Hunter Adventure Isekai System

Hunter Adventure Isekai System
Ch 61. - Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Keesokan harinya, pukul 09.00 pagi.


Ryuga menekan bel rumah, beberapa saat menunggu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Tidak ada orang, apa kak Casey benar-benar ada dirumah kita?"


"Mana mungkin kakak mu ini berbohong, kurasa dia sudah menunggu kedatangan kita berdua."


'Kemana orang itu pergi? Aku seperti tamu dirumah ku sendiri. Baiklah, untung saja aku memiliki kunci cadangan.'


Ryuga memasukan kunci dan membuka pintu rumah. "Apa ada orang didalam, kak Casey?" Ryuga dan Aoi berjalan masuk ke rumah.


"Aoi pergi ke kamar dulu ya kak, aku merindukan boneka kucing ku." Setelah itu Aoi berjalan masuk pergi ke kamarnya.


"Hem ya, kakak akan memeriksa ke dapur."


Ryuga memandang sekeliling. "Dia tidak berbohong untuk membersihkan seisi rumah?" Melihat bagaimana tidak ada sedikit pun debu yang menempel, Ryuga mengangguk puas.


Berjalan ke dapur, ketika melihat apa yang ada diatas meja, Ryuga sedikit membuka mulutnya karena terkejut. "Bukankah ini terlalu berlebihan?"


"Oh Ryu, kau sudah datang!"


"Dari mana saja ka–kak?"


Saat Ryuga menolehkan pandangan, ia bisa melihat Casey yang sedang tersenyum cerah menatap dirinya. "Le–lebih baik kak Casey berganti pakaian terlebih dahulu," kata Ryuga dengan mengalihkan pandangannya lagi.


"Ah maaf-maaf. Aku terlalu berkeringat setelah memasak banyak makanan, jadi kakak baru saja selesai mandi."


Melihat Ryuga mengalihkan pandangan darinya, Casey tersenyum genit sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. "Hoho, jangan-jangan adikku ... tersipu malu saat melihat kakak cantiknya ini?"


"Su-sudahlah, cepat sana pergi berpakaian!"


Casey mendengus. "Emh~ Ryu tidak seru," kemudian Casey pergi ke kamar Ryuga untuk berganti pakaian.


Melihat Casey yang telah pergi, Ryu menghela nafas lega. 'Apa memang orang-orang Amerika terbiasa seperti itu? Dia hanya menggunakan pakaian dalam! Wajar kalau ini rumahnya sendiri. Tapi ... lupakan, orang itu memang sudah tidak waras!'


Beberapa menit kemudian.


"Wah~ Apa kak Casey yang memasak ini semua?!" Aoi tampak bersemangat ketika melihat banyak makanan diatas meja.


"Hehe itu benar Aoi. Meskipun kak Casey pertama kalinya datang kesini, tapi kakak cepat belajar memasak makanan negara ini." Casey tersenyum bangga.


"Baiklah, waktunya makan!" lanjut Casey.


"Selamat makan!"


Mereka bertiga pun memakan makanan yang ada diatas meja dengan lahap.


***


Guild Blood Wolf Jepang.


"Ke–kenapa ayah memanggil kami? Apa kita berdua melakukan kesalahan?" tanya Takeo dengan menundukkan kepala.


"A–apa tentang anak itu? Jika benar, kami minta maaf, ayah." tambah Jiro.


Takehashi Jin tersenyum kepada Takeo dan Jiro. "Tidak-tidak, ayah hanya ingin membicarakan sesuatu kepada kalian."


Takeo mendongakkan kepala menatap ayahnya. "Apa yang ingin ayah bicarakan?"


"Hem ... benar juga. Apa kalian mengetahui anak ini?" Takehashi Jin memperlihat sebuah foto kepada Takeo dan Jiro.


"Dia terlihat seperti murid tahun pertama, mungkin Jiro mengenal anak itu," kata Takeo dengan menoleh ke arah Jiro.


"Saya mengenalnya, ayah. Dia adalah teman sekelas ku Yuki Sakura, anak dari Guild Master Asagi," Jiro menjawab dengan yakin.

__ADS_1


"Jadi itu benar." Takehashi Jin mengangguk.


