
Arfan dan Alina pergi bersama mencari Ivan. Alina mendadak memiliki ide ke mana kira-kira Ivan pergi. Mereka bergegas ke rumahnya Alina. Dan benar saja, di sanalah mereka menemukan Ivan, duduk menunggu di depan pintu seorang diri.
"Tahukah kau, berapa besar kesulitan ku untuk menemukan mu."
Arfan saking cemasnya, sontak marah-marah membentaknya. Tapi Alina langsung memeluk Ivan dan meyakinkannya.
"Ayahmu hanya mengkhawatirkan mu." Alina menyuruh Arfan diam lalu membawa mereka masuk.
Dan Arfan mendapati rumah yang pernah dia bersihkan itu, sekarang jorok lagi dengan kaos kaki bertebaran di sembarang tempat. Alina jadi malu dan langsung merebut kaos kakinya lalu bergegas menghindar, ingin memasakkan sesuatu untuk Ivan.
Karena Ivan sendiri yang mengakui kesalahannya dan meminta maaf, Arfan pun memaafkannya. Tapi dengan ancaman bahwa Ivan tidak boleh mengulang hal seperti ini lagi atau dia tidak akan memperbolehkan Ivan keluar rumah.
Mereka berniat menunggu sambil menonton TV, tapi malah terus menerus mendengar suara kelontongan dari dapur. Hadeh! Sepertinya Alina tidak masak. Arfan langsung sinis menyindirnya. Cih! Alina tidak terima disindir oleh seorang tuan yang bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sendiri.
"Masak itu mudah sekali bagiku, itu hanya proses mengolah bahan masakan menjadi makanan dengan takaran dan cara yang tepat, apa sulitnya?" Arfan dengan entengnya mengklaim.
"Oh, begitu? Baiklah! Aku menantang mu untuk masak ikan." Alina pun menantang Arfan untuk tanding masak ikan dengannya. Dan jadilah kedua orang itu tanding masak dengan cara-cara masing-masing. Arfan memasak dengan ketelitian dan keakuratan tingkat tinggi.
Semua bahan dia takar dan timbang dengan akurat, dipotong dengan ukuran yang sama, suhu minyak dia cek pakai termometer. Dia memotong semua bahan hampir tanpa suara. Segalanya dilakukan bak seorang ahli masak profesional.
Sedangkan Alina memasak dengan super ribut, semua bahan dan ikan dibacok asal-asalan, suhu minyak pun dia ukur pakai tangan saja. Tidak masalah biarpun penggunaan bahan-bahannya tidak akurat karena dia memasak pakai hati dan perasaan.
Hasilnya, dari segi tampilan memang masakannya Arfan yang tampak lebih menarik. Tapi saat Ivan mencicipi kedua masakan dengan mata tertutup, dia lebih suka masakannya Alina.
Alina menang! Seperti yang dia katakan, dia memasak dengan menambahkan bumbu rahasia... Yaitu, cinta. Dalam memasak, yang paling penting adalah perasaan dan untuk siapa masakan itu dibuat.
__ADS_1
"Bagiku, Ivan adalah anak yang imut, penuh dengan aroma susu. Jadi, khusus untuk makanan ini, Aku menambahkan sedikit susu untuk menambah aromanya."
Meski Arfan memasak ikan apalah ini dengan mengikuti resep, tapi dia lupa bahwa ada beberapa bahan dalam masakannya yang biasanya tidak disukai oleh anak kecil.
Arfan jadi penasaran. Maka saat Alina membawa Ivan ke toilet untuk cuci tangan, Arfan diam-diam mencicipi masakannya Alina.
"Tuan Arfan, Apa perlu ku ambilkan semangkuk nasi?" Geli Alina yang mengintipnya dari toilet.
Ivan ketiduran saat Arfan memasukkannya ke mobil. Alina berterima kasih atas bantuan Arfan pada Sintia, Tapi... dia melakukan ini tanpa maksud tersembunyi apa pun, kan? Arfan meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan untuk Sintia hanya bantuan sederhana. Terserah Alina saja jika dia tidak percaya.
Bagaimana pun, Alina tetap berterima kasih padanya. Masalah besar bagi orang lain, bisa Arfan selesaikan dengan mudah dengan hanya satu kata. Dia sangat hebat.
"Dulu aku berpikir begitu. Tapi belakangan ini aku menyadari ada banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan uang. Misalnya aku memakai cincin berharga 3 juta dolar, tapi tetap tidak dapat menukar sebuah kontrak denganmu."
Alina mendadak canggung mendengar tentang cincin itu. Dengan agak tergagap dia berniat mengakui yang sebenarnya, tapi bahkan sebelum dia selesai bicara, Arfan sudah bisa menebak jika dia menghilangkan cincin itu. Arfan bisa menebaknya sejak saat Alina menanyakan harga cincin itu.
