Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
53. Keberanian Seorang Ibu


__ADS_3

Alina mulai melunak mendengar curhatan Arfan. Sebenarnya ia sendiri tinggal di rumah besar orang tuanya. Tapi karena kesederhanaan Alina, ia hanya ingin tinggal sendiri dan menyewa sebuah rumah dekat rumah sakit tempatnya bekerja.


Dengan suara tercekat Arfan berkata bahwa rumah besar yang ditinggalinya itu, baginya hanya sebuah hunian, tidak layak disebut sebuah rumah.


"Rumah besar itu hanya sebuah hunian, tidak layak disebut sebuah rumah. Aku memili Ivan, tapi aku seorang Ayah yang buruk. Aku tidak bisa memberikan keluarga utuh untuknya."


"Jangan berkata begitu, aku merasa kau sudah cukup baik terhadap Ivan."


Tapi tiba-tiba kebersamaan mereka terpotong dengan cepat saat Arfan mendapat telepon yang mengabarkan Ivan demam. Karena Arfan kebanyakan minum tadi, jadi Alina memutuskan untuk ikut dan mengantarkannya ke rumah sakit.


Kedua asistennya yang menemani Ivan di rumah sakit. Arfan berusaha membujuk Ivan untuk minum obat, tapi Ivan bersikeras menolak. Arfan bahkan berusaha mengancamnya, tapi Ivan tetap memalingkan muka.


Alina yang akhirnya harus bertindak membujuknya dengan memberi saran berbisik pada Arfan untuk pura-pura jadi dinosaurus yang sakit juga dan meminum obatnya supaya cepat sembuh. Arfan terpaksa menurutinya, pura-pura meminum obatnya dan membuat kedua asistennya geli melihatnya. Tapi cara itu sukses membuat Ivan ingin juga meminum obatnya.


Ivan sudah tenang saat Arfan kembali tidak lama kemudian dengan membawakan kopi untuk mereka berdua. Tapi Alina langsung mengomelinya karena dia sebagai Ayahnya, malah tidak tahu Ivan sudah demam sedari tadi pagi.


Arfan mengaku bahwa tadi dia memang ada rapat penting, makanya dia berangkat lebih pagi dari biasanya. Biasanya jika kondisinya memungkinkan, dia akan mengajak Ivan ke kantor bersamanya. Tapi lebih seringnya, dia sendirian di rumah.


Dia tidak ingin bicara dan tidak ingin berhubungan dengan orang asing selama bertahun-tahun ini. Alina lah orang pertama yang membuat Ivan sangat bergantung.


Berhubung sudah larut malam, jadi Arfan menyuruh supir mengantarkan Alina pulang. Tapi Ivan tiba-tiba menggenggam erat tangannya lalu memberinya dua buah lolipop dan mengundangnya untuk berbaring di sampingnya.


"Ivan tidak pernah berbagi makanannya dengan orang lain. Dia tidak pernah membiarkan orang lain tidur bersamanya." Kata Arfan.


Jika begitu, Alina memutuskan untuk menemani dan menjaga Ivan malam ini. Ivan pun senang.


***

__ADS_1


Ivan masih terlelap saat Alina terbangun keesokan harinya dan mendapati dirinya diselimuti dengan jasnya Arfan. Alina menyesal sudah berjanji pada Ivan untuk menuruti apa pun keinginan Ivan. Sampai kemarin, itu membuatnya sangat repot karena rupanya Arfan menganggap serius sebuah pernikahan.


Dia ingin melarikan diri tapi malah menubruk Arfan yang mendadak seenaknya memerintahkan Alina untuk pindah ke rumah mereka mulai malam ini. Alina menolak pindah, lagipula ucapannya waktu itu hanya bercanda.


"Kemarin malam Ivan sudah menunjukkan kepercayaannya padamu. Jika kau hanya bercanda, maka katakan sendiri pada Ivan bahwa kau tidak ingin jadi Ibunya."


"Baiklah, Lagipula aku memang bukan Ibu aslinya Ivan." Santai Alina lalu pergi.


Alina benar-benar galau sekarang, tak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Ivan. Dia tidak mungkin langsung berterus terang mengingat kondisi Ivan baru saja stabil. Jika begitu, ia bisa untuk menyuruh Arfan memikirkan jalan keluarnya sendiri.


Tapi Alina merasa tak enak jika harus melakukan itu pada Arfan, apalagi Arfan tak memiliki seorang pun yang bisa membantunya. Mengingat itu, Ia memperingatkannya bahwa simpati adalah awal dari tumbuhnya perasaan. Tapi Alina bersikeras jika dia tumbuh perasaan apa pun pada Arfan.


Tiba-tiba Ivan muncul dan langsung berteriak memanggilnya 'Ibu'. Aduh! Alina panik ingin melarikan diri, tapi Ivan malah tambah mengejarnya sambil terus memanggilnya Ibu.


Dia berusaha melarang Ivan memanggil Ibu, tapi Ivan malah tambah semangat mengulang-ulang memanggilnya Ibu seperti kaset rusak. Alina lama-lama luluh juga melihat keimutan Ivan. Arfan pun senang melihat keakraban mereka.


