu kalau ada Ras Vampir di dunia ini, lalu cara kedua?"


[Kedua: Host Bisa Membeli Potion Bloodline Dengan Tingkat Kemurnian 100% Untuk Membantu Kebangkitan Garis Darah Gadis Tersebut]


[Catatan: Membutuhkan System Versi 5.0 Untuk Membeli Potion Bloodline]


"Apa ... apa aku tidak bisa membuat Potion sendiri seperti seorang Alchemist?"


[Dunia Host Tidak Ada Job Alchemist, Jika Ingin Menjadi Seorang Alchemist Host Harus Belajar Alkimia Sendiri]


[Lagi Pula Jika Host Menjadi Alchemist, Host Tidak Akan Mampu Membeli Bahan-Bahan Untuk Membuat Potion Bloodline]


"Huh? Apa kau mengejekku?"


"..."


"Hey System, aku merasa akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan mu."


"..."


"Hah ... lupakan, apa memang tidak ada yang bisa ku lakukan selain mengunakan kedua cara itu?"


[System Menyarankan Host Membeli Artefak Liontin Perak Penenang Rank S+. Fungsi: Orang Yang Memakai Liontin Ini Dapat Menekan Efek Negatif Dan Menyetabilkan Emosi Pemakai]


[Fungsi Tersembunyi: Liontin Perak Dapat Memberikan Healing Otomatis Dan Magic Defense Yang Tinggi]


[Harga: 500.000 Poin System]


"Beli Liontin Perak itu."


Ryuga mengabaikan harga poin System yang diperlukan, karena bagaimana pun, Ryu tidak ingin melihat Sakura membunuh seseorang tanpa pandang bulu dan tanpa adanya alasan yang jelas.


[Ding]


[Berhasil Membeli Liontin Perak Penenang: 500.000 Poin System]


[Ding]


[Sisa Poin System: 2.000.000]


**


Aku pernah bermimpi, meskipun tidak melihat dengan jelas bentuk wajahnya, aku yakin sekali kalau orang itu adalah ibuku.


Sejak kecil aku hanya memiliki Ayah, kakek, dan nenek. Ibuku pergi entah kemana, aku dan ayah sudah beberapa kali mencari keberadaanya.


Setelah menginjak umur lima belas tahun, aku akhirnya mengerti satu hal, kalau ayah tidak benar-benar sedang mencari ibuku.


Benar, dia hanya berpura-pura. Karena sudah terbiasa, aku memutuskan untuk diam dan berhenti mencari keberadaannya.


Namun akhir-akhir ini, aku sering memimpikan wanita itu lagi, wanita yang aku yakini kalau dia adalah ibuku. Semua terjadi ketika aku bertemu lagi dengan pemuda itu, pemuda yang menjadi teman semasa kecil ku dulu.


Dan keanehan pun mulai terjadi, sihir petir milikku tiba-tiba berubah warna menjadi merah. Memberitahukan hal ini kepada ayah, ayah sendiri tidak mengetahui penyebab sihir milikku bisa berubah, dia hanya tersenyum dan berharap aku bisa tumbuh semakin kuat lagi.


Aku tahu ... sebenarnya ayah mengetahui penyebab sihir milikku bisa berubah, tetapi tetap saja aku hanya menutup mata. Aku yakin, dia pasti memiliki alasan yang kuat menyembunyikan itu semua dariku.


Lalu pada suatu hari aku mendengar kabar kalau teman masa kecil ku sedang memulihkan dirinya, ya ... dia hanya teman, setidaknya untuk sekarang.


Aku pun berinisiatif menjenguk dan membawakan makanan untuknya, meskipun tidak berjalan sesuai rencana, tapi aku bersyukur dapat mengenal adiknya sekaligus makan bersamanya.


Tidak ada hal aneh yang terjadi, semua tampak baik-baik saja, hingga suara wanita asing terdengar jelas didalam pikiran ku.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, seluruh tubuhku terasa sangat sakit, sampai suara wanita asing itu tiba-tiba menyuruhku untuk membunuh.


Aku sudah tidak bisa menahannya, pada akhirnya mungkin ... setelah itu aku kehilangan kesadaran. Berniat untuk menjenguk seseorang, tetapi malah merepotkan orang tersebut, itu ... benar-benar sangat memalukan!


Tak! Tak!


Suara langkah kaki terdengar.

__ADS_1


'Huh? Apa ini? Aku seperti bermimpi sedang digendong seseorang.'