"Jangan pernah sekalipun membuat janji yang tidak bisa kau tepati."
"Kata siapa aku tidak bisa menepati janji? Hari ini aku pasti akan menandatangani kontrak itu, upahnya adalah cincin seharga 3 juta dolar itu." Ujar Alina.
Arfan langsung menyambar kesempatan itu dengan menunjukkan surat kontrak yang sudah dia siapkan dan dia bawa ke mana-mana. Alina malah mendadak ragu dan menyesali ucapannya tadi. Yang tak disangkanya, Arfan menjanjikan uang yang jumlahnya lebih dari harga cincin itu.
Alina menolak uang sebanyak ini, dia kan sudah mengatakan, yang penting cukup untuk membayar cincin itu. Arfan setuju. Tapi, mereka harus berakting menjadi suami istri di hadapan orang luar.
Hah? Yang benar saja, Alina cuma berniat memenuhi janjinya terhadap Ivan, dan bukannya menjadi istri seorang Arfan. Arfan sinis meyakinkan Alina jika dia sama sekali tidak berminat terhadap Alina, yang dia butuhkan dari Alina hanya profesionalismenya. Dia seorang pebisnis dan ini hanya bisnis. Dia bisa terluka jika memakai perasaan dalam bisnis. Terserahlah, Alina pun langsung menandatangani kontrak itu.
__ADS_1
"Kontrak ini akan berakhir dengan sendirinya dalam dua kondisi. Pertama, jika penyakitnya Ivan sudah membaik. Kedua, jika pihak pertama dan pihak kedua mengalami hal-hal yang tidak dapat dilawan. Semisal, mati atau... menemukan jodoh." Jelas Arfan.
"Oh! jika begitu, Aku akan doakan semoga kau menemukan jodoh secepat mungkin." Kata Alina.
"Terima kasih doanya." Kata Arfan jadi merasa sedih. "Tapi, bahwa selain kedua kondisi itu, juga ada pasal pelanggaran kontrak. Jika akting mu sangat buruk sehingga akting kita ketahuan dan membuat kondisi Ivan semakin memburuk, maka kau harus membayar denda sebesar 15 juta dolar."
Hah? Alina tidak terima dan langsung berusaha merebut kontrak itu, tapi malah berakhir dalam pelukan Arfan. Canggung, Alina cepat-cepat melepaskan diri dan Arfan memuji akting pelukannya tadi.
"Lain kali berakting lah seperti itu lagi, Nyonya Arfan." Arfan pun pergi dengan terlebih dulu menyuruh Alina untuk membaca kontrak itu baik-baik.
Alina baru sadar dirinya belum membaca kontrak itu sepenuhnya dan benar-benar mendapati ada pasal pelanggaran kontrak itu. Haiish! Alina ingin protes lagi, tapi Arfan sudah pergi.
"Dasar pria berhati hitam!"
Tapi berhubung kontrak sudah ditandatangani, Alina pun memberitahu Sintia bahwa dia akan pindah dalam dua hari mendatang. Besok juga dia harus mengurus cuti tanpa digaji.
"Ciee... Yang akan menjadi Nyonya Arfan. Eh, Aku bersedia loh mejadi dayang pencuci kakinya Nyonya Alina." Sintia malah geli menggodanya.
"Kau malah menertawakan ku! Aku hampir mati gelisah! Aku ini istri palsu, karyawan asli. Kali ini ke kediaman Tuan Arfan karena ada misi besar. Aku harus bisa membuat Ivan melupakan kesedihannya, lalu mencarikannya sekolah SD yang sesuai untuknya agar dia berbaur dalam masyarakat."
Sekarang karena Alina ingin pisah rumah dengan Sintia yang akan melanjutkan sewanya.
Persahabatan mereka benar-benar sangat indah. Sintia selalu ada untuk Alina, menemaninya dalam suka dan duka, termasuk saat dia putus dengan mantannya.
Alina ingin terus bergantung pada Sintia sampai mereka sama-sama tua dan masuk ke panti jompo bersama sambil bergandengan tangan. Sintia terharu mendengarnya. Tapi... lihatlah hidup Alina yang serba berantakan ini. Jadi, sebaiknya Alina jangan bergantung padanya selamanya, lebih baik dia mencari jodoh dan menikah saja dengan seseorang yang bisa merawatnya.
__ADS_1
Wah! Alina tidak percaya mendengarnya. Dia tidak ingin dirawat orang, dia hanya ingin bermain sepuas hati dengan Sintia. Jadilah kedua gadis itu karaoke dan menari di rumah sambil menjerit heboh, menikmati malam itu dengan bersenang-senang bersama sebelum Alina pindah nanti.