
"Awpa kwakak jwuga bwaru selesai lawtihan?"
Ryuga menelan makanan yang ada di mulutnya. "Aoi, selesaikan dulu makanan mu. Benar, kakak baru saja selesai latihan."
"Bwaik."
Sakura dan Kei tertawa kecil melihat tingkah lucu Aoi yang berbicara dengan mulut penuh makanan. Beberapa menit kemudian, mereka berempat telah menyelesaikan makan malamnya.
"Terima kasih atas makanannya."
Kei mengangkat kedua tangan ke atas, terlihat ekspresi puas pada wajahnya. "Ah~ kenyang sekali, apa Yuki yang membuat ini semua?"
"Tidak juga, aku dibantu oleh Bibi dirumah." Sakura menjawab sembari membereskan kotak makanan.
"Bibi? Bukan ibumu?" tanya Kei.
"Ibuku ... aku tidak tahu dia ada dimana." Sakura nampak lesu.
"Apa yang kamu maksud, Yuki?" tanya Kei bingung.
Sakura tersenyum. "Sampai sekarang aku belum pernah melihat wajah ibuku."
"..."
~Hening
"Maafkan aku, Yuki." Kei meminta maaf, ia sadar kalau pertanyaan tadi sangat sensitif.
"Ah bukan berarti ibuku sudah meninggal, ayah bilang dia pergi entah kemana, tapi yang jelas sekarang dia masih hidup." Sakura tersenyum cerah, ia tidak mau membuat teman-temannya merasa iba dengan dirinya.
'Mungkin.'
Dalam hatinya Sakura juga bertanya-tanya, jika ayah bilang ibunya masih hidup, tetapi kemana dia pergi. Apa alasan dia begitu tega pergi meninggalkan putrinya?
Deg!
Saat memikirkan itu, tiba-tiba detak jantung Sakura berhenti.
'Sakura.'
'Sakura.'
'Sakura.'
Dalam pikiran Sakura terdengar suara wanita sedang memanggil dirinya, suara wanita itu terdengar lembut, meskipun pertama kali mendengarnya tetapi Sakura merasakan keakraban dengan suara tersebut.
'Siapa? Siapa yang berbicara?'
Sakura memegang kepalanya yang mulai terasa sakit.
'Sakura... '
"Sakura, apa kamu baik-baik saja?" Melihat Sakura seperti orang yang sedang kesakitan, Ryuga tentu merasa khawatir.
"Hah~Hah aku... " Nafas Sakura mulai tidak beraturan.
Akibat dari jantung yang berhenti secara tiba-tiba, darah pun ikut berhenti mengalir ke seluruh tubuh, hal itu membuat kepala Sakura terasa sangat sakit. Jika manusia biasa, dalam waktu dua puluh detik mereka akan langsung kehilangan kesadaran.
'Sakura kau lihat manusia-manusia itu? Bunuh mereka!'
Suara wanita asing itu bergema dengan keras dalam pikiran Sakura.
"Siapa kamu?!"
"Sakura, apa yang terjadi?!" Ryuga mendekati Sakura.
'Mereka adalah makanan.'
'Mereka harus mati.'
'Bunuh mereka.'
'Bunuh.'
'Bunuh.'
'BUNUH!!!'
"TIDAK!!!"
Bruk!
Sakura jatuh dan kehilangan kesadaran, melihat itu dengan sigap Ryuga menangkap tubuh Sakura. 'Sebenarnya ... apa yang terjadi?' Ryuga dibuat bingung dengan Sakura yang tiba-tiba jatuh kehilangan kesadaran.
"Kakak kakak, kenapa kak Sakura terlihat kesakitan dan pingsan?" Aoi bertanya dengan ekspresi khawatir.
__ADS_1
"Ryu apa kamu mengetahui penyebabnya?" Kei sendiri kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Sakura.
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Sebaiknya kamu antar Yuki kembali asramanya." Kei memberi saran.
"Aku mengerti." Ryuga mengangguk, kemudian melanjutkan dengan melihat ke arah Aoi. "Aoi, kamu disini sebentar bersama kakak Kei, ada hal penting yang harus kakak bicarakan dengan Aoi."
Aoi mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah kak. Kakak bisa tenang mengantarkan kak Sakura kembali."
Ryuga kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke wajah Sakura. 'Sepertinya aku baru sadar, kalau Sakura...'
Ryuga menggelengkan kepala. 'Tidak-tidak, bukan waktunya untuk itu. System apa kau bisa memeriksa keadaan gadis ini?' tanya Ryuga kepada System.
[Ding]
[Sedang Menganalisa~]
[Ding]
[Analisa Berhasil: Bloodline Yang Ada Pada Tubuh Gadis Itu Mulai Bangkit]
'Bloodline? Apa yang kau maksud itu ... garis darah atau keturunan?'
[Host Benar]
'Aku mengerti, tapi kenapa Sakura terlihat sangat kesakitan?'
