
Kemarahan di hati Ayudia serasa akan meluap , setiap ia mengingat dan medengar nama Dilan . Ayu selalu kehilangan kendali akan dirinya , begitu sakit yang ia rasakan sampai membuat dadanya seakan tidak kuat menarimannya .
" aaaaaaaa!!!" Teriakan prustasi Ayudia di tepi jembatan yang tengah sepi .
Dengan berteriak sekeras dan sekuat ia bisa dapat membantu meringankan rasa prustasinya kepada Dilan . Ia tidak menyangka sudah 4 tahun berlalu namun ia masih saja merasa sakit sekali setiap mengginggat masa lalunya .
" Aku benci kamu !!!!!" teriak Ayudia lagi bersamaan dengan bulir bening yang keluar dari kedua mata Ayudia yang terlihat memarah .
Aku benci kamu , benci kamu Dilan . kenapa kamu harus hadir dalam hidup dan hatiku ! . jika hanya akhirnya hanya membuat aku sakit , kenapa kau toreh kan luka yang sedalam ini . Kenapa ? kenapa jika kamu tidak mencintaiku , kenapa kau perduli dan memperhatikan ku ? seharusnya kau abaikan saja aku seperti dulu , maka aku tak akan merasakan sakit sedalam ini dan mengharapkan mu !"
Ucap Ayudia yang sangat merasa hancur akan perasaan yang ia miliki untuk.seorang Dilan . Ia berjongkok dan memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya untuk menutupi tangisannya yang sudah pecah dan tidak tertahankan lagi .
Tanpa Ayudia sadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang tengah menatapnya nanar dari belakang tubuhnya . Pemuda yang selalu mendampinginya , yang selalu menjaganya selama ini . Pemuda itu ikut larut dalam kesedihan dari gadis yang ia cintai selama ini .
" Mau sampai kapan kamu nangis di sana manisku ?" tanya Vin yang sudah melihat Ayu dalam kondisi itu hampir 15 menit lamanya .
" Vin " Ayu menggenali suara itu . Segera Ayu menghapus kasar wajah basahnya dengan kedua tangannya , ia tidak mau Vin tahu ia habis menangis lagi .
Hap...
Vincent menangkap tubuh Ayu yang hampir roboh , Karena kakinya yang merasa mati rasa . Mungkin karena Ayu terlalu lama berjongkok tadi .
__ADS_1
" Ceroboh kamu cantikku " ucap Vin menatap mata Ayu yang masih sembab .
" Jangan kamu buang air mata mu yabg berharga ini sayang ku , karena aku tidak pernah rela melihatnya jatuh lagi " Vin menghapus sisa air mata Ayu dengan penuh kasih sayang .
Ayu membenarkan tubuhnya dan berdiri tegap , Ia merasa canggung atas tindakam Vin . Ia juga tidak ingin salah paham lagi atas kebaikan seorang pria kepadanya .
" Mau makan ?" tanya Vin yang tahu jika Ayu belum makan , karena ia mendapatkan telpon dari Dira jika Ayu meninggalkan rumah dalam kondisi marah dan belum makan pagi .
" Aku ga lapar , Vin " Tolak Ayu yang tidak berselera untuk makan saat ini . Rasanya ia sudah kenyang setelah menangis .
" cantik...kamu nanti akan sakit jika tidak makan , kalau kamu sakit nanti aku juga akan sakit . Karena aku ga bisa melihat kamu sakit walau sedikit pun " Rayu Vin yang membuat Ayu geleng-geleng kepala . Vin selalu pandai berkata manis kepadanya dan itu membuat Ayu geli .
" Vin...aku jijik tahu jika kamu selalu bicara manis , aku ga pantes nerima ucapan manis mu " ucap Ayu .
" Kamu tuh ya , rayu aja cewek lain . aku yakin mereka ga akan nolak dan siap ngantri jadi pacar kamu " Ucap Ayu menyingkirkan tangan Vin dari rambutnya .
" Tapi rayuan ku hanya untuk kamu cinta , bukan untuk yang lain . Karena hanya kamu yang pantas dan kamu yang spesial untuk ku " jawab Vin dengan jujur , jika Ayu menyadarinya .
" terserah " Ucap Ayu dan mendekati motor sportnya dan menaikinya , Vin segera menyusul dan naik di bangku belakang Ayu .
" ngapain kamu ?!" tanya Ayu .
__ADS_1
" Pulanglah , mau ngapain lagi sayang ku" jawab Vin memeluk pinggang Ayu .
" kamu pulang aja ama motor kamu lah , bukan ikut aku Vin " sahut Ayu yang memakai helm .
" aku ga bawa motor tadi " jawab Vin yang setia memeluk punggung Ayu .
" Terus tadi naik apa ?"
" ojol " jawab singkat Vin ia terpaksa berbohong .
Ayu menghela nafas kasar dan melajukan motornya .
" mau ngebut , Vin ?" tanya Ayu yang tahu jika Vincent tidak suka mengebut .
" jangan macem-macem kamu ya " ucap Vin yang nampak ketakutan .
Ayu tersenyum jahil dan menambahkan kecepatan tinggi , Vin semakin kencang memeluk Ayu dan tangannya gemetaran karena menahan takut .
Ayu merasa sangat puas dan senang bisa membuat Vin ketakutan , dan kelakuannya itu sedikit dapat mengurangi rasa sedihnya itu dan dapat membuat Ayu mengukir senyuman di wajahnya .
kau adalah sahabat terbaik yang di berikan Tuhan kepada ku di saat aku kehilangam cinta ku , kau yang selama ini selalu ada untuk aku . Mau aku senang dan sedih . Aku berharap bisa membalas semua jasa mu , Vincent .
__ADS_1
Ucap Ayudia di dalam hatinya sambil ia fokus membawa motornya , rasa sedihnya sudah membaik saat ini .