Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
47. Usaha Anak Mendekatkan Cinta


__ADS_3

Rencana pertama gagal, Ivan pun menyuruh mereka untuk masuk ke rumah hantu. Lagi-lagi dengan harapan Alina akan ketakutan dan berlindung pada Arfan. Tapi begitu dia masuk dan si hantu muncul, bukannya dia yang takut pada si hantu, malah si hantu yang takut dengannya gara-gara dia kesal ditakut-takuti dan langsung menghajar para hantu dengan ganas. Pfft! Gagal maning, gagal maning!


Dari rumah hantu, mereka menuju ke tempat berikutnya. Sepanjang perjalanan, Alina membuka jendela mobil, asyik sendiri menikmati pemandangan di luar, sementara Ivan diam-diam menghubungi Hans untuk datang ke taman hutan dan menjalankannya rencana ketiga mereka.


Setiba di lokasi, Alina memberitahu Ivan tentang jenis-jenis tanaman yang ada di sekitar mereka. Begitu ada kesempatan, Ivan dengan sengaja menjatuhkan sesuatu supaya Alina membantunya pergi mengambilkannya.


Dia lalu pura-pura kedinginan supaya Ayahnya pergi mengambilkannya jaket. Begitu dia sendirian, Hans pun bersiul dari tempat persembunyiannya dan Ivan langsung melesat pergi. Topinya terjatuh entah di mana saking semangatnya dia. Hans lalu mengajaknya berfoto untuk dikirim ke ayahnya supaya ayahnya tidak khawatir.


Jelas saja saat Alina dan Arfan kembali, mereka kebingungan dan khawatir saat tidak melihat Ivan. Di tengah kepanikan mencari Ivan, tiba-tiba Alina melihat topinya Ivan terapung di danau. Tanpa pikir panjang, Alina langsung saja melompat ke air karena memorinya teringat kembali pada saat Ivan mencoba melenyapkan dirinya sendiri dulu, dan tepat saat itu Arfan baru mendapat pesan gambar selfie-nya Hans bersama Ivan.


"Apa yang kau lakukan? Kau mengira Ivan melompat ke danau? Dia aman, sekarang Ivan bersama dengan Hans." Panik, Arfan buru-buru menarik Alina dari air dan memberitahunya bahwa Ivan sudah ditemukan dan dia dalam keadaan aman sentosa bersama Hans. Kenapa Alina selalu ceroboh dalam melakukan sesuatu?


Mereka lalu bergegas mengecek ke mobil, tapi malah mendapati mobilnya sudah menghilang dan hanya ada beberapa kotak berisi peralatan samping di tinggalkan di sana. Arfan kesal, ini pasti ulah Hans dan Ivan.


Ponselnya rusak kemasukan air, ponselnya Alina sendiri mati, terpaksalah mereka harus camping dan bermalam di sana. Usai keduanya ganti baju secara bergantian di dalam tenda, mereka membuat mie instan, satu-satunya makanan yang ditinggalkan untuk mereka.


Arfan awalnya menolak makan makanan tidak sehat itu, tapi Alina gigih mengiming-iminginya hingga akhirnya dia tidak tahan dan menyerah juga pada godaan. Dia mencoba sesuap dan harus dia akui, memang enak.


Jadilah dia keterusan makan semangkok berdua dengan Alina sambil meliriknya malu-malu.

__ADS_1


"Kau ceroboh langsung melompat ke air tanpa pikir panjang lebih dulu. Bagaimana jika air itu ternyata dalam?" Arfan malah balas mengomeli sikap ceroboh Alina.


"Aku lihat topinya Ivan di permukaan danau, Makanya tanpa pikir panjang, aku ingin menolongnya. Selama aku mengenal Ivan, dia sudah terhitung 3 kali untuk menghilangkan nyawanya sendiri. Di usia sekecil nya, sangat miris anak kecil berpikir untuk membunuh dirinya."


"Jika tidak ku halangi, kau berniat menyelam di sana?"


"Aku ini seorang Dokter, perlu bertanggung jawab terhadap pasien termasuk dari kalangan anak-anak. Lagipula, Ivan begitu mempercayaiku, tapi aku malah kehilangan dia. Aku merasa bersalah. Apa kau tahu, perkataan dan ucapan anak itu berasal dari dasar hati. Dia begitu berharap aku menjadi Ibunya. Walau dia tidak mengatakannya sendiri, aku juga tidak akan mengecewakan dia." Kata Alina.


