Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 58. - Menjenguk Ryuga


__ADS_3

(Note: karena kemarin author sakit kepala dan tidak bisa melanjutkan menulis, chapter sebelum hanya sekitar 500 kata. Sekarang sudah ditambah, harap untuk membaca ulang chapter sebelumnya agar lebih nyambung, sekian terima gaji;)


____________________________________


"Dulu kami sangat dekat, kami selalu bermain-main bersama."


"Thunder of Destruction."


BLAR!


"Setelah berpisah selama bertahun-tahun, akhirnya aku bertemu lagi dengannya, tapi... "


"Lightning Slash~ Tornado Blast."


Whus! Whus! Whus!


BLAR!


"Dia semakin kuat, kekuatan milikku sudah tidak diperlukan."


"Red Thunder~ Lightning Destruction!"


BLAR!!!


"Hah~hah~hah."


"Me-memang benar aku sangat senang akan hal itu. Tapi dalam satu minggu ini dia tidak pernah menemuiku, bahkan dia tidak menghadiri kelas."


Sakura melepaskan pedang dan tergeletak ditanah. "Sepertinya dengan energi manaku sekarang, aku hanya bisa mengeluarkan sihir Red Lightning sekali."


"Yah tak apa, petir merah ini beberapa kali lebih kuat dari petir biasa."


Yuki Sakura teman masa kecil Ryuga. Saat ini Sakura sedang melampiaskan emosinya dengan latihan, dalam beberapa serangannya Sakura selalu mengeluh tentang 'dia' dan 'dia', tentu saja 'dia' yang dimaksud adalah Ryuga.


Sakura tergeletak ditanah karena hampir kehabisan energi mana. "Entah itu beruntung atau apa, tapi petir merah ini benar-benar luar biasa." Sihir Red Lightning, adalah sihir yang Sakura dapat baru-baru ini.


Red Lightning memiliki daya hancur lebih kuat dari pada petir biasa, Sakura sendiri tidak mengetahui penyebab sihir petir miliknya bisa berubah warna. Tapi yang jelas, Sakura mendapatkan Red Lightning pada saat emosinya yang sedang tidak stabil.


"Kudengar dari Mayumi-sensei kalau Ryu sedang memulihkan diri, haruskan aku melihatnya?" Sakura bergumam pelan.


"Benar, malam ini aku akan pergi menjenguknya. Apa ayah memiliki persediaan bahan makanan? Aku harus membuat beberapa sandwich dan Bento (Bekal) untuk malam nanti."


"Hah~ Cuaca hari ini sangat cerah." Sakura memandang langit-langit biru, rambut hitam panjang yang bercampur dengan keringat terlihat berkilauan, Sakura memejamkan mata untuk menikmati hembusan angin disekitarnya.


Sakura saat ini berada dirumahnya, tepatnya ada ditempat latihan keluarga. Beberapa menit telah berlalu, tiba-tiba terdengar suara seseorang memangil Sakura.


"Sakura, waktunya makan siang."


Karena mana dalam tubuhnya lebih dari setengah sudah terkumpul, Sakura memiliki energi untuk bangkit. "Aku datang, ayah." Mengambil pedangnya, Sakura kemudian berjalan menghampiri pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya.


"Hari ini Bibi memasakan makanan favoritmu, ayo cepat masuk," ucap ayah Sakura.

__ADS_1


"Baik ayah." Sakura mengangguk kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.


"Ayah, apa kita memiliki bahan makanan lebih?" Sakura bertanya dengan memperlihatkan kepalanya pada pintu rumah.


"Hem... coba Sakura tanyakan kepada Bibi," jawab ayah Sakura.


"Oke~" Sakura pergi meninggalkan ayahnya.


Yuki Hisashi ayah Sakura. Melihat putri kecilnya yang mulai tumbuh dewasa, Hisashi menghela nafas berat. "Sungguh putri kecilku yang malang, dari lahir sampai sekarang, dia tidak pernah melihat dan merasakan kasih sayang ibunya."


"Untung saja kakek dan neneknya menerima anaknya, kalau tidak entah apa yang terjadi dengan Sakura." Sekali lagi Hisashi menghela nafas berat.


Dengan tersenyum memandang langit, Yuki Hisashi bergumam, "Sayang kau lihat, anak kita telah tumbuh dewasa. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan selalu menjaga Sakura."


***


Malam harinya, asrama laki-laki akademi Kyosai.


"Hem, siapa gadis kecil itu?" Sakura melihat gadis kecil dengan rambut pirang yang sedang berdiri didekat pagar.


"Bukankah ... dia adik Ryuga?" Sakura kemudian berjalan menghampiri gadis kecil itu.


"Apa kamu sedang menunggu kakakmu?" tanya Sakura yang sudah berada didekat gadis kecil tersebut.


