
[STATUS]
[NAME : RYUGA ISIMIYA]
[RAS : MANUSIA (AWAKEND)]
[AGE: 17]
[LEVEL : 190 (Exp 100/5500)]
[JOB : NORMAL JOB (ALL), EVOLUSI JOB: SHADOW MONARCH]
[TITLE : SOLO DUNGEON, KING OF SHADOW]
[HP : 9000 (9000)]
[MP : 50.000 (50.000)]
[STRENGTH : 2000]
[FATIGUE : 0]
[AGILITY : 2000]
[SENSE : 800]
[VITALITY : 1500]
[INTELLIGENCE : 1500]
[SKILL]
[BARRIER: BEGIN, MID, ABSOLUTE>π], [RETURN: OBJECT, TIME, SPACE], [GOD EYES], [DIMENSIONAL STORE], [INSTANT HEAL (CD 5S)], [STEALTH (MAX)], [SHADOW EXTRACTION (134/550)], [SHADOW EXCHANGE (CD 30S)], [SHADOW STEP (CD 1S)], [DOMAIN OF THE MONARCH: INFINITE DARKNESS (CD 140H)], [BLOODLUST], [GATE: DARK SPACE>π], [TRANSFORMATION: THE KING OF SHADOW>π], [DIGGER MEMORY (MAX)]
[TECHNIQUE]
[LIGHTNING STEP (MAX)], [STAR CORE ABSORBER (LVL 2)], [FIRE DRAGON (MAX)], [LIGHTNING STRIKES (MAX)], [THUNDER SLASH (MAX)], [FIRE BALL (MAX)], [WATER BALL (MAX)], [FLYING WIND (MAX)], [DARKNESS SWORD-SLASH (LVL 3)], [HEALING AREA (MAX)], [ICE MAGIC MASTERY (LVL 2)
[SHADOW SOLDIER]
[ORC], [ARTUR], [ICE BEAR], [WOLF KING], [YETI], [TOXIC SPIDER], [GIANT RATS], [SLIME ELEMENTAL ICE], [DEVIL TREE], [ICE WYVERN], [GIANT ICE LIZARD]
[ARTIFACTS/WEAPONS]
[BLACK DRAGON KATANA RANK SS], [CINCIN PENYIMPANAN RANK S], [KATANA PENDEK RANK C+] [ICE CRYSTAL SWORD RANK S+]
[IVENTORY]
[BATU KRISTAL RANK A+ (5)], [BATU KRISTAL RANK A (3)], [BATU KRISTAL RANK B+ (20)], [BATU KRISTAL RANK B- (50)], [BATU KRISTAL RANK C+ (100)], [BATU KRISTAL RANK D+ (500)], [BUKU TEKNIK PENGUASAAN SIHIR ES TINGKAT TINGGI]
[SHOP SYSTEM: π]
[HADIAH SYSTEM : ---]
[POIN SYSTEM : 1.004.000]
[QUEST SYSTEM : BUNUH SEMUA HUNTER BURONAN/KRIMINAL TINGKAT
INTERNASIONAL (BATAS WAKTU: 1 TAHUN]
________________________________________________________________________________________________
Mata hitam dengan pupil berwarna ungu menghilang, Ryuga kemudian menyuruh Artur dan 'Shadow Soldier' yang lain untuk kembali masuk kedalam bayangannya.
"Kenapa kamu ada disini, Elen?" Ryuga bertanya dengan menatap tajam ke arah Elena.
__ADS_1
"Hanya kebetulan lewat." Elena menjawab tanpa adanya ekspresi yang ditunjukkan.
Bohong!
Ryuga langsung menyangkal perkataan Elena dalam hati.
Ryuga masih menatap tajam Elena. "Lupakan semua kejadian yang kamu lihat tadi." Setelah mengatakan itu Ryuga berjalan pergi meninggalkan Elena.
"Tunggu." Elena menghentikan Ryuga.
Ryuga berhenti dan berbalik. "Ada apa?"
"Apa kau berniat meninggalkan mayat orang itu disini?" Elena bertanya dengan menunjuk ke arah mayat tanpa kepala, yang tak lain adalah sosok berjubah hitam tadi.
Ryuga menepuk pelan jidatnya. Ryu kemudian mengangkat tangan kanan, muncul api kecil dengan suhu panas yang tinggi. Berniat melemparkan sihir api yang ada ditangan, Ryuga dihentikan oleh Elena.
"Tunggu, biarkan aku membantu." Sedikit mengangkat tangan ke atas, Elena kemudian menjentikkan jarinya, seketika mayat berserta kepala yang terputus itu membeku menjadi bongkahan Es.
Tak!
Dengan jentikan jari Elena untuk kedua kalinya, mayat dengan kepala terputus yang membeku menjadi bongkahan Es itu tiba-tiba retak dan pecah. Terlihat butiran-butiran kristal Es muncul, bersamaan dengan mayat itu menghilang dari pandangan.
