
"Apa maksud dari semua ini, Koji-san?" Ryuga berkata dengan mengambil langkah mundur.
Saat ini Ryu sedang berada disebuah halaman yang sangat luas, bisa dibilang kalau halaman ini adalah tempat latihan keluarga Mitsurugi.
Mengikuti Koji ayah Elena tadi, mereka berdua sampai dihalaman tersebut, tapi entah mengapa, tiba-tiba Ayah Elena menyerang dirinya dengan tendangan kuat. Untung saja Ryuga memiliki refleks yang cukup baik, Ryu menahan tendangan dari Koji menggunakan kedua tangannya, terlihat sedikit asap setelah Ryuga menahan tendangan itu.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah Elena sudah memberitahumu?" Koji berbalik bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Anda salah pa–"
Tidak sempat menyelesaikan ucapannya, tendangan lain dengan kecepatan tinggi melayang mengincar pundak kanan Ryuga, namun dengan mudahnya Ryu menghindarinya menggunakan 'Lightning Step'.
"Koji-san tungg–"
Whush! BLAR!
Sebuah tendangan kuat yang mengandung energi mana dengan jumlah besar jatuh dari atas, meski tidak mengenai Ryuga secara langsung karena ia menghindar, tetapi tanah tempat Ryuga berpijak tadi tampak berlubang dan sekelilingnya yang retak.
"Oho~ lumayan ... " Koji menyeringai cukup puas, ia merasa kagum saat melihat Ryuga mampu menghindari serangannya itu.
"Koji-san tunggu." Ryuga mengangkat tangan ke arah Koji.
"Kenapa kau begitu banyak bicara?" Terdengar nada tak puas dari ucapan Koji.
"Anda salah paham Koji-san, aku dan Elena tida–"
"Salah paham? Kalau begitu selesaikan kesalahpahaman ini menggunakan cara seorang lelaki!" Energi mana dengan jumlah besar meledak-ledak dari tubuh Koji, dengan tersenyum sinis, Koji melesat cepat menuju ke arah Ryuga.
Huh? Sangat keras kepala! Kalau begitu baiklah ... aku akan meladenimu.
Energi mana yang besar juga meledak dari tubuh Ryuga, membalas Koji dengan seringaian sinis, Ryuga kemudian melesat cepat ke depan.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Keduanya tampak tidak mau mengalah, mereka saling beradu pukulan dan tendangan. Meskipun dapat mengimbangi Koji, Ryuga tahu itu karena Stat miliknya yang begitu tinggi, jika tidak maka Ryu bisa dipastikan akan kewalahan saat mengahadapi Koji.
"Nak, apa mereka berdua berniat menghancurkan kediaman ini?" Aiko menutup mulutnya menggunakan satu tangan, ia sempat terkejut karena pemuda tampan yang dibawa anaknya itu dapat mengimbangi suaminya.
"Entahlah bu, walau aku tahu Ryuga itu sangat kuat, tapi aku juga tidak menyangka dia bisa mengimbangi ayah." Elena menatap serius ke arah halaman, terlihat ekspresi terkejut sekaligus senang diwajahnya.
"Ayahmu adalah seorang Hunter Rank S+ loh, walaupun mereka berdua hanya bertarung dengan beradu pukulan, tapi ... bukankah kekuatan yang dimiliki Ryu-chan terlalu kuat untuk anak seusianya?" Aiko menatap ke arah Elena, ia penasaran dari mana putri kecilnya itu dapat menemukan monster seperti Ryuga sekarang.
"Itu bagus, bukan? Dengan ini ayah pasti menyetujuinya." Berkata dengan ekspresi datar, Elena lalu berbalik menatap wajah ibunya.
Aiko tersenyum cerah ketika mendengar itu, kemudian ia mendekati Elena dan memeluknya dengan erat. "Kamu sungguh putri kecil kesayanganku, apa sebentar lagi ibu akan memiliki seorang cucu?" Aiko mengatakan itu dengan menggosok-gosokan pipinya ke wajah Elena.
__ADS_1
"Awkan Elewna usawhakan," ucap Elena yang masih tanpa ekspresi terlihat diwajahnya.
Kembali lagi ke pertarungan Ryuga dengan Koji. Mereka berdua masih beradu pukulan, tanpa disadari oleh Ryuga maupun Koji, dampak dari pertarungan mereka berdua sampai-sampai menggetarkan seluruh kediaman.