"Sebenarnya pekerjaan menjadi Dokter pribadi anak itu tidak semudah yang orang pikirkan. Orang-orang berpikir bahwa pekerjaan mereka enak karena tidak perlu melakukan operasi dan hanya perlu bicara dan bermain bersama anak-anak setiap hari. Padahal orang-orang itu tidak tahu berapa banyak tekanan yang harus mereka pikul setiap hari." Sambung Alina.


Lalu, kembali berkata.


"Akan tetapi, setiap kali dia merasa lelah dan menderita, anak-anak akan datang padanya dan menggenggam tangannya dan memanggilnya kakak. Bahkan Ivan memanggilku Ibu. Saat itu, dia merasa semua kesedihan dan kesulitannya seolah menghilang begitu saja."


"Jika begitu, kau tidak berniat menjadi Ibunya Ivan?" Tanya Arfan tiba-tiba.


"Itu kan hanya lelucon anak kecil. Lagipula, Ivan kan memiliki ibu kandungnya sendiri yang tidak bisa digantikan oleh siapapun." Jawab Alina.


Pembicaraan tentang Ibu kandungnya Ivan itu membuat Arfan menjadi sedih dan langsung buru-buru menyuruh Alina untuk tidur sekarang juga.

__ADS_1


...***...


Saat Alina pulang keesokan harinya, dia langsung diinterogasi oleh Zayn tentang hubungannya dengan CEO Arfan karena Zayn sudah mendengar bahwa CEO Arfan keluar dari rumah Alina pada hari dia dinas dua hari yang lalu. Rumah sakit mereka sekarang sedang gempar oleh gosip itu. Dan semua orang tahu bahwa Alina sedang menjalin hubungan dengan Zayn.


"Apa status mu sekarang dengan CEO Arfan? Apa karena ada seorang anak, kalian menjadi sepasang suami istri yang sudah dikaruniai anak sekarang?" Terdengar dari suaranya, Zayn sedang marah besar.


Hah? Alina terkejut, Ia mengakui bahwa dirinya bersalah dan sudah lama tidak pernah menemui Zayn.


"Maafkan aku." Hanya kata maaf yang mampu Alina ucapkan sambil tertunduk. Ia sangat takut melihat Zayn yang rautnya marah.


"Jika kau memang merasa bersalah, harap selingkuhan mu tidak menggunakan jabatan dan pekerjaan untuk memaksa ku pergi. Perlu ku ingatkan sekali lagi, perasaan ya perasaan, pekerjaan ya pekerjaan, jangan dibawa masuk ke dalam hati." Gencar Zayn meluapkan kekesalannya.


Tepat saat itu juga, Asisten Hans dengan gaya angkuhnya menatap tidak suka pada Zayn sambil memanggil Alina 'Dokter kepala'. Dia datang mengundang Alina ke acara pembukaan gedung baru Arfan yang akan diadakan besok malam, dan memberitahu Alina bahwa dalam acara itu juga, Arfan atasannya akan mengumumkan pengangkatan jabatan Alina menjadi Dokter kepala.


Hans dan Zayn tampak benar-benar canggung terjebak dalam perang dingin antar wanita itu.


"Selamat atas gedung barunya. Aku usahakan akan datang." Alina mengucap selamat dengan sinis, dia pasti akan datang.


Zayn tidak setuju. Zayn kesal setiap kali membicarakan pria yang mungkin menjadi saingannya itu.

__ADS_1


Dari Omelan Zayn tidak membuatnya sadar karena ia melakukan ini semua hanya untuk Ivan. Zayn sudah telanjur kesal dan meninggalkan Alina sendiri membebaskannya berbuat apa. Alina tidak merasa menjadi psikiater anak itu buruk. Dia puas dan bahagia bisa menolong seorang anak. Tidak masalah baginya menjadi dokter apa saja asalkan bisa mengobati penyakit.


Malamnya Alina fokus ke perburuan gaun malam untuk acara besok malam. Alina mencoba berbagai gaun, tapi tidak ada satu pun yang cocok.


__ADS_2