
Uhuk... uhuk.. uhuk..
Rio membuka matanya perlahan di lihat sekeliling sebuah kamar yang sangat luas, kamar yang tampak tak asing bagi dia.
Rio dengan segera bangun, namun sedikit bergerak rasa sakit di perut begitu sangat terasa.
Aaaakkkkkhhh
Rio memegang perutnya yang terdapat dua luka tembak, dirinya teringat saat terakhir akan pergi ke Bandara dengan mengendarai motornya seseorang menabrak nya dari belakang dan menembaknya.
Rio pun segera mencari ponsel miliknya namun tak ada, dan tiba - tiba pintu terbuka, terlihat wanita yang dulu pernah mengisi hatinya membawa sebuah obat di atas nampan.
" Alhamdulillah Bang kamu sudah sadar." Ucap Monica menghampiri Rio.
" Kamu? " Tunjuk Rio sambil memercing kesakitan.
" Saya nggak sengaja saat itu mobil saya melintas melihat kamu tergelatak di jalan raya dengan luka tembak. Saat itu tidak ada siapa - siapa." Ucap Monica.
" Berapa hari saya tidak sadarkan diri? "
" 2 minggu kamu tak sadarkan diri, saya sengaja rawat Abang di rumah saya, karena saya yakin kejadian ini murni di sengaja."
" 2 minggu, Astaghfirullah pasti Chika mengkhawatirkan saya. Mana ponsel saya?" Ucap Rio.
Monica pun mengambil ponsel milik Rio dan memberikan nya pada si pemilik.
" Password ponsel Abang belum di ganti ya?" Tanya Monica.
" Apakah ada pesan dari Chika? "
" Sangat banyak, bahkan dia begitu sangat khawatir."
Terlihat 1000 panggilan tak terjawab dari Chika, dan beberapa panggilan dari Zalimah, Kang Bagyo hingga Ibu nya. Dan sebuah pesan ratusan dari Chika.
Rio mencoba menghubungi Chika namun di urungkan karena melihat jam perbedaan waktu yang sangat jauh.
" Saya harus segera ke bandara." Ucap Rio langsung beranjak dari atas tempat tidur.
Aaaaaaaaaawwwww
Rio mengerang kesakitan pada bagian luka tembak, dan dirinya kembali berbaring.
" Luka kamu belum sembuh, jangan dulu pergi istirahatlah beberapa hari baru Abang pergi."
" Saya nggak bisa terus berada di rumah kamu Monica, kalau sampai Papi sama Mami tahu kamu dalam masalah besar, dan kenapa kamu menolong saya, kamu tahu saya anak dari seorang pria yang menghancurkan keluarga kalian."
" Rasa manusiawi saya keluar saat melihat tubuh seorang pria tergeletak tak berdaya, dan ternyata itu Abang."
" Kamu berani menyentuh saya, dan kamu tidak pikir dengan nyawa kamu."
__ADS_1
" Saya nggak peduli, mereka mau mengintai saya juga."
" Lebih baik saya keluar dari rumah kamu, sebelum hal yang tak di inginkan terjadi."
" Tunggulah sampai 3 hari, percaya sama saya Bang Rio akan aman."
*******
Chika bangun dari tidur nya, saat pertama dirinya lakukan adalah mengecek ponsel nya dan seperti kemarin tak ada notifikasi pesan masuk dari suaminya.
" Kamu kemana Mas?" Ucap Chika dan saat mengecek pesan sebuah tanda di centang biru.
Chika pun mencoba menghubungi nomer ponsel Rio namun setelah berdering kini ponsel Rio tak aktif kembali.
" Ih... kenapa sih nih orang, kamu sedang apa sih Mas." Ucap Chika berdecak kesal.
Lalu Rebecca masuk membawa Roti ukuran panjang, dan meletakkan di atas nakas samping tempat tidur Chika.
" What's going on in the morning ( Ada apa pagi - pagi sudah marah - marah) ." Tanya Rebecca.