'Suara ini ... a–apa aku sedang digendong Ryuga?!'


'Huft... tetap tenang, ini hanyalah sebuah mimpi.'


Tiba-tiba Sakura merasakan dada miliknya menyentuh sesuatu yang keras.


'Tidak-tidak! Sensasi ini ... terlalu nyata jika hanya sebuah mimpi!'


'A–apa aku harus membuka mata?'


'Tapi bagaimana jika dia tahu kalau aku sudah sadar.'


'Baiklah cuma sedikit, sedikit saja!'


Sakura membuka sebelah mata kanan nya.


'Hem~ Ryu berbicara dengan siapa? Liontin perak, apa yang dia maksud?'


"Apa kamu sudah sadar, Sakura?"


'Eh ... eh~!!! Dia menyadarinya? Kenapa, kenapa bisa ketahuan?! Sejak kapan?!'


Sakura tersentak, wajahnya memerah karena malu, ia bahkan belum mengucapkan sepatah kata namun Ryuga bisa mengetahui kalau dirinya telah siuman.


"Uhuk, yah ... baru saja." Sakura membenamkan wajahnya pada punggung Ryuga.


"Aku lega mendengarnya." Ryuga menghirup nafas dalam dan mengeluarkan perlahan, Ryu takut jika tiba-tiba Sakura sadar dan malah langsung menggigit lehernya.


"Apa tubuhmu baik-baik saja? Aku melihat Sakura tadi kesakitan."


Sakura mendongakkan kepala sejajar dengan bahu Ryuga. "Cuma sedikit lemas, hanya perlu cukup beristirahat."


"Begitu, ya."


Setelah pembicaraan itu Ryuga dan Sakura diam dalam keheningan malam, cuaca yang cerah tanpa mendung, membuat cahaya bulan bersinar terang menyinari mereka berdua.


Suasana begitu hening, suara pasang surut air laut terdengar sangat jelas, hingga tak lama kemudian Ryuga angkat bicara.


"Hem... ?" Sakura memandang wajah Ryuga dari belakang.


"Kamu ingat, waktu kecil Sakura pernah terjatuh dari ayunan?"


"Tentu saja, pada akhirnya Ryu mengendong dan mengantarku pulang, untung saja waktu itu ayah kebetulan datang. Kalau tidak, Ryu harus mengantarku sampai ke rumah." Sakura mengatakan itu dengan tertawa kecil.


"Hahaha, kamu benar." Ryuga juga ikut tertawa kecil, meskipun Ryu baru mendapat ingatan semasa kecilnya, tetapi memori itu terukir sangat jelas dalam kepala Ryuga sekarang.


"Tapi sekarang berbeda," kata Ryuga.


"Apanya?" Sakura bingung.


"Sakura ... bertambah berat, kan?"


"Emph~." Sakura menggembungkan kedua pipinya, kemudian ia menggigit dengan cukup keras bahu kanan Ryuga.


"It-tah! Maaf-maaf."


"Hmph!" Sakura mendengus kesal.


"..."


"Ryu... " panggil Sakura.


"Apa?"


"Apa, apa yang terjadi dengan mereka berdua? Maksudku anak yang menyerang mu dulu."


"Oh anak yang mengganggumu waktu itu? Kalau tak salah ingat ... ayahku dulu mencari kedua orang tua anak itu untuk meminta maaf padaku.


Tetapi kedua orang tua anak itu justru menolak dan malah menghina ayahku, karena tempramen nya yang cukup keras, tanpa pikir panjang dia langsung menghajar kedua orang tua anak tersebut."


Mendengar keberanian ayah Ryuga, Sakura cukup terkejut. "Lalu dimana ayahmu sekarang, aku ingin meminta maaf juga karena menyebabkan Ryu terluka."


"Sayang sekali, Sakura tidak bisa melakukannya."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Sakura.


Menggigit bibirnya, Ryuga kemudian menjawab dengan tersenyum menoleh kebelakang. "Orang tua itu ... sudah meninggal."


Sakura membuka mata lebar-lebar, dia tidak menduga akan mendapat jawaban seperti itu. "Maafkan aku, Ryu." Sakura mengencangkan kedua tangan yang merangkul leher Ryuga.


"Tidak masalah, lagi pula itu karena kecerobohannya sendiri." Ryuga mengingat kembali kejadian yang pernah diceritakan Matsumoto Godo.


"Ngomong-ngomong Sakura, apa kamu percaya dengan adanya Vampir?"