"Apa yang salah dengan gadis itu, ayah?" tanya Takeo.


Takehashi Jin tersenyum. "Ayah hanya penasaran. Yang lebih penting, bagaimana keadaan bocah bernama Ryuga itu?"


"Mungkin Ryuga sedang fokus untuk latihan," jawab Takeo.


"Latihan?"


"Ya ayah, anak itu akan mengikuti turnamen antar sekolah khusus Hunter."


"Hoho, jadi begitu." Takehashi Jin tersenyum, dia tampak tertarik dengan itu.


Mendengar percakapan ayah dan kakaknya tentang Ryuga, Jiro hanya diam, dia masih memiliki sedikit rasa trauma ketika mendengar nama Ryuga disebutkan.


"Jiro." Takehashi Jin tiba-tiba memanggil.


"Ya, ayah." Jiro sedikit tersentak.


"Ayah memiliki tugas untukmu."


"Saya mendengarkan, ayah."


"Ayah ingin kamu membawa gadis bernama Yuki Sakura datang ke Guild kita."


"Tapi ayah, Yuki bahkan lebih kuat dariku. Jika dia menolak, apa yang harus saya lakukan?" Jiro berkata dengan ekspresi enggan.


"Tidak perlu khawatir, kamu bisa membawa beberapa orang ayah untuk membantumu. Jadi, apa kamu sanggup memenuhi tugas ini?"


Jiro membuka mata lebar-lebar, dia terlihat sangat bersemangat. "Saya akan memenuhi tugas yang ayah berikan!" tanpa pikir panjang, Jiro langsung menyetujui permintaan ayahnya.


Takehashi Jin menyeringai. "Baiklah, besok gadis itu harus berada disini."


'Ada apa ini? Kenapa ayah ingin membawa gadis itu kemari? Dari pada itu ... ada yang aneh dengan ayah. Dia tidak pernah memperlihatkan senyuman seperti itu kepada kita berdua.'


Takeo berpikir dengan menatap serius ke arah ayahnya, dia merasa ada sebuah kejanggalan dengan sifat yang dimiliki Takehashi Jin saat ini.


***


'Apa memang perut wanita bisa menampung semua ini?'


Ryuga bertanya dalam hatinya. Ryu masih tak menyangka, makanan sebanyak itu bisa habis tidak tersisa oleh Casey dan Aoi.


"Setelah ini, apa yang akan kak Casey lakukan?" tanya Ryuga.


Casey mengambil tisu untuk membersihkan noda yang menempel pada bibirnya. "Kakak akan pergi berbelanja untuk membeli oleh-oleh," jawab Casey.


Aoi mengangkat tinggi tangan kanannya ke atas. "Bolehkah Aoi ikut!"


Casey tersenyum kepada Aoi. "Tentu saja boleh." Casey kemudian menoleh ke arah Ryuga. "Apa Ryu juga ikut?"


Ryuga menganggukkan kepala. "Ya, kebetulan aku juga ingin membeli ponsel baru."


"Apa yang terjadi dengan ponsel lama mu?" tanya Casey.


"Hancur," jawab Ryuga dengan singkat.


"Kenapa bisa hancur?"


"Aku menjatuhkannya ketika latihan."


"Begitu, kah." Casey mengangguk mengerti. "Ngomong-ngomong Ryu, bagaimana dengan tawaran kakak kemarin?" lanjut Casey bertanya.


"Uhuk-Uhuk!" Ryuga tersedak oleh minumannya sendiri. Mengelap air yang menempel disekitar bibirnya, Ryu menjawab, "Tentu saja aku menolak." Terlihat urat-urat pada wajahnya saat Ryuga mengatakan itu.

__ADS_1


"A~hah ... sayang sekali." Casey tampak cemberut.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah bersiap pergi ke salah satu Mall yang ada di kota Tokyo, tepatnya ada dikawasan Saitama.


Karena lokasi Mall tidak terlalu jauh dari letak rumah Ryuga, mereka bertiga pun menggunakan bus untuk pergi ke kawasan Saitama. Setelah beberapa menit berlalu, mereka pun sampai di lokasi Mall tersebut.