" His cell phone is switched on then inactive messages are only read ( Ponsel nya aktif lalu tak aktif pesan hanya di baca) ." Jawab Chika.
" There must be a reason why miss chika's husband is like that ( Pasti ada alasan nya kenapa suami nona Chika seperti itu)." Ucap Rebecca.
" But this is too much ( Tapi ini sudah keterlaluan) ." Ucap Chika.
*******
" Ada apa?" Tanya Rio.
" Seperti ada orang yang sedang mengintai." Jawab Monica.
Rio lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah jendela.
" Mobil itu? " Tunjuk Rio sambil mengingat.
" Abang tahu?"
" Seperti nya dia tahu kamu membawa saya kemari, siapa sebenarnya dia."
" Abang punya musuh? "
" Tidak ada."
" Apa kita lapor polisi saja?"
" Jangan dulu karena tidak ada bukti, dan kamu Monica jangan keluar rumah diam disini. Kabari saja keluarga kamu kalau kamu sedang keluar kota mendadak." Ucap Rio.
" Kamu cari apa? "
__ADS_1
" Saya lupa kalau saya tidak membawa senjata."
*****
Rio memeriksa ponselnya ternyata mati, dan mengambil charger di dalam tas nya dan mulai menghidupkan ponsel nya ternyata banyak masuk notifikasi panggilan dari Chika.
" Maaf kan Mas sayang, sabar ya.. Mas tidak akan menghubungi kamu untuk sementara." Ucap Rio pelan.
Monica berdiri di belakang Rio saat mantan suami nya bicara pelan namun masih tetap terdengar oleh Monica.
" Kamu begitu sangat mencintai istri kamu Bang."
Suara Monica membuat Rio kaget, dan lalu pandangan nya fokus kembali pada layar ponsel nya.
" Saya sangat mencintainya, dia bidadari hidup saya, tak akan pernah saya lepaskan kembali."
" Bagaimana kabar kondisi nya?"
" Masih tetap sama, tapi sedikit ada perubahan."
Monica duduk di sisi tempat tidur, masih menatap punggung mantan suaminya.
" Seandainya rumah tangga kita masih utuh, pasti kita sudah punya anak." Ucap Monica dengan wajah sedikit menyesal.
" Sudahlah jangan bahas masalah dulu, saya sudah punya kehidupan sendiri kamu juga sama. Dan untuk kejadian ini terima kasih sudah menolong saya dan membawa kamu dalam masalah ini."
" Tidak apa - apa, kalau saat itu saya tidak menolong Abang mungkin nyawa Abang nggak selamat."
******
" Tuh mba status nya tadi aktif hilang lagi." Ucap kesal Chika.
" Mba juga nggak ngerti Chika, dia ada dimana nya."
" Saya sudah paham disini mba, pasti dia meninggal kan saya sedikit demi sedikit."
" Jangan negatif dulu, belum tentu Rio seperti itu."
" Mba namanya juga pria, lihat yang bening apalagi sehat nggak kayak Chika penyakitan. Mana ada pria mau menerima apa adanya, lama - lama juga ada titik jenuhnya." Ucap Chika kesal.
" Kita lihat bagaimana kedepannya."
" Kalau pun Mas Rio seperti itu, saya ingin pulang saja Mba, buat apa sembuh di sakitin mending saya meninggal saja menunggu waktu dengan penyakit yang menggerogoti tubuh saya."
" Kamu jangan bicara seperti itu Chika, mba yakin Rio pasti ada alasan nya, yang jelas bukan dia akan mengkhianati kamu."
" Mba sok tahu, kenal saja baru." Ucap Chika sangat menusuk hati Zalimah.
Zalimah hanya di tanggapi dengan senyuman dan mengusap lengan Chika yang sedang di landa emosi.
__ADS_1
" Mba memang baru kenal Rio, tapi mba yakin Rio bukan pria seperti itu." Ucap Zalimah.
" Percaya sama Mba, di lihat dari tingkahnya dan sifatnya dia bukan pria brengsek dia pria yang bertanggung jawab. Cinta nya hanya untuk kamu."