Akibat dari seluruh kediaman yang bergetar terus-menerus, para penjaga dan orang-orang yang ada kediaman keluar dari ruangan, mereka semua terlihat penasaran siapa orang yang dapat mengguncang kediaman sebesar ini.
"Siapa pemuda itu? Dia sangat kuat karena dapat mengimbangi kepala keluarga." tanya salah satu penjaga yang memang belum pernah melihat Ryuga.
"Kurasa dia adalah teman dari nona Elena." Penjaga yang membukakan gerbang untuk Ryuga tadi menjawab, dia sendiri sangat terkejut melihat bagaimana pemuda tampan itu mampu mengimbangi kepala keluarga mereka.
BLAR!
Kedua tangan Ryuga dan Koji bertemu, mereka saling mendorong beradu kekuatan. "Lumayan anak muda!" Koji menyeringai puas saat merasakan kekuatan Ryuga, meskipun ia sendiri sempat terkejut, pemuda tampan yang dibawa putrinya itu bisa mengimbangi kekuatan fisiknya.
"Kau juga, pak tua!" Ryuga juga membalas dengan menyeringai puas. Ini adalah pertama kalinya Ryu bertarung melawan manusia menggunakan semua kekuatan yang dimiliki, walaupun ia sendiri tidak menggunakan sihir serangan.
Merasa tidak bisa menjatuhkan lawan hanya dengan menggunakan kekuatan fisik, Koji dan Ryuga melompat mundur. Koji mengangkat kedua tangan, ia lalu memegang lengan kanannya menggunakan tangan kiri.
Tiba-tiba diatas tubuh Koji muncul siluet naga timur berwarna emas. "Teknik apa itu?" gumam Ryuga dengan mengerutkan alisnya. Ryuga tahu kalau menggunakan sebuah teknik harus bisa mengompres energi mana ketitik tertentu, tetapi bisa memunculkan siluet naga dengan sekejap tanpa sebuah perantara senjata ataupun sihir rapalan? Ayah Elena ini ... benar-benar hebat!
Tidak mau mengalah dengan orang tua yang begitu keras kepala itu, Ryuga kemudian mengeluarkan Black Dragon Katana dari cincin penyimpanan, bersiap untuk menahan serangan Koji yang akan dilepaskan ke arahnya.
"Sebaiknya kamu menghindar anak muda."
"Rissing Dragon."
"Darkness Sword–Slash."
Ketika jarak siluet naga timur berwarna emas itu tersisa 2 meter darinya, Ryuga kemudian menebaskan Black Dragon Katana memotong teknik yang dikeluarkan oleh Koji itu dengan mudahnya.
"Haha, hebat! Tetapi ini masih belum berakhir." Koji sekali lagi mengangkat kedua tangannya keatas, muncul siluet naga timur dengan ukuran yang lebih besar dari tadi, bahkan ukurannya sampai menyamai bangunan utama kediaman Mitsurugi.
"Oi oi, apa kau serius, pak tua?" Ryuga merasakan tekanan yang hebat pada tubuhnya, ia yakin jika serangan itu dilepaskan Koji, mungkin kediaman Mitsurugi hanya akan tersisa puing-puing reruntuhan.
"Apa ibu tidak akan menghentikan ayah?" Elena mengalihkan pandangan ke arah ibunya.
Aiko menempelkan jari telunjuk disudut kanan bibirnya. "Hm benar juga, bisa gawat kalau menantu kecilku terluka." Setelah mengatakan itu, Aiko mengangkat kanannya ke depan.
"Frozen Ice Prison."
"Kali ini kamu benar-benar harus menghindar, anak mu—"
Sebelum Koji menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seluruh tubuhnya dibekukan oleh sihir Es yang membuat Koji dengan paksa membatalkan tekniknya. Ryuga sedikit tersentak saat melihat itu, ia kemudian menolehkan kepala ke arah sumber sihir Es dilepaskan, terlihat Aiko dan Elena yang sedang memandang dirinya dengan tatapan takjub.
"Nak Ryu, kemarilah." Aiko memanggil Ryuga.