Dulu Alina tidak masalah jika Arfan memanggilnya Ibu, tapi sekarang dia merasa sebutan itu sangat membebaninya. Tapi hatinya selalu luluh sekali lagi begitu melihat sarapan buatan Ivan dan pesan manis yang Ivan tulis di sana. Saking terharunya, dia sampai tidak sadar menyebut dirinya sendiri sebagai Ibu. Dia baru sadar sedetik kemudian dan buru-buru mengganti sebutannya dan berjanji pada Ivan akan menghabiskan makanan itu lalu bergegas pamit ingin kerja.


Tapi kemudian, Dokter Psikiater memanggil Alina untuk menangani seorang pasien penting. Yang tak lain tak bukan adalah Ivan. Arfan sengaja, ya? Arfan menyangkal, ini karena dokternya Ivan sedang berada di dalam negeri dan hanya Alina yang paling memahami kondisi Ivan dan dia pula satu-satunya orang luar yang bisa mendekati Ivan.


Tiba-tiba Arfan mendapat panggilan tugas yang mengharuskannya untuk kembali ke kantor dan meninggalkan Ivan selama beberapa hari. Hah? Alina tak percaya mendengarnya, Ayah macam apa dia meninggalkan anaknya di rumah sakit.


Arfan bersikeras prioritas pekerjaannya ini lebih penting sekarang. Lagipula yang dibutuhkan Ivan sekarang ini adalah Ibunya dan bukan Ayahnya. Bahkan saat itu juga, Ivan mendadak keluar kamar sambil berteriak memanggil Ibunya dan memeluk kaki Alina.


Alina sekali lagi meminta Ivan untuk tidak memanggilnya Ibu di sini. Dengan sabar dia beralasan bahwa karena di sini adalah tempat kerja, di tempat kerja semua orang harus memanggil satu sama lain dengan nama pekerjaannya. Ivan hanya menjawabnya dengan mengangguk mengerti.


Ivan tertidur saat Alina memberikan rekam medisnya Ivan ke dokter psikiater khusus Anak. Sudah lama sekali Alina tidak melihat Zayn. Entah ke mana dia. Dia merasa tidak enak bekerja di rumah sakit Zayn, sudah menyakiti perasaannya dan sekarang masih bekerja bebas di tempatnya. Zayn juga seperti pergi menghindar.

__ADS_1


Karena kondisi Ivan sudah bagus, jadi dokter psikiater memutuskan Ivan boleh pulang. maka kemudian Alina memutuskan untuk mengirim foto selfie-nya bersama Ivan yang sedang tidur ke Arfan.


Arfan sedang dalam perjalanan bersama sekretarisnya saat itu dan melihat sekretaris membawa sesuatu. Sekretaris mengaku bahwa ini oleh-oleh yang dia bawa untuk kekasihnya. Tapi dia meyakinkan jika dia serius bekerja saat waktunya kerja. Yang tak disangkanya, Arfan tiba-tiba menyuruhnya untuk membantunya membeli oleh-oleh juga sebelum pulang.


Tidak ada siapa-siapa saat Ivan terbangun. Ivan jadi panik mencari-cari Ibunya ke ruang


bermain sambil membawa writing tabletnya. Tiba-tiba ada anak nakal yang ingin merebut tabletnya.


"Hey, Kau! Berikan pinjam padanya. Kau pikir aku tidak mampu memberikan benda semacam itu untuk anakku. Untuk sekarang, Apa salahnya memberikan pinjam."


Ibunya juga sama kurang ajarnya, bukannya mengajari anaknya untuk tidak mengambil barang milik orang lain, dia malah kesal saat Ivan menolak meminjamkan tabletnya.


Anak itu nekat ingin merebutnya, Ivan berusaha mempertahankannya sehingga anak nakal itu terdorong dan terjatuh. Jelas-jelas dia yang salah, ibunya malah tidak terima dan menyalahkan Ivan dan menuduhnya.


"Dasar anak nakal dan tidak tahu sopan santun, Sudah penyakitan! Kemana ibumu? Bawa dia kemari untuk menemui ku dan meminta maaf." Ibu itu menuntut Ibunya Ivan untuk menemuinya dan meminta maaf padanya.


Alina yang kebetulan lewat saat itu, sakit hati dengan tuduhan si ibu... Hingga akhirnya dia menyatakan dirinyalah Ibunya Ivan.


"Aku adalah Ibunya."


"Ivan, lain kali kau tidak perlu bersikap sopan pada orang yang tidak sopan." Kata Alina mengklaim jika dia pernah mengatakan ke anaknya ini bahwa dia tidak perlu bersikap sopan jika orang itu tidak bisa menghargai orang lain.


"Dasar ibu dan Anak yang tidak tahu sopan santun!"


"Si ibulah yang seharusnya menjaga ucapannya


supaya anaknya tidak tumbuh menjadi orang yang buruk gara-gara salah ajaran dari orang tuanya sendiri. Ini rumah sakit dan tempat bermain anak, jadi si ibu lah yang seharusnya jaga sikap di sini." Sarkas Alina.

__ADS_1


__ADS_2