
Rio mencium punggung tangan Nenek Utami, dan bersalaman dengan Kang Bagyo. Rio menatap sedih keadaan Chika dengan kepala di balut perban.
" Nek, itu Pak Tentara yang dulu tugas di desa kita saat kerusuhan itu." Ucap Kang Bagyo menjelaskan.
" Oh.. ini, maaf Nenek lupa." Ucap Nenek Utami.
" Chika. " Ucap Rio.
" Belum sadar saat dari kemarin, Kami berdua ikhlas nak Rio hiks... hiks... " Ucap Nenek Utami.
Rio memegang tangan Chika, ada rasa sedih dan sakit saat melihat gadis kecil yang ceria kini sudah tumbuh dewasa terbaring lemah tak berdaya.
" Kamu kuat Chika, kamu pasti sembuh. Kamu bangun apa tidak ingin lihat Om, bukan nya kamu bilang ingin lihat Om. Bukan nya kemarin itu pertemuan yang singkat, kini Om datang jauh - jauh untuk kamu." Ucap Rio sambil mengusap punggung tangan Chika.
" Cantik, bangun Pak Tentara datang. Kamu ingin melihat Pak Tentara kan, ingin bertemu dengan dia. Bukalah mata kamu cantik, Pak Tentara datang." Ucap Kang Bagyo.
" Chika tak pernah bilang sama kami kalau dia sakit, Chika menahan rasa sakit itu sendiri." Ucap Nenek Utami.
" Saya nggak menyangka bisa bertemu lagi dengan Chika, dan pertemuan ini membawa kabar duka. Saya nggak menyangka dia katakan itu saya kira hanya ucapan biasa, ternyata dia sakit. " Ucap Rio dengan mata berkaca - kaca.
" Pak Tentara, Chika itu sangat mencintai Bapak, bagaimana dia selalu bercerita tentang Bapak dia sangat antusias dan senang mengucapkan nama Pak Tentara." Ucap Kang Bagyo.
" Maaf kan saya, saat itu tak langsung membalas cinta nya, karena saya tidak ingin memberikan harapan banyak tapi hati saya mencintai nya. Dan saat yang tepat saya akan datang, namun maaf saya malah jatuh cinta dengan wanita yang kini jadi istri saya." Ucap Rio menjelaskan.
" Nggak apa - apa Nak, kalian memang belum jodoh. Tapi pasti Chika sudah ikhlas, dan sudah senang melihat nak Rio bahagia." Ucap Nenek Utami.
" Benar Pak, Chika pernah bilang bila dia sudah memiliki pasangan hidup, dia akan melupakan Bapak pelan - pelan." Ucap Kang Bagyo.
" Andai waktu bisa di putar lagi saya ingin menikmati kebersamaan ini bersama nya, andai waktu bisa di putar lagi saya ingin katakan bahwa saya mencintai nya. Mungkin ini sebuah penyesalan, dan saya tidak menyangka cinta Chika begitu sangat besar terhadap saya."
*****
Rio duduk di kursi tunggu depan kamar rawat Chika, sambil diam menatap pintu kamar rawat. Monica datang membawa segelas cokelat hangat.
" Minumlah." Ucap Monica sambil memberikan gelas tersebut.
Rio pun meminum cokelat hangat pemberian istri nya, dan duduk berdampingan.
" Kamu nggak ingin pulang ke rumah?" Tanya Monica.
" Saya akan pulang ke rumah Ibu." Jawab Rio.
__ADS_1
" Apa kamu tidak kangen dengan istri kamu Bang?"
" Apa kamu masih ada rasa cinta sama saya?"
" Cinta itu tetap ada, tapi entah bagaimana kedepannya."
" Kenapa? "
" Apa saya akan kuat suami saya berbagi cinta."
" Ternyata kamu takut saya akan berpaling."
" Rasa takut itu ada, wajar saya rasakan."
" Nanti saya akan mampir ke rumah, tapi saya ingin bertemu dengan Ibu saya."
******
Wanita yang kini duduk di kursi roda sambil menyulam terhenti ketika melihat sosok putra nya yang kini ada di hadapan nya.
