
"Hahaha, lain kali ayo bertarung dengan kekuatan penuh!" Koji mengangkat lengan kanan dan memperlihatkan otot besarnya kepada Ryuga.
"Haha baik, Koji-san." Ryuga membalas dengan sedikit menggaruk kepalanya.
"Jangan sungkan untuk berkunjung kesini lagi ya, Ryu-chan." Aiko berkata dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau begitu ibu ayah, aku dan Ryuga pergi dulu." Elena sedikit membungkukkan badan kepada ayah dan ibunya, kemudian ia berjalan menghampiri Ryuga.
"Terima kasih untuk makanan tadi, Koji-san, Aiko-san. Kalau begitu saya juga pamit." Ryuga mengucapkan itu dengan sedikit membungkukkan badan, lalu ia dan Elena melangkahkan kaki pergi dari kediaman Mitsurugi dan menuju ke akademi.
"Selamat jalan~" Aiko melambaikan-lambaikan tangan kanannya.
"Hah ... apa anak muda jaman sekarang memang sekuat itu?" Melihat Ryuga dan putrinya telah pergi menjauh, Koji lalu bertanya kepada istrinya.
"Nak Ryu itu istimewa." Aiko menjawab dengan membalikkan badan, kemudian ia pergi meninggal Koji seorang diri.
"Apa dia masih marah?" Koji bergumam pelan dengan mengelus dagunya.
**
Dalam perjalanan kembali ke akademi. "Terima kasih Elen," ucap Ryuga tiba-tiba kepada Elena.
"Untuk apa?" Elena mendongakkan kepala menatap ke arah Ryuga.
"Untuk orang keras kepala seperti dirimu, tetapi kamu masih memegang kata-katamu sendiri." Ryuga berkata dengan menatap lurus ke arah jalanan.
"Apa itu sebuah pujian?" Disebut keras kepala, tentu semua orang akan merasa tersinggung, tidak terkecuali Elena.
"Terserah kamu menganggapnya apa." Ryuga sedikit mengangkat kedua bahunya, karena hal itu merupakan sebuah fakta yang tidak bisa dibantah oleh Ryuga, kalau Elena adalah orang yang sangat keras kepala kepada pendiriannya.
Setelah itu suasana menjadi hening dalam perjalanan, mereka berdua nampak tidak ingin memulai pembicaraan satu sama lain, karena memang tidak ada hal penting untuk dibicarakan.
Bruk!
"Kenapa berhenti?" Karena Elena berjalan mengikuti Ryu dari belakang, dia pun menabrak punggung Ryuga. Elena tidak mengetahui kenapa pemuda tampan yang ada didepannya ini tiba-tiba memberhentikan langkah.
__ADS_1
Tidak langsung menjawab pertanyaan Elena, dalam pikirannya Ryuga meminta System untuk membuka fitur peta. "Sudah kuduga." Ryuga bergumam pelan, saat ini dalam peta System Ryu bisa melihat beberapa orang yang sedang mengintainya dari atas sebuah gedung tinggi.
"Apanya?" Elena bisa mendengar gumaman Ryuga, jadi dia merasa penasaran apa yang sedang dipikirkan pemuda ini.
"Ikut aku." Ryuga menarik tangan Elena.
"Kemana?" Mengikuti tangan dingin yang menariknya, Elena merasakan perasaan asing dalam hatinya.
Tanpa berlama-lama lagi, Ryuga segera pergi berlari dengan memegang tangan Elena. Menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, Ryu menemukan sebuah gang yang cukup sempit.
"Kenapa membawaku kemari— Ah... jangan-jangan kamu ingin melakukan untuk pertama kalinya disini?" Elena terkejut karena Ryuga tiba-tiba membawanya masuk kedalam sebuah gang sempit. Wajah cantiknya memerah saat memikirkan hal-hal yang ingin dilakukan Ryuga selanjutnya.
Ryu kemudian melepaskan tangan Elena. "Hey, jangan berpikiran yang tidak-tidak." Ryuga tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya. Selain keras kepala, gadis yang merupakan putri tunggal keluarga Mitsurugi ini ... benar-benar memiliki pemikiran fantasi yang begitu liar!
"Lalu untuk apa masuk kedalam gang sempit ini?" Wajah memerah Elena menghilang, dan digantikan dengan ekspresi serius. Elena saat ini merasakan kalau Ryuga sekarang tidak sedang bercanda.
"Kita sedang diawasi oleh seseorang." Ryuga berkata pelan sambil melihat peta System.
"Dimana? Berapa orang?" Seperti bukan sesuatu yang mengejutkan, Elena bertanya dengan ekspresi datar terlihat diwajahnya.