[Itu Karena Efek Samping Kebangkitan Bloodline]
[Peringatan! Jika Tidak Mendapatkan Penanganan Yang Tepat, Dalam Waktu Tertentu Kesadaran Gadis Itu Akan Diambil Alih Oleh Kesadaran Lain Yang Penuh Rasa Haus Darah]
'Haus darah? Bisakah kamu menjelaskan lebih detail lagi?'
Dalam isi kepala Ryuga, dia memikirkan suatu tebakan gila tentang kondisi tubuh Sakura sekarang.
[Gadis Itu Memiliki Garis Darah Murni Yang Diwariskan Orang Tuanya, System Mendeteksi Kalau Tubuh Gadis Itu Memiliki Kemurnian Garis Darah 100%]
[Dalam Legenda Hanya Leluhur Pertama Mereka Yang Memiliki Kemurnian Garis Darah Hingga 100%, Dan Nama Garis Keturunan Itu Adalah~]
'Vampir!'
[Vampire]
***
Seorang pria paruh baya dengan warna rambut hitam keputihan mengeluh, pria paruh baya itu saat ini sedang berada dalam ruang bawah tanah, bau pengap dan juga minimnya penerangan membuatnya mengeluh.
Tak! Tak!
"Anda datang Takehashi Jin, Guild Master Blood Wolf."
Seseorang yang memakai jubah hitam, dengan topeng tengkorak dan dua tanduk diatasnya menyapa.
"Saya ingin meminta bantuan organisasi kalian lagi," kata Takehashi Jin, Guild Master Blood Wolf.
"Oh~" Orang bertopeng tengkorak menyipitkan kedua matanya. "Kebetulan sekali, Lord kita sekarang berada disini," lanjut sosok bertopeng.
"Lord kalian?" Takehashi Jin mengerutkan kening.
"Ya, tuan kita yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin organisasi ini sedang berada disini. Anda bisa langsung berbicara dengan beliau."
"Oh... benarkah? Sebuah kehormatan bagi saya." Takehashi Jin tampak bersemangat.
"Tapi ingat! Jangan sampai menyinggung perasaan Lord, kalau anda melupakan ini, maka anda tidak akan bisa membayangkan konsekuensinya." Sosok bertopeng mengingatkan Guild Master Blood Wolf.
"Saya mengerti." Takehashi Jin mengangguk.
"Kalau begitu, saya akan mengantarkan anda kepada Lord." Sosok bertopeng kemudian berjalan, mengantarkan Takehashi Jin untuk menghadap pimpinan mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah sampai didepan pintu yang terlihat sangat besar. "Lord ada didalam, saya hanya bisa mengantarkan anda sampai disini." Setelah mengatakan itu, sosok bertopeng kemudian membukakan pintu besar tersebut.
"Baiklah, terima kasih. Nama anda... ?"
Dibalik topeng tengkoraknya ia tersenyum. "Nama saya Kagemi." Sosok bertopeng itu menyebutkan namanya.
"Terima kasih tuan Kagemi, saya akan masuk terlebih dahulu." Takehashi terlihat sangat puas, dirinya dapat mengetahui nama dari salah satu anggota organisasi misterius ini.
"Ya ... jangan sungkan." Jika Takehashi Jin tahu Kagemi, sosok bertopeng itu tersenyum, maka dia akan menarik kembali kata-katanya. Karena dibalik topeng Kagemi bukan tersenyum ramah seperti orang-orang pada umumnya.
Melainkan sebuah senyuman seringaian sinis, terpatri jelas dibalik topeng tengkorak Kagemi.
Tanpa ragu Takehashi Jin masuk kedalam ruangan, kali ini ruangan terlihat lebih banyak obor sebagai alat penerangan. Sesaat setelah Takehashi Jin masuk, terdengar suara yang menggema dalam ruangan tersebut.
"Jadi kau Takehashi Jin, Guild Master Blood Wolf."
__ADS_1
Dalam ruangan nampak sebuah singgasana yang seluruhnya terbuat dari tengkorak manusia, diatas singgasana tersebut duduk seorang pria berambut hitam panjang, dia duduk dengan melipatkan kaki dan menyangga dagunya menggunakan tangan kanan.
"Itu benar, tuan." Tanpa sadar, Takehashi Jin memberi penghormatan kepada pria yang duduk diatas singgasana dengan berlutut satu kaki.
"Kudengar kamu pernah meminta bantuan organisasi ku sekali, sekarang apa yang kau minta?"
Ketika pria yang duduk diatas berbicara, Takehashi Jin merasakan tekanan kuat, tekanan itu sampai-sampai menekan mentalnya.
"Sa-saya ingin meminta organisasi tuan untuk membunuh seorang anak." Takehashi Jin langsung memberitahu tujuannya datang kemari.
"Seorang anak? Apa ada anak-anak yang bisa mengancam Guild Master sepertimu?" Pria diatas singgasana itu berkata dengan nada mengejek.
"Dia bukan anak biasa tuan, saya pernah mengirim mantan Hunter S–Rank untuk membunuhnya, tapi orang saya kirim tidak pernah kembali sampai saat ini."