"Dengan ini tidak akan ada bukti maupun sisa bekas pertarungan." Elena berkata dengan mendengus bangga.
Melihat Elena tanpa ragu menghilangkan seorang mayat yang telah dibunuh olehnya, Ryuga tidak tahu harus berterima kasih atau tidak. "Te-terima kasih." Namun karena sudah dibantu, Ryuga memutuskan untuk berterima kasih.
"Terlalu cepat untuk berterima kasih, kamu harus membalasnya." Elena mengatakan itu dengan sedikit mengangkat sudut bibirnya.
Ryuga mengerutkan kening. "Dengan apa?"
Tanpa basa basi Elena langsung bicara ke intinya. "Menikah denganku!"
"Aku menolak." Dengan tegas Ryuga menjawab.
"Kamu tidak bisa menolak, kalau tidak aku akan memberitahu semua orang tentang apa yang terjadi malam ini." Elena mengatakan itu dengan ekspresi datar, namun terdapat sedikit ancaman didalamnya.
"Ya." Elena menjawab dengan singkat.
"Aku bisa saja membunuhmu sebelum kamu mengatakan kepada semua orang apa yang terjadi disini."
"Membunuh? Aku tidak yakin kamu bisa membunuhku." Meskipun merasakan tekanan energi yang membuat tubuhnya sulit bergerak, tetapi terlihat tidak ada reaksi ketakutan diwajah Elena.
"Kenapa kau begitu yakin?" Mengangkat tangan kesamping, ditangan Ryuga tercipta sebuah pedang yang terbuat dari Es.
"Ya, aku sangat-sangat yakin. Kamu tidak akan membunuh seseorang tanpa sebuah alasan, bukan? Dan juga, apa kamu tidak melupakan sesuatu?"
Menghilangkan tekanan energi yang ia keluarkan, Ryuga lalu menghembuskan nafas panjang. "Kau menang." Bukan tanpa alasan Ryuga mengatakan itu, karena jika dirinya membunuh Elena disini, tentu keluarga Mitsurugi tidak akan tinggal diam.
Jangan lupakan Kalau Elena adalah keponakan raja dari kerajaan Inggris, mungkin jika Ryu membunuh Elena, bisa saja kerajaan Inggris akan menuntut negaranya. Dan yang paling parah kerajaan Inggris akan mendeklarasikan perang terhadap negara Jepang.
Kau benar, aku tidak cukup bodoh untuk membunuhmu disini.
Ryuga sekarang mengetahui satu hal, kalau gadis cantik yang ada didepannya ini ... sangat cerdik dan licik.
Menunjukan sesuatu yang ada ditangan, Elena berkata, "Bagus, jika kamu membunuhku, maka gelang yang ada pada tanganku ini akan mengirimkan rekaman disaat-saat terakhir aku mati." Elena mengangguk puas mendengar ucapan Ryuga barusan.
Aku benar bukan? Walaupun terlihat polos, dia termasuk kedalam katagori rubah betina, begitu licik!
Ryuga mengeluh dalam hati, keputusan yang ia buat benar-benar sangat tepat.
"Jadi, menikahlah denganku." Elena masih berpendirian teguh dengan keinginannnya.
Ryuga tersenyum pahit melihat Elena yang masih keras kepala, ia lalu menjawab dengan mengangkat tangan kanan. "Apapun selain menikah."
Sejenak Elena terdiam sedang memikirkan sesuatu, beberapa saat kemudian dia berkata dengan senyuman kecil terlihat diwajahnya. "Baiklah, aku akan menunda permintaan tadi, tapi ... besok lusa kamu harus datang berkunjung ke rumahku."
__ADS_1
Ryu menganggukkan kepala setuju. "Baiklah ... " Entah apa yang direncanakan oleh Elena, tapi Ryuga merasa yakin dapat mengatasinya.
***
Keesokan harinya, karena Ryuga sekarang begitu populer, banyak gadis yang sudah menunggu dirinya untuk keluar dari asramanya.
"Sial, aku jadi tidak bisa keluar sekarang," gumam Ryuga mengeluh, dari jendela ia bisa melihat banyak gadis yang sudah menunggunya keluar asrama.
"Bukankah itu bagus memiliki banyak penggemar?" ujar Kei yang sedang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
"Bagus? Bagiku ini seperti sebuah kutukan!" Ryuga membalas perkataan Kei dengan nada tak puas.
"Ah sudah waktunya untuk pergi." Kei mematikan ponselnya, kemudian ia beranjak berdiri dari sofa.
"Mau kemana?" Sedari dulu Ryuga penasaran, hal apa yang membuat Kei menjadi begitu sibuk.
"Tentu saja pergi menghadiri kelas, aku duluan Ryuga-kun." Kei kemudian pergi meninggalkan Ryuga seorang diri diruangan.
