
"Kenapa tidak?!" Ucap Casey dengan perasaan sedikit kecewa.
"Aku memiliki orang-orang berharga disini, tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja, dan kurasa Aoi juga berpikir demikian." Ryuga menjelaskan.
"Apa hal itu lebih penting dari keluarga sendiri?" Casey bertanya dengan penuh harap. Sebelumnya ia ingin mengajak Ryuga dan Aoi untuk pindah ke Amerika, tempat dimana kediaman keluarga Green berada.
Mendengar itu Ryuga mengerutkan alisnya. "Keluarga? Jangan bercanda denganku. Dimana orang-orang yang kakak sebut sebagai keluarga selama 16 tahun ini?"
"I-itu ... " Casey tidak bisa menyangkalnya.
"Aku bahkan tidak mengenali mereka semua, bahkan kakak sendiri pun baru menemui diriku dan Aoi sekarang, kenapa tidak sedari dulu?.
Apakah orang-orang seperti itu bisa disebut sebagai keluarga?" Meskipun kata-kata Ryuga dapat menyakiti perasaan Casey, ia tetap mengucapkannya tanpa ragu.
Mendengar itu semua, air mata Casey kembali tumpah, memang benar apa yang dikatakan Ryuga barusan. Selama 16 tahun Ryuga hidup, ia hanya mengenali sosok ayah yang sudah tiada, ibu, dan adik kecilnya.
Memegang kedua pundak Ryuga, Casey menundukkan kepala. "Maaf, maaf Ryu ... memang benar apa yang kau katakan. Tapi semua orang sudah menyesali perbuatannya, dan awalnya kakak juga tidak mengetahui dimana tempat tinggal bibi sekarang.
Kakek sekarang sedang sakit, ia ingin bertemu dengan anak cucunya, lalu kakek memberitahuku dimana keberadaan bibi sekarang. Setelah mengetahui tempat tinggal bibi, kakak langsung bergegas pergi ke negara ini untuk mencarinya.
"Jadi kumohon ... jangan membenci kami." Casey berbicara dengan suara sedikit terisak.
Mendengar itu semua, Ryuga termenung sejenak. "Kurasa kakak salah paham," ucap Ryuga dengan menggaruk kepala yang tidak gatal lalu melanjutkan, "Aku tidak pernah bilang kalau membenci kalian semua, dan juga aku baru mengetahui tentang masa lalu ibu.
Jadi aku tidak punya hak untuk membenci kakak dan lainnya."
Casey mengencangkan jari-jarinya yang memegang pundak Ryuga. "Lalu kenapa kamu tidak ingin pergi!" Ucap Casey mendongak menatap Ryuga.
Merasakan sakit dikedua pundaknya, Ryuga lalu melepas tangan Casey dengan perlahan. "Jika kakak menginginkan aku dan Aoi pindah dan menetap, jelas aku menolak. Tapi kalau untuk sekedar berkunjung dan menetap beberapa hari, kurasa itu tak masalah."
"Sungguh?" Ucap Casey dengan mengusap air matanya.
"Ya," balas Ryuga dengan tersenyum cerah.
Memasang kembali senyum ceria diwajah, Casey hendak melompat dan mendekap Ryuga seperti tadi. Ryuga yang sudah mengetahui gerakan Casey, dengan reflek ia menghindar.
"Moo, kenapa kau menghindar?" Menggembungkan pipi kanan, Casey berkata dengan nada kesal.
Ryuga tidak menjawab, ia malah memberi pertanyaan lain kepada Casey. "Ngomong-ngomong, sekarang kak Casey tinggal dimana?"
"Hotel, kenapa memang?"
"Jika ingin, kakak bisa tinggal dirumah ku." Ryuga menawarkan.
"Benarkah?" Mata Casey berkilauan, ia seperti orang yang telah menemukan sebuah harta karun.
"Benar." Mengambil kunci rumah yang ada disaku, Ryuga lalu menyerahkannya kepada Casey. Setelah itu, Ryuga segera berlari pergi meninggalkan Casey dengan berkata lantang, "Dan jangan lupa untuk membersihkan seisi rumah, ya kak!"
Sadar akan perbuatan Ryuga, Casey pun menggertakkan gigi dan berteriak dengan keras. "Hey, kau menipu kakakmu!"
**
Gedung Asosiasi Hunter Jepang.
Karena Ryuga berpikir memiliki banyak waktu, ia sekarang berada didalam gedung Asosiasi untuk membeli hak sebuah portal masuk Dungeon. Tentu saja saat ini Ryuga menggunakan identitas 'Shin'.
