
Perawat pun berlari sambil membawa sebuah box masuk ke dalam ruang operasi. Operasi yang sudah berjalan hampir 2 jam tak kunjung selesai, hingga membuat nenek tua renta tersebut duduk sambil meneteskan air matanya.
Bagyo yang kini pergi pulang, untuk menawarkan tanah agar bisa untuk membiayai pengobatan Chika.
Dokter Monica pun lalu keluar, dan menghampiri Nenek Utami.
" Bu. "
" Bu Dokter, bagaimana cucu saya? "
" Alhamdulillah Operasi selesai, walau tadi sempat terjadi sesuatu." Ucap Dokter Monica.
" Terima kasih Bu Dokter, terima kasih ya Allah."
" Tapi Bu. "
" Panggil saya Nenek saja Bu Dokter." Ucap Nenek Utami.
" Baik Nek, tapi Nek Chika harus tetap menjalani Kemo walau sudah di operasi hanya pengangkatan sebagian kecilnya saja, tapi untuk akarnya sudah menyebar ke seluruh tubuh nya. Dan Kemo itu hanya untuk memperlambat perkembangan sel - sel kanker, dan akar nya. Jadi Chika harus terus pengobatan, tak boleh putus."
" Ya Allah Nak, tapi dengan pengobatan rutin cucu nya akan hidup lebih lama kan Dokter?"
" Kalau masalah itu saya bukan ahlinya, hidup dan maut hanya Allah yang menentukan dan kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan doa."
******
Kang Bagyo pun mencari sertifikat tanah di lemari Nenek Utami, namun sertifikat itu tak di temukan.
" Mungkin di kamar Chika." Ucap Kang Bagyo yang langsung menuju ke kamar Chika.
Kang Bagyo pun mencari sertifikat tersebut di tumpukan baju, dan ternyata sertifikat tersebut di simpan oleh Chika.
Saat hendak melangkah keluar, ponsel Chika kembali berdering dan terlihat panggilan dari Om Tentara.
Kang Bagyo pun mengangkat panggilan tersebut, dan terdengar suara Rio menyapa.
" Alhamdulillah Chika akhirnya kamu angkat juga." Ucap Rio dari seberang.
" Maaf Pak Tentara, ini saya kang Bagyo." Ucap Kang Bagyo.
" Kang Bagyo, mana Chika nya? " Tanya Rio.
" Pak, Chika masuk rumah sakit tadi malam karena dia tak sadar kan diri, bahkan Chika pun harus di operasi." Jawab Kang Bagyo.
Di seberang sana Rio sangat lemas saat mendengar kabar tentang Chika seketika dada Rio menjadi sesak.
" Kondisi nya sekarang bagaimana? "
" Saya kemari dia masih di operasi."
*****
Chika pun masih belum sadar, terlihat alat terpasang di tubuhnya, tak henti - henti nya Nenek Utami menangis.
" Chika, kamu bangun nak kamu pasti bisa melewati semua nya."
Nenek Utami terus membelai pipi Chika, dan mengusap punggung tangan nya.
__ADS_1
" Nenek nggak ada teman lagi kalau kamu masih tetap tidur atau tidak bisa melewati semua nya. Nenek yakin kamu pasti sembuh Chika, kamu akan seperti dulu lagi."
Dokter Monica pun melihat nya dari luar kamar, terlihat panggilan dari Rio namun Monica tak mengangkat panggilan tersebut.
" Apa kamu tahu sekarang kondisi Chika, tidak seperti biasanya kamu menghubungi saya." Ucap Dokter Monica dalam hati.
******
" Kamu mau jual berapa Bagyo? " Tanya Pak Mulya juragan tanah di desanya.
" Kalau bisa jual harga tertinggi, karena Nenek Utami butuh uang." Jawab Kang Bagyo.
" Tapi kalau deal saya harus transaksi dengan Nenek Utami, karena saya tidak mau suatu saat ada masalah." Ucap Pak Mulya.
" Iya Pak saya mengerti."
" Saya bayar tanah seluas itu 350 juta bagaimana? " Ucap Pak Mulya.
" 350 juta? "
" Iya 350 juta."
" Baik saya akan sampai kan ke Nenek Utami.
******
Chika pun masih setia menutup matanya, Nenek Utami tertidur di sofa panjang menemani Chika.
Kang Bagyo datang sambil membawa makanan dan minuman. Terdengar bunyi alat EKG menunjukkan grafik detak jantung Chika.
" Cantik, kamu bangun. Kang Bagyo ingin lihat kamu ceria seperti dulu lagi."
" Bagyo kamu sudah pulang."
