
Selama 4 hari Ivan di rawat, Arfan tidak pernah menanyakan dimana Ivan sama sekali. Bahkan seperti nya dia lupa bahwa ia memiliki satu anak yang harus ia jaga.
Setelah 4 hari dirawat di ruang intensif dan mendapatkan perawatan, Ivan dinyatakan sudah sehat dan bisa kembali pulang.
"Yeayy... Aku pulang!" Senang Ivan sambil loncat-loncat di atas ranjang rumah sakit
"Ivan kau baru pulih, jangan bermain-main dulu." Perintah Alina yang sedang membereskan pakaian Ivan selama di rumah sakit kedalam koper kecil
"Bibi... Apa bibi tahu, aku sangat bosan di rumah sakit. Hari ini dokter menyatakan bahwa aku sudah bisa pulang aku sangat senang sekaliiii..."
"Owh ya, itu tandanya kau akan segera bertemu ayah dan ibumu."
"Tidak, aku tidak ingin pulang, aku ingin bersama bibi saja."
"Tidak bisa Ivan, kau harus pulang, ayahmu pasti menunggu dirimu di rumah. Lagipula ibu tiri mu pasti sangat khawatir."
"Dia bukan ibuku, Bibi. Tapi kau adalah ibuku. Bibi apa boleh aku memanggilmu dengan panggilan Ibu mirip." Ucap Ivan
"Ibu mirip?"
"Iya karena kau mirip sekali dengan ibuku, lagi pula ibuku mengirimkan mu kepadaku. Ibuku mengatakan ada diri ibuku dalam dirimu."
"Tentu saja! kau boleh memanggilku dengan sesuka hatimu. Aku tidak akan menolaknya."
"Yeay... Terima kasih Ibu mirip." Memeluk Alina
"Sama-sama Ivan." Setelah mendengar Ivan memanggilnya dengan ibu lagi, Alina sangat senang
Alina pun melepaskan pelukan Ivan.
"Yasudah kita pulang, ya." Ucap Alina
"Ibu mirip, apa kita tidak jalan-jalan.aku ingin sekali jalan-jalan." Pinta Ivan
Telepon Alina berdering~
Dengan segera Alina mengangkat teleponnya menjawab dengan menjauh dari Ivan.
setelah berbincang dalam telepon, akhirnya panggilan itu pun diakhiri.
"Emm... Ivan sepertinya aku tidak bisa menemanimu berjalan-jalan, masih ada keperluan lain yang harus aku urus di sini." Ucap Alina
"Yah kenapa?" Raut wajah Ivan langsung murung
"Seseorang meneleponku, dia mengatakan aku harus menemui dia sekarang di sini. Jadi kau harus pulang ya bersama Pak Aris."
"Baiklah, aku akan pulang bersama pak Aris saja. Tapi ibu berjanji kan kita akan bertemu lagi."
"Iya aku berjanji, kita akan bertemu lagi. Yasudah aku pergi dulu ya (mencium kening Ivan) pak Aris saya titip Ivan padamu yah, maaf saya tidak bisa mengantarkan Ivan pulang."
"Iya nyonya, Tidak apa-apa." Pak Aris menurut dan masih menganggap Alina adalah Alina majikannya dulu
Alina memang merasa risih karena pak Aris terus memanggil nya dengan nyonya, ia ingin menjelaskan kebenaran pada Pak Aris. Tapi ia tidak memiliki waktu, Alina pun pergi terburu-buru.
Ivan pun menatapi Alina yang jauh pergi dengan merenung, Pak Aris pun datang dan mengajaknya pulang.
__ADS_1
Di koridor rumah sakit~~
Tempat yang sama Ivan dirawat.
"Permisi sus, saya ingin bertemu dengan dr. Zayn. Apa suster tahu di mana ruangan nya?" Tanya Alina pada suster yang sedang berlenggang di koridor rumah sakit
"Iya, saya tahu nyonya. Tapi sebelum menemuinya, Apa anda sudah membuat janji dengan dr. Zayn?" Ucap suster itu
"Iya, tadi beliau menelepon dan menyuruhku untuk datang menemuinya."
