
Dira menemani Anna duduk di sofa ruangan tempat Bram di rawat .
" Apa dia sehat ?" tanya Anna .
" dia sangat sehat Anna , bahkan dia tumbuh menjadi pria yang tampan " sahut Raffa yang menemani Bram .
" benarkah ?" tanya Anna nampak senang , namun kemudian ia terlihat sedih .
" Apakah ia masih menggingatku dan mau menerima ku ? " ucap Anna merasa kecewa akan kondisinya saat ini .
" apa kamu meragukan kebaikan anakmu Anna ?" tanya Rafa yang melohat ketakutan Anna jika sampai Dilan tidak menerimannya.
Dira membelai pundak Anna , memberikan kekuatan .
" kenapa kamu bisa berfikir seperti itu Anna , Dilan pasti menerima mu dan pasti ia akan bahagia jika tahu mamanya masih hidup " ucap Dira .
" aku merindukannya Dira , ingin sekali aku segera memeluknya sekarang " ucap Anna yang sangat rindu .
" sabar Anna , jika waktunya datang dia akan menemui mu . tapi saat ini jangan gangu dulu anak kita " ucap Raffa .
" anak kita ?" ulang Bram akan ucapan Raffa yang membuatnya salah paham .
" maksud Raffa anak aku dan anak Anna , mas " jelas Dira yang tak mau suami Anna mengira jika Dilan anak suaminya dan Anna .
" oh " Bram merasa lega .
" sepertinya kita akan menjadi besan " ucap Raffa yang nampak senang .
Bram dan Anna tersenyum senang akan ucapan Raffa , namun tidak dengan Dira .
" apa maksud mu Raf ? mereka pacaran ?" tanya Anna .
" kamu tahu , dari kecil anak ku selalu menjadi bayangan Dilan . kemana Dilan berada pasti ada Ayu , mereka sudah seperti perangko saja " jelas Raffa .
" jadi...apa yang di inginkan mas Gibran akan terwujud ?" ucap Anna yang masih ingat perjanjian suaminya dengan Hartanto .
" pastinya , karena aku hanya akan merestui Ayudia menikah dengan Dilan saja " ucap Raffa mantap .
"Ayudia ??"
__ADS_1
Ucap Bram dalam hatinya .
" maksudmu mereka menjalin hubungan ?" tanya Bram yang penasaran .
" ya , mereka memang tidak menjalin hubungan secara resmi , namun aku tahu mereka saling mencintai " ucap Rafa yang sengaja memberi tahu Bram jika anaknya hanya milik Dilan , Bukan Vin anak dari Diana.
Bram nampak tercengang akan ucapan Raffa , Anna pun nampak kaget juga .
"jangan sampai mereka akan saling bermusuhan hanya karena memiliki perasaan kepada wanita yang sama "
Ucap Anna dalam hatinya .
" Bu..bukankah Ayu kekasih anak ku?" tanya Bram yang tahunya memang Ayudia dekat dengan anaknya .
" Apa ?? kamu ada-ada aja Bram , mana mungkin . Ia hanya mengganggap Vin tidak lebih dari teman saja " jawab Rafa santai tidak perduli akan ke adaan . Padahal Dira sudah menatapnya dengan rasa kesal .
" Oh...seperti itu , namun apa kamu tidak tertarik kepada anak ku ? bukannya kamu sudah mengenalnya ?" tanya Bram yang mencari celah untuk anaknya .
" apa kamu ingin bersaing jadi besan ku bersama istri mu Anna ??" tanya Rafa melihat Bram dan Anna .
Anna dan Bram nampak kaget dan saling memandang .
" Ya...ya aku tahu , dulu kalian saling mencintai . Tapi ingat sudah tua masih aja saling pandang " ejek Rafa .
" Salahpaham ??" ulang Rafa yang nampak tertarik dan melihat ke arah Anna .
" Aku belum menikah lagi dan aku tidak akan menikah lagi Rafa " ucap Anna yang masih setia kepada Almarhum Gibran .