Mengembalikan Black Dragon Katana kedalam cincin penyimpanan, Ryuga kemudian berjalan ke tempat Elena dan ibunya berada. "Mari masuk, kita harus membicarakan hal penting didalam." Aiko mengajak Ryuga untuk masuk kedalam ruangan tadi.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan Koji-san seperti itu." Ryuga mengalihkan pandangan ke arah Koji, ia bisa melihat kalau tubuh ayah Elena itu masih menjadi sebuah bongkahan Es.
__ADS_1
"Hehe jangan khawatir, setidaknya dalam satu jam dia dapat keluar dengan sendirinya." Aiko berkata dengan tersenyum dan menutup mulutnya menggunakan tangan kanan.
"Kalau begitu ayo masuk." Aiko lalu berjalan terlebih dahulu masuk kedalam.
Tidak langsung mengikuti Aiko, Ryuga terlebih dahulu mengalihkan pandangan ke arah Elena. Seperti mengerti kenapa Ryuga menatap ke arahnya, Elena kemudian berkata dengan sedikit terkandung rasa bangga didalamnya.
"Kau tau, ibuku itu sangat-sangat kuat."
"Ya, aku tahu." Ryuga pun tidak menyangkalnya, karena ia sendiri merasakan, kalau penguasaan sihir Es ibu Elena tadi ... benar-benar berada pada level yang berbeda dengan dirinya.
"Ayo masuk, jangan membuat ibu menunggu." Elena lalu melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan.
Ibu? Kau benar-benar memperlakukanku seperti seseorang yang sudah menikah?
Ryuga mengeluh dalam hati. "Baiklah, aku akan menjelaskan semua pada ibunya nanti." Setelah mengatakan itu, Ryuga kemudian menyusul Elena masuk ke ruangan.
Didalam sebuah ruangan, terlihat tiga orang yang sedang duduk saling berhadapan. "Aku tahu itu," ucap Aiko dengan tersenyum menatap lekat ke arah Ryuga.
"Syukurlah kalau Aiko-san mengetahuinya." Ryuga menghela nafas lega, karena selama pertarungannya dengan Koji tadi, Elena sudah menjelaskan semua kepada ibunya.
"Tapi ... apa nak Ryu sekarang memiliki seseorang yang disukai?" Aiko bertanya dengan tersenyum menutup mata dan sedikit memiringkan kepalanya.
"Mungkin ... tidak?" Ryuga sedikit merasa ragu untuk menjawab, karena di akademi maupun disekolah lamanya dulu, ia tidak pernah sekalipun menyukai seorang wanita selain ibu dan adiknya.
"Kalau begitu tidak masalah, bukan? Jadi Elena masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati nak Ryu," ucap Aiko dengan menatap ke arah Elena, ia bisa melihat kalau putri kecilnya itu sedang menundukkan kepala karena malu.
"Itu... " Ryuga tidak bisa berkata-kata lagi, sebenernya ia berniat langsung menolaknya. Akan tetapi Ryu tahu, kalau Elena yang sangat keras kepala itu, tidak akan menyerah jika belum mencapai tujuan yang diinginkannya.
"Apa kamu membenciku?" Tiba-tiba Elena berkata dengan suara lirih.
Mendengar itu, Ryuga lalu menatap ke arah Elena, ia bisa melihat kalau gadis cantik berambut perak itu masih menundukkan kepalanya. "Tidak, aku tidak membencimu." Ryu membalas dengan menggelengkan kepala.
Elena mendongakkan kepala, terlihat senyuman dan wajah ceria yang ditunjukkannya. "Lalu apa kita akan menikah?" Elena bertanya dengan mata berbinar-binar.
"Tidak." Ryuga langsung menjawab dengan tegas.
"Tapi... " Lanjut Ryuga yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi?" Tanpa sadar Elena mengikuti ucapan Ryuga.
"Tapi kurasa kita bisa menjadi teman terlebih dahulu." Ryuga berkata dengan tersenyum lembut menatap ke arah Elena.
Melihat Ryuga tersenyum ke arahnya, Elena lalu menundukkan kepala lagi menghindari tatapannya. Meski sedikit merasa kecewa, tetapi sepertinya Elena masih menerima perkataan Ryuga barusan.
PLAK
Aiko menepukkan kedua tangan. "Karena hal itu sudah diputuskan, lebih baik sekarang kita makan siang bersama terlebih dahulu." Aiko berkata dengan tersenyum cerah, bisa terlihat dari wajahnya, kalau sekarang dia benar-benar sedang merasa bahagia.
.....
__ADS_1