I Love You Om Tentara

I Love You Om Tentara
Sebuah Hati


__ADS_3

" Loh Ibu pulang nggak bilang - bilang sih." Ucap Zalimah sambil mencium punggung tangan Ibu nya.


" Ibu sempat kan kemari padahal kegiatan sebagai istri menteri banyak sama Ibu presiden. " Ucap Ibu Nina.


" Ayah nggak ikut? " Tanya Zalimah.


" Nggak dia sibuk." Jawab Ibu Nina.


" Excel belum pulang? " Tanya Ibu Nina kembali sambil memeriksa isi kulkas.


" Belum, dia paling sore." Jawab Zalimah.


" Ibu."


" Iya."


" Saya sudah tahu anak dari istri kedua Ayah."


" Apakah kamu menyelidiki dia? "


" Saya kemari itu ingin mengenal lebih jauh dia."


" Buat apa kamu ingin tahu anak itu, kamu yakin dia adik kandung kamu?" Ucap Ibu Nina.


" Saya yakin memang kenapa?" Ucap Zalimah.


" Ayah kamu saja tak menganggap nya sebagai anak, apa kamu lupa Lena itu wanita malam."


" Ibu itu kata Ayah,tapi yakin dia adik Zalimah."


" Ibu nggak mau tahu tentang dia, kamu jangan terlalu peduli dengan dia."


" Sebentar lagi dia datang Bu."


" Siapa, maksudnya kamu anak itu?" Tanya Ibu Nina sedikit menekan.


" Iya, setiap malam dia tinggal di sini, di kamar lantas atas samping Zalimah. Dia belum tahu kalau saya kakaknya, saya hanya minta dia untuk bekerja pada saya dan di gaji 3 kali lipat." Jawab Zalimah.


" Kamu punya rencana apa sama anak itu?"


" Tak ada rencana, saya hanya akan bilang suatu saat nanti kalau saya kakaknya."


" Sampai kapan pun, Ibu tetap benci anak yang terlahir dari rahim wanita penggoda."


*****


Rio pun tiba dengan menggunakan mobilnya dan di parkir kan di garasi. Dirinya pun turun, dan bersamaan dengan Excel adik Zalimah.


" Hi baru pulang." Sapa Rio namun Excel hanya diam dan terus melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.


Rio hanya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal, dan berjalan di belakang Excel.


" Kakak.. gi*****lo Kak Zalimah sudah datang." Teriak Excel yang membuat Zalimah dan Ibu Nina menatap Excel.


Deg


Rio yang mendengar nya merasakan sangat marah, dirinya di anggap sebagai pria penghibur.

__ADS_1


" Kamu bilang apa Excel, gi****lo kakak kamu?" Tanya Ibu Nina.


" Tuh. " Tunjuk Excel pada Rio.


" Kamu jangan bicara seperti itu Excel. " Ucap Zalimah yang mendekati Rio.


Ibu Nina lalu menatap tajam ke arah Rio, dan Rio pun balik menatap.


" Kamu anaknya Lena? " Tanya Ibu Nina.


" Iya." Jawab Rio singkat.


" Hebat Lena punya anak seorang Tentara, jangan - jangan untuk meloloskan kamu jadi Tentara dengan merayu orang atas agar kamu lolos." Sindir Ibu Nina.


" Ibu..!! " Ucap Zalimah.


" Saya lulus murni tidak ada campur tangan orang dalam, atau menjual tubuh Ibu saya. Karena saya tahu Ibu saya yang sekarang, walau banyak orang yang masih mengganggap nya sebagai wanita malam." Ucap Rio.


" Kamu pintar ya, Lena begitu pintar mendidik sehingga pintar menjawab." Ucap Ibu Nina.


" Saya kemari hanya ingin tahu, siapa kalian ini, dan Mba Zalimah kenapa begitu royal kepada orang terdekat saya?" Tanya Rio.


" Zalimah, apa kamu memberikan sesuatu pada mereka? " Tanya Ibu Nina dengan nada tinggi.


" Jawab Zalimah." Bentak Ibu Nina.


" Kenapa saya seperti ini sama kamu, dan buang pikiran kotor tentang kamu sebagai pria penghibur. Dan kamu Excel, dia itu bukan gi***lo yang kamu bilang. Saya kakak kamu Rio, kakak satu Ayah."


" Kakak!! " Ucap Rio.


" Saya kakak kamu yang tinggal di luar negeri saya sudah lama cari informasi tentang kamu. Hingga akhirnya saya menemukan kamu, dan Ibu tolong terima Rio bagaimana pun dia keluarga kita anak Ayah." Ucap Zalimah.


" Saya akan benci anak dari wanita perusak rumah tangga." Ucap Ibu Nina pergi meninggalkan Rio dan Zalimah lalu di ikuti oleh Excel.


" Kenapa baru bilang sekarang?" Tanya Rio.


" Karena saya akan kasih tahu kamu sedikit - sedikit." Jawab Zalimah.