"Apa kau sudah memastikan kalau anak itu tidak memiliki penjaga bersamanya?"
"Ya, saya sudah memastikan itu tuan."
"Hoho anak yang menarik." Pria yang duduk diatas singgasana itu tampak tertarik dengan anak yang dimaksud Takehashi Jin. "Apa hanya itu?" lanjutnya bertanya.
"Se-sebenarnya masih ada satu permintaan lagi, tuan."
"Katakan."
"Saya ingin meminta bantuan anda secara pribadi untuk menghancurkan Guild Asagi."
"Apa kau memiliki alasan?"
"Saya merasa akhir-akhir ini Guild Asagi selalu mengawasi pergerakan kami, jadi saya ingin menghancurkannya sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi!" Takahashi Jin mengepalkan erat kedua tangannya, dia terlihat sangat bersemangat menantikan kehancuran Guild Asagi.
"Kebetulan yang sangat menyedihkan, Guild Master Blood Wolf." Pria diatas singgasana itu tiba-tiba berdiri, dia berjalan ke arah Takehashi Jin.
"Apa, apa yang anda maksud?" Takehashi Jin sedikit terkejut ketika melihat pemimpin organisasi misterius ini menghampiri dirinya.
"Aku setuju. Aku akan membantumu untuk membunuh anak yang kau maksud dan menghancurkan Guild Asagi."
"Jadi anda—" Takahashi Jin tidak menyelesaikan ucapannya, saat ini dia merasakan tangan dingin yang sedang mencengkram erat kepalanya.
"Aku juga sama denganmu, berniat menghancurkan Guild Asagi. Tapi,"
Takehashi Jin membuka mata lebar-lebar, dia merasakan tangan yang mencengkram kepalanya semakin menguat.
"Tapi aku memiliki tujuan lain. Agar lebih mudah untuk menjalankan rencana milikku, aku akan merebut semua apa yang kau miliki. Baik itu identitas, ingatan, bahkan keluargamu."
Pemimpin organisasi misterius itu mendekatkan wajahnya ke wajah Takehashi Jin. "Nah katakan padaku Guild Master Blood Wolf, kebetulan itu ... sangat menyedihkan, bukan?"
Takehashi Jin ingin bergerak dan melawan, akan tetapi sebuah energi tak kasap mata membatasi pergerakannya.
"Apa kau bingung? Hahaha jelas kau merasa bingung dengan apa yang terjadi!" Pemimpin organisasi misterius tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat mengerikan.
"Apa ada kata-kata terkahir? Ah benar, katakan selamat tinggal pada dunia yang indah ini."
"Ke-pa-rat!"
Bukannya marah mendengar ucapan Takehashi Jin, pria yang merupakan pemimpin organisasi misterius itu justru tertawa terbahak-bahak.
"Sudah beberapa tahun aku ada di dunia ini, tapi pertama kalinya aku mendengar kata-kata terakhir seperti itu. Hehe, dunia ini benar-benar hebat!"
"Ka-kau ... si-siapa?!"
"Masih bisa bicara ternyata." Pemimpin organisasi misterius sedikit terkejut. "Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan mu, sampai jumpa lagi~ Guild Master Blood Wolf."
"Argh... !!!"
Terdengar teriakan mengerikan dari mulut Takehashi Jin, kulit kepala dan tubuhnya tiba-tiba mengelupas. Hingga beberapa detik kemudian, seluruh tubuh Guild Master Blood Wolf hanya tersisa kerangka tengkoraknya saja.
"Ah~ Nikmat, rasa ini benar-benar terbaik!" Penampilan pria yang merupakan pemimpin organisasi misterius mengalami perubahan, dari yang awalnya berambut hitam panjang, kini berubah menjadi sama persis seperti penampilan Takehashi Jin.
"Aku tak menyangka, manusia satu ini cukup kejam, dia rela melakukan apapun demi mencapai tujuannya." Setelah mendapatkan identitas sebagai Takehashi Jin, pria itu juga memiliki ingatannya.
"Tapi ... bukankah itu sama denganku?"
"Hehehe~ Hahaha~!"
Kagemi yang berada diluar ruangan mendengar itu semua, gelak tawanya benar-benar terdengar sangat mengerikan!
"Kagemi." Panggil pria tersebut.
"Saya disini, My Lord." Kagemi tiba-tiba muncul dan berlutut dihadapan pemimpin nya.
"Mulai sekarang identitas ku adalah Guild Master Blood Wolf. Lakukan perintahku, suruh orang-orang kita yang ada di negara ini untuk pergi ke Guild Blood Wolf."
"Sesuai keinginan anda My Lor– tidak, Guild Master." Menunduk patuh, Kagemi langsung menghilang dari tempat untuk melaksanakan perintah dari pemimpinnya.
Mulai saat ini dan seterusnya, Guild Master Blood Wolf yang asli telah tiada, lalu siapa sosok misterius yang membunuh dan mengambil identitasnya?
__ADS_1
>Bersambung