
Anna dan Bram nampak saling berdiam diri di ruangan kamar inap Bram di rumah sakit .
Sedari kemarin Anna nampak diam dan memilih duduk di sofa panjang yang di sediakan rumah sakit . Sementara Bram masih berbaring lemah di ranjang .
Bram menatap langit-langit atap kamar berwarna putih polos . Ia menghela nafas kasar beberapa kali , pikirannya terlalu banyak sampai membuat kepalanya serasa mau pecah .
" Bagaimana aku harus menempatkan diri ku nantinya , jika Vin dan Dilan bertemu . Bagaimana pun aku sudah mengganggap keduanya adalah putra ku .Namun kenapa mereka malah menyukai gadis yang sama . Aku tidak mau jika mereka sampai saling bermusuhan dan saling membenci , di tambah Vin selama ini sudah salah pahama kepadan Anna dan apa yang akan Dilan lakukan jika tahu Diana yang membuat keluarganya hancur . Aku tidak mau mereka akan meneruskan permusuhan lama ."
Ucap Bram dalam hatinya yang sedang memikirkan kedua anak angkatnya .
Sementara Anna pun begitu , ia termenung dalam mata gelapnya .
" Vin saat ini saja sangat membenci ku , apa lagi jika dia tahu jika Dilan adalah anak kandung ku . Apa mereka akan menjadi musuh ?"
Tanya Anna dalam hatinya yang sedang bimbang .
Ceklek ...
Pintu terbuka dan nampak sosok cantik dan glamor , siapa lagi jika bukan Diana . Istri pertama dari Bram .
" Sayang..." sapa Diana dengan manja dan menghampiri suaminya itu .
" kamu datang ?" tanya Bram dengan wajah dan suara datar . Seakan ia tidak mengharapkan kehadiran Diana sama sekali .
Diana tersenyum kecut akan pertanyaan mantan suaminya itu . Sebenarnya ia sudah bosan bersama Bram yang tidak mau belajar menerima dan mencintainya , namun ia tidak mau mengalah dan membuat Anna menjadi pemenang . Diana tidak akan mau melihat Anna bahagia bersama Bram , karena ia tidak pernah bisa merasa bahagia selama ini .
" Tentu saja Bram ... bagaimana pun aku mantan istrimmu dan mama dari anak mu " jawab Diana dan duduk di ranjang samping Bram .
__ADS_1
Anna nampak diam mematung di tempatnya , ia tidak berani bersuara atau bergerak . Ia tidak mau mempunyai masalah dengan Diana .
Diana melirik sekilas ke arah Diana , senyuman sinis penuh kebencian ia berikan kepada wanita buta .
" Kamu sudah sarapan Bram ?" tanya Diana sambil membelai wajah Bram yang awet muda dan tampan .
" Anna sudah menyuapi ku tadi " jawab Bram dingin .
Diana mengepal tangan satunya menahan rasa marahnya .
" Baguslah jika begitu , aku mau kamu segera sembuh dan kembali pulang " Ucap Diana membelai dada bidang Bram dan menyadarkan kepalanya di sana .
"Lihatlah Anna , hanya aku yang mampu menyentuh tubuh Bram "
Ucap Diana dalam hatinya sambil melirik Anna .
" Kemarilah nak " pinta Bram dengan lembut .
Vincent nampak engan , namun ia sudah janji kepada Diana akan bersikap baik kepada Bram hari ini .
Ia melangkahkan kakinya dan menelusuri isi kamar Bram , dan ia melihat sosok wanita yang ia benci .
Rasanya dada Vin langsung panas menahan emosi .
"Perempuan hina itu di sini ?"
Ucap Vin dalam hatinya menatap Anna penuh kebencian . Anna merasa jika bulu kuduknya merinding , ia sadar jika ia mendapatkan tatapan iblis dari Vin . Namun Anna bersikap jika ia tidak tahu apa-apa .
__ADS_1
Vin pun berhenti di dekat Diana .
" bagaimana ke adaan papa ?" tanya Vin .
Bram tersenyum mendengar pertanyaan Vincent . Ia membangunkan Diana dari pelukannya dengan lembut sambil tersenyum .
" Aku mau duduk " ucap Bram ramah kepada Diana , ia sengaja berbuat baik kepada Diana karena Vin sudah terlihat baik kepadanya .
" papa sudah mendingan nak , apa lagi setelah kamu datang . Papa sangat bahagia " ucap Bram sangat senang melihat Vin berdiri di dekatnya .
"Aku serasa orang asing yang berada di sini , apa aku lebih baik keluar dulu ya ?"
Ucap Anna dalam hatinya yang tidak mau menggangu kehangatan keluarga Bram saat ini .
" kamu mau kemana ?" tanya Bram yang melihat Anna akan beranjak keluar kamar .
" Mas...aku bosan ada di dalam , aku mau ke taman menghirup udara segar " jawab Anna sambil tersenyum dan menunjukkan jika ia baik-baik saja .
" hati-hati" pesan Bram .
" ya mas , Mas Anto akan menjaga ku " ucap Anna dan melanjutkan langkahnya dan segera di sambut Anto di depan pintu .
" Mari nyonya Anna " ucap Anto membantu jalan Anna .
Bram pun melihat Anna sudah pergi bersama Anto , ia merasa jika Anna lebih baik menjauh dulu dari pada nanti Diana akan mencari masalah dengan Anna .
Vin melihat sinis Anna yang meninggalkan ruangan Bram .
__ADS_1