
Direktur Jameson menolak bekerja sama dengan Perusahaan Arfan. Pak Pratama langsung kesal memprotes sikap Alina dan menuntutnya untuk menyingkir dari hidup Arfan saja karena dia sudah terlalu banyak mengacaukan hidup dan pekerjaan Arfan.
Dia bahkan terang-terangan mengaku jika dia sudah tahu pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak, dan memberitahu Alina bahwa perjodohannya dan Arfan benar-benar serius dan tidak bisa diputuskan begitu saja oleh Arfan begitu saja. Alina dan Arfan berasal dari dunia yang berbeda, hanya dia satu-satunya yang bisa membantu Arfan dalam bisnisnya. Dan Alina hanya bisa tertunduk diam dan kalah mendengarkan semua itu.
Arfan sebenarnya tidak marah padanya, tapi tetap saja Alina merasa sangat amat bersalah sehingga dia semakin tidak percaya diri untuk menjadi pendamping yang pantas bagi Arfan.
Alina begitu frustasi sehingga dia langsung mengajak Sinta pergi ke bar dan melampiaskan frustasinya dengan minum-minum. Kebetulan Hans melihat mereka dan langsung melaporkannya ke Arfan.
Saat Arfan datang tak lama kemudian, dia sama sekali tidak marah, bahkan dengan manisnya mengajak Alina pulang. Tapi Alina sudah membuat keputusan saat itu juga dan menyatakan ingin memutuskan kontrak mereka.
Kontrak mereka memang masih lama, tapi sekarang sudah tidak ada alasan baginya untuk bertahan menjadi istri palsunya Arfan. Ivan sudah bisa bersekolah dengan baik, sudah mulai bisa bermain juga, perlahan dia juga melupakan kesedihan kematian ibunya, tidak perlu terus-menerus ditemani olehnya lagi.
"Aku hanya seorang wanita yang hidup dengan bayang-bayang wajah yang sama. Jika semisalnya aku tidak memiliki wajah Alina, mana mungkin Ivan dan Arfan menginginkan hidup bersamaku." sedih Alina.
Dan yang paling penting, dia tidak ingin memengaruhi pekerjaannya Arfan lagi. Arfan tak setuju begitu saja, tapi Alina bersikeras dan langsung pergi meninggalkannya dengan berlinang air mata.
Arfan pantang menyerah. Biarpun Alina bersikeras menggunakan alasan bahwa dia ingin fokus mengembangkan karirnya, Arfan menolak melepaskannya begitu saja. Dia beralasan jika Alina belum menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna terkait Ivan, Ivan memang sudah bisa tertawa seperti biasanya tapi dia belum bisa berteman dengan anak-anak lain.
Karena itulah, Arfan mengajukan syarat. Jika Alina bisa membantu Ivan mendapatkan satu teman, maka dia akan menganggap pekerjaannya Alina selesai, kontrak selesai, utang lunas dan Alina akan mendapatkan kembali kebebasannya.
Namun yang tak disangkanya, Alina ternyata berhasil melakukan misi itu dengan cepat. Tak lama kemudian, Ivan memperkenalkan teman perempuannya, Sienna, anak kecil yang ia bujuk tak ingin mencabut giginya itu. Ivan sendiri yang bicara dan memperkenalkan Sienna.
Arfan sampai bingung, ini pertemuan sudah seperti pertemuan antara calon menantu dengan calon mertua aja. Padahal Alina hanya menyuruh kedua anak itu untuk bertukar kartu pertemanan dan mereka pun resmi berteman.
Inilah cara Alina untuk membantu Ivan mendapatkan teman. Dia membuatkan beberapa kartu pertemanan, menyuruhnya untuk menjalin pertemanan dengan memberikan kartu pertemanan itu pada temannya, dan Ivan berhasil melakukannya.
Alina memperhatikan bahwa Ivan sudah mulai hidup normal seperti anak pada umumnya dan memanggil nama orang-orang yang dia sukai.
Berhubung misinya Alina sudah berhasil, Alina pun pamit. Sesuai janji Arfan tadi, kontraknya berakhir. Tapi Arfan masih belum ingin menyerah dan mencoba menawarkan kontrak baru yang gajinya lebih banyak dan pekerjaan yang lebih fleksibel. Dia bahkan menawarkan bantuan sarana dan prasarana untuk membantu mengembangkan karir Alina.
