
" Panas Dilan " ucap Ayu yang kepanasan akan minuman yang di tumpahkan Sri , ya karena memang air yang di buat untuk membuat susu dan kopi memang air yang baru mendidih .
" Ada apa tuan muda ?!" tanya Salma yang mendengar suara Ayu yang kepanasan .
" Bu! kurung dia !" Ucap Dilan lantang dan meminta Salma mengurung Sri .
" taruh di gudang belakang !" lanjut Dilan yang nampak murka akan kecerobohan Sri yang membuat Ayudia terluka .
Dilan segera membopong Ayu menuju kamar atas dan mengobati luka Ayudia .
" Tu..tuan jangan " pinta Sri saat ia mencoba mengejar Dilan .
" sini ! ikut saya " Tarik Salma kasar pergelangan tangan Sri .
Sri terpaksa menurut dengan kakinya yang sakit akibat keseleo karena dorongan kasar dar Dilan tadi .
" renungkan perbuatan mu , saya sudah bilang jangan macam-macam dengan nona Ayudia . Bersiaplah terima hukuman dari tuan nanti " Ucap Salma dan menutup pintu gudang dan menguncinya dari luar .
" Bu....jangan bu ! aku takut gelap Bu !!" teriak Sri yang takut berada di gudang yang gelap dan banyak tikus di sana .
Ia terus mengedor-gedor pintu gudang untuk meminta di buka , namun itu semua sia-sia karena gudang dan kediaman Dilan terpisah dan berjarak 20 meter dan tidak akan terdengar teriakan dan gedoran pintu gudang .
" keluarkan aku !!" teriak Sri yang mulai lelah akan usahanya meminta di bukakan pintu .
Ia akhirnya memilih duduk di lantai yang kotor dan bersandar pada dinding . Suasana gudang yang gelap dan pengap membuat Sri ketakutan dan mulai menangis , namun ia tidak menyesali apa yang ia perbuat tadi . Malah menambah rasa bencinya kepada Ayudia .
Aku akan balas semua
__ADS_1
ucap Sri dalam hatinya sambil menggenggam erat tangannya .
Di kamar Dilan .
Dengan hati-hati Dilan mengoleskan salep kepada paha kanan Ayudia yang melepuh terkena air panah dan nampak kemerahan .
" huh...huh..." Dilan sambil meniup pi luka Ayudia agar tidak perih .
Ayu malah geleng-geleng kepala dengan kelakuan Dilan yang memperlakukannya seperti anak kecil .
" Tidak terlalu sakit Dilan " ucap Ayu .
" tidak sakit gimana ? lihat ini sampai memerah " sahut Dilan yang nampak kesal melihat paha kaki Ayudia luka .
" bagaimana nasib Art mu itu ? siapa namanya ?" tanya Ayu yang sedikit kesal jika mengingat kejadian tadi .
" hanya di kurung ? itu terlalu muda " ucap Ayu yang tidak terima membiarkan orang yang membuat ulah dengannya hanya di hukum ringan saja .
" kamu mendendam ?" tanya Dilan .
" sejak kamu memilih memihak rubah itu , aku jadi wanita yang penuh dendam Dilan " Ucapan Ayudia membuka luka lamanya lagi .
" Maaf " ucap Dilan yang nampak menyesal akan masa lampau .
" aku ingin tidur " ucap Ayu dan berdiri melangkah ke arah ranjang Dilan . Ia berbaring di sana tanpa berselimut .
Dilan menyusul dan menyelimuti Ayudia .
__ADS_1
" mau aku temani ?" tanya Dilan yang berdiri di samping tubuh Ayudia .
"Tidak ! aku mau sendiri , lagi pula aku sakit juga karena ulang mu " ucap Ayu kesal .
" dimana salah ku ??" tanya Dilan tidak mengerti .
" kamu ga tahu apa pura-pura ? dia sepertinya suka sama kamu " jawab ayu yang nampak kesal .
" kenapa ga di pecat aja " lanjut Ayu .
" mana bisa , dia ...dia sahabat almarhum mama Anna , Ayudia " jelas Dilan yang tidak mudah memecatnya , apalagi ia berjanji akan memperkerjakan dia sebelum orang tuanya tiada .
" Oma Anna ?" ulang Ayudia yang merasa tidak asing akan nama Anna .
Ayu tahu jika nama mama Dilan adalah Anna , hanya saja ia lupa akan wajahnya .
" keluarlah Dilan , aku mau tidur " usir Ayu .
Cup
Dilan memberikan sebuah kecupan di kening Ayudia .
" selamat malam " Ucap Dilan dan segera melangkah keluar dan menutup pintu kamar .
Usai Dilan pergi Ayu tersenyum melihat kepergian Dilan , ia menyentuh bekas kecupan dari Dilan . Rasanya seperti mimpi bisa kembali lagi bersama Dilan , namun tiba-tiba Ayudia menjadi murung saat ia teringat kepada Vincent .
" Aku terlalu jahat kepadanya , saat aku sedih dia ada untuk aku . Saat ia sedih aku malah pergi dengan Dilan , maafkan aku Vin " Ayu mulai menutup kedua bola matanya dan memasuki alam mimpi
__ADS_1