
"Aku tahu kenapa kau datang untuk menemui ku." Ucap seseorang ditempat mistis
"Iya Mbah, ada seorang laki-laki yang saya cintai..." Terpotong
Terasa aneh nyatanya, masih ada saja orang yang hidup di zaman modern masih berpikiran kuno untuk mendatangi seorang dukun. Kita tahu bahwa mempercayai kekuatan dukun itu musyrik, dan benar-benar tidak ada di dunia ini.
"Cukup... cukup aku sudah tahu. Kau ingin menaklukkan laki-laki itu kan supaya dia mencintai mu."
"Iya benar Mbah, kenapa Mbah bisa tahu?"
Ucap salah satu dukun dan pasiennya yakni Nadine yang ingin membuat Arfan mencintai nya.
"Itu sudah menjadi keahlian ku hahaha... Ketika ada yang ingin meminta bantuan ku sebelum mereka menyatakan keinginan mereka, aku sudah lebih tahu saat mereka masuk kesini hahaha..." Jelas dukun itu
"Owh... Mbah memang sangat hebat. Lalu, cepat lakukan saat ini juga Mbah, selain menginginkan laki-laki itu aku ingin dia juga menjauhi putranya. Karena putranya inilah yang menjadi penghambat besar rencana ku."
"Kau tenang saja aku bisa melakukan itu, tapi Berapa imbalan yang akan kau berikan untuk jasaku ini."
Nadine pun mengeluarkan cek kosong.
"Ini ada cek kosong kau bisa menulis terserah hatimu berapa yang kau inginkan, asalkan pria itu mencintaiku dan membenci anaknya."
"Hmm... sangat menarik, baiklah aku akan melakukan seperti yang kau katakan tadi. Apa kau membawa foto mereka berdua?"
"Tentu saja mbah, aku sudah menyiapkan nya dari awal." Nadine pun mengeluarkan foto Arfan dan Ivan lalu diberikan pada Mbah dukun itu
Setelah menerima foto mereka, dukun itu langsung melakukan ritualnya pada foto itu. Beberapa kemudian semua ritual sudah dilakukan guna-guna sudah menempel didalam diri Arfan.
"Semua sudah selesai beberapa menit kemudian kau akan kembali bersama laki-laki itu, jadi pergilah ke rumahnya. Dan lihat perubahan yang akan kau rasakan." Perintah si Mbah itu
"Baik terima kasih, Mbah." Nadine pun menuruti permintaan dukun itu dan ia kembali ke rumah Arfan
Di Mansion Arfan~~
Arfan yang masih berpelukan dengan Ivan, tiba-tiba saja melepaskan pelukan itu dengan mendorong ansel dengan kuat hingga membuat Ivan terjungkal. Lalu, setelah itu Arfan pergi keluar dengan tatapan mata kosong.
"Ayah... Ayah kenapa?" Tanya Ivan yang kebingungan
Tapi Arfan ia tidak menjawab ia terus berjalan ke arah luar dengan tatapan mata kosong.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada ayah, kenapa dia tiba-tiba berubah?"
"Ayah... Ayah akan pergi ke mana?" Lanjut Ivan bertanya dan mengikuti Arfan dari belakang
Di Luar~~
"Di mana? dukun itu mengatakan Arfan akan menemui ku di depan rumah, tapi nyatanya dia belum keluar juga.awas saja kalau dukun itu bohong." Tunggu Nadine di luar
"Nadine??" Panggil seseorang
Nadine pun melirik ke arah sumber suara.
"A-Arfan...!!"
"Apa yang kau lakukan di luar? ayo masuk!" Tiba-tiba saja sikap Arfan pada Nadine sangat lembut ia tidak mengingat apa yang terjadi sebelum nya
"Akhirnya, sepertinya rencana ku berhasil. Dan membuktikan guna-guna dukun itu memang benar." Bicara Nadine dalam hati
"A-aku hanya..." Ucap Nadine terpotong
"Ah sudahlah, tunggu apa lagi sebaiknya kau masuk diluar sangat dingin, kan?" Arfan merangkul Nadine membawanya masuk ke rumah
"Dia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ya, akhirnya aku akan menguasai rumah ini dan sekarang aku menjadi nyonya Nadine." Gumam licik Nadine
"K-kau tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya?"
"Memangnya apa? aku tidak ingat."