"Oh baiklah, ruangannya ada disebelah sana dari sini anda tinggal belok kiri, ada sebuah pintu yang berwarna coklat berbeda dari yang lainnya. Di sana ruangan dr. Zayn." Jelas suster yang langsung menjelaskan dengan sambil menunjuk setiap arahannya menuju keruangan dr. Zayn yang ingin ditemui Alina
"Baik sus, Terima kasih." Alina pun langsung pergi keruangan dr. Zayn sesuai petunjuk yang diberikan suster
Setelah menemukan ruangan itu, Alina pun mengetuk pintu.
Tok...tok...tok
Alina mengetuk pintu
"Masuk!!" Perintah seorang di dalam
Alina pun membuka pintunya.
"Permisi. Maaf dok, mohon maaf mengganggu waktunya. Sebelumnya perkenalkan saya Alina, Apa benar ini ruangannya dr. Zayn." Ucap Alina sopan
"Iya dengan saya sendiri, saya yang menelponmu untuk menemui saya. masuklah!" Perintah dokter itu ramah
"Baik terima kasih, Dok." Alina pun masuk dan menutup pintu lalu berjalan menghampiri meja dr. Zayn
Dengan canggung Alina duduk berhadapan dengan dr. Zayn.
dr. Zayn adalah seorang dokter ia memiliki wajah yang tampan dan berkharisma, usianya 27 tahun. Selain menjadi dokter dia adalah pemilik rumah sakit miliknya sendiri bernama RS. Zaincare Medika. Tentu saja rumah sakit milik dr. Zayn dicap sebagai rumah sakit dengan pengobatan terbaik Se-Asia, hal ini terjadi karena dr. Zayn merekrut banyak dokter terpercaya yang ahli di bidangnya masing-masing dengan tidak sembarangan. Banyak orang dari dalam atau luar negeri berbondong-bondong melakukan pemeriksaan atau pengobatan ke rumah sakit dr. Zayn karena bisa dikatakan mampu bersaing dengan rumah sakit terbaik kalangan atas dan rumah sakit canggih lainnya.
"Sebelumnya ada keperluan apa sehingga dokter meminta saya datang menemui anda, ya?" Tanya Alina
"Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu. Kau bukankah ibu dari anak yang tenggelam waktu itu?"
Alina mencoba mengingat dan ia baru sadar.
"Iya dok, dokter yang menangani Ivan, kan?"
"Iya itu saya. Bagaimana kabar anakmu, apa kesehatan nya sudah membaik? saya menyuruh dr. Rizvan untuk merawat anak anda, karena 3 hari kemarin saya ditugaskan untuk keluar kota menangani sebuah rumah sakit di sana."
"Iya dia baru saja pulang, dokter yang anda maksud sudah mengizinkannya untuk pulang."
"Syukurlah, rencananya setelah keperluanku selesai aku ingin melihat keadaannya. Tapi ternyata dr. Rizvan sudah memperbolehkan anak anda untuk pulang, dan malah bertemu dengan ibunya di sini."
"Sebenarnya ada begitu banyak yang ingin saya katakan, tapi saya tidak mengenal anda dokter, jadi saya tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya." Ucap Alina
"Kenapa tidak, kita akan menjadi rekan kerja. Selamat bergabung di rumah sakit Zaincare Medika!" Ucap dr. Zayn sambil mengulurkan tangannya di atas meja
Alina yang mendengarnya sangat terkejut.
"Ma-maksud dokter??" Masih tidak menyangka
__ADS_1
"Bukankah kau melamar kerja di rumah sakit ku sebagai dokter, ini adalah CV mu kan?" Menunjukkan CV yang sempat diberikan untuk melamar kerja
"I-iya dokter, ini adalah CV saya, tapi bagaimana dokter bisa merekrut orang untuk bekerja di rumah sakit ini begitu saja."