" Nek, tanahnya laku di beli Pak Mulya 350 juta bagaimana? "
" 350 juta!!! "
" Iya apakah kurang tinggi? "
" Nggak Bagyo, itu lebih dari cukup untuk pegangan kedepannya. Tapi entah nanti masih butuh biaya banyak tidak."
" Chika bagaimana setelah Operasi?"
" Dia harus rutin pengobatan , kemo pun juga sama karena akar nya sudah menyebar. Hanya satu - satunya jalan pengobatan yang rutin."
" Semoga ada ke ajaiban untuk kamu Chika.
******
Rio berlari menelusuri lorong rumah sakit, dan menuju ruangan Monica. Saat sampai Monica sedang bersama 2 orang teman Dokter nya.
" Bang. " Ucap Monica.
Lalu kedua teman Dokter tersebut pamit untuk meninggalkan pasangan suami istri itu.
" Kamu kenapa nggak kasih kabar kalau mau pulang, saya akan jemput kamu ke Bandara." Ucap Monica menyambut Rio degan mencium punggung tangan Rio.
__ADS_1
Rio pun duduk dengan mengatur nafasnya, dan Monica pun mengambil kan minum untuk Rio.
" Kamu seperti habis di kejar hantu nafas kamu naik turun."
Rio menegak habis minum yang di di beri oleh Monica, Monica pun berjalan mengunci pintu ruangan nya dan memeluk Rio dari belakang.
" Saya kangen kamu Bang." Ucap Monica sambil mencium pipi Rio.
Rio menurunkan tangan nya, dan membuat Monica sedikit kesal.
" Kenapa kamu tidak bilang, kalau kamu menangani Chika? " Tanya Rio.
Dokter Monica pun seketika merasa kesal dengan apa yang ditanya kan Rio.
" Kamu pulang kemari hanya untuk tanya itu, berarti kamu memang mencintai Chika."
" Jadi kamu sudah tahu semua nya."
" Chika memang pasien saya, dia begitu sangat besar mencintai kamu. Sampai dia datang ke tempat kamu tugas. Apakah karena rasa sayang kamu terhadap Chika hingga kamu datang kemari, padahal untuk menemui istrinya saja kamu tidak mau tapi ini demi Chika."
" Kalau boleh jujur Saya mencintainya."
Dokter Monica berkaca - kaca menatap ke arah suaminya, dan membuang wajah nya untuk tidak menangis di depan Rio.
" Apa kamu sudah menyerah dengan pernikahan kita? "
" Buat apa lanjut, kalau kamu masih berat sama orang tua, dan mereka masih ikut campur rumah tangga kita, dan sampai kapan pun orang tua kamu tidak akan pernah suka pada orang tua saya."
" Apa salah nya tinggal bilang iya pada papah, apa salahnya menuruti yang penting kita bahagia."
" Kamu bilang apa salahnya dan kamu ingin saya melupakan Ibu dan Ayah saya, walau mereka buruk di mata kalian mereka tetap orang tua saya dan mereka bagi saya adalah super hero. Kalau sudah masalah orang tua saya maaf saja Monica, saya memang orang tak punya dan tidak seperti kamu yang memiliki rumah sakit kanker ini, walau ini milik yayasan Papah tapi ini adalah warisan untuk kamu. Dan saya menyesal jatuh cinta dan menikahi kamu begitu cepat, ternyata cinta kamu tidak tulus." Ucap Rio langsung beranjak pergi namun Monica menahan Rio.
" Saya tulus mencintai kamu, saya ingin rumah tangga kita tidak berakhir dan saya ingin kita perbaiki hubungan kita. "
" Kalau kamu ingin perbaiki hubungan dengan saya, terima lah kedua orang tua saya."
Rio membuka pintu yang terkunci tersebut dan berjalan keluar mencari kamar rawat Chika.
******
Nenek Utami mengaji di depan Chika, yang kini masih belum sadar. Ada setitik air mata menetes, begitu pun Kang Bagyo yang menatap Chika dengan sendu.
" Nek, Chika kenapa belum bangun."
Nenek Utami mengehentikan mengajinya, dan lalu mencium kening Chika .
" Sayang, kamu tidur jangan lama - lama.Apa kamu sedang bermimpi bertemu Ayah dan Ibu." Ucap Nenek Utami sambil mengusap pipi Chika.
" Nek, Chika pasti bangun kan?" Tanya Kang Bagyo.
" Nenek tidak tahu, tapi Nenek yakin kamu kuat." Jawab Nenek Utami.
Ceklek
Nenek Utami dan Kang Bagyo menatap pria yang memasuki kamar rawat Chika.
" Maaf siapa..?? "
__ADS_1
" Pak Tentara..!!! "