" Apa ? jadi kabar yang aku dengar salah ? kamu tidak merebut suami orang dan menjadi orang ketiga ?" tanya Dira di samping Anna .
" Apa yang kamu tanyakan Dira , Anna wanita baik mana mungkin ia menjadi orang ketiga . Dari mana kamu dapat kabar ?" Tanya Bram yang tidak terima wanita yang ia cintai menjadi orang ketiga .
Dira dan Rafa saling menatap .
" Maafkan istri ku Bram , sepertinya Dira mendapatkan informasi yang salah dan dia menerima hasutan " Ucap Rafa yang memandang istrinya yang terlihat malu kerena salah menyangka tentang Anna .
" Maaf Anna , aku sempat berfikir jika kamu jahat dan tega merebut suami sahanat ku Diana " Jelas Dira yang sangat malu .
Bram mengehela nafas kasar , rasanya ia ingin sekali membungkam mulut Diana yang licik .
__ADS_1
" Tidak apa-apa , yang terpenting sekarang kamu tahukan jika itu tidak benar " ucap Anna yang tidak pernah berubah , selalu sabar menerima apapun .
Rafa sangat bangga akan kesabaran Anna .
" Tidak salah tante ku memilih mu Anna " ucap Rafa
" Tante ? maksudnya apa ?"tanya Bram yang belum tahu jika Sinta adalah Tante Rafa .
" Tante ku istri pertama Om Gibran " jawab Rafa .
" Jadi dia yang membuat Anna menjadi istri kedua Gibran ?" tanya Bram yang masih kesal akan sosok Sinta .
" Dia wanita baik mas , wanita langka di dunia ini . Dia juga kakak ku , aku menyayangi beliau " Sahut Anna yang tidak mau Bram menyahkan sosok Sinta .
" Lalu kanapa kamu bisa pisah sama Diana ?" tanya Rafa mengalihkan pembicaraan .
" Gimana lagi , aku muak akan sikapnya . Dia selalu menyalahkan orang lain jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau dan karena dialah , Anna sampai koma sangat lama dan baru sadar 1 tahun lalu " Jelas Bram yang tidak dapat menyembunyikan rahasia lagi .
" gimana ? aku ga paham ?" tanya Rafa yang nampak serius .
" Anna baru sadar dari komanya-" Ucapan Bram di potong Rafa .
" karena Dianalah Anna koma , maksudnya apa ?" Rafa memperjelas pertanyaannya .
Dira nampak serius menyimaknya .
" Diana yang merancang kecelakaan keluarga Gibran " Jawab Bram dengan kepala tertunduk .
Rafa dan Dira terdiam bagaikan patung hidup . Rasa tidak percaya akan ucapan Bram .
Dira sampai gemetar karena sangat syok dan menyentuh bahu Anna .
" Dira " Anna membantu Dira duduk di sofa . Memberinya segelas air putih .
" Di mana Dia !! katakan padaku DIMANA DIA !!" Tanya Rafa yang sudah terbakar emosi ketika ia tahu kecelakaan yang menimpa Tantenya adalah ulah Diana .
" Jangan bertindak gegabah , aku sudah menggumpulkan semua bukti kejahatannya . Jika kamu mau menuntut balas , kamu bisa melaporkan dia ke kantor polisi " Ucap Bram yang tidak ingin Rafa sampai mengotori tangannya .
Rafa menatap tajam istrinya yang nampak syok .
__ADS_1
" KAU LIHAT DIRA ?!! SAHABAT YANG KAU BANGGAKAN DAN KAMU KASIHI !! DIA PEMBUNUH KELUARGA KU !!"Bentak Rafa yang marah akan kebodohan istrinya . Rafa sangat murka , ia keluar kamar dengan membanting pintu kamar sampai rusak .
Anna memeluk Dira yang tangisannya pecah setelah mendapatkan bentakan dari suaminya .