"Tidak." Sakura menjawab dengan yakin, lalu melanjutkan, "Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" Sakura merasa bingung.


"Tidak apa-apa. Ah kita sudah sampai!" Ryuga sampai didepan ruangan asrama Sakura. Ryu tahu kalau itu ruangan Sakura karena melihat nomor kunci pintu yang dibawanya.


"Kenapa hanya diam saja? Apa Sakura ingin aku mengantarmu sampai kedalam?"


"Ti–tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri." Melepaskan rangkulan tangannya, Sakura kemudian turun dari gendongan Ryuga.


"T–terima kasih." Sakura mengucapkan itu dengan menundukkan kepala, ia menundukkan kepala karena takut Ryuga melihat wajahnya yang memerah.


"..."


Karena tidak ada jawaban dari pemuda yang telah mengantarkannya, Sakura pun mendongakkan kepala, terlihat Ryuga sedang mengulurkan tangan kanan nya.


"A-ada apa?" tanya Sakura dengan gugup.


"Tidak, hanya saja Sakura masih memakai jepit rambut ini?" Ryuga memegang jepit rambut berwarna merah yang terpasang pada rambut Sakura.


Sakura menghela nafas lega, sebelumnya ia mengira kalau pemuda didepannya ini ... ingin melakukan sesuatu seperti yang ada pada film.


"Bu-bukankah Ryu yang menyuruh ku untuk tetap memakainya?" jawab Sakura.


"Benar juga, kenapa aku melupakannya, hehe." Melepaskan tangan yang memegang jepit rambut Sakura, Ryuga lalu tertawa kecil sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Lalu, apa ada hal lain yang ingin Ryu katakan?" Melihat pemuda tampan itu tidak segera kembali ke asramanya, Sakura menebak kalau Ryuga ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya.


Merogoh saku seragam akademi, Ryu mengambil sesuatu dan menyerahkannya kepada Sakura. "Ini."


"Liontin? Apa ini untukku?"


Ryuga menganggukkan kepala. "Ya benar. Aku merasa kalau Sakura akan cocok memakai Liontin bersama dengan jepit rambut itu."


Mengambil Liontin yang diberikan Ryuga, Sakura kemudian mengangkatnya ke depan. "Perak, kah? Cantik sekali ... terima kasih Ryu, aku akan selalu menjaga Liontin ini."


"Baiklah, aku akan kembali. Pastikan untuk selalu memakainya." Ryuga hendak membalikkan badan dan pergi, namun Sakura menghentikannya.


"Tunggu, tidak adil memberikan barang seperti ini dan langsung pergi begitu saja! Ryu juga harus memasangkan nya untukku."


Ryuga menghela nafas. "Kamu selalu manja, tidak pernah berubah. Berikan Liontin itu."


"Hihi." Sakura tertawa kecil, lalu memberikan kembali Liontin perak kepada Ryuga.


"Silahkan." Sakura membalikkan badan dan mengangkat rambutnya.


Ryuga pun memasangkan Liontin perak pada leher Sakura. "Selesai. Apa kamu puas?"


"Ya, sangat puas. Kalau begitu Ryu boleh pergi sekarang, selamat malam." Setelah mengatakan itu, Sakura membuka pintu dan masuk kedalam ruangan, lalu dengan cepat ia menutup pintunya.


Brak!


"Ah ya, selamat malam." Tidak ambil pusing dengan perilaku aneh Sakura, Ryuga berbalik dan berjalan kembali ke asramanya.


Sedangkan didalam ruangan asrama Sakura.


Sakura jatuh terduduk didekat pintu, nafasnya terdengar tak beraturan. "A–apa dia melihatnya?! Ku–kurasa tidak, ya dia tidak melihatnya!" kata Sakura meyakinkan dirinya sendiri.


Sakura menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, jantungnya berdetak terlalu cepat, saat ini dirinya benar-benar merasa sangat malu.


Menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan, Sakura pun mendapatkan ketenangannya kembali.


Memegang Liontin yang terpasang pada lehernya, Sakura lalu berkata dengan rasa penasaran.


"Liontin perak ini ... kalau tidak salah Ryu berbicara tentang Liontin seorang diri saat aku baru tersadar. Tapi dengan siapa Ryu berbicara?"


"Sudahlah, aku yakin Ryu tidak memiliki niat buruk padaku." Memilih untuk mengabaikannya, Sakura beranjak berdiri dan berjalan pergi ke kamarnya untuk segera beristirahat.

__ADS_1


....


__ADS_2