
Vincent nampak diam mematung saat ia membaca hasil DNA yang di lakukan Bram .
" Aku anak siapa ?" tanya Vin yang nampak syok akan kenyataan ini . Vin bahkan tertawa sendiri seperti orang gila saat ia tahu selama ini , papa yang ia pikir papa kandungnya ternyata hanyalah orang lain .
Bram dan Anna nampak iba akan kesedihan Vin , Anna berpindah duduk dan memberikan pelukan untuk Vincent .Dan anehnya Vin menerima pelukan dari wanita yang selama ini ia benci sepanjang hidupnya .
" Meski ku anak kandung atau bukan , papa mu tetaplah mas Bram . Hasil tidak akan merubah apapun " ucap Anna yang menyayangi Vin sejak ia pertama melihatnya .
Dilan nampak kesal mamanya memeluk pria lain selain dirinya .
" Jadi mama yang menjebak papa untuk membuat papa tanggung jawab ?" tanya Vin yang sudah muai tenang .
" Ya , tapi papa tidak menyesal Vin . Karena papa mendapatkan kamu , kamu adalah anak papa Vin . Mau sampai kapan pun kamu akan menjadi anak papa , maaf papa membuka rahasia ini " ucap Bram membelai pundah kanan Vin .
" Lalu apa lagi yang akan om sampaikan ? ga mungkin hanya membuka identitas Vin saja sampai harus aku dan mama menjadi saksi " Tanya Dilan yang masih terlihat santai .
__ADS_1
Bram menyodorkan amplop coklat dan dan di terima Dilan . Ia membukannya tanpa rasa ragu sama sekali , ternyata tetdapat beberapa foto dan rekaman .
" Foto siapa ?" tanya Dilan santai .
Vin penasaran akan foto wanita yang ia kenal di tangan Dilan . Vin merebutnya begitu saja .
" Mama " ucap Vin lirih saat ia melihat foto masa muda mamanya sedang duduk di restoran bersama seorang pria .
" Kenapa ada foto mama , pa ?" tanya Vin . Ia seakan merasakan firasat buruk lagi , Vin dapat melihatnya dari mata Bram yang nampak sendu .
Dilan meraih rekaman itu dan menyalakannya .
Diana :Bagaimana ? kau sudah membuat mobil Gibran blong ?
Pria : Sudah , tinggal kita tunggu kabar kecelakaan mereka . Apa kau puas ? jika sampai mereka semua mati ?
__ADS_1
Diana : Aku hanya puas jika Anna yang mati , ya ...tapi tak apalah jika Gibran dan Sinta mau menemani .
Dilan sudah mengeratkan kedua tangannya , menegpal kuat menahan gejolak Amarahnaya . Dilan menatap tajam kepada Vin yang masih diam mematung di tempatnya . Vin nampak syok dan sangat syok sekali , lagi-lagi ia harus menerima kejahatan mamanya yang teramat kelewatan .
Vin segera berdiri dan meraih rekaman yang belum selesai di dengarkan . Vin pergi bergegas dari sana dan di susul Dilan . Dilan berfikir jika Vin akan menghilangkan bukti kejahatan mamanya .
" Kau pikir bisa lepas ? kau mau menolong pembunuh itu ?!" tanya Dilan yang menarik kasar jas Vin menghadap dirinya .
Namun apa , Dilan melihat Vin terlihat kacau dan menangis .
" Aku terlalu malu , aku malu akan perbuatan mama ku . Bahkan aku tidak sangup lagi menyebutnya mama ." ucap Vin yang menangis di pelukan Dilan . Ia sudah tidak memikirkan gensi lagi atau harga dirinya . Saat ini duninya serasa hancur dan sudah runtuh tak tersisa .
" Maaf Dilan , aku minta maaf telah menjadi anak pembunuh keluarga mu " ucap Vin lagi yang melepaskan pelukan itu .
" Biarkan aku yang membawa mama ku kepenjara " Pinta Vin sambil memghapus kasar air matanya .
__ADS_1
Dilan hanya diam saja , seluruh emosinya hilang saat ia melihat kehancuran Vin di depan matanya .
" Aku tunggu " jawab Dilan yang menyerahkan segalanya kepada Vin . Ia percaya jika Vin tidak akan membohonginya .