__ADS_1
Kenapa harus membeli hak Dungeon terlebih dahulu? Karena memang setiap Asosiasi Hunter bertugas untuk mengamankan sebuah portal masuk dungeon. Itu dilakukan agar tidak terjadi keributan antar Guild untuk memperebutkan portal masuknya Dungeon.
"Itu tidak bisa tuan Shin, setidaknya anda harus membentuk kelompok party untuk melakukan Raid (Penaklukan Dungeon)." Jeanny menolak permintaan Ryuga yang ingin membeli hak portal masuk Dungeon seorang diri.
"Apakah benar-benar tidak bisa?" Ryuga memang sudah tahu akan hal itu, namun jika dia menggunakan identitas aslinya, mungkin hasilnya akan berbeda.
"Sebenarnya tidak ada larangan untuk melakukan Raid seorang diri tuan Shin, agar tidak menimbulkan korban yang sia-sia, Asosiasi pun menganjurkan untuk membentuk sebuah kelompok party.
Tetapi jika anda bersikeras melakukan Raid seorang diri, Asosiasi tidak akan bertanggung jawab dan memberi kompensasi apabila terjadi sesuatu kepada anda." Jeanny menjelaskan apa yang ia ketahui.
Ryuga mendengar penjelasan dari Jeanny dan mengangguk paham. "Itu tidak masalah nona Jeanny, lalu bisakah anda mencarikan Dungeon Rank B untukku."
Jeanny menghela nafas, benar-benar tidak tahu apa isi pikiran orang yang ada dihadapannya saat ini. Mengambil iPad yang ada dimeja resepsionis, Jeanny lalu mencari informasi tentang portal masuk Dungeon yang belum dipesan oleh Guild-guild lain.
Menemukan portal Dungeon Rank B yang belum dipesan, Jeanny memperlihatkannya kepada Ryuga. "Ada portal masuk Dungeon Rank B dikawasan 'Yokohama', dan untuk harganya sebesar 15.000.000,00 Yen (1.866.182.942,94 Rp)."
Mendengar nominal yang disebutkan Jeanny, Ryuga terbatuk-batuk karena terkejut. "Ehem, kurasa untuk pemula sepertiku, Dungeon Rank C akan lebih aman," ucap Ryuga mencari alasan.
Jeanny mengangguk, lalu mencari portal masuk Dungeon Rank C. "Dikawasan 'Kitamoto' portal masuk Dungeon Rank C, harganya 10.000.000,00 Yen (1.247.533.088,48 Rp)."
Ryuga sekali lagi terbatuk, untung saja saat ini ia sedang menggunakan topeng hitamnya, jika tidak ada topeng mungkin saja Jeanny dapat melihat wajah terkejutnya Ryuga sekarang.
Setelah itu Ryuga meminta Jeanny untuk mencarikan portal masuk Dungeon dengan tingkatan yang lebih rendah, tetapi setelah mendengar semua nominal yang disebutkan, Ryuga menghela nafas kecewa.
Portal masuk Dungeon yang terakhir adalah Rank E+, dengan harga sebesar 1.500.000,00 Yen (186.580.108,00 Rp). Itu semua adalah jumlah uang yang dimiliki Ryuga jika digabungkan dengan pendapatan menjual batu kristal kemarin.
Melihat bagaimana Ryuga terdiam, Jeanny bertanya dalam hati.
Apakah tuan Shin sedang kekurangan uang?
"Sama-sama tuan Shin," balas Jeanny dengan tersenyum ramah.
Keluar dari gedung Asosiasi, Ryuga hanya mendapat rasa kekecewaan. Dalam hatinya Ryuga mengeluh.
Apa aku sebegitu miskin nya?
Jika teman-temannya tahu kalau Ryuga mengeluh perihal keuangan, mungkin saja mereka akan melempari Ryuga dengan batu.
Sebenarnya bukan karena Ryuga yang kekurangan uang, tetapi akibat perubahan bumi lah yang menyebabkan kondisi ekonomi juga ikut berubah. Dan untuk memegang uang bersih senilai 1.500.000,00 Yen untuk diri sendiri, itu adalah jumlah fantastis untuk anak seumuran Ryuga sekarang.
Menggeleng kepala pelan, Ryuga berniat kembali ke asrama untuk memikirkan rencana ke depannya. Sebelum Ryuga melangkahkan kaki nya pergi, ia mendengar beberapa orang yang sedang membicarakan tentang penaklukan Dungeon.
Membalikan badannya kebelakang, Ryuga dapat melihat empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan. Empat orang itu terlihat seperti kelompok party dan baru saja keluar dari pintu gedung Asosiasi.
"Hah ... benar-benar menyebalkan."