"Mereka berada diatas gedung, lalu untuk jumlahnya ada lima orang." Ryuga tidak menyembunyikan fakta kalau dia memiliki sebuah kemampuan deteksi, lagi pula Elena sudah melihat beberapa rahasia yang Ryu miliki, jadi tak masalah untuk Elena mengetahuinya.
"Apa perlu kita membunuh mereka semua?" Elena masih berbicara dengan ekspresi datar, namun kali ini terlihat sorot mata yang sangat tajam.
Mendengar Elena tanpa ragu mengatakan 'membunuh mereka semua', Ryuga benar-benar dibuat bertanya-tanya.
Apa yang membuat gadis ini begitu kejam?
"Itu tidak perlu." Ryuga menggelengkan kepala, lalu ia melanjutkan, "Kau terlihat cukup tenang?" Biasanya jika seseorang mengetahui kalau dirinya sedang diikuti atau pun diawasi, mereka akan merasa gelisah, bahkan takut.
"Aku sudah terbiasa." Walau pun masih memasang ekspresi datar, namun terdengar nada lesu dari jawaban Elena.
Ryuga menganggukkan kepala. Sebagai putri tunggal keluarga Mitsurugi dan keponakan langsung dari raja kerajaan Inggris, status tersebut cukup untuk menjadikan Elena sebagai incaran beberapa pihak musuh.
"Mereka datang." Ryuga mengeluarkan pedang Kristal Es dari cincin penyimpanan, bersiap jika beberapa orang yang mengikuti itu akan langsung menyerang dirinya maupun Elena.
__ADS_1
Elena terlihat tidak khawatir sama sekali, bagaimanapun dengan kekuatan yang pernah ditunjukan Ryuga, hampir tidak ada orang yang sanggup melawannya kecuali Hunter tingkat tinggi seperti ayahnya.
"Aku baru ingat, kalau 5 menit lagi akademi akan melakukan pelatihan khusus pada murid yang menjadi perwakilan dalam turnamen." Elena tiba-tiba membicarakan suatu hal yang berkaitan tentang turnamen.
"Kenapa baru bilang sekarang?" Mendengar Elena baru saja mengatakan sesuatu yang cukup penting itu, Ryuga lagi-lagi hanya dapat mengeluh dalam hatinya.
Tidak ada pilihan lain.
Ryuga memasukan kembali pedang Kristal Es kedalam cincin dimensi, ia kemudian mendekatkan badannya kepada Elena. Melihat Ryuga hanya berjarak satu jengkal darinya, jantung Elena semakin lama semakin berdetak lebih keras karena merasa gugup.
"A-apa yang–"
Tidak menyelesaikan pertanyaannya, Elena dikejutkan lagi oleh Ryuga yang tiba-tiba melingkarkan lengan kanan ke lehernya. "Diam sebentar, kita akan pergi." Ryuga berbisik pelan.
Sangat dekat!
Elena tidak bisa menahannya lagi, akibat Ryuga berbisik sangat dekat pada telinganya, wajah Elena berserta telinganya itu memerah karena merasa sangat gugup dan malu.
"Shadow Exchange."
Bayangan dibawah kaki Ryuga bergerak-gerak. Melihat itu Elena sedikit panik, tetapi suara seorang pemuda yang merangkulnya itu menenangkan dirinya. "Jangan khawatir."
Mendengar Ryuga mengatakan itu dengan penuh keyakinan, Elena pun menutup kedua matanya, kemudian ia membenamkan kepalanya masuk kedalam dekapan dada Ryuga.
Bayangan dibawah kaki Ryuga yang bergerak-gerak itu melebar, hingga pada detik berikutnya bayangan tersebut melonjak naik keatas dan menelan Ryuga berserta Elena.
Sekarang di gang sempit Ryuga berada tadi digantikan oleh salah satu prajurit bayangan. Prajurit bayangan yang merupakan monster Orc itu menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, merasakan kehadiran beberapa orang yang mendekat, monster Orc itu langsung merubah dirinya menjadi bayangan dan segera bersembunyi kedalam bayang-bayang gedung.
"Sial, kita kehilangan jejak mereka!" Kata seseorang yang menggunakan jubah dengan memakai topeng tengkorak diwajahnya.
"Tidak, tugas kita sudah selesai." Rekan dari seseorang berjubah membalas.
"Itu benar, tugas kita hanya mengawasi dan memberi informasi kepada pak tua itu," tambah rekan lainnya.
"Kalau begitu ayo pergi, aku merasakan kalau bocah tadi telah menyadari keberadaan kita." Suaranya terdengar berat dan serak, dia memakai sebuah topeng tengkorak bertanduk untuk menutupi wajahnya. Terlihat jelas kalau orang bertopeng itu adalah pemimpin kelompok lima orang yang mengawasi Ryuga tadi.
__ADS_1
"Baik ketua," sahut rekan lainnya.
....