
KLANG!
KLANG!
KLANG!
Benturan antara pedang dengan pedang, ataupun pedang dengan perisai, terdengar sangat nyaring diruang latihan tempat Ryuga melakukan ujian Hunter tahap kedua.
Lima belas menit telah berlalu sejak pertarungan Ryuga melawan wanita yang bernama Casey itu. Ryuga dan Casey menunjukan pertarungan yang sangat sengit.
Nafas keduanya mulai memburu, Ryuga dan Casey mundur untuk menjaga jarak. Dibalik topeng Ryuga tersenyum, ia sangat menikmati pertarungannya saat ini.
Casey yang menjadi lawan Ryuga juga sama, dibalik penutup kepalanya dia tersenyum, terlihat sangat menikmati pertarungannya dengan Ryuga.
"Hebat juga kau," ucap Casey memuji karena merasakan kekuatan Ryuga yang dapat mengimbangi dirinya.
"Terima kasih," balas Ryuga.
Alasan Ryuga dapat mengimbangi Casey karena statusnya yang telah meningkat pesat, meskipun levelnya masih 90, yang beberapa kali lebih rendah dari level Casey sekarang.
Ryuga dan ksatria wanita bernama Casey itu saling menatap, konsentrasi energi mana yang tinggi terlihat dikedua pedang mereka masing-masing.
Tiba-tiba pedang Ryuga dan wanita itu terbakar oleh api, kemudian api itu berubah bentuk, tampak siluet naga api yang melilit kedua pedang mereka.
Karena seimbang bertarung menggunakan pedang jarak dekat, mereka berdua pun mencoba menggunakan sihir untuk menyerang.
Mengangkat pedang keatas, Ryuga dan wanita itu berniat melepaskan serangan. Tetapi sebelum keduanya melepaskan serangan sihir, tiba-tiba staf wanita yang dari tadi diam mengawasi berteriak sangat keras.
"STOP, BERHENTI!"
"Apa kalian berdua berniat menghancurkan ruangan ini!" Teriak staf wanita dengan nada kesal dan marah. Alasan staf wanita itu menghentikan Ryuga dan Casey karena jelas, serangan sihir yang mereka berdua gunakan dapat menghancurkan seisi ruang latihan Asosiasi.
Ryuga dan Casey tersentak, merasa terbawa suasana pertarungan, kemudiaan mereka pun menghilangkan siluet naga api yang akan dilepaskan tadi.
"Maaf Jeanny," ucap Casey kepada staf Asosiasi yang bernama Jeanny.
"Aku sudah membiarkanmu yang seenak jidat ingin menjadi penguji Hunter. Ini adalah hari pertamaku bekerja, dan kamu Casey, ingin membuat masalah begitu saja?!" ucap Jeanny yang masih marah menunjuk kearah Casey.
Ryuga yang mendengar itu semua hanya diam. Pertama dilayani staf yang masih pemula, dan kedua melawan seorang penguji yang bukan merupakan anggota Asosiasi.
Apakah mereka mempermainkan ku?
Ryuga menggerutu dalam hati, benar-benar merasa dipermainkan oleh mereka berdua.
"M-maaf tuan Shin atas ketidak nyamanan ini," ucap Jeanny meminta maaf kepada Ryuga.
"Tidak masalah, aku juga terbawa suasana tadi," balas Ryuga.
"Jadi, apakah aku lulus?" lanjut Ryuga bertanya.
"Anda lulus tuan Shin, dan dengan mempertimbangkan peforma anda dalam ujian, tuan Shin dapat langsung dipromosikan menjadi Hunter Rank B.
Apakah anda tidak keberatan, tuan Shin?" balas Jeanny menjawab pertanyaan Ryuga.
__ADS_1
"Tidak masalah, tapi kenapa langsung Rank B?" Ryuga tentu merasa senang karena langsung dipromosikan menjadi Hunter Rank B, tetapi ia sedikit ragu.
Apa tidak masalah seorang staf karyawan baru memutuskan masalah ini dengan begitu mudahnya?, pikir Ryuga.
"Itu karena anda dapat mengimbangi Casey saat bertarung tadi. Meski Casey adalah orang yang sangat ceroboh, tapi dia merupakan seorang Hunter terkuat jika dibandingkan dengan Hunter Rank A+ yang lain." Jeanny menjelaskan.
"Hei siapa yang kau sebut ceroboh!." Mendengar dirinya disebut ceroboh, Casey merasa kesal, ia lalu membuka penutup kepala dan berjalan kearah Jeanny untuk melakukan protes.
"Bukankah itu fakta," balas Jeanny apa adanya.
"Itu tidak benar!" Casey pun tidak mau mengakuinya.
Membiarkan mereka berdua berdebat, Ryuga malah fokus dengan sesuatu yang lain. Melihat bagaimana Casey membuka penutup kepala, jantung Ryuga sejenak terasa berhenti berdetak.
Terlihat wajah yang sangat cantik saat Casey membuka penutup kepala, tetapi bukan itu masalahnya.
Rambut berwarna pirang bergelombang, dan wajah yang sangat tidak asing bagi Ryuga.
"Dia... terlihat sangat mirip dengan ibu," kata Ryuga dalam hati.
Ya, Sekarang Ryuga teringat dengan sosok ibunya saat melihat bagaimana rupa wajah dan rambut Casey sekarang. Meskipun Casey lebih muda, tetapi Ryuga sangat-sangat yakin bahwa keduanya memang terlihat sama.
"Permisi," ucap Ryuga menyela perdebatan mereka.