Turun dari bus, Aoi memandang ke arah bangunan besar. "Sudah lama sekali Aoi tidak pergi kesini, terakhir kali Aoi pergi bersama dengan... " Aoi nampak tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Melihat adik kecilnya nampak lesu, Ryuga segera menghampiri Aoi dan mengelus pelan kepalanya. "Aoi bisa meminta apapun yang Aoi sukai disana, kakak akan membelikannya untukmu."


Kedua mata Aoi berbinar-binar. "Benarkah?!" Namun sesaat kemudian Aoi tampak lesu kembali.


Mengerti apa yang sedang dipikirkan adiknya, Ryuga segera berkata dengan yakin. "Jangan khawatir, kakak memiliki lebih banyak uang dari pada yang Aoi pikirkan."


"Apa kakak tidak berbohong?" Aoi menatap serius kakaknya.


Ryuga tersenyum lembut dan mengelus kepala Aoi sekali lagi. "Tentu saja, kakak tidak mungkin berbohong kepada Aoi."


"Yey! Kalau begitu tunggu apa lagi. Kak Ryu, kak Casey, ayo pergi." Aoi tiba-tiba berlari ke arah bangunan Mall sendirian.


"Apa kamu yakin?" tanya Casey tiba-tiba.


"Apanya?" Ryuga berbalik bertanya.


"Kakak tidak bermaksud untuk meremehkan mu Ryu, tapi apa benar-benar kamu yakin mengatakan itu kepada Aoi?"


"Ya, aku sangat yakin—" Ryuga tiba-tiba menolehkan kepala ke arah barat.


Casey pun ikut menoleh ke arah barat, akan tetapi dia hanya melihat orang-orang berlalu lalang seperti biasa. "Ada apa, Ryu?" tanya Casey yang merasa bingung.


"Ah tidak apa-apa. Gunakan kartu ini untuk membeli sesuatu yang Aoi inginkan." Ryuga menyerahkan sebuah kartu pembayaran kepada Casey.


"Hem~" Casey menerima kartu yang diberikan Ryuga dengan ekspresi bingung.


"Kodenya XXXX31. Aku akan pergi ke toilet terlebih dahulu, tolong jaga Aoi selama aku pergi." Setelah mengatakan itu Ryuga pergi berlari ke arah barat.


"Baiklah." Meskipun masih merasa bingung, tetapi Casey tetap menganggukkan kepala mengerti dengan perkataan Ryuga.


*


Tidak membutuhkan waktu lama Ryuga hampir sampai ditujuan. Pergi ke toilet? Itu hanya sebuah alasan yang dibuat-buat oleh Ryuga.


Ryuga pergi ke arah barat kota bukan tanpa alasan, sebelumnya Ryu merasakan aura kehadiran seseorang yang tak asing baginya.


Jika aura kehadiran itu tidak berbahaya atau pun hanya orang biasa pada umumnya, Ryu hanya akan diam tidak memperdulikannya, tetapi aura orang ini ... sangat mirip dengan orang yang pernah mengawasi dirinya dan Elena.


"Dia ... kabur?" Merasakan aura kehadiran orang tersebut lenyap begitu saja, Ryuga kemudian melihat peta System. Dan benar saja, orang yang dimaksud oleh Ryuga tadi telah pergi jauh dari jangkauan peta System.


"Orang itu hanya seorang diri, tapi ... apa yang dia lakukan?" Ryuga berpikir sejenak.


Setelah beberapa saat berpikir, Ryuga memutuskan untuk memeriksa sebuah gang kecil, gang itu adalah tujuan awal Ryuga datang kemari.


Melangkahkan kaki masuk kedalam gang, Ryuga tiba-tiba membuka kedua mata lebar-lebar dan menghentikan langkah kakinya.


Tepat ditengah gang kecil, Ryuga melihat tubuh seorang gadis yang sudah tergeletak tak bernyawa, nampak sebuah luka tusukan pedang yang menembus dada gadis tersebut.


Namun bukan hal itu yang membuat Ryuga terkejut, tetapi karena Ryu sangat mengenal, siapa mayat gadis yang sudah tak bernyawa itu.


Dia adalah...


"Ke–kenapa bisa kamu?"


"Hasegawa ... Suzu!"


>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2