"Em... Tidak, tidak ada semuanya baik-baik saja. Koper ini aku bawa dari rumahku ada barang-barang ku yang lupa aku bawa. Bukankah aku sudah meminta izin darimu tadi, Kan?"
"Owh begitu ya, aku tidak ingat jika kau meminta izin dariku."
"Tidak apa-apa, itu karena kau sibuk bukan."
"Iya aku sangat sibuk hari ini." Jawab Arfan
Arfan dan Nadine sangat dekat, mereka berbincang tanpa mengingat masalah yang terjadi mungkin karena guna-guna yang dilakukan pada Arfan.
Saat memutuskan untuk mengikuti Arfan, Ivan melihat Ayahnya dengan Nadine begitu akrab bahkan mereka berjalan dengan sangat mesra. Membuat Ivan terheran, apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Dengan kesal Ivan menghampiri ayahnya. Dan mendorong Nadine yang berjalan sambil memeluk Arfan. Membuat Nadine terdorong dan terduduk dilantai.
"Jangan sentuh ayahku... Wanita jahat!!" Ivan menatap Nadine dengan mata memerah
Arfan yang melihat nya pun langsung menampar pipi mungil ivan membuat pipinya memiliki bekas merah tua dan telinganya berdenging.
"Apa yang kau lakukan anak bodoh berani-beraninya kau mendorong ibumu sendiri." Marah Arfan dengan nada sangat tinggi secara tiba-tiba mengejutkan Ivan
Arfan pun membantu Nadine untuk berdiri.
"Waw,,, Ini di luar ekspektasi ku dan hal yang tidak seperti kuduga sebelumnya. Ayah penyayang menampar putra tersayangnya hahaha..." Bicara licik Nadine dalam hati
"Kau tidak apa-apa? maafkan aku atas kebodohan yang dilakukan anak ini." Mengangkat tubuh Nadine untuk membantu nya berdiri
"Aku tidak apa-apa, tapi seharusnya kau tidak menampar putramu sendiri kasihan dia.dia masih kecil tidak sanggup merasakan tamparan orang dewasa."
"Dia harus diberi pelajaran, karena perilakunya yang selalu di manja tidak seharusnya dia bersikap seenaknya berbuat tidak sopan pada orang lain. Seharusnya dia tidak berhak berbuat ini padamu. Ivan, ayo minta maaf pada ibumu."
"Ayah apa yang salah dariku, kenapa aku harus minta maaf pada wanita itu. Apa ayah tidak ingat apa yg dia lakukan padaku. Ayah mengatakan wanita ini tidak akan masuk kembali ke rumah kita, tapi kenapa ayah malah membawanya kembali dan bersikap baik padanya."
"Dasar kau ini ya, kurang apa aku padamu heh...apa karena aku kurang memberimu ketegasan sehingga kau menjadi anak nakal seperti ini. Dia ibumu tapi kau malah memanggil nya dengan sebutan wanita." Nada tinggi
Arfan pun bersiap menampar lvan kembali, sedangkan Nadine dia hanya menyaksikan nya dengan sangat puas sambil tersenyum licik.
"Sudah Arfan, sudah kau tidak boleh menamparnya lagi tidak apa-apa. Mungkin Ivan belum bisa menerima diriku sebagai ibunya." Ucap manis bermuka dua Nadine
"Ayah jahat... Aku benci ayah!!" Ivan yang menangis melihat perlakuan ayahnya yang berbeda dalam beberapa menit terakhir. Lalu, ia berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya dengan menanggung beban kesedihan.
"Ivan, minta maaf pada ibumu dulu..." Teriak kesal Arfan
"Arfan sudah cukup, tidak seharusnya kau memarahi Ivan seperti itu dia masih kecil."
"Entah dosa apa yang aku perbuat? Sehingga anak ku sendiri berperilaku seperti itu. Apa kau baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja. Sudahlah lupakan masalah ini, sebaiknya kita istirahat."
"Kau benar seperti aku membutuhkan istirahat, entahlah kenapa aku merasa banyak masalah hari ini tapi aku tidak mengingatnya."
"Kau tidak perlu mengingat nya, mungkin kau lelah karena pekerjaan mu."
__ADS_1
"Yasudah, ayo kita istirahat."
Arfan dan Nadine pun pergi menuju kamar Arfan, dan tanpa sadar Arfan sudah tidur seranjang dengan wanita yang menyakiti putranya tapi ia tidak ingat sama sekali. Malah seperti nya dia mencintai Nadine.