Tapi Alina bersikeras menolak, lalu mengembalikan cincin berlian sebesar gaban itu padanya. Dia hanya akan membantu Ivan untuk yang terakhir kalinya dalam acara pertemuan orang tua dan murid yang akan diadakan beberapa hari lagi. Setelah itu, kontrak mereka resmi berakhir.
Selama beberapa hari berikutnya, Alina pun fokus hanya pada karirnya saja di kliniknya. Sementara itu, Arfan dipaksa Bu Shintia untuk melakukan pertemuan dengan Melisa dan ibunya untuk membicarakan pernikahan. Terus saja ibu tirinya itu menjodohkan dia seperti dulu dengan Nadine, entah apa yang ibu tirinya itu cari. Tapi Arfan tegas menolak dan langsung pergi. Melisa sendiri diam saja, tidak tampak terlalu kecewa, malah sepertinya dia agak takut pada ibunya.
Asistennya Bu Shintia menemukan satu informasi menarik tentang Alina. Waktu masih kuliah, dia pernah menyelamatkan seorang wanita dalam sebuah kecelakaan yang membuat wajahnya sendiri rusak, dan itulah yang membuatnya harus melakukan operasi dan pindah kuliah ke luar negeri.
Kecelakaan itu bisa dipastikan adalah kecelakaan yang dialami ibunya Ivan karena terjadi di tempat dan waktu yang sama dengan kecelakaannya sebelum dilarikan ke rumah sakit hanya karena diagnosa penyakitnya kambuh. Mungkin di sisi lain, wanita yang menyelamatkannya harus menjalankan operasi wajah. Bu Shintia tampak cemas menyadari Alina mengetahui fakta tentang kecelakaan itu. Hmm, jelas ada sesuatu yang Bu Shintia sembunyikan tentang kecelakaan dan kematian itu.
Ivan menginginkan ibunya dan langsung cerewet mengulang kata itu berulang kali di hadapan ayahnya. Dan yang dia rindukan akhirnya datang juga, Alina datang dan Ivan langsung lari ke ibunya.
__ADS_1
Tapi dia datang hanya untuk membantu Ivan mempersiapkan pentas untuk acara orang tua dan murid. Alina memiliki ide untuk menyanyi, lalu menyanyikan sebuah lagu yang justru membuat Arfan tercengang karena teringat pada mendiang istrinya.
...***...
Direktur Jameson yang waktu itu, hari ini tiba-tiba berubah pikiran dan setuju untuk bekerja sama dalam proyek gelang pintar itu. Direktur Jameson mengaku bahwa malam itu dia menolak bekerja sama bukan karena ulah Alina, melainkan karena Arfan dan Hans yang terus menerus membicarakan masalah data ini dan data itu. Dia sampai pusing mendengar semua itu.
Direktur Jameson adalah jenis orang yang lebih memilih mempercayai pengalaman konsumen dalam memakai produknya dan bukannya data-data yang tidak jelas. Hari ini dia memutuskan datang kemari, itu berkat Alina yang mendatanginya dan membujuknya dua hari yang lalu.
Alina sudah merekam lagunya di recorder dan memberikannya pada Ivan untuk dipelajari. Tapi kemudian Sinta datang membawakan mainan untuk Ivan. dan seketika itu pula Ivan membuang recorder-nya ke bawah sofa dalam kondisi on.
Alina dan Sinta tidak sadar jika percakapan mereka terekam recorder itu. Sinta bisa melihat jika Alina sedih. Alina beralasan jika dia hanya tidak rela meninggalkan Ivan.
Arfan baru pulang setelah mereka pergi. Tak sengaja dia menemukan recorder itu. Penasaran, dia pun memutar rekaman itu. Alina tiba-tiba kembali karena HP-nya ketinggalan. Namun saat itulah, tiba-tiba terdengar suara Sinta yang berkata bahwa Alina menyukai Arfan dan Alina mengakuinya.
Panik, Alina sontak berusaha merebutnya. Tapi Arfan lebih cepat darinya. Malu, Alina sontak melesat kabur ke kamar mandi untuk mengomeli dirinya sendiri.
Tapi saat dia keluar tak lama kemudian, gelang pintarnya dan gelang pintarnya Arfan sama-sama berbunyi yang menunjukkan detak jantungnya Alina berdebar kencang, dan itu kontan membuat Arfan semringah.
Alina berusaha bersikap pura-pura cuek, lalu setelah mendapatkan ponselnya kembali. Arfan biarpun senang, tapi malah diam saja, Alina jadi bingung dan salah paham dengan sikapnya itu, mengira jika Arfan pasti tidak memiliki perasaan yang sama padanya.