Merasakan hawa keberadaan Kei telah pergi menjauh, Ryuga lalu membuka 'Dimensional Store. Kemudian Ryu memakai setelan hitam lengkap dengan topengnya, tidak lupa ia juga memakai cincin artefak dan menyarungkan Black Dragon Katana di pinggang kirinya.
"Untuk Quest System tadi malam lebih baik pikirkan nanti, juga aku tidak mengetahui dimana keberadaan hunter-hunter buronan itu.
Jadi untuk sekarang lebih baik pergi ke Asosiasi untuk menjual beberapa Artefak dan Batu Kristal." Menyelesaikan kalimatnya, Ryuga kemudian menghilang dari ruangan asrama menggunakan 'Shadow Exchange'.
**
"Tuan Shin, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jeanny ketika melihat Ryuga ada didepan mejanya.
"Aku mau menjual beberapa Artefak dan inti monster." Ryuga mengatakan tujuannya datang ke Asosiasi.
"Baik, silahkan ikuti saya." Jeanny kemudian menuntun Ryuga ke tempat orang-orang biasanya melakukan sebuah transaksi.
Sampai diruangan khusus tempat transaksi, Ryuga mengangkat tangan ke depan, dihadapannya sekarang bisa terlihat sebuah sobekan ruang penyimpanan.
Dengan sedikit ayunan tangan, dari sobekan ruangan penyimpanan keluar ratusan inti monster atau Batu Kristal. Melihat itu semua Jeanny membuka mata lebar-lebar, ia sulit mempercayai apa yang dilihatnya barusan.
Okey, kemarin dia menjual ratusan batu kristal dengan kualitas rendah, itu masih wajar. Tapi sekarang, ini ... bahkan ada ratusan inti monster tingkat tinggi!
Jeanny tidak menyangka, kalau seorang Shin yang tidak bergabung dengan Guild manapun, bisa memiliki ratusan Batu Kristal tingkat tinggi sebanyak itu.
Memasukan tangan kedalam sobekan ruang, Ryuga kemudian mengambil beberapa Artefak yang ingin ia jual. "Ini." Ryuga lalu menyerahkannya kepada Jeanny.
"Ba-baik." Tubuh Jeanny sedikit gemetar ketika menerima beberapa Artefak yang Ryuga beri. Bagaimana tidak?! Karena Ryuga dengan mudahnya menjual 5 Artefak tingkat tinggi.
Dua cincin penyimpanan Rank S, dua anting Rank A+ berupa Artefak untuk meningkatkan Stat dan energi mana. Terakhir adalah sebuah Artefak berupa Armor kulit Rank S, berfungsi untuk meningkatkan defense terhadap serangan sihir maupun serangan fisik yang diberikan.
"Sa-saya akan menghitung ini semua terlebih dahulu." Jeanny berkata dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
Sebagai balasan Ryuga mengangguk, kemudian ia menghilangkan sobekan ruang dari Skill 'Dimensional Store' miliknya.
Artefak atau sebuah senjata, pasti memiliki kegunaan dan fungsinya masing-masing, jadi harga jual ditentukan berdasarkan hal tersebut. Ryuga sudah tahu akan hal ini, tetapi ia tidak mengetahui pasti, berapa jumlah uang yang akan diperoleh dari menjual Artefaknya itu.
Beberapa menit kemudian, Jeanny telah selesai menghitung harga jual Batu Kristal dan Artefak milik Ryuga. "I-ini semua seharga 143.000.000,00 Yen (17.905.718.713,56 Rp), tuan Shin," ucap Jeanny dengan menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam.
Sebanyak itu?!
Ryuga sejenak terkejut ketika mendengar nominal yang disebutkan oleh Jeanny, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
"Ini ... " Ryuga lalu mengambil kartu hitam yang diberikan oleh Jeanny.
"Ah itu adalah kartu rekening yang biasanya digunakan para Hunter untuk menyimpan uang mereka di bank, tuan Shin bisa tenang, karena Asosiasi menggunakan identitas anda untuk mendaftar.
Dan untuk mengakses kartu itu, tuan Shin bisa mengatur password-nya nanti." Jeanny menjelaskan fungsi dan cara menggunakan kartu hitam itu.
"Baiklah terima kasih, kalau begitu aku akan pergi." Ryuga membalikkan badan, kemudian berjalan pergi meninggalkan Jeanny diruang transaksi seorang diri.
__ADS_1
Melihat Shin pergi menjauh, Jenny bergumam pelan. "Aku jadi penasaran, siapa identitas sebenarnya tuan Shin?"
Jeanny menggelengkan kepala pelan. "Tidak baik karyawan Asosiasi ingin mengetahui privasi seorang Hunter. Hm ... Baiklah, waktunya melanjutkan pekerjaan yang tertunda."