"Kakak ... siapa?" gadis kecil itu menoleh ke arah Sakura.


"Yuki Sakura, adik bisa memanggilku Sakura." Sakura memperkenalkan diri dengan tersenyum ramah.


"Hehe terima kasih. Kamu Aoi, bukan? Apa kamu sedang menunggu Ryuga kembali?"


Aoi mengangguk-angguk kecil. "Benar kak Sakura, Aoi sedang menunggu kakak."


"Hem ... kalau begitu kita sama."


"Sama?" Aoi memiringkan kepala tampak tidak mengerti.


"Aku juga sedang menunggu Ryuga kembali."


"Apa kak Sakura ada keperluan dengan kakakku?" tanya Aoi.


"Kudengar dia sedang memulihkan diri, jadi aku ingin menjenguknya." Sakura memperlihatkan Bento yang dibawanya.


"Memulihkan diri? Apa kak Ryu sedang sakit?" Terlihat ekspresi khawatir pada wajah Aoi.


"Ryu tidak sakit kok Aoi. Bukankah Aoi tahu kalau kakakmu menang dalam seleksi pertandingan minggu lalu? Nah sekarang kakakmu sedang memulihkan diri karena berlatih terlalu keras untuk turnamen." Sakura menjelaskan dengan tersenyum.


"Emh~ Aoi mengerti. Tapi kenapa kakak tidak memberitahukan hal ini kepada Aoi?"


Sakura menyamakan tinggi badannya dengan Aoi. "Mungkin kakakmu tidak ingin membuat Aoi khawatir? Bukankah Aoi sangat menyayangi kakaknya?" Sakura mengusap pelan pucuk kepala Aoi.


"Itu benar, Aoi sangat menyayangi kakak!" Aoi tersenyum cerah, Aoi terlihat nyaman ketika pucuk kepalanya diusap Sakura.

__ADS_1


"Aoi, Sakura. Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" tanya seseorang dengan suara yang sangat familiar.


"Kakak!" Aoi segera berlari ke arah Ryuga.


"Hm ada apa, Kenapa Aoi tiba-tiba memeluk kakak?" Ryu sedikit terkejut ketika Aoi tiba-tiba memeluk erat dirinya.


"Kak Sakura bilang kalau kakak sedang memulihkan diri, tapi kenapa kakak tidak memberitahu Aoi?" Melepaskan pelukannya, Aoi mengatakan itu dengan menggembungkan kedua pipinya.


"Maaf maaf, lain kali kakak akan memberitahu Aoi." Berkata dengan tersenyum, Ryuga mengusap pelan pucuk kepala Aoi.


"Janji?" Aoi memperlihatkan jari kelingking.


"Janji." Ryuga pun membalasnya.


"Lalu kenapa Aoi malam-malam datang kesini? Dan juga kamu, Sakura." Ryuga menatap Sakura.


"Aku hanya kebetulan lewat," balas Sakura dengan mengalihkan pandangan.


"Aoi hanya ingin bertemu kakak, kak Sakura juga sama," Aoi menjawab dengan polos.


"Apa itu benar, Sakura?"


Sakura menundukkan kepala. "Ku-kudengar kamu sedang memulihkan diri, jadi aku datang untuk menjenguk dan membawakan ini."


Ryuga melihat keranjang makanan yang dibawa Sakura. "Sebaiknya kita masuk kedalam." Karena tidak ada aturan tertulis tentang larangan perempuan masuk kedalam asrama laki-laki, Ryu pun meminta Aoi dan Sakura untuk masuk.


"A-apa boleh?" Sakura mengangkat kepalanya lalu memandang Ryuga.


Ryuga tersenyum. "Tentu saja, Sakura temanku, kan?"


Tidak melewatkan kesempatan yang ada didepan mata, Sakura segera mengangguk-anggukan kepala dengan cepat.


Mereka bertiga pun masuk kedalam asrama ruangan Ryuga.


"Ryu-kun, kau pulang." Kei membukakan pintu ruangan. "Oh ada Yuki juga, dan gadis kecil ini?"


"Aoi, dia adikku."


"Halo Aoi, kamu bisa memanggilku Kei."


"Baik kak Kei," balas Aoi.


"Yuki, apa yang kamu bawa?" tanya Kei ketika melihat keranjang kecil yang dibawa Sakura.


"Aku membawakan makanan," jawab Sakura.


"Kebetulan sekali aku belum makan, ayo masuk." Kei tampak bersemangat saat mendengar Sakura membawa makanan.


'Untung saja aku membawa empat kotak Bento untuk berjaga-jaga.'


Dalam hatinya Sakura bersyukur, ia sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Meskipun sedikit kecewa karena tidak dapat makan berdua dengan Ryuga, tetapi Sakura merasa senang karena bisa mengenal Aoi dan mengetahui lebih dalam tentang Ryuga.

__ADS_1


....


__ADS_2