Fakta ini membuat Arfan jadi angkuh sekarang, meyakini jika Alina sebenarnya tidak ingin putus dengannya, dan semua ini hanya strateginya Alina untuk mengetes perasaannya pada Alina.
Begitu mereka ada kesempatan berduaan, Arfan ingin membahas hubungan mereka, tapi Alina mendadak menyela pembicaraan, meyakini jika Arfan sudah menolaknya. Maka dengan sengaja dia mencoba merayu pria lain, tapi pria yang diraihnya ternyata sudah beristri dan istrinya langsung cemburu.
"Maaf, istriku ini sedang mengidam. Dan keinginannya itu selalu aneh. Mohon jangan salah paham demi calon bayi kami."
Arfan dengan cepat menyelamatkannya dengan memperkenalkan Alina sebagai istrinya yang sedang hamil dan membuat-buat alasan tentang sikap istrinya barusan supaya mereka tidak salah paham pada istrinya.
Begitu mereka berduaan, Arfan mengingatkan Alina bahwa sebelum kontrak mereka resmi berakhir, maka statusnya Alina masih istrinya dan ibunya Ivan. Jadi seharusnya dia jaga sikap di depan umum. Alina masa bodoh dan langsung membanting pintu di hadapannya.
Sinta tiba-tiba muncul dan mengajaknya bicara berdua. Dia to the point mengaku jika dia sudah tahu mereka hanya menikah kontrak, dan bahwa Alina ingin memutuskan kontrak mereka. Karena itulah, hari ini dia memperingatkan Arfan untuk membiarkan Alina kembali ke kehidupan normalnya setelah kontrak mereka berakhir nanti dan jangan mengganggu Alina lagi.
Arfan menolak, dia tidak akan memutuskan kontrak dengan Alina. Sinta bisa menebak kenapa. jika Arfan menyukai Alina, maka tunjukkan. Jika tidak, maka sebaiknya dia melepaskan Alina dan jangan menggantungnya. Dia bicara begini sebagai orang yang juga menyukai Alina.
"Lalu, kenapa kau tidak mengatakan langsung padanya?" Sinis Arfan.
Sinta mengklaim jika dia akan melakukannya, tapi dia juga memiliki batasan dalam menyukai seseorang. Dia tidak akan menyakiti orang yang dia sukai sebagaimana yang dilakukan Arfan.
Arfan sinis mengklaim jika Sinta hanya sok tahu tentang Alina padahal aslinya tidak. Dia tidak perlu diajari oleh Sinta terkait hubungannya dengan Alina. Lebih baik Sinta menyerah dan menyingkir saja.
__ADS_1
Sinta sengaja membuat Hans cemburu dengan pura-pura makan malam romantis bersama seorang direktur, dan triknya berhasil.
Malam itu juga, Hans tak sengaja melihat Bu Shintia memberi amplop uang pada seorang pria, Supir Pak Aris, tapi sepertinya dia tidak mengenali Pak Aris dalam jarak dekat dan hanya curiga dengan apa yang disaksikannya itu.
"Pak Aris yang berhasil melarikan diri, kenapa bisa ada bersama Bu Shintia?"
Pak Aris terlihat tidak puas dengan uang yang diberikan dan menuntut diberi apartemen juga, tapi Bu Shintia menolak. Dan saat itulah mereka baru menyadari keberadaan Hans. Kesal, Pak Aris langsung menyatakan akan balas dendam lalu bergegas pergi. Bu Shintia pun panik dan langsung bergegas pergi juga.
Arfan senang melihat Alina bercanda tawa dengan Ivan dan langsung berusaha menggodanya. Tapi Alina lurus aja, malah balas dendam dengan menjegal kakinya.
Alina ingin kembali ke kamar saat dia mengira Ivan sudah tidur, tapi ternyata belum, Ivan tiba-tiba bangun dan memintanya untuk tetap di sini. Dan si ayah juga langsung antusias mengajak Alina tidur seranjang bersama mereka berdua. Ivan juga menuntut ibunya untuk menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya.
Bu Shintia sangat cemas teringat akan Hans tadi. Mengira jika Arfan mungkin sudah tahu dari Hans, Bu Shintia pun langsung menelepon Arfan tapi malah mendengar nyanyiannya Alina yang kontan membuatnya membeku mengenali suara dan lagu itu.