" Kenapa Mba Zalimah begitu sangat yakin kalau saya anak dari Pak Faisal sedangkan semua orang menganggap saya anak hasil rame - rame." Ucap Rio.


" Nggak, saya yakin kamu anak Ayah. Wajah kamu photo copy an Ayah, tinggi nya juga sama."


" Terima kasih untuk semua nya, tapi saya minta jangan berlebihan memberikan sesuatu karena saya masih mampu."


" Terima lah sebagai ganti Ayah tidak pernah membiayai hidup kalian, biar saya yang mengganti semuanya."


" Terima kasih, itu tidak perlu karena saya masih mampu. Dan saya memang anak dari seorang wanita malam, tapi saat penghinaan itu datang saya masih punya perasaan dan bila Mba pun tahu siapa saya, cukup hanya tahu sebagai adik, jangan terlalu berlebihan. Kita memang keluarga, tapi kita berbeda."


" Tolong kita talikan erat persaudaraan kita, Mba tidak akan pernah memandang kamu anak dari istri keberapa. Kamu tetap adik saya, dan Ibu Lena tetap saya anggap sebagai Ibu saya."


********


Rio kembali ke rumah sakit tak jadi bermalam di rumah Zalimah, sekarang dirinya sudah tahu kenapa Zalimah seperti itu padanya. Dan memutuskan untuk tidak lagi kembali ke rumah Zalimah.


Rio memasuki kamar rawat, terlihat Nenek Utami dan Kang Bagyo tertidur pulas. Namun tidak dengan Chika yang sedang menangis namun tak bersuara.


" Sayang kenapa? " Tanya pelan Rio mendekati Chika.

__ADS_1


" Sa - sakit hiks.. hiks.. " Jawab Chika.


" Apakah setiap hari merasakan ini?" Tanya Rio kembali sambil mengusap air matanya.


" Iya, Chi - Chika tahan agar Nenek sama Kang Bagyo tidak khawatir." Jawab Chika.


" Di depan Mas, kalau ada apa - apa jangan di sembunyikan. Kalau sakit bilang, jangan kamu tahan sendiri."


Chika mencoba mengangkat tangan nya namun tak bisa, Rio pun lalu mengangkat tangan Chika dengan meraih jemarinya.


" Mau Mas peluk, kamu boleh gigit Mas untuk pelampiasan sakit nya."


Chika menganggukkan kepalanya, dan lalu Rio menaiki tempat tidur, dan berbaring di samping Chika dengan memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Chika yang terlentang.


" Gigit saja Yank, kalau masih sakit."


Chika terisak dengan wajah dia susupkan di dada Rio, sesekali jemarinya meremas jemari Rio dan sedikit menggigit. Dan Rio yakin sakitnya Chika sangat berat hingga tubuhnya tak kuat menahan sakit nya.


" Ja - jangan tinggalin Chika mas." Ucap Chika sambil terisak.


" Iya sayang Mas nggak akan tinggal kan Chika, dan mulia sekarang Mas yang akan jaga Chika di rumah sakit , bisa gantian sama Nenek dan Kang Bagyo.


Rio mengusap kepala Chika dan dengan menempelkan keningnya di kening Chika sampai Chika benar - benar tidur. Begitu pun juga dengan Rio yang akhirnya terlelap sambil memeluk tubuh Chika.


******


" Mba Nina. "


" Kenapa Lena, kaget lihat saya?"


" Masuk mba."


Ibu Nina memasuki rumah Lena yang sangat sederhana jauh dari kata mewah. Rumah tipe 36 yang di tempati Lena tampak terpampang photo Lena bersama Rio, bahkan photo Faisal tak ada satu pun di rumah nya.


Ibu Nina lalu menatap Ibu Lena yang duduk di kursi roda dengan tatapan mengejek.


" Kena karma ya? "


Ibu Lena tersenyum ke arah Ibu Nina, yang masih memandang nya secara mengejek.


" Karena kecelakaan, sehingga membuat kaki saya lumpuh." Ucap Ibu Lena.


" Pantas lumpuh, coba kalau nggak lumpuh pasti masih menjajakan tubuh kamu."


" Sebelum lumpuh saya sudah berhenti jadi wanita penghibur, saya memutuskan berhenti saat Rio lahir."


" Hebat ya anak kamu Tentara, saya nggak menyangka."


" Tolong Mba Nina jangan hina Rio, dia tidak tahu apa - apa. Mba boleh hina saya tapi tidak dengan Rio."


" Kamu pikir saya akan terima Rio sebagai anak saya juga, jangan mimpi. Rasa sakit hati saya masih ada, walau sekarang saya bukan lagi istri Faisal. Dan asal kamu tahu, rasa benci saya sama kamu sampai sekarang."


" Lantas buat apa mba datang kemari kalau hanya untuk mencaci maki saya?"


" Karena saya ingin melihat keterpurukan kamu."


" Saya sudah cukup terpuruk tapi tidak selamanya saya terus menderita. Karena saya coba untuk bangkit, memperbaiki diri dan ada Rio yang selalu membuat saya kuat."

__ADS_1


__ADS_2