Rio mencium punggung tangan Ibunya dan memeluk tubuh wanita yang kini sudah berusia setengah abad.
" Ibu senang akhirnya kamu pulang nak."
" Rio kangen sama Ibu, maaf Rio baru bisa kemari."
" Monica mana? " Tanya Ibu Lena, ibunda Rio.
" Monica tak akan pernah mau menginjakkan kakinya lagi kemari, hanya dulu sekali saat kamu mengenalkan pada Ibu. Maaf nak, karena masa lalu Ibu dan Ayah kamu, sehingga kamu tak di pandang oleh mereka." Ucap Ibu Lena.
" Sudahlah Bu, Rio salah memilih karena terlalu terburu - buru menikahi Monica. Itu masalah Rio jadi Ibu jangan kepikiran, biar Rio yang menanggung masalah ini."
" Kamu sudah menjenguk Ayah kamu di Lapas?"
" Rio belum kesana Bu, dia tak pernah mengakui Rio anaknya tapi Rio akan tetap selalu datang seperti yang sudah - sudah."
******
" Kamu masak banyak tumben Monica? " Tanya Meri Mamah tiri Monica.
" Bang Rio pulang." Jawab Monica.
__ADS_1
" Dia yakin masih mau menginjakkan kakinya kemari, masih ingat rumah mertuanya?" Ucap Ibu Meri.
" Dia pria yang tak pernah ingkar, tadi bilang akan mampir."
" Siapa yang akan datang? " Tanya Pak Budi.
" Suami Monica." Jawab Ibu Meri.
" Masih ingat rumah mertuanya juga dia."
" Papi, sudahlah jangan selalu begitu sama Bang Rio."
" Papi akan tetap nggak suka punya menantu dari masa lalu yang suram. Ibu seorang pelakor, wanita malam bahkan Ayahnya seorang koruptor sampai sekarang dia malah tak mengakui Rio itu anaknya. Papi kaget saat setelah acara lamaran Papi cari tahu ternyata dia bukan dari keluarga baik - baik. Karena malu berita pertunangan kamu sama Rio, terpaksa papi tetap laksanakan tapi syarat keluar dari Tentara dan lupakan kedua orang tua nya, ternyata kata iya itu hanya bualan kamu saja Monica. "
" Cukup Papi, jangan jatuhin Bang Rio saya cinta sama Bang Rio. Kalau seperti ini lebih baik Monica keluar dari rumah ini."
" Silahkan keluar, jangan harap kamu bisa hidup enak." Ucap Pak Rudi.
" Monica, kamu apa akan mau hidup dengan pria yang hanya seorang Tentara, berapa sih gajinya, apa kamu mau di kasih jatah bulanan di bawah gaji kamu? " Ucap Ibu Meri.
" Mami, Tentara itu halal pekerjaan mulia. Mereka garda terdepan untuk negara, dan Rio adalah imam saya sekarang, saya tidak akan permasalahkan untuk urusan gaji besar kecil nya. Saat saya menikah dengan dia, saya sudah menerima apa adanya."
" Papi akan melihat apa benar kamu akan bisa bertahan dengan Rio, Papi akan lihat seorang anak pemilik Yayasan Budi Utomo Group yang bergerak di bidang kesehatan telah menikah dengan anak dari seorang napi koruptor dan Ibu nya mantan wanita malam yang jadi simpanan nya." Ancam Pak Budi.
" Terserah Papi mau bilang apa." Ucap Monica pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
*****
" Kamu kapan bisa tugas disini pindah?" Tanya Ibu Lena.
" Sedang di urus Bu." Jawab Rio.
" Benarkah? "
" Benar Bu, tunggu saja. Nanti Rio akan tinggal menemani Ibu disini."
" Ibu senang kamu disini, saat Ibu akan meninggal nanti Ibu ingin kamu ada di samping Ibu."
" Ibu jangan bicara soal kematian, Rio masih ingin bersama Ibu menikmati hari - hari bersama."
Terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah Rio, dan Rio menuju ke arah pintu depan rumahnya. Terlihat Monica datang dengan membawa koper.
__ADS_1
" Monica."
" Saya sudah memilih Bang, saya lebih memilih suami dan memperbaiki rumah tangga kita."