"Sepertinya anggota Asosiasi sangat-sangat sibuk."
"Itu benar, buktinya tidak ada Hunter tingkat tinggi disana, dan hanya menyisakan Hunter tingkat rendah."
"Apa perlu kita meminta bantuan Guild lain?"
"Tidak, itu akan mempermalukan wajah Guild Master kita."
"J-jadi, apa kita akan membatalkan Raid untuk malam ini?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan terakhir dari temannya, tiga orang lain dalam kelompok pun terdiam tidak bisa menjawab.
Ryuga yang mendengar semua pembicaraan kelompok itu pun tersenyum cerah dibalik topengnya, ternyata dewi keberuntungan masih memihak padanya.
Setelah itu Ryuga pun menghampiri kelompok yang terlihat seperti party itu.
"Permisi, apakah kalian semua membutuhkan orang untuk melakukan Raid?" Tanya Ryuga kepada kelompok tersebut.
Melihat seseorang berpakaian hitam dan menggunakan topeng untuk menutupi wajah, kelompok dengan anggota empat orang itu mengerutkan kening.
Apa dia sedang bercosplay atau semacamnya?
Tanya ke empat orang tersebut dalam hati.
"Itu benar, ada apa?" Seorang pria berambut merah yang memakai baju armor lengkap menjawab, dia seperti ketua kelompok party tersebut.
"Saya mendengar semua pembicaraan kalian tadi, lalu bolehkan saya bergabung untuk melakukan Raid bersama kelompok kalian?" Ryuga bertanya dengan sopan.
Memikirkannya sejenak, pria berambut merah itu pun menjawab, "Setidaknya harus Hunter Rank B- untuk melakukan Raid bersama kami, karena portal yang akan kami masuki adalah Dungeon Rank B."
"Itu sebuah kebetulan." Ryuga lalu mengeluarkan kartu identitas Hunter miliknya, kemudian ia memperlihatkannya kepada pria berambut merah tersebut.
"Shinigami, Kelas Assassin Rank B!" Setelah membaca kartu identitas Ryuga, pria berambut merah itu pun terkejut sekaligus merasa senang.
Merangkul bahu Ryuga, pria berambut merah berkata dengan senyuman cerah diwajah, "Selamat tuan Shinigami, anda bisa bergabung untuk melakukan Raid bersama kami."
"Panggil saja, Shin," ucap Ryuga.
"Baiklah, walau hanya sementara Shin bergabung dengan kelompok party kami. Kelompok party kami, tidak, kelompok party kita bernama Dragon Wings dan berasal dari Guild Dragon." Pria berambut merah memperkenalkan nama kelompok dan Guild nya dengan penuh semangat.
"Lalu nama kalian?" tanya Ryuga kepada kelompok party Dragon Wings.
"Ah maaf, namaku Gin, ketua kelompok Dragon Wings dengan Kelas Warrior Rank A+. Lalu pria berbadan besar itu bernama Kido, dengan Kelas Tank Rank B+ dikelompok kita.
Kemudian dua wanita itu bernama Akane dan Aki, dia adalah saudara kembar. Akane si Pemarah dengan Kelas Mage Rank B+ tipe penyerang, dan Aki si Pemalu dengan Kelas Mage Rank B+ tipe Support." Gin memperkenalkan semua anggota kelompoknya.
"Siapa yang kau sebut dengan si Pemarah?!" Ucap Akane dengan nada kesal dan marah, ia lalu merapal kan sebuah mantra sihir yang ditujukan kepada Gin.
"Te-tenang kak, Gin hanya bercanda," ucap Aki dengan menggandeng tangan Akane.
"Tch." Akane berdecak tak puas lalu membatalkan rapalan sihirnya.
"Benar, kan?" bisik Gin pelan kepada Ryuga.
Ryuga yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, walau pun hanya sementara bergabung dengan kelompok mereka, rasanya dia tidak akan merasa bosan untuk ke depannya.
"Yoo Shin," ucap Kido melambaikan tangan menyapa Ryuga.
Ryuga hanya mengangguk sebagai balasan. Lalu ia bertanya, "Jadi, kapan dan dimana kita akan melakukan Raid?"
"Kita akan melakukan Raid tepat pada pukul 21.00 malam, dan berlokasi dikawasan 'Iwaki'." Gin menjawab pertanyaan Ryuga.
"Aku mengerti." Ryuga mengangguk paham.
"Kalau begitu Shin, mohon kerja samanya." Gin mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Aku juga, mohon kerja samanya." Ryuga pun meraih tangan Gin dan berjabat tangan, tanda bahwa mereka telah mencapai kesepakatan bersama.