"Selain menjadi seorang dokter saya adalah pemilik rumah sakit ini!"
"Apa, jadi anda pemiliki rumah sakit ini. Maaf dokter atas kelancangan saya, saya tidak tahu jika anda adalah pemilik rumah sakit ini." Mohon maaf Alina yang membuat Zayn merasa lucu dibuatnya
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu sungkan begitu." Jawab Zayn sambil dengan gelak tawanya
"Jadi, saya diterima bekerja di rumah sakit ini dok?"
"Iya. lamaran mu diterima, sesuai CV yang kau berikan. Aku menerima mu untuk bergabung di rumah sakit ini. Kinerja mu pasti sangat bagus, aku yakin kau pasti bisa bekerja dengan sangat serius dan baik kedepannya."
"Terima kasih dok, semoga kedepannya saya tidak mengecewakan dan tetap mempertahankan kepercayaan yang anda taruh pada saya." Ucap sopan Alina
"Aku percaya padamu. Oh iya, aku lihat kau lulusan stankins international university, di sana kau sangat berprestasi."
"I-iya, terima kasih atas pujiannya dok. Keinginan saya sejak masih duduk di sekolah menengah pertama ingin sekali kuliah di sana apalagi universitas yang terbaik sedunia. Siapa yang tidak ingin berkuliah di sana dengan jurusan kedokteran. Banyak pengorbanan yang sudah saya lewati dan tuhan memberikan hal yang tidak terduga sebelumnya, meluluskan saya diterima menjadi mahasiswa di universitas impian saya. Jadi, yang pastinya dengan pencapaian yang tidak mungkin didapatkan orang lain, sehingga saya harus bersungguh-sungguh mengejar cita-cita saya dok."
"Bagus,,, Saya setuju dengan prinsip mu itu. Kebetulan dulu saya berkuliah disana dengan mengambil jurusan fakultas kedokteran juga. Sebenarnya ayahku sendiri sangat menentang keras diri saya untuk tidak mengambil fakultas kedokteran, ayah saya menyuruh saya untuk mengambil program Master of Business Administration (MBA). Agar suatu saat nanti saya bisa menjadi CEO dan mengurus perusahaannya, tapi saya sendiri menentangnya. Saya memutuskan untuk menjadi seorang dokter, dan berjalan dijalan saya sendiri."
"Benarkah? jadi dokter adalah lulusan stankins international university?"
"Iya!"
"Saya tidak menyangka dokter, dan yang pastinya anda sangat berprestasi juga."
"Ya begitulah. Oh iya, berapa usiamu?"
"Usia saya 24 tahun dok!"
"Usia mu masih muda, tapi kau sudah menikah dan memiliki seorang anak."
"Tidak dok, sebenarnya saya belum menikah (Alina pun menceritakan semuanya pada dr. Zayn). Jadi, begitu dok ceritanya." Lanjut Alina
"Oh ini kisah yang sangat rumit, baru ku dengar selama seumur hidupku." Ucap dr. Zayn yang selesai mendengar cerita Alina
"Kau pasti keberatan, karena banyak yang mengira kau sudah berumah tangga. Baguslah...!!"
"Bagus karena apa ya, dok?" Tanya Alina keheranan
"Em...tidak, maksudku bagus karena kau membantu anak itu. Tapi saya bersyukur jika anak itu sudah mengetahui jika kau bukan ibunya."
"I-iya dok." Jawab Alina yang masih kebingungan
"Baiklah, aku senang bertemu denganmu. Besok kau sudah boleh mulai bekerja, selamat bergabung." Ucap dr. Zayn sambil menjabat tangan Alina
"Terima kasih, dok." Alina pun sangat senang sampai senyuman manis menyeringai di wajahnya
"Jika begitu saya permisi, dok."
"Iya silakan."
Alina pun keluar dan memutuskan untuk pulang, lalu memberitahu kan pada orang tuanya. Orang tuanya yang mendengar Alina diterima bekerja di rumah sakit ikut senang dan bahagia.
__ADS_1