"Apa!" Menolehkan kepala, Jeanny dan Casey menjawab serentak.
"Apa tidak masalah langsung mempromosikan diriku menjadi Hunter Rank B?" tanya Ryuga lagi untuk memastikan.
Ah... paman Godo ya, pantas.
Ryuga sekarang tahu, bahwa staf yang bernama Jeanny ini merupakan keponakan dari Matsumoto Godo, ketua Asosiasi Hunter Jepang.
"Kalau begitu tuan Shin, saya akan membuatkan anda kartu identitas Hunter terlebih dahulu, anda bisa menunggu sebentar." Tidak lupa akan tugasnya sebagai staf, Jeanny bergegas pergi untuk mencetak kartu identitas Hunter milik Ryuga.
Kartu identitas Hunter wajib dimiliki seorang Hunter sendiri, karena itu adalah bukti bahwa dia telah diresmikan menjadi Hunter oleh Asosiasi.
Diruang latihan sekarang hanya ada Ryuga dan Casey. Casey hanya diam tidak berbicara, bukan karena suasana yang canggung, tetapi mungkin karena dia masih merasa kesal disebut ceroboh oleh Jeanny tadi.
"Nona Casey," panggil Ryuga.
"Ada apa, Shin?" jawab Casey dengan menoleh, dia tampak begitu santai dengan orang asing seperti Ryuga.
"Bolehkan aku menanyakan sesuatu?"
"Apa?"
"Apakah nona Casey tidak berasal dari negara ini?" tanya Ryuga.
"Tidak, aku berasal dari Amerika, kenapa memang?" jawab Casey dengan jujur.
"Tidak apa-apa, saya hanya penasaran, karena jarang sekali orang di negara ini memiliki warna rambut seperti anda." Memang benar kata Ryuga, bahwa di negara Jepang ini mayoritas warganya berambut hitam.
__ADS_1
"Itu memang benar," ucap Casey mengangguk paham.
"Lalu apa tujuan anda datang ke negara ini?" tanya Ryuga lagi. Dalam hatinya Ryuga dapat menduga, tujuan Casey datang ke Jepang berhubungan dengan dirinya.
"Hem... tujuan ya, aku sedang mencari bibiku. saat aku masih kecil dulu, dia pindah ke negara ini bersama dengan suaminya.
Dan kau tahu, katanya bibiku mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan.
Memikirkan itu sangat membuatku senang, sebentar lagi aku akan bertemu dengan kedua adik sepupuku." Casey menjelaskan itu semua dengan semangat, moodnya yang buruk tadi juga telah menghilang.
"Jadi begitu. Kalau boleh tahu, apa nona Casey berasal dari keluarga Green?" Dugaan Ryuga semakin kuat setelah mendengar penjelasan dari Casey.
"Itu benar, bagaimana kau tahu?" Casey pun tidak menyembunyikan apapun.
"Saya hanya menebak." Dugaan Ryuga ternyata benar adanya. Bahwa wanita yang sedang berbicara dengannya sekarang berasal dari keluarga Green, keluarga ibunya dulu.
"Oh...." Casey hanya mengangguk-angguk menerima alasan Ryuga.
"Tuan Shin maaf telah membuat anda menunggu, ini kartu identitas anda," ucap Jeanny yang tiba-tiba datang dan menyerahkan sebuah kartu kepada Ryuga.
Ryuga lalu mengambil kartu identitas miliknya, "Terima kasih."
"Apa ada hal lain yang bisa saya bantu, tuan Shin," ucap Jeanny menawarkan.
Ryuga berpikir sejenak kemudian mengangguk, "Aku ingin menjual beberapa inti batu kristal monster, apakah bisa?"
"Tentu saja," jawab Jeanny dengan mengangguk.
Setelah itu, Ryuga dan Jeanny melakukan transaksi batu kristal, sedangkan untuk Casey hanya diam dan mengikuti mereka berdua.
Ryuga memilih untuk menjual inti batu kristal monster karena itu tidak berguna baginya, memang jika ditukarkan dengan Poin System akan lebih menguntungkan, tapi saat ini ia lebih memilih menjualnya untuk mendapatkan uang.
Tidak mungkin Ryuga terus bergantung kepada paman Godo dan Fudo.
**
Selesai menjual semua batu kristal, Ryuga segera pergi dari gedung Asosiasi. Sekarang ia berada di gang sempit, tempat awal Ryuga berpindah menggunakan prajurit bayangannya.
"Aku mendapat 850.000 Yen dari hasil menjual batu kristal, lumayan."
850.000 Yen, atau jika di rupiahkan setara dengan 106.395.714 Rp, cukup lumayan untuk seorang anak seusia Ryuga sekarang.
"Baiklah, sudah waktunya untuk kembali,"
"Shadow Exchange."
(Pertukaran bayangan)
Seluruh tubuh Ryuga diselimuti bayangan hitam, tidak lama kemudian bayangan itu hilang bersama dengan Ryuga yang juga ikut menghilang. Di gang sempit tempat Ryuga menghilang tadi, sekarang digantikan oleh seekor monster bayangan Orc yang tiba-tiba muncul.
Asrama diruangan kamar Ryuga.
Ryuga yang telah berpindah tempat sekarang berada didalam kamarnya. Selesai berganti pakaian, ia membenamkan diri di ranjang.
__ADS_1
"Casey Green, seorang kakak sepupu, kah?" gumam Ryuga sendiri dengan tersenyum, lalu tanpa disadari olehnya, ia sudah terlelap dalam tidurnya.