Hmm, waktu Hans bercerita tentang kecelakaannya Ivan dan Alina, kesannya kecelakaan mereka itu adalah dua kecelakaan yang berbeda. Tapi dari flashback menurut ingatan Bu Shintia, jelas kecelakaannya Ivan dan ibunya adalah satu kecelakaan yang sama.
Pada malam kejadian itu, hujan turun sangat deras sehingga sulit melihat jalan. Alina berkendara bersama Ivan yang baru pulang menghadiri pertemuan orang tua murid. Alina yang menyetir. Waktu itu Bu Shintia menelepon mereka karena ingin merayakan ultahnya Ivan, namun tiba-tiba ada truk yang muncul di depan mereka.
Alina berusaha mengendalikan mobil, tapi malah mendapati remnya blong. Panik, Alina berusaha menghindari truk tapi pada akhirnya malah menyebabkan mereka semua mengalami kecelakaan fatal.
Kebetulan waktu itu, Alina lain sedang dalam perjalanan naik taksi melewati jalan itu. Menyadari ada orang yang masih hidup di dalam mobil itu, Alina pun segera memecahkan jendela mobil untuk membuka pintunya dan mengeluarkan Ivan dari sana. Tapi sepertinya dia tidak melihat keberadaan Alina ibunya Ivan yang saat itu terkapar tak berdaya.
Dia mengelap wajah Ivan dengan saputangan sutra hijaunya, lalu berusaha menenangkan Ivan dengan menyanyikan lagu. Waktu itu telepon ibunya Ivan masih terkoneksi dengan teleponnya Bu Shintia, makanya Bu Shintia bisa mendengar nyanyiannya Alina.
Syukurlah Ivan yang diselamatkan hanya mengalami luka ringan. Berselang 2 hari peristiwa kecelakaan itu, Alina yang berada di TKP dan menyelamatkan Ivan, saat menyebrang terdapat sebuah mobil tanpa plat nomor menabraknya dalam kecepatan tinggi sampai membuatnya terhantam hingga mengudara dan terjatuh berguling-guling di aspal. Sepertinya hal ini direncanakan matang tanpa meninggalkan jejak, salah satunya ketika mobil berhasil menabrak tidak menghentikan laju dan kabur begitu saja.
Itu adalah lagu yang sama dengan yang dinyanyikan Alina untuk menidurkan Ivan sekarang. Suara dan lagunya sama, Bu Shintia langsung sadar bahwa Alina benar-benar wanita yang menyelamatkan Ivan malam itu. Dan fakta itu membuatnya semakin khawatir.
...***...
Keesokan harinya usai Ivan sukses tampil menyanyikan lagu yang diajarkan Alina, Melisa mendadak muncul. Kali ini dia bertekad untuk mengakrabkan diri pada Ivan, meyakini jika itulah cara paling cepat untuk mendapatkan Arfan.
Bahkan saat Alina memberitahu Ivan jika dia tidak bisa membantu menangkap ikan karena tidak bisa berenang, Melisa langsung merebut kesempatan itu. Dia berusaha mengajari Ivan untuk memanggilnya kakak, tapi Ivan malah bersikeras memanggilnya Bibi.
Parahnya lagi, Ivan sengaja mengerjainya dengan menuntutnya untuk menangkap ikan memakai tangan dan bukannya memakai jaring. Dan Melisa dengan bodohnya menurutinya saja sehingga dia harus masuk ke kolam dan jelas kesulitan menangkap ikan pakai tangan saja hingga kakinya jadi keseleo.
Alina dan Arfan baru menyusul mereka saat itu. Arfan membopong Melisa ke klinik dan meminta maaf atas nama Ivan padanya. Tapi dia juga menegaskan Melisa untuk menyerah saja karena dia tidak ingin Ivan kesal terus, dan menuntut Melisa untuk meninggalkan perusahaannya juga, mereka tidak cocok bekerja sama.
Dia langsung pergi tanpa mempedulikan protesnya Melisa dan mendapati Ivan dengan imutnya menghukum dirinya sendiri menghadap tembok. Tapi tiba-tiba dia mendapat notifikasi SOS di gelang pintarnya yang menandakan Alina sedang berada dalam bahaya.
__ADS_1
Alina ternyata berniat menggantikan Melisa menangkap ikan tapi malah bertemu dengan ular. Saat Arfan tiba di sana, dia mendapati Alina sudah pingsan.